ASALAMU 'ALAIKUM WAROHMATULLOHI WABAROKATUH BLOG By MUH FAJAR HUDI APRIANTO @ MARI KITA GUNAKAN WAKTU KITA YANG TERSISA DENGAN SEBAIK MUNGKIN KARENA WAKTU KITA HANYA SEDIKIT AGAR KITA TIDAK TERMASUK ORANG ORANG YANG MERUGI mafa GUNAKAN WAKTU MUDAMU SEBELUM DATANG WAKTU TUAMU WAKTU SEHATMU SEBELUM DATANG WAKTU SAKITMU KAYAMU SEBELUM TIBA MISKIN WAKTU LAPANGMU SEBELUM TIBA WAKTU SEMPITMU DAN GUNAKAN WAKTU HIDUPMU SEBELUM TIBA MATIMU pesan nabi

Jumat, 15 Juni 2012

Ummu Kultsum


Beliau adalah seorang wanita yang padat tubuhnya, cantik wajahnya, dan lebar kedua pipinya. Rasulullah saw memberikan nama untuk beliau Ummu Kultsum. Beliau dilahirkan setelah kakaknya yang bernama Ruqayyah. Keduanya sama besar dan sangat mirip dan saling mengasihi, sehingga seolah-olah mereka berdua kembar.
Sebagaimana yang telah dijelaskan pada profil Ruqayyah dalam edisi sebelum ini, maka tatkala Ummu Kultsum diceraikan oleh Utaibah (putra Abu Lahab), tinggallah beliau bersama adiknya, Fatimah, di rumah ayahnya Muhammad saw di Mekah sambil ikut membantu ibunya, yakni Khadijah Ummul Mukminin yang menghadapi beratnya kehidupan dan ikut meringankan gangguan orang-orang musyrik yang ditujukan kepada kedua orang tuanya.
Hingga sampai puncak kebodohannya, orang-orang Quraisy memutuskan untuk memboikot kaum muslimin dan Bani Hasyim. Pemboikotannya ketika itu berupa menghalangi mereka dari berbagai keperluan, menggencet ekonomi dan kemasyarakatan. Maka, Ummu Kultsum dan keluarganya termasuk orang yang mengalami sempit dan susahnya hidup akibat pemboikotan tersebut. Hal tersebut berlangsung sampai tiga tahun lamanya.
Pada saat itu Ummu Kultsum ra memiliki tanggung jawab yang paling besar karena ibunya, Khadijah ra, menderita sakit akibat pemboikotan tersebut. Beliau hanya bisa berbaring di tempat, karena sakit parah. Ditambah lagi, adiknya, Fatimah az-Zahra', masih butuh penjagaan dan bantuannya.
Setelah kaum muslimin keluar dari ujian pemboikotan, bertambahlah ujian yang menimpa mereka dan bertambah kuat pula tekad mereka dengan adanya cobaan tersebut. Di rumah Nabi saw, Ummul Mukminin Khadijah ra sedang menghembuskan nafas yang terakhir, sedang ketiga putrinya, Zainab, Ummu Kultsum, dan Fatimah mengelilingi beliau. Begitu pula suami tercinta Muhammad saw duduk di sampingnya ikut meringankan sakaratul maut dan memberi kabar gembira kepada istrinya dengan kenikmatan akhirat yang telah Allah janjikan untuk dirinya.
Pada tanggal 10 Ramadhan tahun ke-10 setelah bi'tsah (kenabian), berangkatlah ruh yang suci menghadap Allah SWT, sehingga Ummu Kultsum menjadi orang yang bertanggung jawab mengurus rumah tangga Nubuwwah yang suci.
Setelah orang-orang Quraisy merasa gagal untuk mencegah beliau saw melalui bidang politik dan kemasyarakatan, mereka memutuskan untuk melenyapkan Nabi saw. Akan tetapi, Allah telah memberitahukan kepada beliau tentang rahasia musuh dan memerintahkan kepada beliau agar hijrah ke Yatsrib (Madinah).
Kaum muslimin hijrah menuju tempat yang memiliki izzah dan pembela, begitu pula Rasulullah saw. Ketika beliau hijrah ditemani oleh Abu Bakar as-Shiddiq, sedangkan Ummu Kultsum dan Fatimah tetap tinggal di Mekah, sampai akhirnya Rasulullah mengirimkan utusan, yakni Zaid bin Haritsah untuk menjemput mereka berdua menuju Yatsrib.
Setelah dua tahun Rasulullah saw tinggal di Madinah, Ummu Kultsum menyaksikan kembalinya Nabi dari perang Badar dengan membawa kemenangan. Namun, beliau juga menyaksikan wafatnya saudarinya yang mirip dengannya, yakni Ruqayyah istri Utsman bin Affan karena sakit yang dideritanya.
Bersamaan dengan permulaan tahun ketiga Hijriyah, Ummu Kultsum sering melihat Utsman bin Affan bolak-balik menemui ayahnya untuk mencari jalan keluar yang dapat menghibur dirinya setelah kehilangan istri yang sangat berarti bagi dirinya. Pada saat yang sama, Umar bin Khaththab ra menemui Rasulullah saw untuk mengadu dan tampak marah atas sikap Abu Bakar dan Utsman yang menolak tatkala Umar menawarkan kepada mereka agar mereka mau menikahi putrinya, yaitu Hafshah. Ketika itu, Ummu Kultsum mendengar ayahnya saw bersabda kepada Umar dengan lemah lembut, "Hafshah akan dinikahi oleh orang yang lebih baik daripada Utsman, dan Utsman akan menikah dengan wanita yang lebih baik daripada Hafshah." Maka, berdebar-debarlah hati Ummu Kultsum, karena dengan kecerdasannya beliau bisa menangkap maksud ayahnya bahwa dia akan dinikahkan dengan Utsman, sebab siapa lagi yang lebih baik daripada Hafshah binti Umar selain putri Nabi saw?
Ketika Ummu Kultsum mengenang saat-saat bersama saudari dekatnya, Ruqayyah (tatkala masih hidup), tiba-tiba Rasulullah saw memanggil beliau untuk menyampaikan kabar.
Kemudian dilakukanlah akad nikah antara Ummu Kultsum dengan Utsman bin Affan ra. Pada hari itu pula Utsman dijuluki "Dzun Nuurain," sebab belum pernah ada seorang pun yang dinikahkan dengan dua putri Nabi selain dirinya. Berpindahlah Ummu Kultsum ke rumah suaminya dan beliau hidup bersamanya selama enam tahun. Beliau menyaksikan Islam sampai pada puncak kejayaan. Beliau juga menyaksikan ayahnya saw keluar dari peperangan demi peperangan untuk menguatkan Islam dan menjadikan Islam jaya. Adapun suaminya "Dzun Nuurain" bersama dengan para sahabatnya berjihad dengan harta dan jiwa.
Ummu Kultsum juga menyaksikan "Yaumun Nashr al-Akbar" yakni hari dibukanya kota Mekah, sehingga timbullah keinginan hati beliau untuk dapat mengunjungi kubur ibunya, hanya saja wafat telah mendahuluinya pada bulan Sya'ban tahun 9 Hijriyyah. Maka, Rasulullah saw menguburkan beliau di samping saudari dekat yang dicintainya, yakni Ruqayyah.
Semoga Allah merahmati Ummu Kultsum yang ikut andil besar dalam menanggung beban dakwah di jalan Allah, beliau telah merasakan dan mengalami masa yang penuh dengan penderitaan dan posisi dakwah yang paling sulit serta kerasnya hari-hari berjihad.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar