ASALAMU 'ALAIKUM WAROHMATULLOHI WABAROKATUH BLOG By MUH FAJAR HUDI APRIANTO @ MARI KITA GUNAKAN WAKTU KITA YANG TERSISA DENGAN SEBAIK MUNGKIN KARENA WAKTU KITA HANYA SEDIKIT AGAR KITA TIDAK TERMASUK ORANG ORANG YANG MERUGI mafa GUNAKAN WAKTU MUDAMU SEBELUM DATANG WAKTU TUAMU WAKTU SEHATMU SEBELUM DATANG WAKTU SAKITMU KAYAMU SEBELUM TIBA MISKIN WAKTU LAPANGMU SEBELUM TIBA WAKTU SEMPITMU DAN GUNAKAN WAKTU HIDUPMU SEBELUM TIBA MATIMU pesan nabi

Selasa, 05 Mei 2026

Belajar dari Naquib Al-Attas, Tujuan Pendidikan Adalah Menjadi Manusia Beradab



Belajar dari Naquib Al-Attas, Tujuan Pendidikan Adalah Menjadi Manusia Beradab 

Anggota Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Mohammad Syifa Amin Widigdo, menegaskan bahwa Naquib Al-Attas adalah salah satu dari sedikit pemikir Muslim modern yang berhasil membangun sistem pemikiran yang utuh, tentang ilmu, sejarah, kritik terhadap sekularisme, pendidikan, hingga adab.

Pandangan itu ia sampaikan di Honderhome Library, Jumat (24/04), yang menurutnya, sosok seperti Al-Attas tidak hanya hadir sebagai sarjana besar, tetapi sebagai arsitek intelektual yang membangun bangunan pemikiran secara menyeluruh.

Untuk memahami posisi Al-Attas dalam peta pemikiran Islam modern, Syifa membandingkannya dengan sejumlah tokoh besar Indonesia seperti Harun Nasution, Nurcholish Madjid, dan Hamka. Harun Nasution dikenal kuat dalam rehabilitasi rasionalitas Islam melalui gagasan Islam rasional. Nurcholish Madjid menonjol dalam upaya mengharmonikan keislaman, kemodernan, dan keindonesiaan di ruang publik modern. Sementara Buya Hamka menghadirkan sintesis ulama, sastrawan, mufasir, pemikir moral, dan dai.

Namun, menurut Syifa, Al-Attas bergerak lebih dalam dari sekadar pembaruan wacana. Ia masuk ke akar persoalan: dengan pandangan alam seperti apa umat Islam memahami ilmu, manusia, dan realitas. Jika tokoh lain berbicara tentang reformasi Islam, Al-Attas berbicara tentang reformasi dasar pengetahuan itu sendiri.

Karena itu, dalam buku The Shapers of Southeast Asian Islam, Khairudin Aljunied menempatkan Al-Attas sebagai seorang “desekularis”, yakni pemikir yang menjadikan kritik atas sekularisme sebagai poros utama bangunan intelektualnya.

Secara biografis, Al-Attas lahir di Bogor pada 1931. Ia menempuh pendidikan di dunia Melayu, lalu melanjutkan studi ke tingkat internasional melalui University of Malaya, McGill University, hingga meraih gelar doktor dari SOAS University of London. Pengalaman akademik itu membuatnya mengenal Barat dari dalam, tetapi tidak tunduk secara intelektual kepadanya.

“Karena itu kritik Al-Attas terhadap Barat bukan kritik reaktif, bukan sentimen anti-modernitas,” jelas Syifa.

Kritiknya bergerak pada level terdalam: worldview, epistemologi, dan asumsi dasar tentang manusia serta ilmu. Ia tidak menulis serpihan gagasan, tetapi membangun arsitektur intelektual yang sistematis.

Kontribusi Al-Attas

Salah satu kontribusi besar Al-Attas yang kerap kalah populer dari tema islamisasi ilmu adalah kajiannya tentang sejarah intelektual Islam Nusantara melalui disertasinya The Mysticism of Hamzah Fansuri. Dalam karya itu, ia menunjukkan bahwa Hamzah Fansuri bukan sekadar penyair sufi, tetapi figur penting dalam pembentukan bahasa intelektual Melayu dan proses islamisasi di Kepulauan Melayu.

Bagi Al-Attas, islamisasi Nusantara bukan hanya perpindahan agama, tetapi transformasi konsep, makna, dan bahasa. Ia juga menelaah polemik antara Hamzah Fansuri dan Nuruddin ar-Raniri dengan disiplin filologis dan konseptual yang ketat.

Namun, nama Al-Attas paling dikenal melalui kritiknya terhadap sekularisme. Menurutnya, sekularisme bukan sekadar pemisahan agama dan negara, melainkan sistem pandang yang memengaruhi cara manusia memahami ilmu, realitas, nilai, bahkan dirinya sendiri.

“Inilah tesis besarnya,” ujar Syifa. Ilmu tidak pernah sepenuhnya netral. Ketika umat Islam mengambil ilmu modern Barat tanpa memeriksa worldview di baliknya, yang masuk bukan hanya metode, tetapi juga asumsi-asumsi sekular tentang manusia, kebebasan, alam, dan kebenaran.

Akibatnya, lahirlah apa yang oleh Al-Attas disebut sebagai krisis kebenaran, kekacauan ilmu, dan kebingungan intelektual umat. Persoalannya bukan sekadar “Barat salah”, tetapi umat Islam memakai instrumen pengetahuan yang dibentuk oleh peradaban lain, lalu heran ketika kehilangan arah.

Dari sinilah lahir gagasan terkenalnya tentang islamisasi ilmu, yang kerap disalahpahami. Syifa menegaskan, islamisasi ilmu bukan sekadar menempelkan ayat Al-Qur’an pada semua disiplin ilmu, bukan ayatisasi, bukan slogan religius, dan bukan pula anti-sains.

Dalam logika Al-Attas, islamisasi ilmu adalah proses membebaskan ilmu dari asumsi-asumsi sekuler yang tersembunyi di dalamnya, lalu menatanya kembali berdasarkan konsep-konsep kunci Islam tentang manusia, jiwa, akal, realitas, dan tujuan hidup. Ini bukan proyek kosmetik, melainkan reorientasi epistemologis.

Meski demikian, warisan ini juga tidak luput dari kritik. Sarjana Malaysia Muhammad Faisal Musa menilai proyek islamisasi ilmu di Malaysia tidak berhenti di ruang akademik, tetapi masuk ke arus utama negara dan dalam pembacaan tertentu ikut memperkuat konservatisme intelektual serta kecenderungan eksklusif. Warisan Al-Attas, karenanya, besar sekaligus diperdebatkan.

Tujuan Pendidikan

Bagi Syifa, warisan paling tahan lama Al-Attas justru bukan istilah islamisasi ilmu, melainkan satu kata: adab.

Dalam Aims and Objectives of Islamic Education, Al-Attas menegaskan bahwa tujuan pendidikan Islam adalah menghasilkan “good man”, manusia yang baik—bukan sekadar tenaga kerja, warga yang patuh, atau individu kompetitif di pasar kerja.

Manusia yang baik itu adalah manusia beradab. Adab, menurut Al-Attas, bukan sekadar sopan santun, tetapi kemampuan menempatkan segala sesuatu pada tempatnya yang tepat: Tuhan pada posisi ketuhanan-Nya, wahyu pada otoritasnya, akal pada fungsi dan batasannya, ilmu pada hierarkinya, dan manusia pada tanggung jawab moralnya.

Karena itu, tujuan pendidikan bukan sekadar ta’lim atau transfer pengetahuan, bukan hanya tadris atau pengajaran, tetapi ta’dib—membentuk manusia yang beradab.

“Al-Attas mengatakan krisis besar umat Islam sebenarnya adalah kehilangan adab. Dari situlah lahir kekacauan ilmu, kepemimpinan palsu, dan ketidakadilan,” kata Syifa.

Menurutnya, diagnosis ini sangat tajam. Masalah umat bukan semata kurang pintar, tetapi kehilangan tata susun moral-intelektual untuk memahami ilmu secara benar.

Syifa pun merumuskan posisi Al-Attas secara singkat: ia adalah pemikir Islam modern di Asia Tenggara yang paling sistematis dalam menjadikan desekularisasi ilmu sebagai jalan pembaruan peradaban.

Warisan terbesarnya bukan hanya kritik atas Barat dan sekularisme, tetapi upayanya mengembalikan ilmu kepada tauhid, serta mengembalikan pendidikan kepada adab.

“Maka ketika Al-Attas wafat, yang hilang bukan sekadar seorang profesor. Yang hilang adalah satu generasi pemikir yang masih percaya bahwa kebangkitan umat harus dimulai dari ilmu yang tertib, makna yang tepat, dan manusia yang beradab,” pungkasnya.( sumber muhammadiyah.or.id )

Kamis, 02 April 2026

Indikator Ketaqwaan Dalam Alqur'an


 

Indikator Ketaqwaan Dalam Alqur'an (Khutbah Jum'ah) 

Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam. Dia yang telah memilih kita untuk merasakan indahnya Ramadhan, memberi kita kesempatan untuk memperbaiki diri, dan kini mengantarkan kita pada hari kemenangan. Sungguh, jika bukan karena rahmat-Nya, kita tidak akan mampu menahan lapar dan dahaga. Jika bukan karena kasih-Nya, kita tidak akan mampu memperbanyak ibadah dan meninggalkan maksiat.

Ya Allah, limpahkanlah shalawat dan salam kepada junjungan kami, Nabi Muhammad ﷺ. Sang cahaya yang menerangi kegelapan, rahmat yang dihadiahkan kepada alam semesta. Dialah teladan terbaik dalam keshabaran, pengorbanan, dan keistiqamahan. Rasul yang menangis dalam sujudnya demi umatnya, yang berpuasa bukan hanya menahan lapar, tetapi juga mendekatkan diri kepada-Mu.

Al-Qur’an telah menjelaskan kepada kita tentang karakteristik manusia bertakwa. Selain agar kita memahami ciri-cirinya, juga sebagai introspeksi diri apakah kita ada dalam jalur takwa tidak, agar kita dapat meraba sejauh mana ketakwaan kita kepada Allah telah mencapai substansinya. Allah sendiri menjamin hamba-Nya yang bertakwa akan mendapatkan hidup yang kekal di surga ditemani pasangan yang telah disucikan, lebih dari itu, karunia terbesar yang akan diberikan adalah rida dari-Nya.

Indikatot / Ciri-ciri orang yang bertakwa dapat kita lihat salah satunya dalam firman Allah surah Ali Imran ayat 16-17 yang berbunyi,


[16] (Yaitu) orang-orang yang berdoa, “Ya Tuhan kami, kami benar-benar beriman, maka ampunilah dosa-dosa kami dan lindungilah kami dari azab neraka.” [17] (Juga) orang yang sabar, orang yang benar, orang yang taat, orang yang menginfakkan hartanya, dan orang yang memohon ampunan pada waktu fajar. (QS. Ali Imran [3]: 16-17)

Dua ayat di atas menjelaskan bahwa orang yang bertakwa adalah mereka yang berdoa “Allażīna yaqụlụna rabbanā innanā āmannā fagfir lanā żunụbanā wa qinā 'ażāban-nār”, yakni orang yang senantiasa memohon ampunan dosa dan perlindungan dari neraka. Selanjutnya adalah orang-orang yang sabar, berlaku benar, taat, berinfaq, dan berdoa di akhir malam.

Al-Qusyairi menafsiri ayat ke-16 yakni orang-orang yang menyendiri sowan kepada Allah dengan rendah hati mengangkat kedua tangan berdoa dan mengeluhkan semua ujian dan musibah yang mereka alami. Mereka adalah orang-orang yang mendapatkan kedudukan dan keistimewaan, derajat yang tinggi, dan pemberian yang diridai Allah. (Lathaif Al-Isyarat/1/224)

1.Imannya Tulus. mereka yang tulus beriman kepada AllahIman yang haq (hakiki) adalah keyakinan utuh yang mengintegrasikan tiga komponen: dibenarkan dalam hati, diikrarkan dengan lisan, dan dibuktikan melalui perbuatan nyata. Iman ini tidak sekadar teori, melainkan ketaatan total, menghadirkan Allah dalam setiap tindak an, serta membuahkan akhlak mulia dan amal saleh. Dalam tafsirnya, Ath-Thabari mengartikan doa dalam surah Ali Imran ayat 16, orang-orang yang mengucapkan, “Sesungguhnya kami beriman kepada-Mu, Nabi-Mu, dan semua yang datang kepada kami adalah dari-Mu”. … iman yang benar adalah yang terbebas dari musyrik

2.Pengakuan Dosa: Semoga Engkau menutupi dosa-dosa kami dengan ampunan-Mu dan meniadakan hukuman kepada kami.Doa ini mencerminkan kerendahan hati orang beriman yang mengakui kekurangan diri dalam menaati Allah, serta ketakutan akan siksa-Nya. Selalu Berdoa dengan rendah hati.

3.Fokus pada Akhirat: Permohonan untuk dilindungi dari api neraka dikhususkan karena terbebas dari neraka adalah kemenangan sejati. Jauhkanlah kami dari azab dan neraka-Mu

4.Sabar. Al-Mawardi dalam kitabnya menjabarkan ada tiga interpretasi “Aṣ-ṣābirīn”, di antaranya: (1) Sabar dalam mengekang diri dari berbuat maksiat; (2). Sabar ketika ditimpa musibah; (3) Orang yang berpuasa.

Karakteristik Sabar bukanlah sikap pasif atau lemah, melainkan kekuatan aktif untuk mengendalikan diri agar tidak terburu-buru atau putus asa. Manfaat sabar adalah Menjaga ketenangan jiwa, meningkatkan kesehatan mental, menghindari stres, dan menjadi kunci kesuksesan/kemenangan

5.Sodiq/Benar. Arti kata “aṣ-ṣādiqīn” ada dua; (1) Benar dalam bertutur kata; (2) Benar dalam berkata, merealisasikan dengan berperilaku, dan bertekad sesuai niat. Sedangkan “al-qānitīn” ada dua pendapat, menurut Qatadah yaitu orang yang taat, dan menurut Az-Zujjaj yaitu orang yang senantiasa mendirikan ibadah. orang-orang yang benar, jujur, dan teguh imannya kepada Allah serta Rasul-Nya, mencakup kesesuaian antara keyakinan hati, perkataan, dan perbuatan. Mereka adalah golongan manusia istimewa (setingkat di bawah Nabi) yang menjadi panutan karena ketakwaan, kejujuran, dan keikhlasannya. Jujur dalam Akidah dan Perbuatan: Shadiqin adalah mereka yang hatinya tulus, berniat kuat mengikuti jalan yang benar, dan amal ibadahnya sesuai dengan petunjuk Nabi. Pengikut Rasul yang Setia: Mereka adalah orang-orang yang membenarkan ajaran Rasulullah dan konsisten mengamalkannya.

6. Berinfaq. Kata “al-munfiqīn” juga mengandung dua tafsiran. Pertama, berarti jihad. Kedua, berarti seluruh kebaikan. Adapun “al-mustagfirīna bil-as-ḥār” ada tiga tafsiran:

7. .Istigfar. Orang yang salat di waktu sahur (sebelum fajar), ini pendapat Qatadah. Orang yang beristigfar (meminta ampunan kepada Allah) dengan lisan, pendapat ini dikemukakan oleh Ibnu Umar, Ibnu Mas’ud, dan Anas bin Malik .  Orang yang hadir mengikuti salat subuh berjamaah, pendapat ini dari Zaid bin Aslam (An-Nukat wa Al-‘Uyun/1/377-378)

(1) “Aṣ-ṣābirīn” artinya orang-orang yang sabar saat terkena musibah dan kesulitan.

(2) “Aṣ-ṣādiqīn” artinya orang-orang yang menyatakan iman kepada Allah dan utusan-Nya serta semua yang datang adalah dari Allah seraya melaksanakan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya.

(3) “Al-qānitīn” artinya orang-orang yang taat kepada Allah.

Beliau juga mengutip pernyataan Qatadah:

(a) “Aṣ-ṣādiqīn” berarti orang-orang yang benar ucapannya, hati dan lisannya konsisten, benar dalam keadaan lahir dan batinnya.

(b) “Aṣ-ṣābirīn” berarti orang-orang yang sabar dalam melaksanakan perintah dan larangan Allah.

(c) “Al-qānitīn” berarti orang-orang yang taat kepada Allah.

(d) “Al-munfiqīn” berarti orang-orang yang zakat dengan hartanya dengan rendah hati saat menyerahkannya dan menginfakkan hartanya kepada hal-hal yang telah diizinkan Allah.

Kata “al-mustagfirīna bil-as-ḥār” dinyatakan oleh Ath-Thabari bahwa ada berbagai pendapat:

Pendapat pertama mengartikan sebagai orang-orang yang salat di ujung malam yaitu: (1) Orang-orang yang melaksanakan salat; (2) Orang-orang yang salat di akhir malam. Keduanya diriwayatkan oleh Qatadah.

Pendapat kedua mengartikan sebagai orang-orang yang beristigfar:

Ayahnya Ibrahim bin Hathib yang berkata, “Aku mendengar laki-laki di sisi masjid seraya berdoa,  


Nafi’ bercerita bahwa Ibnu Umar menghidupkan malam dengan salat, lalu dia berkata, “Wahai Nafi’, apakah sudah tiba akhir malam?”, Nafi’ menjawab, “belum” lalu beliau kembali berdiri melaksanakan salat. Dan ketika aku berkata, “sudah”, lalu beliau duduk beristigfar dan berdoa sampai tiba waktu subuh.

Anas nin Malik berkata, “Aku diperintahkan membaca istigfar di ujung malam sebanyak 70 kali”.

Abu Ya’kub Adh-Dhabbi berkata, “Aku mendengar Ja’far bin Muhammad berkata, “Barangsiapa salat malam lalu beristigfar di akhir malamnya sebanyak 70 kali maka ia termasuk dalam al-mustagfirīna bil-as-ḥār””.

Pendapat ketiga mengartikan sebagai orang-orang yang hadir mengikuti salat subuh berjamaah. Yakni Ya’kub bin Abdirrahman, beliau pernah bertanya kepada Zaid bin Aslam, “Siapa yang dimaksud al-mustagfirīna bil-as-ḥār?”, Zaid menjawab, “Orang-orang yang hadir melaksanakan salat subuh”.

Ath-Thabari menambahkan, pendapat yang paling utama dari berbagai pendapat di atas adalah mereka yang mengatakan sebagai orang-orang yang memohon kepada agar semua aibnya ditutupi oleh Allah. (Jami’ Al-Bayan fi Ta’wil Al-Qur’an/6/263-267)

Ayat ini juga bisa diaplikasikan dalam pendidikan orang tua kepada anak (parenting education), Al-Baghawi dalam tafsirnya mengutip Al-Hasan yang bercerita kisah Luqman Al-Hakim saat membangunkan anaknya di ujung malam seraya berkata, “Wahai anakku, janganlah kamu kalah dari seekor ayam yang telah berkokok di pagi hari, sedangkan kamu masih dalam keadaan terlelap di tempat tidurmu!” (Ma’alim At-Tanzil fi Tafsir Al-Qur’an/1/420)