ASALAMU 'ALAIKUM WAROHMATULLOHI WABAROKATUH BLOG By MUH FAJAR HUDI APRIANTO @ MARI KITA GUNAKAN WAKTU KITA YANG TERSISA DENGAN SEBAIK MUNGKIN KARENA WAKTU KITA HANYA SEDIKIT AGAR KITA TIDAK TERMASUK ORANG ORANG YANG MERUGI mafa GUNAKAN WAKTU MUDAMU SEBELUM DATANG WAKTU TUAMU WAKTU SEHATMU SEBELUM DATANG WAKTU SAKITMU KAYAMU SEBELUM TIBA MISKIN WAKTU LAPANGMU SEBELUM TIBA WAKTU SEMPITMU DAN GUNAKAN WAKTU HIDUPMU SEBELUM TIBA MATIMU pesan nabi

Senin, 07 Mei 2012

Penyelewengan Umat dari Agama yang Benar


Fenomena penyelewengan agama sangat menuntut perhatian para ulama dan segera mengajak mereka kembali kepada Allah, memohon ampunan-Nya dan menegakkan hujjah-Nya sebagai manifestasi (perwujudan) dari tanggung jawab ulama.
Penyelewengan-penyelewengan yang terjadi di kalangan kaum muslimin awam telah melahirkan penyelewengan lain pada sebagianorang yang melakukan dakwah kepada Allah, yang seharusnya berupaya memperbaharuikeadaan manusia dan mengajak mereka pada agama yang benar. Sebagian yang lain mengajarkan hukum-hukum yang salah kepada masyarakat umum, bahkan terjadi pula pertentangan dalam hukum-hukum tersebut sehingga merreka mengeluarkan kata-kata yang dibuat-buat(bid'ah) dan hina, dan pada beberapa waktu tertentu mengakibatkan kesesatan.

  1. Fenomena Penyelewengan Umat dari Agama yang Benar

    1. Kebodohan dalam masalah agama, tidak ada upaya mempelajari agama dan tidak pula berupaya membetulkan akidah dan ibadah.
    2. Orang-orang sesat dan pembuat bid'ah mengelabuhi kaum muslimin, memanipulasi syirik hingga seakan-akan merrupakan sesuatu yang baik dan mereka mempropagandakannya.
    3. Menyebarkan tabarruk (meminta berkah) yang dilarang secara syara' dengan bentuk dan caranya yang bermacam-macam hingga menjadi suatuyang terrbiasa, bahkan menjadi keyakinan bagi orang yang melakukannya.
    4. Berlebih-lebihan menggantungkan diri kepada makhluk, memohon bantuan dan pertolongan kepada mereka dan tawassul (berperantara) kepada orang-orang yang sudah meninggal.
    5. Berpaling dari syariat Allah dan mengambil hukum dari orang-orang sesat.
    6. Mengangkat orang-oang sesat yang ingkar dan zindiq menjadi pemimpin dan hakim-hakim yang memutuskan perkara bukan bedasarkan ketentuan Allah, membantu dan mendukung mereka, sebaliknya memerangi orang-orang yang bedakwah kepada Allah.
    7. Bergabung dengan golongan-golonganyang ingkar dan zindiq, dan menyerukan fanatisme jahiliyah, seperti ajakan pada nasionalisme dan partai-partai nasionalisme dan sekuler.

  2. Fenomena Penyelewengan dalam Menghadapi Penyelewengan Umat

    1. Melalaikan dan menganggap remeh dakwah kepada Allah dan dalam penyebaran ilmu yang benar kepada manusia, serta dalam upaya membebaskan manusia dari belenggu kemusyrikan, kekufuran, dan kesesatan.
    2. Tersebarkan pengafiran dan berlebih-lebihan di dalamnya tanpa memperhatika kriterria dan hukum-ukumnya. Pengafiran hanya dilakukan berdasarka keumuman dan aspek lahir sebagian nash yang tidak merujuk kepada ulama, serta munculnya aliran-aliran yang mengatasnamakan kelompok dakwahyang pada hakikatnya merupakan uapaya menghidupkan kembali aliranWa'idiyah yang berlebih-lebihan pada nash-nash ancaman dan mengafikan golongan umat yang terpilih. (Lihat al-Ghuluw fi ad-Dina, kaya Abdurrahman al-Luwaihiq).
    3. Munculnya fenomena kepasrahan pada nasib di kalangan kaum muslimin, sehingga umat merelakan agamanya sebagaimana adanya tanpa mempelajari agama yang benar dan tidak pula mengamalkannya, di samping meninggaklan dakwah dan jihad menegakkan kalmat Allah. (Lihat Zhahirah al-Irja' fi al-Fikr al-Islam, karya Syekh Safar bin Abdurrahman al-Hawali).
    4. Penyelewengan yang dilakukan sebagian orang dalam hal batas-batas kebodohan dalam masalah agama yang dapat ditoleransi danyang tidak, mengada-ada kriteria orang bodoh yang ditolerasi, dan pada gilirannya juga mengada-ada kriteria yang tidak dapat ditoleransi.
    5. Kaku dalam menyampaikan hukum-hukum dan fatwa-fatwa tanpa memberikan penjelasan dan menganalisa lingkup hukum da fatwa tersebut, kecuali pada bagian kecil dari pendapat ulama setempatdi antara para ulama yang terhormat dan para da'i yang ikhlas.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar