ASALAMU 'ALAIKUM WAROHMATULLOHI WABAROKATUH BLOG By MUH FAJAR HUDI APRIANTO @ MARI KITA GUNAKAN WAKTU KITA YANG TERSISA DENGAN SEBAIK MUNGKIN KARENA WAKTU KITA HANYA SEDIKIT AGAR KITA TIDAK TERMASUK ORANG ORANG YANG MERUGI mafa GUNAKAN WAKTU MUDAMU SEBELUM DATANG WAKTU TUAMU WAKTU SEHATMU SEBELUM DATANG WAKTU SAKITMU KAYAMU SEBELUM TIBA MISKIN WAKTU LAPANGMU SEBELUM TIBA WAKTU SEMPITMU DAN GUNAKAN WAKTU HIDUPMU SEBELUM TIBA MATIMU pesan nabi
Tampilkan postingan dengan label SADARI. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label SADARI. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 13 April 2019

Hakekat Ikhlas dan Keutammannya

Hujaatul Islam Imam Al Ghazali pernah berpesan, semua manusia itu merugi, kecuali mereka yang berilmu, dan semua orang yang berilmu merugi kecuali mereka yang beramal, dan semua orang yang beramal merugi kecuali mereka yang ikhlas.

Tujuan utama agama Islam adalah agar manusia beribadah kepada Allah Ta’ala dengan ikhlas. Allah Ta’ala berfirman:

وَمَآ أُمِرُوْآ إِلاَّ لِيَعْبُدُوْااللهَ مُخْلِصِيْنَ لَهُ الدِّيْنَ
Dan mereka tidaklah diperintahkan kecuali agar beribadah kepada Allah dengan mengikhlaskan ketaatan kepada-Nya (QS. Al Bayyinah: 5).

Definisi Ikhlas

Ikhlas secara bahasa artinya memurnikan sesuatu dan membersihkannya dari campuran. Secara istilah, ada beberapa definisi, di antaranya adalah:

Ikhlas adalah penyucian niat dari seluruh noda  dalam mendekatkan diri kepada Allah Ta’ala. Noda di sini misalnya mencari perhatian makhluk dan pujian mereka.
Ikhlas adalah pengesaan Allah Ta’ala dalam niat dan ketaatan.
Ikhlas adalah melupakan perhatian makhluk dan selalu mencari llah Ta’ala.  antaranya adalah:  ya dari campuran. perhatian al-Khaliq.
Ikhlas adalah seorang berniat mendekatkan diri kepada Allah dalam ibadahnya.
Ikhlas adalah samanya perbuatan seorang hamba antara yang nampak dan yang tersembunyi.
Intinya, Ikhlas adalah seseorang beribadah dengan niat mendekatkan diri kepada Allah, mengharapkan pahala-Nya, takut terhadap siksa-Nya dan ingin mencari ridha-Nya.

Dzun Nun al-Mishriy rahimahullah berkata, “Tiga tanda keikhlasan adalah: (1) Seimbangnya pujian dan celaan orang-orang terhadapnya, (2) Lupa melihat amal dalam beramal, (3) Dan mengharapkan pahala amalnya di akhirat.”

Kedudukan Ikhlas

Ikhlas adalah asas keberhasilan dan keberuntungan di dunia dan akhirat. Ikhlas bagi amal ibarat pondasi bagi sebuah bangunan dan ibarat ruh bagi sebuah jasad, di mana sebuah bangunan tidak akan dapat berdiri kokoh tanpa pondasi, demikian juga jasad tidak akan dapat hidup tanpa ruh. Oleh karena itu, amal shalih yang kosong dari keikhlasan akan menjadikannya mati, tidak bernilai serta tidak membuahkan apa-apa, atau dengan kata lain “wujuuduhaa ka’adamihaa” (keberadaannya sama seperti ketidakadaannya).

Ikhlas juga merupakan syarat diterimanya amal di samping sesuai dengan sunah. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman dalam hadis Qudsi:

“Aku sangat tidak butuh sekutu, siapa saja yang beramal  menye-kutukan sesuatu dengan-Ku, maka Aku akan meninggalkan dia dan syirknya.” (HR. Muslim).

Tempat Ikhlas

Ikhlas tempatnya di hati. Saat hati seseorang menjadi baik dengan ikhlas, maka anggota badan yang lain ikut menjadi baik. Sebaliknya, jika hatinya rusak, misalnya oleh riya’, sum’ah, hubbusy syuhrah (agar dikenal), mengharapkan dunia dalam amalnya, ‘ujub (bangga diri) dsb. maka akan rusaklah seluruh jasadnya. Rasulullah Sahallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda:

“Apabila hati menjadi baik, maka akan baik pula seluruh jasadnya, dan apabila hati menjadi rusak, maka akan rusak seluruh jasadnya.” (HR. Bukhari-Muslim).

Seseorang dituntut untuk berniat ikhlas dalam seluruh amal shalihnya, baik shalatnya, zakatnya, puasanya, jihadnya, amar ma’ruf dan nahi munkarnya, serta amal shalih lainnya, termasuk belajarnya. Ibnu Mas’ud radhiallahu ‘anhu berkata, “Janganlah kalian belajar agama karena tiga hal; agar dapat mengalahkan orang-orang tidak tahu, agar dapat mendebat para fuqaha’ dan agar perhatian orang-orang beralih kepada kalian. Niatkanlah dalam kata-kata dan perbuatan kalian untuk memperoleh apa yang ada di sisi Allah, karena hal itu akan kekal, adapun selainnya akan hilang.”

Buah Ikhlas

Buah ikhlas sungguh banyak, seorang yang ikhlas dalam mengucapkan laa ilaaha illallah, maka Allah akan mengharamkan neraka baginya. Seorang yang mengikuti ucapan muadzin dengan ikhlas, maka Allah akan memasukkannya ke surga. Seorang yang menuntut ilmu agama dengan ikhlas, maka Allah akan memudahkan baginya jalan ke surga. Seorang yang ikhlas menjalankan puasa, maka Allah akan mengampuni dosa-dosanya yang telah lalu. Bahkan perbuatan mubah akan menjadi berpahala dengan keikhlasan. Rasulullah Sahallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda:

إِنَّكَ لَنْ تُنْفِقَ نَفَقَةً تَبْتَغِيَ بِهَا وَجْهُ اللهِ إِلاَّ أُجِرْتَ عَلَيْهَا حََتَّى مَا تَجْعَلُ فِي فِي امْرَأَتِكَ
“Sesungguhnya kamu tidaklah menafkahkah satu nafkah pun karena mengharapkan keridhaan Allah, kecuali kamu akan diberikan pahala terhadapnya sampai dalam suapan yang kamu masukkan ke dalam mulut istrimu.” (HR. Bukhari-Muslim).

Perhatikanlah kisah tiga orang yang bermalam di sebuah gua, lalu jatuh sebuah batu besar  menutupi gua tersebut, sehingga mereka tidak bisa keluar. Masing-masing mereka berdoa kepada Allah dengan menyebutkan amal shalih yang mereka kerjakan dengan ikhlas, akhirnya Allah menyingkirkan batu tersebut dari gua, hingga mereka semua bisa keluar. Ini sebuah contoh buah dari keikhlasan.

Akibat Tidak Ikhlas

Sebaliknya, jika amal shalih dikerjakan atas dasar niat yang tidak ikhlas, bukan mendapatkan pahala, bahkan mendapatkan siksa.

Rasulullah Sahallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda, “Sesungguhnya orang yang pertama kali diadili pada hari kiamat adalah orang yang mati syahid. Ia pun dihadapkan, lalu Allah mengingatkan kepadanya nikmat-nikmat-Nya, ia pun mengingatnya, kemudian ditanya, “Kamu gunakan untuk apa nikmat itu?”

Ia menjawab, “Aku (gunakan untuk) berperang di jalan-Mu hingga aku mati syahid.”

Allah berfirman, “Kamu dusta, sebenarnya kamu berperang agar dikatakan sebagai pemberani dan sudah dikatakan demikian.”

Kemudian Allah memerintahkan orang itu agar dibawa, lalu ia diseret dalam keadaan telungkup kemudian dilempar ke neraka. (Kedua) seorang yang belajar agama, mengajarkannya dan membaca Alquran, ia pun dihadapkan, lalu Allah mengingatkan kepadanya nikmat-nikmat-Nya, ia pun mengingatnya, kemudian ditanya, “Kamu gunakan untuk apa nikmat itu?”

Ia menjawab, “Aku (gunakan untuk) mempelajari agama, mengajarkannya dan membaca Alquran karena Engkau.”

Allah berfirman: “Kamu dusta, sebenarnya kamu belajar agama agar dikatakan orang alim, dan membaca Alquran agar dikatakan qaari’, dan sudah dikatakan”, kemudian Allah memerintahkan orang itu agar dibawa, lalu ia diseret dalam keadaan telungkup kemudian dilempar ke neraka.

(Ketiga) seseorang yang dilapangkan rezekinya dan diberikan kepadanya berbagai jenis harta, ia pun dihadapkan, lalu Allah mengingatkan kepadanya nikmat-nikmat-Nya, ia pun mengingatnya, kemudian ditanya, “Kamu gunakan untuk apa nikmat itu?” Ia menjawab, “Tidak ada satu pun jalan, di mana Engkau suka dikeluarkan infak di sana kecuali aku keluarkan karena Engkau”. Allah berfirman, “Kamu dusta, sebenarnya kamu lakukan hal itu agar dikatakan sebagai orang yang dermawan dan sudah dikatakan”, kemudian Allah memerintahkan orang itu agar dibawa, lalu ia diseret dalam keadaan telungkup kemudian dilempar ke neraka.” (HR. Muslim).

Riya’ dan Kurang Ikhlas

Berikut beberapa contoh riya’ dan amalan yang kurang ikhlas:

Seorang menambahkan lagi ketaatannya ketika dipuji, atau mengurangi bahkan meninggalkan ketaatan ketika dicela.
Seseorang beramal shalih dan berakhlak mulia agar dicintai orang-orang, diperlakukan secara baik dan mendapat tempat di hati mereka. Jika hal itu tidak tercapai, ia pun berat sekali melakukannya.
Seseorang bersedekah karena ingin dilihat orang, jika tidak ada yang melihatnya, ia tidak mau bersedekah.
Ibnu Rajab berkata, “Dan termasuk penyakit riya’ yang tersembunyi adalah bahwa seseorang terkadang merendahkan dirinya, di hadapan manusia, mengharap dengan itu agar manusia melihat bahwa dirinya adalah seorang tawadhu’, sehingga terangkat kedudukannya di sisi mereka dan mendapat pujian dari mereka..”
Seorang yang berjihad agar ia terbiasa perang. Wallahua’alam

Selasa, 05 Maret 2019

Memaknai Islamic Worldview


Sahabat! dunia  ini, terdiri dari sekumpulan realitas wujud yang ada. Nah, yang dimaksud dengan worldview itu adalah, gimana cara seseorang melihat dan memahami realitas wujud yang ada itu. Sederhananya, worldview itu berarti pandangan hidup atau sudut pandang. Jadi, Islamic worldview berarti, bagaimana kita, sebagai seorang muslim melihat realitas wujud yang ada berdasarkan sudut pandang atau kacamta Islam.

Wujud itu nanti ada dua. Yaitu wujud yang bisa diindera dan wujud yang gabisa diindera. Kita bisa tau kalau jatuh terluka itu sakit, gula itu manis, garam itu asin, karena wujud yang ada itu bisa kita indera, bisa kita rasa. Contoh lain wujud yang bisa diindera itu semisal diri kita, hewan, tumbuhan, bangunan, dan sebagainya. Dan ada juga wujud yang gabisa diindera. Seperti Allah, Malaikat, Jin, alam akhirat, surga dan neraka, pahala, dosa. Semua itu juga wujud. Cuma gabisa kita indera.
Islamic worldview ini jadi sangat penting, sebab bakal jadi landasan kita sebagai seorang muslim dalam berpikir dan bersikap. Gimana visi Islam dalam melihat segala wujud dan fakta yang ada. Karena ternyata, nanti kita bakal bertemu dengan worldview yang lain, yang udah pasti punya cara pandang tersendiri. Misalnya Western worldview (cara pandang Barat), Christian worldview (cara pandang Kristen), Jewish worldview (cara pandang Yahudi), dan cara pandang yang lainnya. Faktanya boleh aja sama; tapi ketika diliat dari sudut pandang yang beda, maka hasilnya juga bakal beda.

Contohnya kayak gini; Faktanya, dalam Al-Qur’an dan Bibel itu ada beberapa kesamaan isi. Misalnya tentang kisah nabi Adam, kisah nabi Luth, bahkan kisah nabi Isa, itu ada beberapa persamaan. Dalam worldview orang Yahudi, mereka bilang kalau “Muhammad wrote the Qur’an” Muhammad itu menulis Qur’an. Dari mana? Menjiplak kitab Yahudi. Nah, itu adalah cara pandang Yahudi. Cara pandangnya orang Nasrani juga gitu. Karena mereka engga mengakui kenabian Muhammad, maka mereka beranggapan kalau nabi Muhammad itu penipu. Mereka akan mengatakan, jika dalam Qur’an itu ada persamaan dengan Bibel ya berarti Qur’an itu ngambil dari Bibel.



Nah cara pandang kita sebagai orang Islam, udah pasti beda. Karena kita udah beriman, percaya bahwa nabi Muhammad saw Itu adalah utusan Allah, maka worldview kita bakal bilang kalau Qur’an itu wahyu, bukan karangan nabi. Ketika ada persamaan isi, kita bakal bilang bahwa Qur’an lah yang benar. Itu contoh cara pandang. Dimana kita berdiri, dimana kita berada, disitu cara pandang Islam menentukan.

Contoh lain kayak gini; Di dunia ini bukan cuma ada agama Islam aja, melainkan ada banyak agama-agama lainnya. Ada Kristen,Yahudi, Hindu, Budha, dan sebagainya. Sekarang, kita mau melihat agama-agama yang ada ini bagaimana? Setiap orang bakal bilang, bahwa agama-nya yang paling bener. Semisal Kristen. Waktu tahun 2000, Paus Yohannes paulus II ngeluarin dekrit “ Dominus Jesus” yang isinya itu nolak pluralisme agama sekaligus menegaskan “Bahwa satu-satunya pengantar keselamatan illahi dan tidak ada orang yang bisa ke bapa selain melalui Yesus”
ita, sebagai seorang muslim, ketika liat agama lain, maka akan menggunakan worldview Islam. Kita akan liat ke Qur’an. Dan ternyata, dalam Quran surat Ali Imran ayat 19 sudah dikatakan, kalau agama yang diakui oleh Allah itu hanya Islam. Siapa yang mencari agama selain Islam, tidak akan diridhoi Allah, kan begitu. Maka kalau kita liat agama lain dari kacamata Islam, dari kacamata Qur’an, maka akan didapatkan bahwa agama yang benar itu hanyalah Islam.
Dan hari ini, makin banyak paham-paham dari sudut pandang yang lain yang gencar di propagandakan. Misalnya adalah cara pandang pluralisme.Cara pandang ini bukan melihat dari kacamata Islam, kacamata Kristen, kacamata Yahudi, atau yang lain. Tapi melihat dari kacamata yang (seolah) netral. Mereka mengatakan bahwa, sebetulnya jalan agama-agama yang ada ini adalah jalan yang sebetulnya sama-sama sah. Intinya sama; yaitu menuju Tuhan. Hanya jalannya saja yang berbeda, hanya cara menyembah atau menyebut Tuhan yang berbeda.

Pemikiran ini kan jelas sesat. Sangat menyimpang dari keyakinan kita sebagai pribadi muslim. Makanya sekali lagi diingatkan, betapa pentingnya memahami Islam secara menyeluruh. Betapa pentingnya memahami Islamic worldview ini, sebagai panduan kita dalam melihat setiap realitas yang ada. Sebab ketika kita tidak bisa menghadirkan Islamic worldview dalam kehidupan kita, maka worldview-worldview lain lah yang justru akan mengisi kehidupan kita, yang udah pasti jauh dari tatanan ideal yang digariskan oleh Allah Swt.

Sabtu, 30 Juni 2018

Manusia Rabbani Setelah Ramadhan Usai

Ketika romadlon tiba kita rajin beribadah tapi setelah romadon berllalu amalan ibadah yang berupa sholat, puasa baca alquran, taklim sodaqoh dan lainnya tiba-tia surut bahkan menghilang. Ada kata-kata menarik yang menyadarkan kita akan hal ini, “Kun rabbâniyyan, wa lâ takun ramadhâniyyan” Jangan menjadi manusia Ramadan, yang kuat ibadahnya karena berada di bulan Ramadan saja, karena setelah bulan itu berlalu, ia tak akan mengalami perubahan hidup untuk menjadi lebih bertaqwa. Namun jadilah manusia pasca Ramadan yang memiliki nilai kepribadian diri, penghambaan kepada Allah yang tak kenal henti, menjadi manusia bertaqwa tanpa batas, sesuai target yang diharapkan dari penggemblengan yang dilakukan selama sebulan. Dengan syaratnya, ia harus menjadi hamba Allah yang bobot ibadahnya terus meningkat, sekali pun ia telah berada di luar bulan Ramadan.
Para sahabat menyiapkan diri mereka selama enam bulan untuk menyambut kehadiran tamu agung bernama Ramadan. Pastinya mereka mati-matian untuk beribadah full time selama sebulan penuh itu. Layaknya bertemu dengan seorang yang dirindu, kita ingin berlama-lama bersama dengannya, menjamu, memberinya pelayanan sebaik mungkin. Dan tentunya kita akan merasakan kesedihan yang teramat dalam ketika harus berpisah dengannya.
Hal yang sama dirasakan oleh sahabat nabi di penghujung Ramadan, mereka tak gembira dengan baju baru, kue-kue dan makanan ala lebaran seperti umumnya kita. Tapi mereka justru bersedih, karena tamu agung itu sudah harus pergi meninggalkan mereka.
Mâ ba’da Ramadhân, inilah masa-masa yang paling mencemaskan bagi para sahabat nabi. Mereka takut akan amalan yang tertolak; puasa, qiyam yang panjang, tilawah yang berulang kali khatam, infak harta, pengorbanan jiwa raga dari satu medan perang ke perang lainnya, serta segudang amalan ibadah lainnya yang mereka lakukan selama Ramadan, semuanya itu telah menjadi sebuah kekhawatiran terbesar bagi diri mereka. Mereka lebih banyak berkontemplasi, dan bermuhasabah dalam sebuah tanda tanya, “Apakah amal ibadahku di bulan Ramadan kemarin diterima oleh Allah Swt.?”
Para sahabat merawat Ramadan dalam hati mereka dengan rasa khauf dan raja’. Sekuat tenaga berusaha istiqamah dalam amalan ibadah mereka. Lengah sedikit, akan memberikan indikasi amal ibadah mereka selama Ramadan telah sia-sia. Karena di antara ciri dari diterimanya amal ibadah seseorang dalam bulan Ramadan adalah; keringanannya dalam mengerjakan kebaikan dan ibadah, serta jauhnya mereka dari melakukan kemaksiatan kepada Allah Swt.
Enam bulan pasca Ramadan mereka masih bersedih memikirkan kepergian Ramadan. Mereka memohon dengan sungguh-sungguh agar amalan ibadah selama sebulan penuh itu diterima oleh Allah Swt. Sedangkan di paruh tahun sisanya, mereka kembali bergembira, bersiap diri menyambut kehadiran Ramadan, sang tamu agung yang selalu mereka rindu.
Begitulah siklus hidup para orang shalih terdahulu, renggang waktu dari Ramadan ke Ramadan berikutnya diisi dengan taqarrub ilallâh. Seakan menutup semua celah untuk futur dalam beribadah. Rindu mereka adalah rindu keimanan, pun dengan kesedihan mereka, kesedihan karena iman. Sehingga hari-hari berjalan penuh kekhusyukan, hati mereka tenang, diisi dengan mengingat Allah dalam kondisi apa pun. Karena Allah telah memberikan jaminan, “Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram.” (QS. Ar Ra’du:28).
Mereka memiliki kepribadian yang layak untuk diteladani. Lalu bagaimana dengan kita, sudahkah ibadah kita melebihi mereka sehingga lebih merasa hebat dan yakin kalau amalan Ramadan kita diterima? Ittaqullâh yâ ahibbâ’i, ibadah kita pastilah masih jauh dari kesungguhan para sahabat itu. Sehingga rasa khauf dan raja’ yang kita miliki seharusnya lebih besar ketimbang mereka.
Walhasil, shalih pasca Ramadan bukanlah hal fiktif. Kita baru saja meninggalkan terminal ruhy, kita sudah men-charger diri kembali. Battery full yang kita miliki, ditargetkan bertahan untuk sebelas bulan berikutnya.
Ramadan memang sudah pergi, karena datang dan pergi sudah merupakan bagian dari sunnatullah dalam kehidupan ini. Memang dalam sebelas bulan ke depan, tak ada puasa wajib seperti di bulan Ramadan lagi, tapi sekarang kita masih memiliki amalan puasa yang lain, puasa sunnah 6 hari Syawal misalnya, yang  keutamaannya telah dijelaskan oleh Rasulullah Saw. dalam sebuah hadits, “Barangsiapa berpuasa penuh di bulan Ramadan lalu menyambungnya dengan (puasa) enam hari di bulan Syawal, maka (pahalanya) seperti ia berpuasa selama satu tahun.” (HR. Muslim).
Masih ada puasa lainnya, seperti puasa sunnah Senin dan Kamis, puasa ‘Arafah, ‘Asyura, puasa Daud, dsb. Qiyamul lail juga masih tetap bisa kita lakukan. Shalat sunnah ini menempati posisi kedua setelah shalat fardhu sebagaimana yang disabdakan oleh Rasulullah Saw., “Shalat yang paling utama sesudah shalat wajib adalah qiyamul lail.” (Muttafaqun ‘alaih). Beliau juga menyebutnya sebagai da’bu shâlihin, atau tradisi dari orang-orang shalih.
Amal ibadah yang menjadi rutinitas kita selama sebulan Ramadan diharapkan memang sudah menjadi sebuah kebiasaan. Sehingga ketika Ramadan telah berakhir, kita tak mengalami kesulitan untuk memulainya kembali. Mumpung masih hangat aura Ramadan kita, mari bersama-sama kita hidupkan kembali rutinitas baik kita itu. Menjadikan amalan-amalannya sebagai sebuah kebiasaan, sekali pun sedikit, yang penting kita memiliki amalan andalan dan rutin menjalankannya. Karena barang siapa yang memiliki amalan rutin yang baik, selamanya ia tak akan mengalami kerugian, sekalipun ia terkena uzur, pahala tetap mengalir untuknya.
Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dituliskan, bahwa Rasulullah Saw. telah bersabda, “Apabila seseorang menderita sakit atau sedang bepergian maka dicatat pahala untuknya amal yang biasa ia kerjakan di saat ia sehat dan tidak bepergian.” (HR. Bukhari).
Semoga kita tidak menjadi manusia Ramadan, yang optimal ibadahnya selama sebulan saja, dan free di sebelas bulan berikutnya. Tapi kita menjadi manusia rabbâniy, yang selalu mengingat Allah kapan dan dalam bagaimana pun kondisi kita, seperti karakter ulul albâb yang termaktub dalam Al Quran, “(yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring.” (QS. Al Imran: 191). 

Senin, 14 Mei 2018

Manakah yang Tepat Tarhib atau Targhib Ramadhan ?


Banyak diantara kita yang salah kaprah dalam menguapkan seuah kata serapan dari ahasa arab termasuk seperti kata kata tarhib atau targhib Ramadhan cukup membuat bingung,  Sebenarnya, yang betul itu tarhib atau targhib ?
Dan hati hati dengan pengucapan kata tarhib.  Lidah orang Indonesia, sering kali gagal mengucapkan kata tarhib dengan makhroj yang tepat.
Karena pengucapan yang salah, maka arti kata tarhib akan  berubah 180 derajat.
Tarthib Ramadhan artinya adalah menyambut [bulan suci] Ramadhan.
Sedang targhib Ramadhan artinya mencintai [bulan suci] Ramadhan.
Tarhib, ترحيب  dengan ha tipis
Secara etimologis (bahasa), kata tarhib [ ترحيب   ] berasal dari fi’il ‘ra-hi-ba, yarhabu, rahbun’.
Yang berarti luas, lapang dan lebar.
Dan selanjutnya menjadi fi’il ‘rahhaba, yurahhibu, tarhiban’ yang mengandung arti menyambut, menerima dengan penuh kelapangan, kelebaran dan keterbukaan hati. ( Lihat Kamus al Munawwir ).
Menurut Kamus Al Munjid (Kamus Besar Bahasa Arab), marhaban berasal dari akar kata rahib (ra-ha-ba) yang artinya menyambut. Masdarnya adalah tarhib yang mengandung makna penyambutan.
Kebiasaan orang Arab ketika menyambut tamunya, ungkapan yang biasa mereka sampaikan (ucapkan) adalah: marhaban, maksudnya kedatanganmu aku terima dengan penuh keterbukaan, seisi rumah kami menyambutmu dengan dengan segala kelapangan.  Jadi bukan hanya untuk Ramadhan, tapi juga kata marhaban akan selalu mereka ucapkan pada BULAN APAPUN.
Tarhib, ترهيب  dengan ha tebal
Kata Tarhib ترهيب dengan “ha tebal” adalah kata dasar (masdar) dari kata rahhiba رهب (mengancam).
‘rahhaba-yurahhibu atau arhaba-yurhibu’
Sehingga arti tarhib ترهيب (dengan “ha tebal”) adalah pengancaman atau ancaman, sesuatu yang membuat takut atau ngeri.
Jadi  Tarhib Ramadhan jika dibaca dengan “ha tebal” artinya adalah : Ancaman Ramadhon, artinya sesuatu yang membuat orang takut dan ngeri terhadap Ramadhon. Nah, bedakan arti kata 2  tarhib tadi.
Jadi tarhib memiliki dua makna, derivasi istilahnya.
Kata tarhib dengan ha tipis ترحيب   : artinya menyambut dengan sukacita

Kata Tarhib dengan ha tebal  ترهيب : artinya mengancam, menakut nakuti
Mengingat lidah orang Indonesia yang kebanyakan tidak bisa membedakan pengucapan antara tarhib dengan ha tipis ترحيب   dan tarhib dengan ha tebal   ترهيب
Padahal kedua arti kata itu amat bertolak belakang.
Maka untuk amannya, lebih baiknya, kita bisa ucapkan Targhib Ramadhan.
Targhib Ramadhan
Targhib ترغيب adalah kata dasar (masdar) dari kata raghghiba رغب
Yang artinya mencintai atau menyukai. Sehingga Targhib bila di-Indonesiakan berarti Pen-cintaan atau Penyukaan, yaitu suatu tindakan yang membuat kita suka. Targhib Ramadhon artinya Penyukaan terhadap Ramadhon.

Nah, jadi menyebut targhib ramadhan jelas lebih membuat aman dan tenang karena lidah orang Indonesia lebih bisa menyebut kata targhib dibanding tarhib.

Sabtu, 09 September 2017

Makna dan Hakekat Haji dan Umrah

Makna Ibadah Haji & Umrah
…….Mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, Yaitu (bagi) orang yang sanggup Mengadakan perjalanan ke Baitullah. Barangsiapa mengingkari (kewajiban haji), Maka Sesungguhnya Allah Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) dari semesta alam. (Ali Imron:97)
Ibadah haji diwajibkan bagi muslim yang mampu baik secara materi maupun fisik.  Mampu secara materi di sini tidak selalu berarti orang kaya karena banyak muslim yang hartanya berlimpah namun belum berhaji, sementara  ada banyak orang yang dilihat dari penghasilannya mungkin tidak seberapa dan kehidupannya sederhana malah mampu melaksanakan Haji dngan ijin Allah.   Mampu secara fisik memang dibutuhkan karena ibadah haji banyak melibatkan kegiatan fisik jasmani dan pergerakan di tengah jutaan manusia yang menyesaki lokasi pelaksanaan haji di Makah dan sekitarnya.
Ibadah Haji penuh dengan pelajaran moral yang dikemas dalam pertunjukan kolosal menapak tilas perjuangan para Nabi dan rasul. Jamaah haji diminta untuk bertindak sebagai aktor yang memerankan beberapa tokoh Manusia unggul sepanjang jaman yaitu sebagai Nabi Adam, Nabi Ibrahim, Siti Hajar, dan Nabi Ismail dengan mengambil lokasi otentik di tempat kejadian pada masa lampau, yaitu Tanah suci Makah al Mukaromah yang diberkati hingga akhir jaman.
Bayangkanlah pertunjukan yang aktornya tidak menghayati peran. Tentunya pertunjukkan tersebut akan terasa hambar. Setiap jamaah haji harus memahami dan menghayati perannya agar tidak terjebak pada ritual tanpa menyentuh makna yang ingin Allah sampaikan dalam rangkaian ibadah haji.
Bagi mukmin dan mukminat yang hidupnya dilingkupi aktivitas dakwah dalam rangka menegakkan amar makruf nahi munkar, maka ia akan merasakan sentuhan jihad dan nafas dakwah dalam setiap ritual haji. Hal yang mungkin tidak akan terasakan oleh orang awam yang berhaji secara kebetulan karena punya uang atau mengejar simbol semata.   Tidak dapat dipungkiri, ternyata banyak orang yang berhaji tanpa memahami makna dan hakikat berhaji, sehingga aktivitasnya selama berhaji terasa hampa.
Jamaah Haji adalah Tamu Allah
Para jamaah Haji adalah Tamu yang dimuliakan oleh Allah. Kepada para tamunya, Allah berjanji akan mengabulkan apapun yang diminta tamunya sebagai penghormatan.  Bahkan Allah menyetarakan orang yang berhaji dengan orang yang berjihad, karena para haji dan mujahid adalah orang-orang yang mau menjawab panggilan ketika Allah memanggilnya.
Sabda Rasulullah saw: “Orang yang berperang di jalan Allah, orang yang berhaji dan berumrah adalah tamu Allah. Allah memanggil mereka dan mereka menjawab panggilan itu. Karena itu ketika mereka meminta KepadaNya maka Allah mengabulkannya”. Seorang sahabat bertanya : “Wahai Rasulullah bukankah jihad itu adalah amal yang paling utama? Jawab Rasul: “Jihad yang paling utama adalah Haji mabrur” (HR Bukhari).
Namun di balik itu semua, karunia terbesar orang yang berhaji adalah adanya janji Allah untuk menghapuskan seluruh dosa tamunya dengan tanpa terkecuali. Termasuk dosa-dosa besar yang hanya dapat dihilangkan melalui wukuf di Arafah. Allah berfirman dalam hadits Qudsi: “Allah berkata kepada para Malaikat: ’Lihatlah hamba-hambaKu! Mereka datang kepadaKu dengan rambut kusut dan berdebu karena berharap rahmatKu. Aku bersaksi kepadamu bahwa Aku telah mengampuni mereka’” (HR Ahmad)
”Diantara berbagai dosa, ada dosa yang tidak akan tertebus kecuali dengan wukuf di Arafah” (al Hadits).
Inilah harapan terbesar yang ingin diraih para jamaah haji yaitu menghapuskan beban-beban dosa sehingga dengan dihapuskannya dosa-dosa lama, maka seorang mukmin akan dapat menatap kehidupan di depan dengan lebih baik dan melangkah lebih mantap karena beban dosa masa lalunya sudah berukuran, walaupun tetap harus menghadapi tantangan perjuangan kehidupan yang berat di depannya.
Perintah Haji Pertama kali
Perintah Ibadah Haji pertama kali disyariatkan oleh Allah swt dan dilaksanakan oleh ummat manusia sejak jaman Nabi Ibrahim as, jauh sebelum diperintahkan kepada Nabi Muhammad saw.
Sebagian besar prosesi Ritual Ibadah Haji merupakan cermin perjuangan Nabi Ibrahim serta keluarganya yang selama hidupnya berdakwah mengajak manusia untuk bertauhid namun juga terus menerus diuji Allah  untuk membuktikan cintanya kepada Allah. Dengan penuh keteguhan, Ibrahim mampu lulus melewatinya dan mendapat kemuliaan sebagai suri tauladan bagi ummat manusia hingga akhir jaman dan namanya diabadikan dalam Al Qur’an sebagai bapaknya para nabi dan kekasih Allah pilihan.
Ujian pertama diterima Ibrahim ketika berusaha menemukan Tuhan yang sebenarnya di tengah kaumnya yang menyembah berhala dan Tuhan palsu.  Akibatnya ia harus berhadapan dengan Raja Namrudz dan kaumnya yang menghukum Ibrahim dengan dibakar hidup-hidup di dalam tumpukan kayu bakar.  Namun di situlah Allah menampakkan kebesarannya menurunkan mukzizat dengan menyelamatkan Ibrahim dari api yang membakarnya.
Selanjutnya, Allah menguji Ibrahim untuk merenovasi Kabah yang menjadi symbol rumah Allah di muka bumi. Kabah pada awalnya didirikan oleh para malaikat sebagai tempat thawaf di bumi selain Baitul Makmur yang menjadi tempat thawaf para Malaikat di Sidratul Muntaha.  Ritual Thawaf kemudian diajakarkan oleh para malaikat kepada Nabi Adam, sekaligus memperbaiki kondisi Kabah yang mengalami kerusakan dimakan usia.
Ketika seluruh daratan bumi terendam banjir pada jaman nabi Nuh, Kabah mengalami kerusakan yang sangat berat sehingga hanya berbentuk reruntuhan batu berserakan yang sudah tidak dapat dikenali lagi wujudnya. Kemudian Allah memerintahkan Ibrahim dan Ismail untuk membina kembali Kabah dan menjadikannya sebagai tempat berkumpul ummat manusia sebagaimana firman Allah dalam QS Al Baqoroh 125 :
Dan, ketika Kami menjadikan rumah itu (Baitullah) tempat berkumpul bagi manusia dan tempat yang aman. dan Jadikanlah sebahagian maqam Ibrahim tempat shalat. dan telah Kami perintahkan kepada Ibrahim dan Ismail: “Bersihkanlah rumah-Ku untuk orang-orang yang thawaf, yang i’tikaf, yang ruku’ dan yang sujud”.
Setelah selesai membangun kembali Kabah dari reruntuhannya, Allah swt memerintahkan Ibrahim agar menyeru manusia untuk melaksanakan haji. Peristiwa tersebut terungkap dalam firman Allah di  QS Al
Dan, ketika Kami memberikan tempat kepada Ibrahim di Baitullah “Janganlah kamu memperserikatkan sesuatupun dengan aku dan sucikanlah rumahKu ini bagi orang-orang yang thawaf, dan orang-orang yang beribadat dan orang-orang yang ruku’ dan sujud. Dan berserulah kepada manusia untuk mengerjakan haji, niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki, dan mengendarai unta yang kurus yang datang dari segenap penjuru yang jauh,
Lalu Nabi Ibrahim-pun bertanya kepada Allah, “Wahai Tuhan! Bagaimana suaraku  akan sampai kepada seluruh manusia?” Allah berfirman, “Serulah! Akulah yang akan membuat suaramu sampai kepada seluruh manusia”. Kemudian Nabi Ibrahim as. naik ke gunung Jabal Qubaisy sambil menghadapkan wajahnya ke Timur dan Barat lalu beliau berseru, “Wahai sekalian manusia, telah diwajibkan kepadamu menunaikan ibadah haji ke Baitul Atiq, maka sambutlah perintah Tuhanmu Yang Maha Agung. ”
Seruan tersebut bergaung didengar oleh seluruh manusia baik yang sudah lahir maupun yang belum lahir. Orang yang telah ditetapkan Allah bahwa ia akan melaksanakan haji berkata “Labbaik, saya penuhi panggilan-Mu, Ya Allah!  saya penuhi panggilan-Mu.”  Mereka yang menjawab sekali akan berhaji sekali yang menjawab dua kali akan berhaji dua kali dan seterusnya. Sementara Mereka yang tidak menjawab panggilan tidak akan melaksanakan haji selamanya.
Allah swt memuliakan Ibrahim as dan menjadikannya sebagai Khalilullah atau Kekasih Allah.  Semua doanya  dikabulkan Allah karena ia telah membuktikan dirinya sebagai orang yang komit penuh kepada Allah.  Ibrahim bukanlah seorang egois yang hanya memikirkan dirinya semata. Ibrahim yang pernah diuji Allah tidak memiliki anak hingga usia tua, sangat merasakan betapa pentingnya kehadiran anak dan generasi penerys.
Sebagai seorang pemimpin visioner, ia memikirkan bagaimana nasib ummat manusia generasi pelanjutnya jika mereka tidak lagi mengenal Allah atau tidak mendapatkan petunjuk sepeninggalnya. Maka beliau meminta agar Mekah dijadikan negeri yang diberkati dan agar Allah menurunkan seorang Rasul dari penduduk Mekah sebagaimana yang dinyatakan dalam QS Al Baqoroh: 126-129:
Dan ketika Ibrahim berdoa: “Ya Tuhanku, Jadikanlah negeri ini, negeri yang aman sentosa, dan berikanlah rezki dari buah-buahan kepada penduduknya yang beriman diantara mereka kepada Allah dan hari kemudian. Allah berfirman: “Dan kepada orang yang kafirpun aku beri kesenangan sementara, kemudian aku paksa ia menjalani siksa neraka dan Itulah seburuk-buruk tempat kembali”.
Dan ketika Ibrahim meninggikan dasar-dasar Baitullah bersama Ismail (seraya berdoa): “Ya Tuhan Kami terimalah daripada Kami (amalan kami), Sesungguhnya Engkaulah yang Maha mendengar lagi Maha Mengetahui”.  “Ya Tuhan Kami, Jadikanlah Kami berdua orang yang tunduk patuh kepada Engkau dan (jadikanlah) diantara anak cucu Kami umat yang tunduk patuh kepada Engkau dan tunjukkanlah kepada Kami cara-cara dan tempat-tempat ibadat haji Kami, dan terimalah taubat kami. Sesungguhnya Engkaulah yang Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang. “Ya Tuhan Kami, utuslah untuk mereka sesorang Rasul dari kalangan mereka, yang akan membacakan kepada mereka ayat-ayat Engkau, dan mengajarkan kepada mereka Al kitab (Al Quran) dan Al-Hikmah (As-Sunnah) serta mensucikan mereka. Sesungguhnya Engkaulah yang Maha Kuasa lagi Maha Bijaksana.
Ketika Allah memerintahkan Ibrahim untuk melaksanakan Haji, Ibrahim meminta petunjuk kepada Allah tentang bagaimana caranya. Karena pertanyaan Ibrahim-lah maka Allah menunjukkan cara manasik haji yang dikehendakiNya sehingga ummat Manusia mengetahui cara  melaksanakan ibadah Haji yang benar sesuai dengan yang dikehendaki Allah.
Perintah Haji kepada Nabi Muhammad
Perintah menunaikan ibadah haji turun pada tahun ke-9 Hijrah sesuai firman Allah dalam QS Ali Imron 96-97:
“Sesungguhnya rumah yang mula-mula dibangun untuk  manusia, ialah Baitullah yang di Bakkah (Mekah) yang diberkahi dan menjadi petunjuk bagi semua manusia. Padanya terdapat tanda2 yang nyata, (di antaranya) maqam Ibrahim; Barangsiapa memasukinya  menjadi amanlah dia; Mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, Yaitu (bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah. Barangsiapa mengingkari (kewajiban haji), Maka Sesungguhnya Allah Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) dari semesta alam.”
Walaupun ibadah haji telah diajarkan Nabi Ibrahim kepada ummat manusia, namun sepeninggal beliau banyak terjadi penyimpangan sehingga ritual haji bercampur dengan berbagai kemusyrikan. Kabah yang seharusnya menjadi tempat memuliakan dan mengesakan Allah justru menjadi pusat kemusryikan dengan ditempatkannya banyak berhala-berhala di dalamnya. Jumlah berhala tersebut terus bertambah dari masa ke masa karena masing-masing kabilah berusaha menempatkannya di sana.   Pada saat Futuh Makah, Rasulullah mengalahkan kaum kafir Quraisy dan memasuki Kabah,  beliau menghancurkan seluruh berhala yang berjumlah lebih dari 300 nerhala dengan menggunakan tongkat beliau,  Apa yang dilakukan Muhammad saw tersebut persis seperti yang dilakukan nenek moyangnya yaitu Nabi Ibrahim yang menghancurkan berhala-berhala yang disembah kaumnya dengan menggunakan tongkatnya.
Setelah Mekah jatuh ke tangan kaum muslimin, Muhammad saw memperbaharui kembali perintah ibadah haji dengan menunjukkan cara- manasik yang benar dan membersihkannya dari ritual kemusyrikan pasca ditinggal Nabi Ibrahim as.
Ketika musim haji tiba, para sahabat merasa ragu saat diperintahkan Rasulullah untuk melaksanakan sa’i. Hal ini terjadi karena para sahabat merasa risih melihat di masa jahiliyah, Safa dan Marwah adalah tempat berhala dan kemusyrikan, sehingga mereka takut ibadah mereka bercampur kemusyrikan dan perbuatan Jahiliyah.  Maka turunlah ayat berikut untuk menghapus kekhawatiran tersebut:
 “Sesungguhnya Shafaa dan Marwa adalah sebagian dari syiar Allah. Maka barangsiapa beribadah haji ke Baitullah atau berumrah maka tidak ada dosa baginya mengerjakan sa’i antara keduanya. Barangsiapa yang mengerjakan kebajikan dengan kerelaan hati. Sesungguhnya Allah Maha Mensyukuri kebaikan lagi Maha Mengetahui”. (QS Al Baqarah 158).
Selain ibadah haji, kaum muslimin pun diwajibkan untuk melaksanakan umrah sebagaimana firman Allah dalam QS Al Baqarah 196:
Dan sempurnakanlah ibadah haji dan ‘umrah karena Allah. jika kamu terkepung, Maka (sembelihlah) korban yang mudah didapat, dan jangan kamu mencukur kepalamu, sebelum korban sampai di tempat penyembelihannya. jika ada di antaramu yang sakit atau ada gangguan di kepalanya (lalu ia bercukur), Maka wajiblah atasnya berfid-yah, Yaitu: berpuasa atau bersedekah atau berkorban. apabila kamu telah (merasa) aman, Maka bagi siapa yang ingin mengerjakan ‘umrah sebelum haji, (wajiblah ia menyembelih) korban yang mudah didapat. tetapi jika ia tidak menemukan (binatang korban atau tidak mampu), Maka wajib berpuasa tiga hari dalam masa haji dan tujuh hari (lagi) apabila kamu telah pulang kembali. Itulah sepuluh (hari) yang sempurna. demikian itu (kewajiban membayar fidyah) bagi orang-orang yang keluarganya tidak berada  Masjidil Haram. dan bertakwalah kepada Allah dan ketahuilah bahwa Allah sangat keras siksaan-Nya.
Rasulullah saw selama hidupnya hanya sekali melaksanakan ibadah haji yang sekaligus merupakan pelaksanaan Haji Wada’ (Haji Perpisahan) yakni pada tahun 10 H. Pelaksanaannya diikuti oleh 100 Ribu kaum muslimin, sehingga banyak manusia menjadi saksi yang melihat langsung bagaimana Rasulullah melaksanakan manasik haji dengan benar.
Selain Haji, Rasulullah saw melaksanakan Umrah sebanyak 4 kali selama hidupnya dalam tahun yang berbeda setelah beliau berada di Madinah yaitu :
Tahun ke 6 Hijrah diikuti 1400 orang sahabat, namun tidak terlaksana karena dihalangi kafir quraisy yang akhirnya melahirkan perjanjian Hudaibiyah.
Tahun ke 7 Hijrah sebagai umrah pengganti tahun ke 6 yang batal.
Tahun ke 8 Hijrah setelah penaklukan Thaif dengan miqat di Ji’ronah sekaligus  sebagai umrah pengganti karena ketika Rasulullah menaklukkan Makah pada bulan Ramadhan tidak melakukan umrah.
Tahun ke 10 Hijrah, yang dilaksanakan bersamaan dengan Haji Wada dengan miqat dan ihram di Dzul Hulaifah (bir Ali).
 Kepada orang yang mampu berhaji namun enggan mengerjakannya, Allah menyindirnya dengan firman : ”Barangsiapa mengingkari (kewajiban haji) maka sesungguhnya Allah Maha kaya (tidak memerlukan sesuatu) dari semesta alam” (QS Ali Imron:97).
Rasulullah saw pun menyampaikan ancaman kepada orang yang mampu berhaji tapi tidak berhaji dengan menyamakannya sebagai orang kafir  : ”Barang siapa yang telah memiliki bekal dan kendaraan lalu tidak berhaji maka bila mati, ia mati sebagai yahudi atau nasrani”. 
Jadi, janganlah menunda pelaksanaan ibadah haji. Laksanakan ketika dirasa cukup memiliki bekal dan selagi masih muda.  Insya Allah akan menjadi berkah bagi kehidupan kita. Kepada orang yang menunda-nunda pelaksanaan ibadah hajinya, Rasulullah mengingatkan: “Bersegeralah melaksanakan haji, karena sesungguhnya seorang di antara kamu tidak mengetahui apa yang akan merintanginya.”( HR. Ahmad).
Idaman bagi setiap yang melaksanakan Haji adalah mendapat predikat Haji Mabrur. Haji yang Mabrur artinya yang ibadah hajinya diterima oleh Allah karena cara hajinya benar sesuai ketentuan Allah dan Rasulullah, tidak dicemari  bid’ah dan dosa, serta mampu meningkatkan kualitas diri setelah selesai melaksanakan haji melalui amalan amar ma’ruf nahi munkar sehingga menjadi sosok yang digambarkan Rasulullah yaitu : “Sebaik-baik manusia adalah yang paling banyak memberi manfaat bagi manusia”.
 “Dan haji mabrur itu tiada balasan bagi-nya melainkan Surga” (Al Hadits)
Makna dan Hakikat Ritual Ibadah Haji
Dr Ali Syariati, dalam buku “Makna Haji”, menyampaikan bahwa ibadah haji bukanlah sekadar prosesi lahiriah dan formalitas belaka, melainkan sebuah momen revolusi lahir dan batin untuk mencapai kesejatian manusia.
Melalui ritual thawaf, Allah ingin menunjukkan bahwa manusia di tengah alam semesta tidak bisa lepas dari sunnatulah Hukum Gaya Tarik, yang dengannya maka seluruh benda akan berputar pada orbitnya mengelilingi pusat alam semesta yaitu Allah swt. Thawaf mengajarkan kepada kita untuk selalu bergerak dalam orbit dan jangan pernah berdiam diri. Kita diminta untuk melebur dalam pusaran manusia yang akan membawanya mendekat menuju Allah yang disimbulkan oleh sosok Kabah.  Thawaf mengajarkan kepada manusia,  kalau ingin selamat, maka masuklah dalam Pergerakan karena kalau diam maka kita akan terhempas oleh  arus manusia, arus jaman dan arus kehidupan.
Ritual Sa’i mengajarkan bahwa hidup di dunia adalah perjuangan tanpa henti. Pelajaran perjuangan hidup tersebut diajarkan Allah melalui sosok Hajar, seorang wanita budak hitam yang lemah tapi mempunyai kekuatan luar biasa  menghadapi tantangan kehidupan.  Allah mengajarkan agar kita selalu tetap berusaha di tengah berbagai ketidakmungkinan. Karena di tengah ketidakmungkinan, Allah mempunyai kuasa untuk memberikan pertolongan dari jalan yang tidak diduga. Bayangkan…. apakah mungkin di tengah padang pasir tandus seorang ibu dan anaknya bisa selamat, jika tanpa campur tangan pertolongan Allah yang mengalirkan air melalui kaki mungil bayi Ismail.
Ibadah Wukuf di Arafah mengingatkan kita terhadap pertemuan nenek moyang manusia, Adam dan Hawa, di Jabal Rahmah Padang Arafah setelah keduanya diusir dari syurga dan diturunkan ke Bumi secara terpisah. Menurut salah satu riwayat, Konon Adam diturunkan di Afrika sedangkan Hawa diturunkan di India. Setelah melalui perjuangan tak kenal lelah kedua sosok manusia tersebut akhirnya bertemu disertai pengampuan Allah terhadap taubat keduanya yang telah melakukan dosa di Syurga akibat bujuk rayu Syetan terkutuk.
Melalui ibadah Mabit dan Jumrah di Mina, Allah mengingatkan kita agar waspada terhadap godaan iblis yang tidak pernah berhenti menipu. Saat jumrah,  kita diminta berperan sebagai Ibrahim  menunjukkan sikap perang kepada Iblis.  Ada 3 Tugu yang menjadi simbol wajah Iblis. Yaitu Jumratul Aqobah yang menjadi representasi Fir’aun (lambang kekuasaan), Jumratul Uula sebagai representasi Karun (lambang harta), dan Jumratul Wustho yang merepresentasikan Bal’am (lambang intelektualitas).
Di Mina kita diminta melaksanakan pemotongan hewan Qurban mengikuti sunnah Nabi Ibrahim yang memotong seekor qibash setelah berhasil lolos melawati ujian ketika harus mengorbankan anaknya Ismail atas perintah Allah. Dibanding Ibrahim yang diminta mengorbankan anak, Jamaah haji hanya diminta mengorbankan seekor hewan kurban sebagai simbol bahwa ia rela memotong nafsu kebinatangan yang ada dalam diri manusia.
Nabi Ibrahim adalah sosok manusia luar biasa yang berhasil lulus dari semua ujian yang Allah berikan kepadanya. Beliau bersedia mengorbankan apapun yang dicintainya untuk memenuhi semua perintah Allah, sehingga akhirnya Ibrahim diangkat menjadi Khalilullah (Kekasih Allah), imam dan panutan bagi seluruh ummat manusia.
Para hujjaj sekembalinya dari Haji diharapkan menjadi sosok layaknya Ibrahim yang mencintai Allah dengan segenap hati, tangguh, sabar dan  rela berkorban  demi membuktikan cintanya kepada Allah. Jangan sampai sepulang dari Haji tidak ada perubahan berarti, selain gelar haji yang disematkan oleh orang-orang disekitarnya.
Rasulullah SAW mengingatkan dalam sabdanya: “Kelak di akhir jaman, manusia pergi haji terdiri dari beberapa kelompok: Para penguasa pergi haji untuk berwisata, para hartawan untuk berdagang, para fakir miskin untuk meminta-minta dan alim ulama untuk mendapatkan nama dan pujian” (Hadits).
Setiap tahun 200.000 orang Indonesia berangkat Haji dan kembali ke tanah air dengan menyandang gelar haji. Namun sangat disayangkan, saat ini para haji masih belum memberikan kontribusi penting bagi perubahan di masyarakat.  Banyak yang berhaji karena ingin mendapatkan status sosial yang lebih tinggi di masyarakat dan banyak juga yang sekedar rekreasi mental sebagai  upaya untuk mengatasi rasa berdosa namun kemudian setelah kembali ke tanah air kembali melakukan kemaksiatan. Tobatnya ibaray tobat sambel. Tobat sih tapi kemudian kembali makan pedes.
Hal ini jauh berbeda dibandingkan apa yang telah dilakukan para haji di masa lampau yang sekembalinya dari Haji, semakin meningkat kontribusinya kepada masyarakat.
KH Ahmad Dahlan sekembalinya dari Haji mendirikan lembaga  Muhammadiyah  yang berupaya memberantas kemusyrikan dan kejumudan di dalam masyarakat melalui kegiatan pendidikan dan sosial kemasyarakatan. Begitu juga dengan KH Wahid Hasyim, HOS Cokroaminoto, H Samanhudi dll.
Jaman penjajahan Belanda, Ibadah Haji sangat dibatasi karena Belanda ketakutan mereka yang pulang Haji akan membawa semangat haji untuk memperjuangkan kemerdekaan Indonesia.

Ternyata memang benar, sekelompok kecil mereka yang menunaikan ibadah haji jaman penjajahan Belanda kembali dengan membawa semangat kemerdekaan setelah berinteraksi dengan kaum muslimin dari negara lain dalam muktamar internasional ummat Islam se dunia di tanah suci Mekah.

Kamis, 02 Juni 2016

Cara Rosulullah Menyambut Ramadhan ( Tarhib Ramadhan)

Alhamdulillah kita masih diberi kesempatan oleh Alloh Swt untuk mengisi dan menikmati bulan yang penuh berkah sehingga kita menyambutnya dengan penuh makna.
 Makna etimologis dan terminologis
Secara etimologis (bahasa), kata tarhib berasal dari fi’il “ra-hi-ba, yarhabu, rahbun”yang berarti luas, lapang dan lebar. Dan selanjutnya menjadi fi’ilrahhaba, yurahhibu, tarhiban” yang mengandung arti menyambut, menerima dengan penuh kelapangan, kelebaran dan keterbukaan hati. (Kamus al-Munawwir).
Menurut Kamus Al-Munjid (Kamus Besar Bahasa Arab),marhaban berasal dari akar kata rahib (ra-ha-ba) yang artinya menyambut. Masdarnya adalah tarhibyang mengandung makna penyambutan.
Kebiasaan orang Arab ketika menyambut tamunya, ungkapan yang biasa mereka sampaikan (ucapkan) adalah: marhaban, maksudnya kedatanganmu aku terima dengan penuh keterbukaan, seisi rumah kami menyambutmu dengan dengan segala kelapangan.
Sebagai catatan, dalam bahasa Arab, kata “tarhib” bisa punya dua makna. Pertama, kata tarhib (pake huruf ha besar), berasal dari rahhaba-yurahhibu atau arhaba-yurhibu, artinya ancaman.  Derivasinya ada kata irhab (teror), irhabiy (teroris).
Kedua, kata “tarhib” (pake huruf ha tipis), dari kata ini lahir kata marhaban (menyambut gembira, senang, dll).
Nah, yang dimaksud “Tarhib Ramadhan”, berarti yang dimaksud adalah menyambut gembira Ramadhan (yang pake ha tipis).
Secara terminologis (istilah), kata tarhib Ramadhan berarti menyambut kedatangan bulan Ramadhan dengan segala kesiapan, keluasan, kepalapangan, keterbukaan dan kelebaran yang dimiliki, baik materil maupun spritual, jiwa dan raga serta segala apa yang ada dalam diri kita.
Jadi ketika kita mengatakan: “aku men-tarhib Ramadhan”, itu bermakna kedatangan bulan Ramadhan akan aku sambut secara total, maksimal dan optimal. Antara istilah Tarhib dan Marhaban, secara teori dan makna sama-sama bisa digunakan karena mengandung arti yang sama yaitu menyambut dengan senang hati, gembira, lapang dan secara terbuka lebar.
Ibnu Mandzur (630-711 H), seorang ahli Bahasa Arab pernah menjelaskan bahwa Ramadhan berasal dari kata al Ramadh, yang artinya panas batu akibat sengatan sinar matahari. Ada juga yang mengatakan, Ramadhan diambil dari akar kara ramida, keringnya mulut orang yang berpuasa akibat haus dan dahaga. Dengan pengertian di atas, Ramadhan sebagai simbol sengatan sinar matahari yang bisa mempengaruhi dan memanaskan batu. Sementara batu sering disimbulkan dalam Al-Quran untuk orang yang memiliki hati yang keras. Namun Ramadhan mampu membuat panas dan hati yang sekeras batu bisa terpengaruh. (Misteri Bulan Ramadhan, Yusuf Burhanuddin, QultumMedia)
Gebyar dalam menyambut Ramadhan merupakan bagian dari syi’ar Islam. Warna warni menghiasi segala penjuru nusantara dengan kajian, ta’lim tabligh akbar dengan mengundang para ulama yang sengaja didatangkan dari luar daerah untuk memberikan pencerahan dan pembekalan dalam detik-detik memasuki Ramadhan.
Namun terntunya, kita juga selalu menasehati dan mengingatkan saudara-saudara kita semoga tidak terjerumus ke dalam perkara-perkara yang tidak dicontohkan oleh Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassallam.
Beberapa hal bisa kita lakukan dalam mentarhib Ramadhan:
Pertama, menyambutnya dengan penuh rasa gembira, karena bulan Ramadhan sangat banyak faedah dan keutamaan-keutamaan yang terdapat di dalamnya, pintu Syurga dibuka, pintu Neraka ditutup. Pahala dilipat gandakan, amalan sunnah menjadi wajib dan masih banyak lagi.
Kedua, mendatangi berbagai kajian puasa Ramadhan  guna meningkatkan pengetahuan tentang Ramadhan. Agar hari-hari yang dilewati semenjak hari pertama sampai terkahir tinggal pemantapan dan pelaksanaan saja.
Ketiga, melakukan persiapan fisik, mental dan spritual. Sejak awal sudah ada perencanaan yang matang mulai dari menyiapkan mushaf khusus untuk tadarrus dan, berazzam membaca tafsir al-Qur’an selama Ramadhan. Membeli buku-buku yang berkaitan dengan pengetahuan puasa jika tidak berkesempatan mengikuti kajian bisa baca sendiri di rumah.
Kehadiran bulan Ramadhan yang biasa disemarakkan dalam acara tarhib Ramadhan seringkali dimanfaatkan oleh banyak orang sebagai waktu untuk berbenah diri, membersihkan hati dan mempererat kembali tali silahturahim dengan sanak famili. Kebersihan dan kesiapan hati menyambut Ramadhan akan terasa lebih indah jika dicerminkan dari hati yang suci. Karena itu, seringkali kita melakukan persiapan fisik dan mental untuk menyambut bulan puasa selama satu bulan penuh ini.

Pada detik-detik menjelang kehadiran bulan Ramadhan, kita seringkali melakukan berbagai seremonial dan acara-acara keagamaan untuk menyambut datangnya bulan Ramadhan. Ya, itulah yang biasa kita kenal dengan istilah tarhib Ramadhan alias menyambut Ramadhan. Istilah tarhib yang dalam bahasa Indonesia diartikan dengan "menyambut" memiliki makna filosofis yang cukup dalam. Ramadhan yang kita sambut ini berarti sesuatu yang memang kita tunggu-tunggu kehadirannya. Entah bagaimana perasaan kita ketika sedang menunggu saat-saat yang mendebarkan hati? Apalagi sudah ditunggu-tunggu selama sebelas bulan. Sikap tersebut adalah wujud begitu besarnya cinta kita terhadap bulan ini.

SDi lingkungan kita, pada saat menjelang bulan Ramadhan, terdapat tradisi unik untuk mengungkapkan kebahagiaan luar biasa. Ada yang berpawai ria dan konvoi, ada pula yang melakukan long march, ada yang menyebar jadwal imsak, ada yang silaturahim seperti halnya lebaran, ada yang bermaaf-maafan, ada yang kumpulan, ziarah ke makam keluarga alias nyekar, ngariung, megengan, munggahan, kirab, dan masih banyak lagi tradisi sejenis lainnya. Bahkan tidak sedikit pedagang yang menabung hasil jerih payahnya selama sebelsa bulan hanya untuk persiapan Ramadhan. Selama Ramadhan ia memilih mudik dan tidak berjualan agar bisa fokus beribadah.

Apapun kegiatannya, yang jelas itu semua adalan bentuk ungkapan kegembiraan menyambut Ramadhan. Jika kita bisa bergembira menyambut Ramadhan, maka seharusnya kita bisa lebih bergembira dan semangat lagi kalau Ramadhan tersebut telah datang, seperti saat ini.
Lalu, bagaimanakah cara Rasulullah saw menyambut Ramadhan, alias tarhib Ramadhan? Beliau melakukan tarhib Ramadhan jauh-jauh hari sebelum datangnya Ramadhan. Pada bulan Sya’ban, Rasulullah saw pun semakin meningkatkan kuantitas dan kualitas ibadahnya. Beliau saw, misalnya, tidak pernah melakukan puasa sunah sebanyak yang dilakukan di bulan Sya’ban. Salah satu dari hikmah memperbanyak puasa di bulan Sya'ban adalah sebagai latihan puasa selama sebulan penuh di bulan Ramadhan. Apakah itu bukan sebuah tarhib? Ya, begitulah salah satu cara Nabi menyambut kehadiran Ramadhan, sebulan sebelumnya telah dipersiapkan matang-matang.

Di samping itu, jika kita baca hadis-hadis Rasulullah saw yang lain, pasti kita juga akan mendapati cara-cara beliau yang lain menyambut kehadiran bulan suci ini. Adalah baginda Nabi Muhammad saw yang benar-benar melakukan tarhib Ramadhan paling meriah dan paling lama. Beliau melakukan tarhib Ramadhan tidak cukup sehari atau dua hari saja. Beliau mempersiapkan penyambutan Ramadhan mulai dari menjelang kedatangannya hingga kepulangannya. Ketika sudah datang pun, Ramadhan masih juga beliau sambut dengan meriah. Dengan demikian, setiap hari di bulan Ramadhan adalah tamu agung yang berbeda-beda. Hari-hari Ramadhan bak tamu agung yang datang silih berganti.

Penyambutan Ramadhan tidak dilakukan dengan sekadar mengungkapkan rasa bahagia atau gembira saja, melainkan dengan persiapan matang secara fisik dan mental agar kuat dalam menjalankan ibadah spesial selama sebulan penuh itu. Riwayat tentang jaminan bebas neraka karena kegembiraan dalam menyambut bulan Ramadhan sebagaimana yang popular di kalangan kita adalah tidak berdasar alias palsu.
"Siapa yang bergembira karena menyambut datangnya bulan Ramadhan, niscaya Allah haramkan jasadnya dari neraka."
Riwayat tersebut hanya dapat dijumpai dalam kita Durratunnasihin, namun tanpa sanad. Sementara itu, untuk bisa menyatakan bahwa hadis tersebut sahih dari nabi Muhammad saw adalah dengan sanad tersebut. Siapa yang menyampaikan hadis tersebut menjadi penting untuk diketahui dan dikaji. Karena tidak juga ditemukan, maka para ulama menegaskan bahwa ungkapan tersebut bukan sebuah hadis Nabi saw. Entah siapa yang pertama kali mengucapkan ungkapan itu, namun yang jelas, bila ungkapan itu dinisbahkan kepada Nabi saw, maka hal itu menjadi hadis palsu dan kebohongan atas nama nabi yang pelaku dan pengedarnya diancam neraka. Na'udzubillah wa nastaghfiruh.

Bergembira menyambut Ramadhan adalah sesuatu yang sah-sah saja dilakukan. Namun, jika menjadikan hadis palsu di atas sebagai dasarnya, hal ini menjadi masalah baru dalam beragama. Masih banyak hadis-hadis sahih dari Nabi yang menyatakan kegembiraan akan kedatangan bulan Ramadhan selain hadis palsu di atas. Cukuplah bagi kita dasar-dasar dari al-Quran dan sunnah-sunnah nabi yang sahih sebagai acuan beragama kita, di dalam maupun di luar Ramadhan.

Adalah Nabi Muhammad saw orang yang selalu memotivasi para sahabatnya dalam berbagai hal, khususnya masalah keislaman dan Ramadhan. Beliau selalu menyemarakkan malam-malam Ramadhan untuk qiyamullail. Beliau bersabda,
"Siapa yang bangun (menyemarakkan malam-malam) Ramadhan karena iman dan mengharap ridha Allah, pasti akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu."
Tentu, yang dosa yang diampuni sebagaimana janji Allah tersebut adalah dosa-dosa kecil, karena kalau dosa besar seperti syirik, zina, membunuh orang, dan sejenisnya diperlukan taubat nasuha. Apalagi jika dosa tersebut menyangkut hak orang lain, maka harus minta maaf terlebih dahulu kepada yang berhak. Nah, begitulah cara Nabi menyambut ramadhan di malam hari. Lalu, bagaimana cara beliau menyambut hari-hari Ramadhan kala siang hari?
Rasulullah saw bersabda,
"Siapa yang puasa (di siang) Ramadhan karena iman dan mengharap ridha Allah, pasti akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu."

Kalau di malam hari, Nabi memotivasi kita untuk bergadang yang diisi dengan ibadah alias qiyamullail, maka pada siang harinya, kita diperintahkan untuk berpuasa. Awas jangan sampe bolong kalau tidak benar-benar dalam kondisi darurat karena sakit, musafir, atau datang bulan bagi wanita. Itu pun harus diganti. Demikianlah, kalau semua itu kita lakukan dengan ikhlas karena Allah, pasti bakal diampuni dosa-dosa kita yang telah lalu. Dengan ampunan itulah, kita bisa selamat dari lahapan Neraka, Si jago merah itu. Mudah, bukan?

Kalau biasanya di saing hari kita makan-minum, jalan-jalan, maka pastilah hal itu menguras tenaga dan juga kantong. Nah, dengan puasa kita tidak menguras apa-apa. Berarti lebih mudah dong! Di samping itu, pada malam hari kita juga biasa bergadang, apalagi kalau ada pertandingan bola, maka pada malam Ramadhan kita juga melakukan hal yang sama, bergadang juga. Malahan, kali ini bisa rame-rame lagi bareng keluarga dan masyarakat. Tidak perlu berlama-lama, asalkan dilakukan dengan penuh keihlasan dan istikamah, yang penting bergadangnya tidak disalahgunakan. Begitulah kanjeng Nabi kita menyambut hari per hari di bulan Ramadhan. Berikut adalah testimonial istri-istri beliau mengenai amaliyah Nabi saw di bulan suci,

"Dulu, Nabi saw ketika sudah memasuki sepuluh hari terakhir (bulan Ramadhan) selalu menghhidupkan malamnya, membangunkan keluarganya, dan mengencangkan sarungnya (tidak menggauli istri-istrinya)." (HR. Bukhari dan Muslim)
"Dulu, Nabi saw selalu bersungguh-sungguh (ibadah) di bulan Ramadhan melebihi kesungguhan beliau di bulan lain. Dan di sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan, juga melebihi hari-hari selainnya." (HR. Muslim)
Malam-malam ramadhan selalu disemarakkan dengan beribadah, qiyamullail: Shalat malam, membaca al-Quran, daibadah-ibadah lainnya. Semarak malam-malam ramadhan juga diramaikan oleh keluarga beliau dan bahkan masyarakat sekitarnya. Pernah suatu ketika, Nabi sedang menyemarakkan malam-malam Ramadhan, kemudian diketahui oleh para sahabat, maka pada malam berikutnya, beliau dikejutkan dengan banyaknya sahabat yang turut mengikuti beliau di masjid. Lalu, nabi pun kasihan terhadap mereka sehingga beliau melaksanakannya di rumah agar hal tersebut tidak diwajibkan bagi umatnya. Begitulah cara Nabi dan masayarakatnya melakukan tarhib ramadhan hingga paripurna. Adakah di antara kita yang menyambut Ramadhan lebih semarak dan meriah dibanding Nabi dan sahabatnya itu?

Demikianlah, wujud kegembiraan yang hakiki dalam menyambut hadirnya bulan Ramadhan. Ketika yang disambut, dirindukan dan dinanti-nanti telah tiba, ia tidaklah dilewatkan begitu saja. Begitu istimewanya bulan Ramadhan, maka sepuluh malam terakhir itu pun oleh nabi sekaligus dijadikan sebagai malam perpisahan, Farewell party dengan ramadhan. Entah, kegiatan apakah di seluruh belahan dunia ini yang acara pesta penutupan dan perpisahannya dilakukan selama sepuluh hari? Apalagi di malam-malam farewell party itu ada satu malam penganugerahan seribu bulan. Itulah malam teristimewa yang tidak di dapati di malam-malam yang lain, lailatul qadar. Pasti seru, beramai-ramai setiap malam bersama keluarga di bulan Ramadhan yang kita sayangi, kita nanti-natikan sampai kedatangannya saja dirayakan secara besar-besaran. Sebenarnya, kita semua sudah mengetahui dan bahkan menyadari betul akan hal tersebut. Namun, kita seringkali lupa bahwa itulah esensi tarhib Ramadhan, penyambutan bulan Ramadhan yang hakiki. Bukan, sekadar mengungkapkan kegembiraan saat menjelang Ramadhan atau di awalnya saja, melainkan setiap hari dan setiap saat hingga Ramadhan itu pulang dan akan datang kembali..
Tentu kita seharusnya juga masih ingat dan sadar betul atas apa yang selalu kita minta selama dua bulan penuh menjelang Ramadhan. Ya, di bulan Rajab dan Sya'ban kita hampir setiap hari diajari sebuah doa agar disampaikan pada bulan Ramadhan.
"Ya Allah, berkahilah kami di bulan Rajab dan Sya'ban, dan sampaikanlah (umur) kami kepada bulan Ramadhan."

Senin, 02 Mei 2016

Cara Rosulullah Menggapai Rahmat Allah

Suatu hari Baginda Nabi Muhammad SAW didatangi Jibril, kemudian berkata, “Wahai Muhammad, ada seorang hamba Allah yang beribadah selama 500 tahun di atas sebuah bukit yang berada di tengah-tengah lautan. Di situ Allah SWT mengeluarkan sumber air tawar yang sangat segar sebesar satu jari, di situ juga Allah SWT menumbuhkan satu pohon delima, setiap malam delima itu berbuah satu delima.

Setiap harinya, hamba Allah tersebut mandi dan berwudhu pada mata air tersebut. Lalu ia memetik buah delima untuk dimakannya, kemudian berdiri untuk mengerjakan shalat dan dalam shalatnya ia berkata: “Ya Allah, matikanlah aku dalam keadaan bersujud dan supaya badanku tidak tersentuh oleh bumi dan lainnya, sampai aku dibangkitkan pada hari kiamat dalam keadaan bersujud”.

Maka Allah SWT menerima doa hambanya tersebut. Aku (Jibril) mendapatkan petunjuk dari Allah SWT bahwa hamba Allah itu akan dibangkitkan pada hari kiamat dalam keadaan bersujud. Maka Allah SWT menyuruh: “Masukkan hamba-Ku ini ke dalam surga karena rahmat-Ku”. Akan tetapi, hamba tersebut berkata: “Ya Allah, masukkan aku ke dalam surga karena amal ibadahku”.

Maka Allah SWT menyuruh lagi: “Masukkan hamba-Ku ini ke dalam surga karena rahmat-Ku”. Akan tetapi, hamba tersebut berkata lagi: “Ya Allah, masukkan aku ke dalam surga karena amal ibadahku”. Untuk yang ketiga kalinya Allah SWT menyuruh lagi: “Masukkan hamba-Ku ini ke dalam surga karena rahmat-Ku”. Akan tetapi, hamba tersebut pun berkata lagi: “Ya Allah, masukkan aku ke dalam surga karena amal ibadahku”.

Maka Allah SWT menyuruh malaikat agar menghitung seluruh amal ibadahnya selama 500 tahun dengan nikmat Allah yang telah diberikan kepadanya. Setelah dihitung-hitung ternyata kenikmatan Allah SWT tidak sebanding dengan amal ibadah hamba tersebut selama 500 tahun. Maka Allah SWT berfirman: “Masukkan ia ke dalam neraka”. Maka ketika malaikat akan menariknya untuk dijebloskan ke dalam neraka, hamba tersebut berkata lagi: “Ya Allah, masukkan aku ke dalam surga karena rahmat-Mu. (HR Sulaiman Bin Harom, dari Muhammad Bin Al-Mankadir, dari Jabir RA).

Dari kisah di atas, jelaslah bahwa seseorang bisa masuk surga karena rahmat Allah SWT, bukan karena banyaknya amal ibadah. Lantas muncul pertanyaan, bagaimana dengan amal ibadah yang kita lakukan setiap hari, seperti shalat, zakat, sedekah, puasa, dan amalan-amalan lainnya tidak ada arti? Jangan salah persepsi. Sungguh, tidak ada amal ibadah yang sia-sia, amal ibadah adalah sebuah proses atau alat untuk menjemput rahmat Allah SWT. Karena rahmat Allah tidak diobral begitu saja kepada manusia. Akan tetapi, harus diundang dan dijemput.

Rasulullah SAW mengajarkan kepala umatnya beberapa cara agar rahmat Allah itu bisa diraih. Pertama, berbuat ihsan dalam beribadah kepada Allah SWT dengan menyempurnakan ibadah kepada-Nya dan merasa diperhatikan (diawasi) oleh Allah (QS al-A'raf [7]: 56). Kedua, bertakwa kepada-Nya dan menaati-Nya dengan melaksanakan perintah-Nya dan menjauhi larangan-larangan-Nya (QS al-A'raf [7]: 156-157). Ketiga, kasih sayang kepada makhluk-Nya, baik manusia, binatang. maupun tumbuhan.

Keempat, beriman, berhijrah, dan berjihad di jalan Allah (QS al-Baqarah [2]: 218). Kelima, mendirikan shalat, menunaikan zakat, dan menaati Rasulullah SAW (QS an-Nur [24]: 56). Keenam, berdoa kepada Allah SWT untuk mendapatkannya dengan bertawasul dengan nama-nama-Nya yang Mahapengasih (ar-Rahman) lagi Mahapenyayang (ar-Rahim). Firman Allah SWT, “Wahai Rabb kami, berikanlah rahmat kepada kami dari sisi-Mu dan sempurnakanlah bagi kami petunjuk yang lurus dalam urusan kami (ini).” (QS al-Kahfi [18]: 10).

Ketujuh, membaca, menghafal, dan mengamalkan Alquran (QS al-An'am [6]: 155). Kedelapan, menaati Allah SWT dan Rasul-Nya (QS Ali Imran [6]: 132). Kesembilan, mendengar dan memperhatikan dengan tenang ketika dibacakan Alquran (QS al-A'raf [7]: 204). Kesepuluh, memperbanyak istigfar, memohon ampunan dari Allah SWT. Firmannya, “Hendaklah kamu meminta ampun kepada Allah, agar kamu mendapat rahmat.” (QS an-Naml [27]: 46).

Sabtu, 19 September 2015

Kapan Puasa Arafah ? Mengikuti Wukuf atau Sesuai Wilayah Masing-masing ?

Asalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh..

Kemarin malam Senin 13 september Kemenag melalui dirjen BIMAS Islam menyampaikan hasil siding itsbat sebagai hasil dari penggunaan metode imaknur ru'yat terkait dengan penentuan hari arofah dan hari raya Idul Adha. Pemerintah memutuskan bahwa tanggal 1 Dzulhijjah 1436 H jatuh pada hari Selasa 15 September 2015 sehingga hari Arofah (9 Dzhulhijjah 1436 H) jatuh pada hari Rabu tanggal 23 September 2015 dan Idul Adha (10 Dzulhijjah 1436 H) jatuh pada hari Kamis 24 september 2015.

Sementara Muhammadiyah dengan metode wujudul hilalnya sudah menetapkan jauh sebelumnya bahwa tanggal 1 Dzulhijjah 1436 H jatuh pada hari Senin 14 September 2015 sehingga hari arofah (9 Dzhulhijjah 1436 H) jatuh pada hari Selasa tanggal 22 September 2015 dan Idul Adha (10 Dzulhijjah 1436 H) jatuh pada hari Rabu 23 September 2015.

Adapun pemerintah Arab Saudi, menurut informasi juga menetapkan bahwa tanggal 1 Dzulhijjah 1436 H jatuh pada hari Selasa 15 September 2015 sehingga hari Arofah (9 Dzhulhijjah 1436 H) jatuh pada hari Rabu tanggal 23 September 2015 dan Idul Adha (10 Dzulhijjah 1436 H) jatuh pada hari Kamis 24 september 2015.

Keputusan pemerintah Arab Saudi terkait dengan hari Arofah (9 Dzhulhijjah 1436 H) jatuh pada hari Rabu tanggal 23 September 2015 dan Idul Adha (10 Dzulhijjah 1436 H) jatuh pada hari Kamis 24 september 2015 yang berbeda dengan jadwal perjalan haji yang sudah dirilis oleh kemenag dimana dicantumkan bahwa wukuf di Arofah jatuh pada hari Selasa tanggal 22 September 2015 dan Idul Adha (10 Dzulhijjah 1436 H) jatuh pada hari Rabu 24 September 2015 mungkin sedikit membuat ragu beberapa warga dan simpatisan Muhammadiyah.

Untuk itu perlu dijelaskan kepada warga Muhammadiyah dan simpatisan Muhammadiyah meskipun keputusan Muhammadiyah terkait dengan penetapan tanggal 1 Dzulhijjah 1436 H, Hari Arofah dan hari idul Adha berbeda dengan pemerintah dan bahkan juga berbeda dengan Arab Saudi, bahwa keputusan itu benar adanya berdasarkan metode Hisab Wujudul Hilal yang dipedomani Muhammadiyah. Penjelasan tersebut diberikan agar mereka tidak ragu ketika melaksanakan puasa Arofah besok selasa 22 September 2015 dan shalat Idul Adha besok Rabu 23 September 2015.
Apakah Puasa Arafah harus dikerjakan bersamaan dengan jama'ah haji yang sedang berwukuf ?

ﺻِﻴَﺎﻡُ ﻳَﻮْﻡِ ﻋَﺮَﻓَﺔَ ﺃَﺣْﺘَﺴِﺐُ ﻋَﻠَﻰ ﺍﻟﻠﻪِ ﺃَﻥْ ﻳُﻜَﻔِّﺮَ ﺍﻟﺴَّﻨَﺔَ ﺍﻟَّﺘِﻲ ﻗَﺒْﻠَﻪُ ﻭَﺍﻟﺴَّﻨَﺔَ ﺍﻟَّﺘِﻲ ﺑَﻌْﺪَﻩُ
"Puasa hari Arofah aku berharap kepada Allah agar penebus (dosa) setahun sebelumnya dan setahun sesudahnya" (HR Muslim no 197)

Kalangan ulama berbeda pendapat terkait dengan makna kalimat ﺻِﻴَﺎﻡُ ﻳَﻮْﻡِ ﻋَﺮَﻓَﺔَ "Puasa hari Arofah...".

Pendapat pertama mengatakan bahwa puasa Arafah adalah puasa yang dilaksanakan bersamaan dengan wukufnya para jama'ah haji di padang Arafah.

Pendapat Kedua menyatakan bahwa puasa Arafah adalah puasa yang dilaksanakan pada tanggal 9 Dzulhijjah sesuai dengan kalender bulan Dzulhijjah pada masing-masing wilayah.

Masalah tersebut adalah masalah khilafiyah fiqhiyah, sehingga dibutuhkan adanya kelapangan dada untuk legowo dalam menghadapi permasalahan ini, tidak perlu ngotot apalagi menuduh orang yang berbeda pendapat dengan tuduhan yang tidak-tidak. Kita hadapi permasalahan tersebut dengan saling berlapang dada. Jika setiap permasalahan khilafiyah kita ngotot maka kita akan selalu ribut.

Permasalah tersebut pada dasarnya berangkat dari dasar yang sama, hanya berbeda dalam memahami teksnya saja. Jika seandainya Nabi saw. dalam hadits tersebut bersabda "Puasa Arafah lah kalian ketika para jam'ah haji sedang wukuf di padang Arafah", tentu tidak akan muncul persoalan. Akan tetapi karena sabda nabi saw. berbunyi ﺻِﻴَﺎﻡُ ﻳَﻮْﻡِ ﻋَﺮَﻓَﺔَ "Puasa hari Arofah...", maka muncullah perbedaan dalam memahami sabda Nabi tersebut, apakah maksudnya adalah "hari dimana para jama'ah haji sedang wukuf di Arafah"? ataukah yang dimaksud adalah "hari tanggal 9 Dzulhijjah, yang dinamakan dengan hari Arofah?".

Muhammadiyah dalam hal ini memahami bahwa puasa Arafah adalah puasa yang dilaksanakan pada tanggal 9 Dzulhijjah sesuai dengan kalender bulan Dzulhijjah pada di wilayah Indonesia sesuai dengan hasil perhitungan metode hisab wujudul hilal. Oleh karena itu, puasa Arafahnya tidak harus bersamaan dengan jama'ah haji yang sedang berwukuf di Arafah ketika terjadi perbedaan hari antara Muhammadiyah dan pemerintah Arab Saudi.
Beberpa argumentasi dapat dikemukakan untuk mendukung pemahaman Muhammadiyah tersebut, yaitu :

PERTAMA : Rasulullah saw. telah menamakan puasa Arafah meskipun kaum muslimin belum melaksanakan haji, bahkan para sahabat telah mengenal puasa Arafah yang jatuh pada 9 dzulhijjah meskipun kaum muslimin belum melasanakan haji.

Dalam sunan Abu Dawud :
عَنْ هُنَيْدَةَ بْنِ خَالِدٍ عَنْ امْرَأَتِهِ عَنْ بَعْضِ أَزْوَاجِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَتْ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَصُومُ تِسْعَ ذِي الْحِجَّةِ وَيَوْمَ عَاشُورَاءَ وَثَلَاثَةَ أَيَّامٍ مِنْ كُلِّ شَهْرٍ أَوَّلَ اثْنَيْنِ مِنْ الشَّهْرِ وَالْخَمِيسَ
Dari Hunaidah bin Kholid dari istrinya dari sebagian istri Nabi shallallahu 'alaihi wasallam berkata : "Adalah Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam berpuasa pada 9 Dzulhijjah, hari 'Aasyuroo' (10 Muharrom) dan tiga hari setiap bulan" (HR Abu Dawud)

Hadits di atas menunjukkan bahwasanya Nabi shallallahu 'alaihi wasallam terbiasa puasa Arafah pada tanggal 9 Dzulhijjah.

Tatkala mengomentari lafal hadits yang berbunyi :"Orang-orang (yaitu para sahabat) berselisih tentang puasa Nabi shallallahu 'alaihi wasallam (tatkala di padang Arofah)", Al-Hafiz Ibnu Hajar rahimahullah berkata :

"Ini mengisyaratkan bahwasanya puasa hari Arafah adalah perkara yang dikenal di sisi para sahabat, terbiasa mereka lakukan tatkala tidak bersafar. Seakan-akan sahabat yang memastikan bahwasanya Nabi berpuasa bersandar kepada kebiasaan Nabi yang suka beribadah. Dan sahabat yang memastikan bahwa Nabi tidak berpuasa berdalil adanya indikasi Nabi sedang safar" (Fathul Baari 6/268)

Perlu diketahui bahwa Nabi saw. hanya berhaji sekali yaitu pada saat haji wadaa'- dan ternyata Nabi dan para sahabat sudah terbiasa puasa di hari Arafah meskipun tidak ada dan belum terlaksananya wukuf di padang Arafah oleh umat Islam pada saat itu. Hal itu menujukan bahwa konsentrasi penamaan puasa Arafah tidak karena adanya orang sedang berwukuf di Arafah, tapi puasa yang dilaksanakan pada tanggal 9 Dzulhijjah.

KEDUA : Kita bayangkan bagaimana kondisi kaum muslimin -taruhlah- sekitar 200 tahun yang lalu, sebelum ditemukannya telegraph, apalagi telepon. Maka jika puasa Arafah penduduk suatu negeri kaum muslimin harus sesuai dengan wukufnya jama'ah haji di padang Arafah, maka bagaimanakah puasa Arafahnya penduduk negeri-negeri yang jauh dari Makkah seperti Indonesia, India, Cina dll 200 tahun yang lalu? apalagi 800 atau 1000 tahun yang lalu?.

Demikian juga bagi yang hendak berkurban, maka sejak kapankah ia harus menahan untuk tidak memotong kuku dan mencukur rambut?, dan kapan ia boleh memotong kambing kurbannya?, apakah harus menunggu kabar dari Makkah? yang bisa jadi datang kabar tersebut berbulan-bulan kemudian?

KETIGA : Jika memang yang ditujukkan adalah menyesuaikan dengan waktu wukufnya para jama'ah haji di padang Arafah (dan bukan tanggal 9 Dzulhijjah berdasarkan masing-masing negeri), maka bagaimanakah cara berpuasanya orang-orang di Sorong Irian Jaya, yang perbedaan waktu antara Makkah dan Sorong adalah 6 jam?.

Jika penduduk Sorong harus berpuasa pada hari yang sama -misalnya- maka jika ia berpuasa sejak pagi hari (misalnya jam 6 pagi WIT) maka di Makkah belum wukuf tatkala itu, bahkan masih jam 12 malam. Dan tatkala penduduk Makkah baru mulai wukuf -misalnya jam 12 siang waktu Makkah-, maka di Sorong sudah jam 6 maghrib?. Lantas bagaimana bisa ikut serta menyesuaikan puasanya dengan waktu wukuf??

KEEMPAT : Jika seandainya terjadi malapetaka atau problem besar atau bencana atau peperangan, sehingga pada suatu tahun ternyata jama'ah haji tidak bisa wukuf di padang Arofah, atau tidak bisa dilaksanakan ibadah haji pada tahun tersebut, maka apakah puasa Arafah juga tidak bisa dikerjakan karena tidak ada jama'ah yang wukuf di padang Arafah?

Jawabannya tentu tetap boleh dilaksanakan puasa Arafah meskipun tidak ada yang wukuf di padang Arafah. Ini menunjukkan bahwa puasa Arafah yang dimaksudkan adalah pada tanggal 9 Dzulhijjah.

Maka barang siapa yang satu mathla' dengan Makkah dan tidak berhaji maka hendaknya ia berpuasa di hari para jama'ah haji sedang wukuf di padang Arafah karean pada saat itu di Makkah sudah tanggal 9 Dzhulhijjah, akan tetapi jika ternyata mathla'nya berbeda -seperti penduduk kota Sorong- maka ia menyesuaikan 9 dzulhijjah dengan kalender di Sorong.

Intinya permasalahan ini adalah permasalahan khilafiyah. Meskipun Muhammadiyah lebih condong kepada pendapat kedua -yaitu setiap negeri menyesuaikan 9 dzulhijjah berdasarkan kalender masing-masing negeri-, tetapi Muhammadiyah menyadari ada juga pendapat pertama yang tentu juga punya argumen kuat

Permasalahan seperti ini sangatlah tidak pantas untuk dijadikan ajang untuk saling memaksakan pendapat, apalagi menuding dengan tuduhan kesalahan manhaj atau kesalahan aqidah dan sebagainya. Semoga Allah mempersatukan kita di atas ukhuwwah Islamiyah yang selalu berusaha untuk dikoyak oleh syaitan dan para pengikutnya. Kita harus mempunyai sikap setuju dalam perbedaan. Wallahu a'lam bish shawab

Wasalamu'alaikum wr.wb.