ASALAMU 'ALAIKUM WAROHMATULLOHI WABAROKATUH BLOG By MUH FAJAR HUDI APRIANTO @ MARI KITA GUNAKAN WAKTU KITA YANG TERSISA DENGAN SEBAIK MUNGKIN KARENA WAKTU KITA HANYA SEDIKIT AGAR KITA TIDAK TERMASUK ORANG ORANG YANG MERUGI mafa GUNAKAN WAKTU MUDAMU SEBELUM DATANG WAKTU TUAMU WAKTU SEHATMU SEBELUM DATANG WAKTU SAKITMU KAYAMU SEBELUM TIBA MISKIN WAKTU LAPANGMU SEBELUM TIBA WAKTU SEMPITMU DAN GUNAKAN WAKTU HIDUPMU SEBELUM TIBA MATIMU pesan nabi
Tampilkan postingan dengan label KAJIAN ILMIAH ALQUR'AN. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label KAJIAN ILMIAH ALQUR'AN. Tampilkan semua postingan

Minggu, 17 Mei 2020

Qur’anic Immunity



Alhamdulillah lebih dari 95% PDP (Pasien Dalam Pengawasan) yang penulis tangani sampai saat ini dinyatakan sembuh dan berhasil pulang. Sebutlah Prof DR Dr Idrus Paturusi. Beliau Guru Besar UNHAS dan Mantan Rektor yang sembuh pada tanggal 3 April 2020.
Tokoh Sepakbola Nasional, Andi Darussalam Tabusala juga baru saja dinyatakan sembuh dari covid, setelah diisolasi selama 16 hari. Haru biru menghiasi kepulangan beliau, karena secara kondisi kesehatan, mantan manajer Timnas Indonesia ini, sangat rentan.
Beliau sudah berumur 70 tahun, riwayat darah tinggi, diabetes 30 tahun, 15 tahun suntik insulin, operasi ginjal karena CA, 5 tahun cuci darah... riwayat yang dahsyat. Namun, Allah berkehendak lain, komentator sepakbola yang rutin menghiasi layar kaca di era 1990-an ini, selamat, untuk menjadi bekal keyakinan bagi kita yang masih hidup.
Kedua tokoh besar tersebut mewakili puluhan PDP yang sembuh menggunakan metode penyembuhan Al-Qur’an menghadapi covid-19 ini. Saya membimbing mereka konsultasi jarak jauh untuk melakukan terapi menggunakan Al-Qur’an. Ada yang dibantu keluarganya, ada juga PDP yang bersangkutan yang berkomunikasi di ruang isolasi. Dan hampir seluruhnya alhamdulillah, atas izin Allah, berhasil sembuh.
Ada satu PDP yang syahid, insya Allah. Beliau adalah Abdul Qadir Zaelani, berumur 41 tahun. Syahid di tanggal 5 April 2020. Penulis merasakan kerisauan keluarganya krn kuburnya pun dirahasiakan. Namun sangat terasa, keluarganya bangga dan bersyukur, predikat syahid disandang Abdul Qadir.
Dari hampir 30 yang penulis bimbing, 1 PDP syahid. Angka yang In Syaa Allah cukup menggembirakan.
Dari semua keberhasilan itu, maka penulis mengajukan Qur’anic Immunity untuk dijadikan solusi bagi wabah covid-19. Tentu saja ide ini ditujukan kepada Muslim yang mengimani Al-Qur’an sebagai Syifa’ (obat/penyembuh/penawar). Dengan tetap menghormati pemeluk agama lain.
PSBB VERSUS HERD IMMUNITY
Per tulisan ini dibuat (21/4), penulis sudah 5 minggu mengurung diri di rumah mengikuti anjuran pemerintah. Secara pribadi, saya menguatkan diri, untuk siap melakukan pengurungan diri ini selama mungkin.
Dan penulis yakin, kalangan menengah yang terbiasa online dan memilki tabungan juga siap tetap berada di rumah lebih lama lagi. Pertanyaannya, apakah semua masyarakat siap? Bagaimana dengan kalangan menengah ke bawah? Yang sebelum PSBB saja sudah menggantungkan kehidupannya pada penghasilan harian.
Penulis tertegun dengan bahasan selebriti podcast yang sedang naik daun, Deddy Corbuzier. Di Channel Youtube-nya, video yang diunggah 20 April 2020, nampak kegalauan yang teramat sangat antara beliau dan tamunya.
Dalam wawancara itu, saya menangkap kegalauannya lebih ke potensi kerusuhan, yang bisa meledak kapan saja. Dan saya yakin, itu juga yang berada di fikiran banyak orang. Di media mainstream pun sudah mulai ada berita-berita keharuan, keluarga yang tidak bisa makan berhari-hari.
Kita pun memahami pemerintah, yang memang dengan pilihan terbatas, akhirnya harus menetapkan PSBB sebagai solusi. Pembatasan Sosial Berskala Besar ini dipilih, untuk tidak membebani keuangan pemerintah yang memang tidak-lega keuangannya.
Pe-ernya adalah, harus disiapkan dampak pada masyarakat lapar yang tidak bisa dikendalikan fikiran “gelap”nya. Yang saat “hanya di rumah saja” mendengarkan tangisan demi tangisan anak yang kelaparan. Dulu jumlahnya masih bisa terukur, namun di masa covid19 ini jumlahnya meledak, dan dalam beberapa bulan ke depan, makin tidak bisa diprediksi.
Sebelum covid19, kalangan menengah juga bisa menjadi mitra pemerintah dalam berdonasi. Tapi di masa covid19, kalangan menengahpun terdampak. PHK besar2an sudah di depan mata.
Pilihan PSBB nampaknya bukanlah solusi akhir. Karena sangat tidak ideal, dan rentan menimbulkan dampak sosial. Saya yakin pemerintah saat ini sedang menyiapkan strategi lain.
Dalam fikiran penulis, pilihan selain PSBB adalah Herd Immunity. Inggris, Belanda dan Swedia sempat melirik metode ini. Namun herd immunity bernuansa seperti kalah perang. Sebagian mental masyarakat juga bisa “down” jika mendengar angka pasien yang semakin meningkat. Dan akhirnya, ketiga negara itu kembali lagi ke strategi Lockdown.
Singapura yang awalnya dibanggakan dengan strategi “total football”nya menghadapi covid dan berhasil menekan jumlah penderita, ternyata sekarang “jebol”, terjadi ledakan penderita dan kini, per tulisan ini dibuat, ada 6558 kasus, menyusul Indonesia dan Filipina. Padahal negara kecil.
Kuwait yang menerapkan Lockdown total dan jam malam, malah angka penderitanya meningkat dari 37 menjadi 1995 kasus. Lockdown ketat, malah penderita meningkat. Kok bisa?
Dan yang kini menjadi berita hangat, Amerika diambang tahapan kerusuhan sosial. Twit Donald Trump untuk memprovokasi pendukungnya untuk ”liberate” atau melawan lockdown malah berbuah demonstrasi besar2an di banyak negara bagian.
Lalu, Indonesia mau apa?
DANGER VERSUS FEAR
Dalam keadaan ini, rasanya Indonesia bisa menyalip di tikungan, mengutip ungkapan2 yang sering dikemukakan Mardigu Wowik. Ya, saya sependapat. Penulis yakin, Indonesia bisa menyalip di tikungan. Saat semua negara kebingungan, Indonesia bisa pulih lebih awal. Dan membangun ekonomi lebih cepat dari yang lain.

