ASALAMU 'ALAIKUM WAROHMATULLOHI WABAROKATUH BLOG By MUH FAJAR HUDI APRIANTO @ MARI KITA GUNAKAN WAKTU KITA YANG TERSISA DENGAN SEBAIK MUNGKIN KARENA WAKTU KITA HANYA SEDIKIT AGAR KITA TIDAK TERMASUK ORANG ORANG YANG MERUGI mafa GUNAKAN WAKTU MUDAMU SEBELUM DATANG WAKTU TUAMU WAKTU SEHATMU SEBELUM DATANG WAKTU SAKITMU KAYAMU SEBELUM TIBA MISKIN WAKTU LAPANGMU SEBELUM TIBA WAKTU SEMPITMU DAN GUNAKAN WAKTU HIDUPMU SEBELUM TIBA MATIMU pesan nabi

Minggu, 13 Mei 2012

Faktor-faktor yang Merintangi Perkembangan Sains di Dunia Muslim



Banyak kalangan ilmuwan, baik para kritikus maupun apologetis, dengan ber­bagai argumentasi berusaha menjelaskan mengapa revolusi sains tidak terjadi di dunia Muslim? Bukan maksud saya untuk mengangkat kembali argumentasi mere­ka, tapi suatu penelitian diperlukan un­tuk membuat kritik atas argumentasi para kritikus yang menuduh bahwa tabiat Islam sebagai suata agama adalah yang ber­tanggung jawab atas kegagalan ini. Per­vez Amrali Hoodbhoy kiranya adalah orang yang paling memperolok-olok dengan kritikannya yang cenderung ke­pada tuduhan yang tak terbantahkan. Dalam usahanya mengumpulkan argu­mentasi atas kegagalan revolusi sains ter­jadi di dunia Muslim, dia menyinggung filsafat Islam sebagai berikut:
Masyarakat yang berorientasi pada doktrin Jatalisme, atau seseorang yang ter­lalu diintervensi oleh Tuhan dan yang merupakan bagian dan matrik sebab aki­bat (kausalitas), terpaksa menghasilkan individu-individu yang kurang berhasrat menyelidiki hal-hal yang tidak diketahui dengan piranti sains.
Kemudian Amrali selalu menyindir bahwa tabiat hukum Islam te!ah men­gobarkan permusuhan selama berabad­abad terhadap elemen-elemen kapitalis yang dia anggap sebagai prasyarat perkembangan sains. Penjelasan semacam ini, yang sama sekali tidak ber­dasar dan merupakan distorsi fakta Se­jarah dan pandangan keliru terhadap Muslim dan filsafat Islam.


Di sisi lain, para apologetis menga­nggap Al-Ghazzali sebagai orang yang berperan dalam menggagalkan revolusi sains dalam dunia Muslim. Mereka berar­gumen bahwa karya al-Ghazzali tentang teologi Ash’ari dan Tasawuf memberikan pukulan telak terhadap pertumbuhan tr­adisi sains orang Muslim. Pendapat ini bertolak-belakang dengan fakta bahwa bagaimana pun al-Ghazzali sendiri ad­alah ilmuwan sains yang mempunyai sejumlah karya yang dengan tepat digam­barkan oleh Hossein Nasr sebagai berikut
“Risalah termasyur al-Ghazzali pada abad 5H/IIM yang mengkritik filosuf rasionalistik pada zamannya, menandai kemenangan akhir pemikiran intelek ter­hadap rasio-logika yang independen - sebuah kemenangan yang tidak menghan­curkan filsafat rasionalistik sama sekali - menjadikannya berhubungan dengan pengetahuan rohani/batin. Dengan hasil kekalahan dan penaklukan yang dilaku­kan oleh al-Ghazali dan tokoh-tokoh penganut silogis dan sistematis filsafat Aristoteles di abad 5 H/i I M, tradisi ilmu rohani Islam bisa bertahan hidup hingga saat ini dan tidak tercekik seperti lain­nya dalam atmosfir yang terlalu rasional­istik.”
Jikalau kritik dan apologi ditolak, maka dimanakah keberadaan argumen .yang tepat untuk menjelaskan keadaan yang menyedihkan atas fenomena sains dalam dunia Muslim khususnya setelah abad 1 3 M? Mengilas balik faktor ekster­nal dan internal mungkin dapat menun­jukkan jawaban pertanyaan ini.
Secara eksternal, dua invasi yang berdampak permusuhan telah dilakukan terhadap dunia Muslim. Kedua invasi ini adalah invasi bangsa Mongolia dan kaum Salib. l3angsa Mongolia dikenal sangat biadab, penghasut perang yang primitif yang banyak menggarong kota dan menghancurkan berbagai peradaban yang telah lama kokoh, mulai dan Cina sampai Eropa Timur. Gerombolan yang biadab ini kemudian menyerang Timur Tengah dan menguasainya selama sete­ngah abad (1218-1268 M). Selama pe­node ml mereka tidak hanya meneror masyarakat tapi juga terlibat aktif dalam menghancurkan struktur-struktur penting yang merupakan hasil sains yang agung. David Nicolle menggambarkan kerusakan ini sebagai berikut:
“Budaya perusakan bangsa Mongolia sangat besar dan mencakup perusakan kota dan sekolahan, pembantalan guru dan ilmuwan serta melenyapkan para ii­muwan. Para ahli menduga bahwa bang­kitnya peradaban Eropa Barat dan kon­disi budaya dan teknologinya yang ter­belakang, berganti menjadi bangsa adi daya, antaranya disebabkan oleh perusa­kan yang menimpa dunia Muslim yang dilakukan bangsa Mongolia. Kemudian dilanjutkan penj arahan pasukan Salib Konstantinopel Byzantium pada tahun 1204 M”.
Ujian selanjutnya dan invasi Mo­ngolia sungguh merupakan tabiat peru­sakan yang lebih parah dan pada perusakan kota. Mereka adalah bangsa yang berlatarbelakang pengembara. Di­mana pun mereka berpindah, mereka membawa kuda dan keledai yang tidak diberi makan dengan ma­kanan ternak, tapi digem­balakan di padang rumput. Akibatnya bangsa Mongo­lia tidak bisa jauh dan daer­ah pinggiran, ketika mereka menaklukkan kota manapun. Maka dari itu mereka tidak segan mele­nyapkan penduduk yang sudah terbiasa dengan per­tanian dimana kota tempat kerja sains bergantung.
Konsekwensi nyata dan fenomena semacam ini adalah kehidupan masyarakat yang tertimpa invasi menjadi kehilangan harmoni dan tidak menentu arahnya. Nicolle menggambarkan invasi Mongo­lia terhadap daerah-daerah Muslim Se­bagai berikut:
“Setelah menaklukkan Baghdad, Hulegu membawa pasukannya kembali ke Azerbeijan, suatu kawasan jauh utara­barat yang sekarang masuk wilayah Iran. Di daerah tersebut terdapat padang rum-put yang sangat luas yang disediakan untuk makanan kuda-kuda bangsa Mo­ngolia, sementara kota Maragha dan Tabriz disiapkan sebagai kota administra­ si. Istana Hulegu selalu berpindah-pin­ dah dan seluruh area dijadikan sebagai base-camp yang sangat besar bagi tentara predatornya. Begitulah fungsi Azer­beijan dan Hamadan sepanjang sejarah.”
Jadi, invasi Mongolia yang penuh dengan teror telah melepaskan ikatan masyarakat Muslim dengan segala ben­tuknya untuk memper~lambat semua for­malitas peradaban termasuk perkem­bangan sains. Tidak hanya pusat-pusat studi yang dirusak dan ilmuwannya yang dibunuh atau dibuat panik, tapi juga semua tempat yang nyaman untuk pen­ciptaan sains diganggu dengan hebatnya.
