ASALAMU 'ALAIKUM WAROHMATULLOHI WABAROKATUH BLOG By MUH FAJAR HUDI APRIANTO @ MARI KITA GUNAKAN WAKTU KITA YANG TERSISA DENGAN SEBAIK MUNGKIN KARENA WAKTU KITA HANYA SEDIKIT AGAR KITA TIDAK TERMASUK ORANG ORANG YANG MERUGI mafa GUNAKAN WAKTU MUDAMU SEBELUM DATANG WAKTU TUAMU WAKTU SEHATMU SEBELUM DATANG WAKTU SAKITMU KAYAMU SEBELUM TIBA MISKIN WAKTU LAPANGMU SEBELUM TIBA WAKTU SEMPITMU DAN GUNAKAN WAKTU HIDUPMU SEBELUM TIBA MATIMU pesan nabi

Sabtu, 30 Juni 2018

Manusia Rabbani Setelah Ramadhan Usai

Ketika romadlon tiba kita rajin beribadah tapi setelah romadon berllalu amalan ibadah yang berupa sholat, puasa baca alquran, taklim sodaqoh dan lainnya tiba-tia surut bahkan menghilang. Ada kata-kata menarik yang menyadarkan kita akan hal ini, “Kun rabbâniyyan, wa lâ takun ramadhâniyyan” Jangan menjadi manusia Ramadan, yang kuat ibadahnya karena berada di bulan Ramadan saja, karena setelah bulan itu berlalu, ia tak akan mengalami perubahan hidup untuk menjadi lebih bertaqwa. Namun jadilah manusia pasca Ramadan yang memiliki nilai kepribadian diri, penghambaan kepada Allah yang tak kenal henti, menjadi manusia bertaqwa tanpa batas, sesuai target yang diharapkan dari penggemblengan yang dilakukan selama sebulan. Dengan syaratnya, ia harus menjadi hamba Allah yang bobot ibadahnya terus meningkat, sekali pun ia telah berada di luar bulan Ramadan.
Para sahabat menyiapkan diri mereka selama enam bulan untuk menyambut kehadiran tamu agung bernama Ramadan. Pastinya mereka mati-matian untuk beribadah full time selama sebulan penuh itu. Layaknya bertemu dengan seorang yang dirindu, kita ingin berlama-lama bersama dengannya, menjamu, memberinya pelayanan sebaik mungkin. Dan tentunya kita akan merasakan kesedihan yang teramat dalam ketika harus berpisah dengannya.
Hal yang sama dirasakan oleh sahabat nabi di penghujung Ramadan, mereka tak gembira dengan baju baru, kue-kue dan makanan ala lebaran seperti umumnya kita. Tapi mereka justru bersedih, karena tamu agung itu sudah harus pergi meninggalkan mereka.
Mâ ba’da Ramadhân, inilah masa-masa yang paling mencemaskan bagi para sahabat nabi. Mereka takut akan amalan yang tertolak; puasa, qiyam yang panjang, tilawah yang berulang kali khatam, infak harta, pengorbanan jiwa raga dari satu medan perang ke perang lainnya, serta segudang amalan ibadah lainnya yang mereka lakukan selama Ramadan, semuanya itu telah menjadi sebuah kekhawatiran terbesar bagi diri mereka. Mereka lebih banyak berkontemplasi, dan bermuhasabah dalam sebuah tanda tanya, “Apakah amal ibadahku di bulan Ramadan kemarin diterima oleh Allah Swt.?”
Para sahabat merawat Ramadan dalam hati mereka dengan rasa khauf dan raja’. Sekuat tenaga berusaha istiqamah dalam amalan ibadah mereka. Lengah sedikit, akan memberikan indikasi amal ibadah mereka selama Ramadan telah sia-sia. Karena di antara ciri dari diterimanya amal ibadah seseorang dalam bulan Ramadan adalah; keringanannya dalam mengerjakan kebaikan dan ibadah, serta jauhnya mereka dari melakukan kemaksiatan kepada Allah Swt.
Enam bulan pasca Ramadan mereka masih bersedih memikirkan kepergian Ramadan. Mereka memohon dengan sungguh-sungguh agar amalan ibadah selama sebulan penuh itu diterima oleh Allah Swt. Sedangkan di paruh tahun sisanya, mereka kembali bergembira, bersiap diri menyambut kehadiran Ramadan, sang tamu agung yang selalu mereka rindu.
Begitulah siklus hidup para orang shalih terdahulu, renggang waktu dari Ramadan ke Ramadan berikutnya diisi dengan taqarrub ilallâh. Seakan menutup semua celah untuk futur dalam beribadah. Rindu mereka adalah rindu keimanan, pun dengan kesedihan mereka, kesedihan karena iman. Sehingga hari-hari berjalan penuh kekhusyukan, hati mereka tenang, diisi dengan mengingat Allah dalam kondisi apa pun. Karena Allah telah memberikan jaminan, “Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram.” (QS. Ar Ra’du:28).
Mereka memiliki kepribadian yang layak untuk diteladani. Lalu bagaimana dengan kita, sudahkah ibadah kita melebihi mereka sehingga lebih merasa hebat dan yakin kalau amalan Ramadan kita diterima? Ittaqullâh yâ ahibbâ’i, ibadah kita pastilah masih jauh dari kesungguhan para sahabat itu. Sehingga rasa khauf dan raja’ yang kita miliki seharusnya lebih besar ketimbang mereka.
Walhasil, shalih pasca Ramadan bukanlah hal fiktif. Kita baru saja meninggalkan terminal ruhy, kita sudah men-charger diri kembali. Battery full yang kita miliki, ditargetkan bertahan untuk sebelas bulan berikutnya.
Ramadan memang sudah pergi, karena datang dan pergi sudah merupakan bagian dari sunnatullah dalam kehidupan ini. Memang dalam sebelas bulan ke depan, tak ada puasa wajib seperti di bulan Ramadan lagi, tapi sekarang kita masih memiliki amalan puasa yang lain, puasa sunnah 6 hari Syawal misalnya, yang  keutamaannya telah dijelaskan oleh Rasulullah Saw. dalam sebuah hadits, “Barangsiapa berpuasa penuh di bulan Ramadan lalu menyambungnya dengan (puasa) enam hari di bulan Syawal, maka (pahalanya) seperti ia berpuasa selama satu tahun.” (HR. Muslim).
Masih ada puasa lainnya, seperti puasa sunnah Senin dan Kamis, puasa ‘Arafah, ‘Asyura, puasa Daud, dsb. Qiyamul lail juga masih tetap bisa kita lakukan. Shalat sunnah ini menempati posisi kedua setelah shalat fardhu sebagaimana yang disabdakan oleh Rasulullah Saw., “Shalat yang paling utama sesudah shalat wajib adalah qiyamul lail.” (Muttafaqun ‘alaih). Beliau juga menyebutnya sebagai da’bu shâlihin, atau tradisi dari orang-orang shalih.
Amal ibadah yang menjadi rutinitas kita selama sebulan Ramadan diharapkan memang sudah menjadi sebuah kebiasaan. Sehingga ketika Ramadan telah berakhir, kita tak mengalami kesulitan untuk memulainya kembali. Mumpung masih hangat aura Ramadan kita, mari bersama-sama kita hidupkan kembali rutinitas baik kita itu. Menjadikan amalan-amalannya sebagai sebuah kebiasaan, sekali pun sedikit, yang penting kita memiliki amalan andalan dan rutin menjalankannya. Karena barang siapa yang memiliki amalan rutin yang baik, selamanya ia tak akan mengalami kerugian, sekalipun ia terkena uzur, pahala tetap mengalir untuknya.
Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dituliskan, bahwa Rasulullah Saw. telah bersabda, “Apabila seseorang menderita sakit atau sedang bepergian maka dicatat pahala untuknya amal yang biasa ia kerjakan di saat ia sehat dan tidak bepergian.” (HR. Bukhari).
Semoga kita tidak menjadi manusia Ramadan, yang optimal ibadahnya selama sebulan saja, dan free di sebelas bulan berikutnya. Tapi kita menjadi manusia rabbâniy, yang selalu mengingat Allah kapan dan dalam bagaimana pun kondisi kita, seperti karakter ulul albâb yang termaktub dalam Al Quran, “(yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring.” (QS. Al Imran: 191). 

Senin, 14 Mei 2018

Manakah yang Tepat Tarhib atau Targhib Ramadhan ?


Banyak diantara kita yang salah kaprah dalam menguapkan seuah kata serapan dari ahasa arab termasuk seperti kata kata tarhib atau targhib Ramadhan cukup membuat bingung,  Sebenarnya, yang betul itu tarhib atau targhib ?
Dan hati hati dengan pengucapan kata tarhib.  Lidah orang Indonesia, sering kali gagal mengucapkan kata tarhib dengan makhroj yang tepat.
Karena pengucapan yang salah, maka arti kata tarhib akan  berubah 180 derajat.
Tarthib Ramadhan artinya adalah menyambut [bulan suci] Ramadhan.
Sedang targhib Ramadhan artinya mencintai [bulan suci] Ramadhan.
Tarhib, ترحيب  dengan ha tipis
Secara etimologis (bahasa), kata tarhib [ ترحيب   ] berasal dari fi’il ‘ra-hi-ba, yarhabu, rahbun’.
Yang berarti luas, lapang dan lebar.
Dan selanjutnya menjadi fi’il ‘rahhaba, yurahhibu, tarhiban’ yang mengandung arti menyambut, menerima dengan penuh kelapangan, kelebaran dan keterbukaan hati. ( Lihat Kamus al Munawwir ).
Menurut Kamus Al Munjid (Kamus Besar Bahasa Arab), marhaban berasal dari akar kata rahib (ra-ha-ba) yang artinya menyambut. Masdarnya adalah tarhib yang mengandung makna penyambutan.
Kebiasaan orang Arab ketika menyambut tamunya, ungkapan yang biasa mereka sampaikan (ucapkan) adalah: marhaban, maksudnya kedatanganmu aku terima dengan penuh keterbukaan, seisi rumah kami menyambutmu dengan dengan segala kelapangan.  Jadi bukan hanya untuk Ramadhan, tapi juga kata marhaban akan selalu mereka ucapkan pada BULAN APAPUN.
Tarhib, ترهيب  dengan ha tebal
Kata Tarhib ترهيب dengan “ha tebal” adalah kata dasar (masdar) dari kata rahhiba رهب (mengancam).
‘rahhaba-yurahhibu atau arhaba-yurhibu’
Sehingga arti tarhib ترهيب (dengan “ha tebal”) adalah pengancaman atau ancaman, sesuatu yang membuat takut atau ngeri.
Jadi  Tarhib Ramadhan jika dibaca dengan “ha tebal” artinya adalah : Ancaman Ramadhon, artinya sesuatu yang membuat orang takut dan ngeri terhadap Ramadhon. Nah, bedakan arti kata 2  tarhib tadi.
Jadi tarhib memiliki dua makna, derivasi istilahnya.
Kata tarhib dengan ha tipis ترحيب   : artinya menyambut dengan sukacita

Kata Tarhib dengan ha tebal  ترهيب : artinya mengancam, menakut nakuti
Mengingat lidah orang Indonesia yang kebanyakan tidak bisa membedakan pengucapan antara tarhib dengan ha tipis ترحيب   dan tarhib dengan ha tebal   ترهيب
Padahal kedua arti kata itu amat bertolak belakang.
Maka untuk amannya, lebih baiknya, kita bisa ucapkan Targhib Ramadhan.
Targhib Ramadhan
Targhib ترغيب adalah kata dasar (masdar) dari kata raghghiba رغب
Yang artinya mencintai atau menyukai. Sehingga Targhib bila di-Indonesiakan berarti Pen-cintaan atau Penyukaan, yaitu suatu tindakan yang membuat kita suka. Targhib Ramadhon artinya Penyukaan terhadap Ramadhon.

Nah, jadi menyebut targhib ramadhan jelas lebih membuat aman dan tenang karena lidah orang Indonesia lebih bisa menyebut kata targhib dibanding tarhib.