ASALAMU 'ALAIKUM WAROHMATULLOHI WABAROKATUH BLOG By MUH FAJAR HUDI APRIANTO @ MARI KITA GUNAKAN WAKTU KITA YANG TERSISA DENGAN SEBAIK MUNGKIN KARENA WAKTU KITA HANYA SEDIKIT AGAR KITA TIDAK TERMASUK ORANG ORANG YANG MERUGI mafa GUNAKAN WAKTU MUDAMU SEBELUM DATANG WAKTU TUAMU WAKTU SEHATMU SEBELUM DATANG WAKTU SAKITMU KAYAMU SEBELUM TIBA MISKIN WAKTU LAPANGMU SEBELUM TIBA WAKTU SEMPITMU DAN GUNAKAN WAKTU HIDUPMU SEBELUM TIBA MATIMU pesan nabi

Jumat, 19 Maret 2021

Ciri Orang Yang Sholatnya diterima Alloh

 Alhamdulilah  washolatu wasalamu ala Rosulilah ........

Shalat merupakan tiang agama dan menjadi ‘amal yang pertama kali akan dihisab di yaumil qiyamah kelak. Nabi melanjutkan ”Jika shalat baik maka baik pula seluruh amalan lainnya, begitu pula sebaliknya “. Namun ada keprihatinan saat membaca satu keterangan bahwa di yaumil qiyamah nanti ada seorang hamba yang selalu mengerjakan shalat, tapi ketika ia ingin meminta pahala dari ibadah shalatnya itu, apa yang terjadi?

Ternyata kata Rasul : Allah lipat ibadah shalatnya itu seperti sepotong kain yang buruk, lalu Allah lempar ke muka orang tersebut, pertanda shalatnya tidak diterima. ….Tak ada satu manusia pun di bumi ini yang bisa menjamin akan sholat kita diterima Allah SWT, karena itu semua adalah rahasia allah.

Banyak sekali orang yang shalat dan shalatnya akan dibantingkan ke wajahnya, ditolak oleh Allah. Bahkan ada yang yang celaka dengan shalatnya. Seperti yang terdapat dalam firman Allah swt dalam surat Al Ma’un 4-5: ” Maka celakalah bagi orang-orang yang shalat, yaitu orang-orang yang melalaikan shalatnya “.

Sabda Rasulullah saw yang bermaksud : “Barang siapa yang solatnya tidak dapat menahan daripada melakukan perbuatan keji dan mungkar, maka sesungguhnya solatnya itu hanya menambahkan kemungkaran Allah SWT dan jauh dari Allah SWT”. Lalu seoerti apa orang yang sholatnya diterima Alloh. Dalam hadis Qudsi Allah berfirman :


 “Sesungguhnya Aku hanya akan menerima shalat orang-orang yang merendahkan dirinya-karena kebesaran-Ku, menahan dirinya dari hawa napsu karena Aku, yang mengisi sebagian waktu siangnya untuk berdzikir kepada-Ku, yang melazimkan hatinya untuk takut kepada-Ku, yang tidak sombong terhadap makhluk-Ku, yang memberi makan pada orang yang lapar, yang memberi pakaian pada orang yang telanjang, yang menyayangi orang yang terkena musibah, yang memberikan perlindungan kepada orang yang terasing. Kelak cahaya orang itu akan bersinar seperti cahaya matahari. Aku akan berikan cahaya ketika dia kegelapan. Aku akan berikan ilmu ketika dia tidak tahu. Aku akan lindungi dia dengan kebesaran-Ku. Aku akan suruh Malaikat menjaganya. Kalau dia berdoa kepada-Ku, Aku akan segera menjawabnya. Kalau dia meminta kepada-Ku, Aku akan segera memenuhi permintaannya. Perumpaannya dihadapan-Ku seperti perumpamaan syurga Firdaus”.

Nah orang-orang yang shalat saja masih bisa celaka, apa lagi yang tidak sholat, bahkan ketika Isra Mi’Raj Nabi bertemu dengan kaum yang dipecahkan kepalanya sampai hancur, siapakah mereka? Lalu apa tanda-tanda shalat yang diterima Allah SWT? Jawabanya diberikan oleh Allah dalam hadist Qudsi .

Dalam kitab At Targhib wat Tarhiib buah karya Al Hafidz. Zakiyuddin al Mundziri ada keterangan sebuah Hadits qudsy, di dalamnya Allah menjelaskan tentang siapa sajakah diantara hamba hamba-Nya yang shalatnya akan diterima, diantaranya adalah :

Dari hadist qudsi yang cukup panjang di atas,  bahwa tanda orang yang shalatnya diterima adalah:

Pertama, Merendahkan diri dihadapan Alloh… Kata Allah : “Aku terima shalatnya seseorang yang ketika ia shalat ia tawadhu’ ( merasa kecil ) di hadapan kebesaran-Ku “. Dari ketawadhu’annya inilah akan memunculkan kekhusyu’an. Para ulama mengatakan : “Kalau kita sudah berdiri di atas sajadah, sudah mengangkat tangan untuk takbir, ketahuilah bahwa kita sudah meninggalkan dunia ini, sudah meninggalkan Moskow atau Jakarta, sudah meninggalkan planet bumi ini, sudah Mi’raj menghadap Allah SWT. Seperti Rosulullah saw, kita sudah berada di Sidratul Muntaha”

Pada suatu hari orang melihat Imam Ali Zainal Abidin sedang berwudhu dan wajahnya berubah menjadi wajah yang pucat pasi. Tubuhnya gemetar. Ketika ditanya ” Wahai Imam. apa yang terjadi?” Imam Ali Zainal Abidin menjawab: ” Engkau tidak mengetahui di hadapan siapa sebentar lagi aku berdiri”.

Ketika berwudhu Imam Ali Zainal Abidin menyadari sebentar lagi beliau akan berdiri dihadapan Robbul Alamin, Penguasa alam semesta ini. Karena itu, pada waktu wudhunya saja beliau sudah gemeteran, sudah ketakutan., karena sebentar lagi mengahadap Allah. Karena merasa rendah di hadapan Allah, hilang jugalah kesombongannya terhadap sesama manusia. Semua makhluk tidak berarti di depan Rabbul ‘Izzati.

 

KeduaDia tidak menyombongkan diri kepada makhluk-Ku. Tawadhu’-nya dalam shalat melahirkan rendah hati dalam pergaulannya dengan sesama manusia. Kekuasaan tidak menyebabkan ia sombong karena ia tahu bahwa kekuasaan adalah amanat Allah. Kekayaan tidak menyebabkannya memperbudak orang lain karena ia tahu bahwa harta hanyalah titipan Allah. Pengetahuan tidak membuatnya tinggi diri sebab ia tahu bahwa pengetahuannya tidak seberapa dibandingkan dengan luasnya ilmu Ilahi. Orang yang shalatnya diterima tidak akan merasa dirinya lebih tinggi daripada orang lain. Rasulullah bersabda: “Tidak akan masuk surga orang yang dalam hatinya ada perasaan sombong walaupun hanya sebesar debu saja.”
Tidak masuk ke dalam golongan yang diterima shalatnya kalau ia bertingkah laku sombong dan takabur terhadap sesamanya……iblis dilaknat Alloh hanya gara gara sombong .. merasa lebih baik dari manusia(adam)
 Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan, Allah itu indah menyukai sikap berhias. Sombong itu menolak kebenaran dengan takabbur dan merendahkan orang lain. (HR. Muslim 275)




Ketiga
Mereka yang tidak terus menerus didalam kema’shiyatan . Dia tidak mengulangi maksiat kepada-Ku. Dalam hidup, sekali waktu kita pernah jatuh ke dalam maksiat, kecil atau besar. Mungkin pernah kita palsukan angka dalam kwitansi. Mungkin pernah kita berdusta kepada orang lain. Mungkin kita pernah menyakiti hati tetangga. Mungkin pernah kita memanfaatkan jabatan untuk memperkaya diri. Bahkan mungkin pernah kita menyebabkan orang lain menderita dalam hidupnya. Sebelum shalat, kenanglah kembali segala kesalahan yang sempat kita ingat. Merintihlah di hadapan Allah , dan ucapkan “Rabbighfirli. Ya Tuhanku ampunilah dosaku.” Setelah shalat jangan ulangi lagi maksiat yang pernah kita lakukan. Shalat yang diterima ialah shalat yang mengubah perilaku orang, yang menyebabkan menjauhi fahsya’ dan munkar, kejelekan dan dosa.
            “Barangsiapa shalatnya tidak menyebabkan dia menjauhi kekejian dan kemungkaran, shalatnya hanya akan menambah dia jauh dari Allah saja.”
 Shalatnya bukan menjadi alat taqarrub, melainkan malah menjadi taba’uud(menjauhkan diri dari Rabbul-alamin). Karena itu, bila selesai shalat orang berdusta lagi, bila setelah sajalah disimpan ia memutar balik angka lagi, bila pulang Jumatan digunakannya jabatan untuk memeras orang lain, maka “shalatnya akan dilipat seperti kain buruk yang dibantingkan ke wajahnya.”
            Karena itu, bila selesai shalat tidak lagi terharu melihat penderitaan orang lain, tidak mau memberi pertolongan kepada mereka yang memerlukan, tenggelam dalam kesenangan dirinya, maka ia termasuk dalam golongan yang disebut oleh Allah…..  “Celakalah orang yang shalat, yang lalai dalam shalatnya.  Yang ingin dipandang, yang tidak mau memberikan pertolongan.”


Keempat, Banyak berdzikir.  Dalam Al Qur’an kita selain diperintahkan untuk banyak melakukan amal sholeh, disuruh juga untuk beramal dengan sebaik-baiknya, hal ini difirmankan Allah yang artinya : “Allah akan menguji kamu siapa yang paling baik amalannya “.

Ï%©!$# t,n=y{ |NöqyJø9$# no4quptø:$#ur öNä.uqè=ö7uÏ9 ö/ä3ƒr& ß`|¡ômr& WxuKtã 4 uqèdur âƒÍyèø9$# âqàÿtóø9$# ÇËÈ  

Artinya , yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun, ( QS Almulk :2 )

 

Jadi Allah akan menguji manusia, siapa yang paling baik amalannya (hasanu amalan) dan bukan yang paling banyak amalannya (aksaru amalan). Lebih bagus lagi, manusia itu banyak amalnya dan baik amalannya.

Mereka yang menggunakan waktu siang untuk terus mengingat Allah. Berdzikir disini berarti merasakan Allah selalu berada dekat dalam hidupnya, dan meyakini bahwa Allah selalu memonitor setiap geraknya


Ada seorang sahabat bertanya kepada Rasulullah saw.,”Ya Rasulallah, syariat Islam sudah banyak pada diriku. Ajarkanlah kepadaku sesuatu yang bisa aku pegang teguh untuk selanjutnya.” Nabi Muhammad saw, menjawab:

 

“Usahakanlah lidahmu selalu basah menyebut nama Allah. Jangan biarkan lidahmu kering tanpa menyebut nama Allah. Berzikir bukan saja disyariatkan setelah sembahyang, melainkan juga pada setiap saat, ketika berdiri, duduk, dan berbaring

 

Kelima,  Solideritas sosial pada sesama. Tanda yang lain dari orang yang shalatnya diterima adalah suka berderma dengan memberikan makanan kepada orang yang lapar atau memberikan pakaian pada orang yang tak punya, dia menyayangi orang yang terkena musibah dan memberikan perlindungan kepada orang yang terasing. Disinilah realisasi orang yang shalatnya diterima dan bila dikaitkan dengan negara kita yang sedang krisis, solideritas sosial dari yang mampu kepada yang tak punya sangat diperlukan.

Bila hal tersebut di atas sudah dilakukan, maka dari wajah orang yang shalatnya diterima akan memancarkan cahaya yang bersinar, cahaya yang menerangi kegelapan dan Allah akan memberikan ilmu pada saat dia tidak tahu. ……kita dpt rizki krn mereka dan doanya

Orang Dermawan insya Allah akan menemukan kenikmatan di dalam shalatnya, dia akan memperoleh kenikmatan didalam shalatnya, karena dia dijaga oleh para Malaikat, diberi cahaya dalam kegelapan dan diberi ilmu secara langsung oleh Allah SWT masuk kedalam hati sanubarinya.

Pada saat peperangan di Jaman Rosulullah banyak morang yang Yahudi yang dihukum mati. Ketika seorang tawanan mau dihukum mati, tiba-tiba malaikat Jibril datang memberi tahu Rosulullah, supaya orang Yahudi itu dibebaskan. Diberitahukan bahwa orang Yahudi yang satu ini suka memberikan makanan, manjamu tamu dan suka menolong fakir miskin. Katika Rosulullah datang memberitahukan kepada orang Yahudi itu bahwa dia dibebaskan…….….Dia( Orang Yahudi) bertanya : “Mengapa?”

Nabi menjawab ” Allah baru saja memberitahukan padaku bahwa kamu suka membantu orang miskin, suka menjamu tamu dan suka memikul beban orang lain” Orang yahudi itu bertanya kembali ” Apakah Tuhanmu menyukai perilaku itu ?”…………….Nabi manjawab:” Betul, Tuhanku menyukai hal itu”

Waktu itu juga orang Yahudi itu memeluk Islam. Dia memeluk Islam karena sifat kedermawanannya dicintai Allah SWT.


Kalau kita bisa mewujudkan kelima hal maka yang kita dapatkan adalah 1. Kelak cahaya orang itu akan bersinar seperti cahaya matahari. Aku (Alloh) akan berikan cahaya ketika dia kegelapan.  2. Aku (Alloh) akan berikan ilmu ketika dia tidak tahu. 3. Aku (Alloh) akan lindungi dia dengan kebesaran-Ku.  3. Aku (Alloh) akan suruh Malaikat menjaganya. 4. Kalau dia berdoa kepada-Ku, Aku (Alloh) akan segera menjawabnya. 5. Kalau dia meminta kepada-Ku, Aku (Alloh) akan segera memenuhi permintaannya. 6. Perumpaannya dihadapan-Ku seperti perumpamaan syurga Firdaus”.

Kamis, 17 Desember 2020

Tawakal Hanya Kepada Alloh

 

Alhamdulillaah sampai hari ini kita masih diberikan nikmat iman oleh Allah SWT, itu artinya Allah ridho dengan kehidupan yang sedang kita jalani sampai detik ini. Manusia hidup di dunia tentu ingin meraih kebahagiaan. Baik kebahagiaan dunia, akhirat, lahir maupun batin. Cukupnya rezeki merupakan salah satu sumber kebahagiaan manusia, meski bukan satu-satunya. Namun demikian, hal ini menjadi salah satu motivasi manusia untuk meraihnya. Mereka bekerja keras, meski masih ada orang yang nasibnya tidak berubah. Oleh karena itu, bertawakal kepada Allah SWT atas apa yang sudah kita peroleh merupakan jalan terbaik.

 Katakanlah: "Sekali-kali tidak akan menimpa Kami melainkan apa yang telah ditetapkan Allah untuk kami. Dialah pelindung Kami, dan hanya kepada Allah orang-orang yang beriman harus bertawakal." (9:51)

Firman Allah SWT dalam Surat At Thalaq ayat 3. " Dan barangsiapa yang bertawakal kepada Allah niscaya Allah mencukupkan keperluannya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan yang dikehendaki-Nya

“Ditampakkan beberapa umat kepadaku, maka ada seorang nabi atau dua orang nabi yang berjalan dengan diikuti oleh antara 3-9 orang. Ada pula seorang nabi yang tidak punya pengikut seorangpun, sampai ditampakkan kepadaku sejumlah besar. Aku pun bertanya apakah ini? Apakah ini ummatku? Maka ada yang menjawab: ‘Ini adalah Musa dan kaumnya,’ lalu dikatakan, ‘Perhatikanlah ke ufuk.’ Maka tiba-tiba ada sejumlah besar manusia memenuhi ufuk kemudian dikatakan kepadaku, ‘Lihatlah ke sana dan ke sana di ufuk langit.’ Maka tiba-tiba ada sejumlah orang telah memenuhi ufuk. Ada yang berkata, ‘Inilah ummatmu, di antara mereka akan ada yang akan masuk surga tanpa hisab sejumlah 70.000 orang. Kemudian Nabi Shalallahu ‘Alaihi wa sallam masuk tanpa menjelaskan hal itu kepada para shahabat. Maka para shahabat pun membicarakan tentang 70.000 orang itu. Mereka berkata, ‘Kita orang-orang yang beriman kepada Allah dan mengikuti rasul-Nya maka kitalah mereka itu atau anak-anak kita yang dilahirkan dalam Islam, sedangkan kita dilahirkan di masa jahiliyah.’ Maka sampailah hal itu kepada Nabi Shalallahu ‘Alaihi wa sallam, lalu beliau keluar dan berkata, ‘mereka adalah orang yang tidak minta diruqyah (dimanterai), tidak meramal nasib dan tidak mita di-kai, dan hanya kepada Allah-lah mereka bertawakkal.” [HR. Bukhari 8270]

Pengertian Tawakal

Banyak orang yang bertawakal namun kebanyakan mereka tidak tahu pengertian Tawakal yang sebenarnya, tawakal berasal dari bahasa arab at tawakul yang di bentuk dari kata wakala, artinya menyerahkan, mempercayai, atau mewakilkan, bersandar kepada dinding. Jadi pengertian tawakal secara istilah adalah rasa pasrah hamba kepada allah swt yang di sertai dengan segala daya dan upaya mematuhi, setia dan menunaikan segala pertintahNya. Orang yang mempunyai  sikap tawakal akan senantiasa bersyukur jika mendapatkan suatu keberhasilan dari usahanya. Hal ini karena ia menyadari bahwa keberhasilan itu di dapatkan atas izin dan kehendak Allah. Sementara itu, jika mengalami kegagalan orang yang mempunyai sifat tawakal akan senantiasa merasa ikhlas menerima keadaan tersebut tanpa merasa putus asa dan larut dalam kesedihan karena ia menyadari bahwa segala keputusan allah pastilah terbaik.

Ibnu Rajab rahimahullah dalam Jami’ul Ulum wal Hikam tatkala menjelaskan hadits no. 49 mengatakan, “Tawakal adalah benarnya penyandaran hati pada Allah ‘azza wa jalla untuk meraih berbagai kemaslahatan dan menghilangkan bahaya baik dalam urusan dunia maupun akhirat, menyerahkan semua urusan kepada-Nya serta meyakini dengan sebenar-benarnya bahwa ‘tidak ada yang memberi, menghalangi, mendatangkan bahaya, dan mendatangkan manfaat kecuali Allah semata‘.”

Ibnu Rajab mengatakan bahwa menjalankan tawakal tidaklah berarti seseorang harus meninggalkan sebab atau sunnatullah yang telah ditetapkan dan ditakdirkan. Karena Allah memerintahkan kita untuk melakukan usaha sekaligus juga memerintahkan kita untuk bertawakal. Oleh karena itu, usaha dengan anggota badan untuk meraih sebab termasuk ketaatan kepada Allah, sedangkan tawakal dengan hati merupakan keimanan kepada-Nya. Sebagaimana Allah Ta’ala telah berfirman (yang artinya), “Hai orang-orang yang beriman, ambillah sikap waspada.” (QS. An Nisa [4]: 71). Allah juga berfirman (yang artinya), “Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang.” (QS. Al Anfaal [8]: 60). Juga firman-Nya (yang artinya), “Apabila telah ditunaikan shalat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah” (QS. Al Jumu’ah [62]: 10). Dalam ayat-ayat ini terlihat bahwa kita juga diperintahkan untuk melakukan usaha.

Sahl At Tusturi mengatakan, “Barang siapa mencela usaha (meninggalkan sebab) maka dia telah mencela sunnatullah (ketentuan yang Allah tetapkan -pen). Barang siapa mencela tawakal (tidak mau bersandar pada Allah, pen) maka dia telah meninggalkan keimanan. (Lihat Jami’ul Ulum wal Hikam)

Dari Umar bin Al Khaththab radhiyallahu ‘anhu berkata, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Seandainya kalian betul-betul bertawakal pada Allah, sungguh Allah akan memberikan kalian rezeki sebagaimana burung mendapatkan rezeki. Burung tersebut pergi pada pagi hari dalam keadaan lapar dan kembali sore harinya dalam keadaan kenyang.” (HR. Ahmad, Tirmidzi, dan Al Hakim. Dikatakan shahih oleh Syaikh Al Albani dalam Silsilah Ash Shohihah no. 310)

Al Munawi juga mengatakan, “Burung itu pergi pada pagi hari dalam keadaan lapar dan kembali ketika sore dalam keadaan kenyang. Namun, usaha (sebab) itu bukanlah yang memberi rezeki, yang memberi rezeki adalah Allah ta’ala. Hal ini menunjukkan bahwa tawakal tidak harus meninggalkan sebab, akan tetapi dengan melakukan berbagai sebab yang akan membawa pada hasil yang diinginkan. Karena burung saja mendapatkan rezeki dengan usaha sehingga hal ini menuntunkan pada kita untuk mencari rezeki. (Lihat Tuhfatul Ahwadzi bisyarhi Jaami’ At Tirmidzi, 7/7-8, Maktabah Syamilah)

Tawakal yang Termasuk Syirik

Setelah kita mengetahui pentingnya melakukan usaha, hendaknya setiap hamba tidak bergantung pada sebab yang telah dilakukan. Karena yang dapat mendatangkan rezeki, mendatangkan manfaat dan menolak bahaya bukanlah sebab tersebut tetapi Allah ta’ala semata.

            Imam Ahmad mengatakan bahwa tawakal adalah amalan hati yaitu ibadah hati semata (Madarijus Salikin, Ibnul Qayyim, 2/96). Sedangkan setiap ibadah wajib ditujukan kepada Allah semata. Barang siapa yang menujukan satu ibadah saja kepada selain Allah maka berarti dia telah terjatuh dalam kesyirikan. Begitu juga apabila seseorang bertawakal dengan menyandarkan hati kepada selain Allah -yaitu sebab yang dilakukan-, maka hal ini juga termasuk kesyirikan.

Tawakal semacam ini bisa termasuk syirik akbar (syirik yang dapat mengeluarkan seseorang dari Islam), apabila dia bertawakal (bersandar) pada makhluk pada suatu perkara yang tidak mampu untuk melakukannya kecuali Allah ta’ala. Seperti bersandar pada makhluk agar dosa-dosanya diampuni, atau untuk memperoleh kebaikan di akhirat, atau untuk segera memperoleh anak sebagaimana yang dilakukan oleh para penyembah kubur dan wali. Mereka menyandarkan hal semacam ini dengan hati mereka, padahal tidak ada siapapun yang mampu mengabulkan hajat mereka kecuali Allah ta’ala. Apa yang mereka lakukan termasuk tawakal kepada selain Allah dalam hal yang tidak ada seorang makhluk pun memenuhinya. Perbuatan semacam ini termasuk syirik akbar. Na’udzu billah min dzalik.

Sedangkan apabila seseorang bersandar pada sebab yang sudah ditakdirkan (ditentukan) oleh Allah, namun dia menganggap bahwa sebab itu bukan hanya sekedar sebab (lebih dari sebab semata), seperti seseorang yang sangat bergantung pada majikannya dalam keberlangsungan hidupnya atau masalah rezekinya, semacam ini termasuk syirik ashgor (syirik kecil) karena kuatnya rasa ketergantungan pada sebab tersebut.

Tetapi apabila dia bersandar pada sebab dan dia meyakini bahwa itu hanyalah sebab semata sedangkan Allah-lah yang menakdirkan dan menentukan hasilnya, hal ini tidaklah mengapa.

Ingatlah bahwa tawakal bukan hanya untuk meraih kepentingan dunia saja. Tawakal bukan hanya untuk meraih manfaat duniawi atau menolak bahaya dalam urusan dunia. Namun hendaknya seseorang juga bertawakal dalam urusan akhiratnya, untuk meraih apa yang Allah ridhai dan cintai. Maka hendaknya seseorang juga bertawakal agar bagaimana bisa teguh dalam keimanan, dalam dakwah, dan jihad fii sabilillah. Ibnul Qayyim dalam Al Fawa’id mengatakan bahwa tawakal yang paling agung adalah tawakal untuk mendapatkan hidayah, tetap teguh di atas tauhid dan tetap teguh dalam mencontoh/mengikuti Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam serta berjihad melawan ahli bathil (pejuang kebatilan). Dan beliau rahimahullah mengatakan bahwa inilah tawakal para rasul dan pengikut rasul yang utama.

Tanda Tawakal. Orang yang bertawakal dapat dilihat dari tanda-tanda berikut.

Pertama, beribadah dengan ikhlas karena Allah SWT semata. Bukan karena orang lain ataupun karena terpaksa.

Ke dua, hatinya terkait pada Allah. Orang yang demikian menjalani hari-harinya dengan hati yang bersih.

Ke tiga, tenang menghadapi qadha dan qadar. Yakin dan mantap apa yang ada pada diri dan sekitarnya hanyalah milik Allah dan akan kembali pada-Nya.

Ke empat, qanaah atau merasa cukup atas segala yang diberikan Allah. Segala sesuatu diterima dengan senang hati, baik nikmat maupun ujian.

Ke lima, tidak lupa untuk selalu bersyukur atas pemberian Allah dan bersabar jika mendapat cobaan

 Kisah orang sholih dalam tawakal

Kisah Ibrahim yang dibakar raja namrud, kisah nabi Ibrahim dan hajar ismail yang ditempatkan di mekah sendirian, kisah tawakalnya nabi dan sahabat saat perang badar (hasbunalloh wa nikmal wakil), kisah abu dzar yang tawakal dg tidak punya tabungan semua dihabiskan/diinfaqkan hartanya hari itu juga, nabi yang yatim sedih sejak kecil merupakan belajar tawakal agar tidak bersandar pada makluk sehingga orang2 terdekat semua dipanggil Alloh saat nabi masih kecil, kisah mariyam yang menggoyang pohon kurma ketika akan melahirkan, kisah dua orang bani isroil yang hutang 1000 dinar saksinya Alloh saja.

Cara Tawakal. Sebuah aktivitas bisa di kategorikan menggunakan prinsip tawakal apabila terdapat 4 unsur, yaitu

1. Mujahadah, artinya sungguh sungguh dalam melakukan suatu pekerjaan, artinya tidak asal asalan. Contohnya, sebagai pelajar, belajarlah sungguh sungguh agat dapat memperoleh prestasi yang baik.

2. Doa, artinya walaupun kita sudah melakukan upaya mujahadah (sungguh sungguh) kita pun harus tetap berdoa memohon kepada Allah subhanahu wa ta’ala

3. Syukur, artinya apabila menemukan keberhasilan kita harus mensyukurinya. Prinsip ini perlu kita punya. Jika tidak, kita akan menjadi orang yang sombong atau angkuh (kufur nikmat). Contohnya qorun qorun

4. Sabar, Artinya tahan uji menghadapi berbagai cobaan termasuk hasil yang tidak memuaskan (kegagalan). Sabar tidak berarti diam dan meratami kegagalan, tetapi sabar adalah instropeksi dan bekerja lebih baik agar kegagalan tidak terulang

Dampak postif dari pengertian tawakal yang sebenarnya

Membuat seseorang penuh percaya diri, Menumbuhkan rasa keberanian dalam menghadapi setiap persoalan

Memiliki ketentraman dan ketenangan jiwa, Mendekatkan diri kepada allah dengan senantiasa taat berbakti kepada allah, Mudah bersyukur apa yang diberikan kepada allah swt kepadanya, Menumbukan harapan

Adapun kendala mendapat pengertian tawakal yang sebenarnya adalah :

Tidak tahu kedudukan allah, Condong kepada kekuatan makhluk, Lebih mencintai dunia

Syarat Tawakal bisa terwujud ada 3 : 1.visi misi kehidupannya harus benar 2.harus mengikuti cara /ketentuan syariat islam, 3.mengikuti sunatulloh / hukum sebab akibatkausalitas walaupun yang menentukan adalah Alloh semata spt usaha yg dilakukan kecil Alloh tetap memberi spt kisah mariyam menggoyang pohon kurma ada juga usahanya harus keras spt peperangan nabi, kalau kita tidak tawakal maka akan sombong spr qorun.

Yang perlu diingat adalah bahwa tawakal itu amalan hati, jadi tawakal itu harus dilakukan pada saat sebelum,sedang dan sesudah beramal /ihtiar. Ada hadis bahwa tawakal itu setengahnya agama setengahnya lagi ibadah, iyakanakbudu wa iya kanastangin.