Efek yang sama juga dirasakan oleh dunia Mus­lim dengan invasi kaum Salib. ini adalah kelompok lain dan penghasut perang yang dilancarkan oleh Paus di awal abad 13 M yang kononnya bermaksud mem­bebaskan Jemssalem dan tangan Muslim. Berkali-kali perang Salib didengungkan selama 2 abad (1095-1290 M). Seperti halnya bangsa Mongolia, kaum Salib juga menjarah kota-kota Muslim, membunuh dan meneror penduduknya kemudian mengganggu ketenangan tempat-tempat yang kondusif bagi perkembangan sains.
Sedangkan dan sisi internal, yang paling rasional atas kemandegan sains di dunia Muslim adalah kegagalan pemimpin memanfaatkan dan mengkoor­dinasikan disiplin ilmu sains. Semenjak awal, filosof dan ilmuwan sains Muslim sangat independen tanpa bantuan yang memadai dan khalifah atau Sultan. Kon­struksi khalifah Mamun di Bayt al­Hik,nah sekitar tahun 200 H/815 M, di mana terdapat perpustakaan dan obser­vatorium adalah permulaan yang baik tapi tidak diteruskan oleh khalifah berikutnya. Di samping itu Bayt al-Hikmah lebih meru­pakan pusat riset dan pada institusi pen­gajaran. Walaupun banyak pusat-pusat kajian yang dijumpai di dunia Muslim, seperti: Ddr at- ‘Jim di Kairo (395 HI 1005 M), Nizhãm al-Mulk di Baghdad (459 H/1067 M) dan Madrasah Grana­da (750 H/1349 M), tapi semua institusi ini tidak memperhatikan masalah filsafat natural dan ilmu pasti secara murni. Hal ini berakibat pada kegagalan melembaga­kan filsafat natural dan sains. Filosuf na­tural dan ilmuwan sains Muslim !ebih nampak sebagai mndividu-individu terp­isah dan pada sebagai satu badan yang terorganisir. Mereka mempelajari filsafat secara privat dan walaupun sudah bertu­gas di istana khalifah, mereka jarang didukung dengan kebijakari pemerintah untuk mengajar filsafat natural dan sains di Madãris. Ilmuwan lainnya yang tidak mempunyai akses dengan istana, mereka bebas mengajar di halaqah-halaqah mere­ka sendiri dimana para murid datang sendiri dan mendapat untuk belajar sam­pai tamat dengan mendapatkan ijazah yang menjadi lisensi mereka untuk men­gajarkan ajaran-ajaran gurunya. Sistem pendidikan ini mempunyai masalah dan keterbatasannya sendiri. Guru terbatas dengan idenya sendiri sementara para murid hanya mempunyai akses kepada ide gurunya saja. Kondisi diskusi yang kon­dusif sesama teman sekolah atau meman­faatkan calon-calon ilmuwan hampir tidak tercipta di sini. Kondisi seperti ini ha­nya dapat tercipta jika jika sebuah insti­tusi akademi dan universitas didirikan. Dengan akademi, murid akan terekspos pada bidang disiplin ilmu yang ber­macam-macam dan oleh guru yang ber­lainan, dengan cara sistematis yang me­makai prosedur dan standar tertentu yang hams dilalui oleh para murid sampai tamat masa belajarnya. Dalam kerangka seperti inilah sains dapat diinstitusionalisasikan dalam rangka memenuhi penelitian sains yang terkoordinasi sehingga berkembang menjadi revolusi sains.
Jadi menurut saya, kegagalan revo­lusi sains dalam dunia Muslim secara in ternal lebih disebabkan oleh metode atau organisasi daripada aspek teologi. Hal ini bukanlah tabiat Islam yang menyebab­kan kegagalan Muslim dalam revolusi sains itu, tapi karena masalah organisasi yang bersamaan dengan faktor eksternal yang sudah dibicarakan di atas. Siapa tahu, jika bangsa Mongolia dan kaum Salib tidak menghancurkan lahan-lahan kaum Muslim, maka mereka pasti akan dapat merealisasikan kebutuhannya dalam meletakkan institusi yang terorganisir untuk mempromosikan pendidikan sains dalam skala yang lebih komprehensif.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar