ASALAMU 'ALAIKUM WAROHMATULLOHI WABAROKATUH BLOG By MUH FAJAR HUDI APRIANTO @ MARI KITA GUNAKAN WAKTU KITA YANG TERSISA DENGAN SEBAIK MUNGKIN KARENA WAKTU KITA HANYA SEDIKIT AGAR KITA TIDAK TERMASUK ORANG ORANG YANG MERUGI mafa GUNAKAN WAKTU MUDAMU SEBELUM DATANG WAKTU TUAMU WAKTU SEHATMU SEBELUM DATANG WAKTU SAKITMU KAYAMU SEBELUM TIBA MISKIN WAKTU LAPANGMU SEBELUM TIBA WAKTU SEMPITMU DAN GUNAKAN WAKTU HIDUPMU SEBELUM TIBA MATIMU pesan nabi

Kamis, 02 April 2026

Indikator Ketaqwaan Dalam Alqur'an


 

Indikator Ketaqwaan Dalam Alqur'an (Khutbah Jum'ah) 

Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam. Dia yang telah memilih kita untuk merasakan indahnya Ramadhan, memberi kita kesempatan untuk memperbaiki diri, dan kini mengantarkan kita pada hari kemenangan. Sungguh, jika bukan karena rahmat-Nya, kita tidak akan mampu menahan lapar dan dahaga. Jika bukan karena kasih-Nya, kita tidak akan mampu memperbanyak ibadah dan meninggalkan maksiat.

Ya Allah, limpahkanlah shalawat dan salam kepada junjungan kami, Nabi Muhammad ﷺ. Sang cahaya yang menerangi kegelapan, rahmat yang dihadiahkan kepada alam semesta. Dialah teladan terbaik dalam keshabaran, pengorbanan, dan keistiqamahan. Rasul yang menangis dalam sujudnya demi umatnya, yang berpuasa bukan hanya menahan lapar, tetapi juga mendekatkan diri kepada-Mu.

Al-Qur’an telah menjelaskan kepada kita tentang karakteristik manusia bertakwa. Selain agar kita memahami ciri-cirinya, juga sebagai introspeksi diri apakah kita ada dalam jalur takwa tidak, agar kita dapat meraba sejauh mana ketakwaan kita kepada Allah telah mencapai substansinya. Allah sendiri menjamin hamba-Nya yang bertakwa akan mendapatkan hidup yang kekal di surga ditemani pasangan yang telah disucikan, lebih dari itu, karunia terbesar yang akan diberikan adalah rida dari-Nya.

Indikatot / Ciri-ciri orang yang bertakwa dapat kita lihat salah satunya dalam firman Allah surah Ali Imran ayat 16-17 yang berbunyi,


[16] (Yaitu) orang-orang yang berdoa, “Ya Tuhan kami, kami benar-benar beriman, maka ampunilah dosa-dosa kami dan lindungilah kami dari azab neraka.” [17] (Juga) orang yang sabar, orang yang benar, orang yang taat, orang yang menginfakkan hartanya, dan orang yang memohon ampunan pada waktu fajar. (QS. Ali Imran [3]: 16-17)

Dua ayat di atas menjelaskan bahwa orang yang bertakwa adalah mereka yang berdoa “Allażīna yaqụlụna rabbanā innanā āmannā fagfir lanā żunụbanā wa qinā 'ażāban-nār”, yakni orang yang senantiasa memohon ampunan dosa dan perlindungan dari neraka. Selanjutnya adalah orang-orang yang sabar, berlaku benar, taat, berinfaq, dan berdoa di akhir malam.

Al-Qusyairi menafsiri ayat ke-16 yakni orang-orang yang menyendiri sowan kepada Allah dengan rendah hati mengangkat kedua tangan berdoa dan mengeluhkan semua ujian dan musibah yang mereka alami. Mereka adalah orang-orang yang mendapatkan kedudukan dan keistimewaan, derajat yang tinggi, dan pemberian yang diridai Allah. (Lathaif Al-Isyarat/1/224)

1.Imannya Tulus. mereka yang tulus beriman kepada AllahIman yang haq (hakiki) adalah keyakinan utuh yang mengintegrasikan tiga komponen: dibenarkan dalam hati, diikrarkan dengan lisan, dan dibuktikan melalui perbuatan nyata. Iman ini tidak sekadar teori, melainkan ketaatan total, menghadirkan Allah dalam setiap tindak an, serta membuahkan akhlak mulia dan amal saleh. Dalam tafsirnya, Ath-Thabari mengartikan doa dalam surah Ali Imran ayat 16, orang-orang yang mengucapkan, “Sesungguhnya kami beriman kepada-Mu, Nabi-Mu, dan semua yang datang kepada kami adalah dari-Mu”. … iman yang benar adalah yang terbebas dari musyrik

2.Pengakuan Dosa: Semoga Engkau menutupi dosa-dosa kami dengan ampunan-Mu dan meniadakan hukuman kepada kami.Doa ini mencerminkan kerendahan hati orang beriman yang mengakui kekurangan diri dalam menaati Allah, serta ketakutan akan siksa-Nya. Selalu Berdoa dengan rendah hati.

3.Fokus pada Akhirat: Permohonan untuk dilindungi dari api neraka dikhususkan karena terbebas dari neraka adalah kemenangan sejati. Jauhkanlah kami dari azab dan neraka-Mu

4.Sabar. Al-Mawardi dalam kitabnya menjabarkan ada tiga interpretasi “Aṣ-ṣābirīn”, di antaranya: (1) Sabar dalam mengekang diri dari berbuat maksiat; (2). Sabar ketika ditimpa musibah; (3) Orang yang berpuasa.

Karakteristik Sabar bukanlah sikap pasif atau lemah, melainkan kekuatan aktif untuk mengendalikan diri agar tidak terburu-buru atau putus asa. Manfaat sabar adalah Menjaga ketenangan jiwa, meningkatkan kesehatan mental, menghindari stres, dan menjadi kunci kesuksesan/kemenangan

5.Sodiq/Benar. Arti kata “aṣ-ṣādiqīn” ada dua; (1) Benar dalam bertutur kata; (2) Benar dalam berkata, merealisasikan dengan berperilaku, dan bertekad sesuai niat. Sedangkan “al-qānitīn” ada dua pendapat, menurut Qatadah yaitu orang yang taat, dan menurut Az-Zujjaj yaitu orang yang senantiasa mendirikan ibadah. orang-orang yang benar, jujur, dan teguh imannya kepada Allah serta Rasul-Nya, mencakup kesesuaian antara keyakinan hati, perkataan, dan perbuatan. Mereka adalah golongan manusia istimewa (setingkat di bawah Nabi) yang menjadi panutan karena ketakwaan, kejujuran, dan keikhlasannya. Jujur dalam Akidah dan Perbuatan: Shadiqin adalah mereka yang hatinya tulus, berniat kuat mengikuti jalan yang benar, dan amal ibadahnya sesuai dengan petunjuk Nabi. Pengikut Rasul yang Setia: Mereka adalah orang-orang yang membenarkan ajaran Rasulullah dan konsisten mengamalkannya.

6. Berinfaq. Kata “al-munfiqīn” juga mengandung dua tafsiran. Pertama, berarti jihad. Kedua, berarti seluruh kebaikan. Adapun “al-mustagfirīna bil-as-ḥār” ada tiga tafsiran:

7. .Istigfar. Orang yang salat di waktu sahur (sebelum fajar), ini pendapat Qatadah. Orang yang beristigfar (meminta ampunan kepada Allah) dengan lisan, pendapat ini dikemukakan oleh Ibnu Umar, Ibnu Mas’ud, dan Anas bin Malik .  Orang yang hadir mengikuti salat subuh berjamaah, pendapat ini dari Zaid bin Aslam (An-Nukat wa Al-‘Uyun/1/377-378)

(1) “Aṣ-ṣābirīn” artinya orang-orang yang sabar saat terkena musibah dan kesulitan.

(2) “Aṣ-ṣādiqīn” artinya orang-orang yang menyatakan iman kepada Allah dan utusan-Nya serta semua yang datang adalah dari Allah seraya melaksanakan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya.

(3) “Al-qānitīn” artinya orang-orang yang taat kepada Allah.

Beliau juga mengutip pernyataan Qatadah:

(a) “Aṣ-ṣādiqīn” berarti orang-orang yang benar ucapannya, hati dan lisannya konsisten, benar dalam keadaan lahir dan batinnya.

(b) “Aṣ-ṣābirīn” berarti orang-orang yang sabar dalam melaksanakan perintah dan larangan Allah.

(c) “Al-qānitīn” berarti orang-orang yang taat kepada Allah.

(d) “Al-munfiqīn” berarti orang-orang yang zakat dengan hartanya dengan rendah hati saat menyerahkannya dan menginfakkan hartanya kepada hal-hal yang telah diizinkan Allah.

Kata “al-mustagfirīna bil-as-ḥār” dinyatakan oleh Ath-Thabari bahwa ada berbagai pendapat:

Pendapat pertama mengartikan sebagai orang-orang yang salat di ujung malam yaitu: (1) Orang-orang yang melaksanakan salat; (2) Orang-orang yang salat di akhir malam. Keduanya diriwayatkan oleh Qatadah.

Pendapat kedua mengartikan sebagai orang-orang yang beristigfar:

Ayahnya Ibrahim bin Hathib yang berkata, “Aku mendengar laki-laki di sisi masjid seraya berdoa,  


Nafi’ bercerita bahwa Ibnu Umar menghidupkan malam dengan salat, lalu dia berkata, “Wahai Nafi’, apakah sudah tiba akhir malam?”, Nafi’ menjawab, “belum” lalu beliau kembali berdiri melaksanakan salat. Dan ketika aku berkata, “sudah”, lalu beliau duduk beristigfar dan berdoa sampai tiba waktu subuh.

Anas nin Malik berkata, “Aku diperintahkan membaca istigfar di ujung malam sebanyak 70 kali”.

Abu Ya’kub Adh-Dhabbi berkata, “Aku mendengar Ja’far bin Muhammad berkata, “Barangsiapa salat malam lalu beristigfar di akhir malamnya sebanyak 70 kali maka ia termasuk dalam al-mustagfirīna bil-as-ḥār””.

Pendapat ketiga mengartikan sebagai orang-orang yang hadir mengikuti salat subuh berjamaah. Yakni Ya’kub bin Abdirrahman, beliau pernah bertanya kepada Zaid bin Aslam, “Siapa yang dimaksud al-mustagfirīna bil-as-ḥār?”, Zaid menjawab, “Orang-orang yang hadir melaksanakan salat subuh”.

Ath-Thabari menambahkan, pendapat yang paling utama dari berbagai pendapat di atas adalah mereka yang mengatakan sebagai orang-orang yang memohon kepada agar semua aibnya ditutupi oleh Allah. (Jami’ Al-Bayan fi Ta’wil Al-Qur’an/6/263-267)

Ayat ini juga bisa diaplikasikan dalam pendidikan orang tua kepada anak (parenting education), Al-Baghawi dalam tafsirnya mengutip Al-Hasan yang bercerita kisah Luqman Al-Hakim saat membangunkan anaknya di ujung malam seraya berkata, “Wahai anakku, janganlah kamu kalah dari seekor ayam yang telah berkokok di pagi hari, sedangkan kamu masih dalam keadaan terlelap di tempat tidurmu!” (Ma’alim At-Tanzil fi Tafsir Al-Qur’an/1/420)

Senin, 17 November 2025

Pentingnya Agama Islam dalam Kehidupan

 


Pentingnya Agama Islam dalam Kehidupan  

Segala puji bagi Allah SWT yang telah memberikan kita nikmat iman dan Islam. Shalawat serta salam semoga tercurah kepada Nabi Muhammad SAW, keluarga, sahabat, dan seluruh umatnya hingga akhir zaman. Di era digital ini peranan agama semakin tergerus dan menghadapi tantangan yang berat apalagi bagi generasi milenial dan Gen Z yang sadar maupun tak sadar terpapar dengan virus pemikiran yang menyeret mereka pada satu pemahaman yang salah terhadap agama khususnya Islam ada yang terseret pada nativisasi, sekulerisme bahkan sampai pada agnostic dan ateisme.

Menurut penelitian lembaga surve prosentasi penganut agnostic dan ateisme itu meningkat di Eropa dan Asia, termasuk juga di Indonesia.  Meningkatnya ateisme di Indonesia tidak dapat dipastikan dengan data yang pasti karena stigma sosial dan kewajiban mencantumkan agama di dokumen resmi. Namun, ada indikasi peningkatan melalui survey yang menunjukkan sebagian pemuda mungkin tidak lagi memiliki keyakinan agama ‘warisan’, dipicu oleh kekecewaan terhadap praktik keagamaan yang dogmatis, ketidaksesuaian antara ajaran dan perilaku pemuka agama, serta pengaruh internet yang memudahkan orang menemukan komunitas sehaluan.

Pengertian. Ateis adalah orang yang tidak percaya akan keberadaan Tuhan, sedangkan agnostik adalah orang yang tidak tahu dan berpendapat bahwa keberadaan Tuhan tidak dapat diketahui. Perbedaannya terletak pada klaim pengetahuan: ateis mengklaim bahwa Tuhan tidak ada, sementara agnostik menyatakan bahwa tidak ada cukup bukti untuk mengetahui secara pasti apakah Tuhan ada atau tidak

Penyebab yang mungkin memicu peningkatan ateisme

-Kekecewaan terhadap pemuka agama: Beberapa pemuda merasa kecewa dengan perilaku pemuka agama yang dianggap tidak mencerminkan ajaran welas asih atau malah menampilkan sikap kaku dan dogmatis.

-Pola pendidikan agama yang dogmatis: Pola pendidikan agama yang terlalu keras dan dogmatis dari orang tua dapat mendorong anak menjadi tidak simpatik dengan agama, bahkan menentangnya.

-Dampak internet: Perkembangan internet memungkinkan orang untuk terhubung dengan komunitas daring yang memiliki pandangan serupa, baik itu agnostik maupun ateis. Internet dan media sosial memberikan akses ke berbagai gagasan, ide-ide kritis, dan informasi tentang pandangan agama yang berbeda, yang bisa mengarah pada penurunan keyakinan agama.

-Pengaruh kasus kekerasan atas nama agama: Pemberitaan tentang kasus-kasus kekerasan yang mengatasnamakan agama dapat memicu pandangan negatif terhadap agama secara umum.

-Kesenjangan ekonomi dan ketidakadilan: Kesenjangan ekonomi dan perasaan tidak adil dapat mendorong sebagian orang untuk percaya bahwa masalah sosial dan keadilan adalah ciptaan manusia, bukan actor ilahi.

-Pendidikan dan sains: Pendidikan yang lebih tinggi dan pengenalan terhadap teori ilmiah seperti evolusi dan Big Bang cenderung membentuk pandangan dunia yang lebih sekuler.

-Nilai-nilai liberal: Munculnya nilai-nilai yang lebih liberal seperti kebebasan pribadi dan empirisme di berbagai negara juga berkontribusi pada pergeseran keyakinan.

Tantangan yang dihadapi

-Stigma sosial yang kuat: Di Indonesia, menjadi ateis sangat tidak umum dan mendapat stigma negatif yang besar dari masyarakat.

-Kewajiban mencantumkan agama: KTP dan dokumen administratif lainnya mewajibkan warga negara untuk mencantumkan salah satu dari enam agama yang diakui negara, yang mempersulit pengakuan resmi bagi penganut ateisme.

-Persekusi hukum: Ada undang-undang yang dapat menjerat seseorang yang dianggap menghasut orang lain untuk tidak beragama, sebagaimana dialami oleh Alexander Aan di masa lalu.

Meskipun sulit mengukur peningkatan jumlah ateis di Indonesia karena faktor-faktor di atas, tren global menunjukkan peningkatan jumlah generasi muda yang meninggalkan agama warisan, meskipun Indonesia memiliki tingkat keyakinan agama yang relatif tinggi berdasarkan survei tertentu. berikut beberapa hal yang menunjukkan pentingnya kedudukan agama (dienul Islam)

1. Agama sebagai Pedoman Hidup

Agama bukan sekadar ritual, tetapi merupakan sistem nilai yang membimbing kita dalam menjalani kehidupan. Dalam setiap aspek—baik pribadi, sosial, maupun spiritual—agama hadir sebagai kompas moral yang menunjukkan arah kebaikan.

Tanpa agama, manusia mudah terombang-ambing oleh hawa nafsu dan godaan dunia. Agama mengajarkan kita untuk jujur, amanah, sabar, dan bertanggung jawab. Nilai-nilai ini menjadi fondasi dalam membentuk karakter yang mulia.

Artinya: Dan apabila kamu tidak membawa suatu ayat Al Quran kepada mereka, mereka berkata: "Mengapa tidak kamu buat sendiri ayat itu?" Katakanlah: "Sesungguhnya aku hanya mengikut apa yang diwahyukan dari Tuhanku kepadaku. Al Quran ini adalah bukti-bukti yang nyata dari Tuhanmu, petunjuk dan rahmat bagi orang-orang yang beriman".

2. Agama Memberi Ketenangan Batin

Di tengah hiruk-pikuk dunia, banyak orang mencari ketenangan. Namun, ketenangan sejati tidak datang dari harta atau jabatan, melainkan dari kedekatan dengan Tuhan. Dalam Al-Qur’an disebutkan:

"Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram." (QS. Ar-Ra’d: 28)

Ketika kita berserah diri kepada Tuhan, kita merasa lebih ringan menghadapi ujian hidup. Doa dan ibadah menjadi sumber kekuatan batin yang luar biasa.

Jepang mencatat jumlah kasus bunuh diri tertinggi di kalangan pelajar pada tahun 2024, menurut data terbaru dari Kementerian Kesehatan yang dirilis pada Rabu (29/1/2025).

Angka kasus bunuh diri di kalangan siswa sekolah dasar hingga sekolah menengah meningkat menjadi 527 kasus, naik dari 513 kasus pada tahun sebelumnya.

Meskipun demikian, jumlah keseluruhan kasus bunuh diri di Jepang mengalami penurunan 7,2 persen menjadi 20.268 kasus, jauh lebih rendah dibandingkan puncaknya pada 2003 yang mencapai 34.427 kasus.

3. Agama Menumbuhkan Solidaritas Sosial

Agama mengajarkan kita untuk peduli terhadap sesama. Dalam Islam, misalnya, zakat dan sedekah bukan hanya ibadah, tapi juga bentuk kepedulian sosial. Kita diajarkan untuk membantu yang lemah, menyantuni yatim, dan menjaga silaturahmi.

Agama juga mendorong toleransi antar umat. Meski berbeda keyakinan, kita diajarkan untuk saling menghormati dan hidup berdampingan dengan damai.

4. Agama Inspirasi  Ilmu Pengetahuan

Agama tidak bertentangan dengan ilmu. Justru, banyak ayat dalam kitab suci yang mendorong kita untuk berpikir, belajar, dan meneliti. Dalam sejarah, banyak ilmuwan besar yang lahir dari lingkungan religius dan menjadikan ilmu sebagai bentuk ibadah.

“Dan perumpamaan-perumpamaan ini Kami buat untuk manusia; dan tiada yang memahaminya kecuali orang-orang yang berilmu.” (QS. Al-Ankabut :43)

Jama’ah Jum’ah yang dirahmati Allah, Agama adalah cahaya dalam kegelapan, penuntun dalam kebingungan, dan pelipur dalam kesedihan. Islam  menekankan kewajiban dan keutamaan menuntut ilmu, baik agama maupun dunia, dengan landasan utama dari Al-Qur'an (seperti QS. Al-'Alaq 1-5 dan QS. At-Taubah 122) dan hadis (seperti hadis Muslim dan Tirmidzi). Islam memandang ilmu sebagai kunci kebaikan, mengangkat derajat orang berilmu, memudahkan jalan menuju surga, dan memberikan kebaikan dunia akhirat. Kita tengok iptek bersinar di era Andalusia dan Abbasiyah banyak ilmuwan islam menguasai dalam semua disiplin ilmu

5. Mengetahui Makna Hidup dalam Perspektif Islam

Dalam Islam, hidup bukanlah sekadar menjalani rutinitas harian atau mengejar kesenangan dunia semata. Allah SWT berfirman: “Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku.” (QS. Az-Zariyat: 56)

Ayat ini menunjukkan bahwa inti dari makna hidup seorang muslim adalah untuk beribadah kepada Allah. Namun, ibadah dalam Islam tidak terbatas hanya pada ritual seperti salat dan puasa. Setiap aspek kehidupan seperti bekerja, belajar, berkeluarga, bahkan bersosialisasi bisa menjadi bentuk ibadah jika diniatkan karena Allah.

6. Agama adalah Nasihat. Bahwa dalam dinul islam kita diajari bagaimana kita merespon sebuah keadaan yang menimpa kita ketika sedih agama perintahkan sabar, kitika senagng bersukur ketika marah, tertimpa ujian bagaimana agama menyediakan cara /meresponnya dengan cara terbaik.

“Agama itu adalah nasihat, agama itu adalah nasihat, agama itu adalah nasihat. Mereka (para Sahabat) bertanya: ‘Untuk siapa, wahai Rasulullah?’ Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab: ‘Untuk Allah, Kitab-Nya, Rasul-Nya, Imam kaum Muslimin atau Mukminin, dan bagi kaum Muslimin pada umumnya.