Semua itu bisa dilakukan, asalkan semua pihak mengetahui bedanya “Danger” dengan “Fear”. Benar, covid19 adalah Danger, tapi kita tidak boleh berada dalam state Fear terus menerus. Harus ada titik tenangnya. Makin cepat titik tenang ini tercapai, makin cepat kegiatan masyarakat bisa pulih kembali.
Maksudnya begini. Covid19 mungkin sampai dua tahun ke depan akan tetap menjadi “bahaya” yang mengintai. Dan harus difahami itu sebagai hal yang lumrah. Seperti bahaya perampok, itu semua sudah faham, sampai kapanpun akan ada perampok. Tapi kita tidak lagi berada dalam ketakutan kan? Karena yakin ada polisi yang bekerja profesional. Dan dengan pembagian tugas dengan Polisi, kita bisa tidur nyenyak.
“Danger” covid19 memang tetap ada, tapi sepatutnya kita tidak mengizinkan “Fear” mendominasi hidup kita.
MENCAPAI TITIK TENANG
Maka, yang diperlukan menghadapi covid19 ini bukan vaksin. Karena bagi penulis, menunggu vaksin adalah sebentuk kekalahan. Selain waktu yang tidak bisa diprediksi, vaksin juga harus mengeluarkan biaya mahal yang harus ditanggung seluruh rakyat Indonesia. Selain itu, dampak ekonomi juga sudah habis2an, selama masa menunggu.
Jika vaksin tidak bisa ditunggu, lalu apa?
Hemat penulis, semua pihak terutama pemimpin sosial harus berfikir tentang “titik tenang” ini. Dibanding dengan kampanye “stay at home”, harus ada kampanye lain yang lebih bernuansa solusi. Perlu dicatat, penulis bukan berarti menganggap kampanye stay at home tidak bermanfaat. Namun lebih ke menatap solusi lain.
Misalnya begini. Titik tenang menghadapi perampok yang merajalela, adalah kampanye besar2an bahwa Polisi bekerja dengan profesional. Diblow up besar2an di media bahwa gembong2 besar perampok sudah ditangkap. Itu akan membuat tenang masyarakat dibandingkan dengan kampanye “berhati2-lah dengan bahaya perampok, dan selalu duduklah di rumah”
Begitu juga dengan covid19.
Sudah jelas bahwa PSBB dan stay at home mengandung resiko yang belum bisa diukur sekarang. Herd Immunity juga penulis fikir bukan pilihan bijak.
Lalu apa? Penulis menawarkan QUR’ANIC IMMUNITY
Sekali lagi, ini tentu saja ditujukan bagi komunitas Muslim. Untuk agama lain, penulis yakin bisa juga diarahkan kembali ke agama masing2.
QUR’ANIC IMMUNITY

Bruce H Lipton, seorang biologist terkenal dari Amerika lantang di channel Youtube-nya menyampaikan bahwa covid19 bisa ditangani dengan mudah.
Professor yang menjadi rujukan dalam menjembatani antara science dan spiritual ini awalnya mengatakan bahwa gen menentukan penyakit. Namun dia resign dari professornya karena merasa bersalah dengan pengajarannya itu. Dan kini, di usianya yang sudah 75 tahun, kerap memberi pelajaran tentang epigenetics. Sebuah teori yang meyakini bahwa ekspresi gen dipengaruhi oleh lingkungan, termasuk fikiran, perasaan, motivasi dan belief.
Tentang covid19, inilah ungkapan Prof Bruce H Lipton: “Benar, covid19 adalah penyakit yang berbahaya, karena dia sejenis flu berat yang mematikan. Kenapa banyak yang mati, karena covid19 adalah flu baru, yang sel kita belum memiliki memori untuk mengeluarkan anti body nya. Tapi percayalah, bahwa yang terkena dampak paling mematikan adalah mereka yang tidak punya imunitas. Dengan sikap yang takut akan ancaman, akal akan mengeluarkan hormon stress dan mematikan imunitas tubuh (Shutdown the Immune System), yang pada akhirnya tidak bisa melawan virus covid19”
Silahkan menuju ke channel Youtubenya untuk dapatkan informasi dan ilmu2 penting di sana.
Pernyataan di atas sangat penting dalam menghadapi covid19 ini. Selain karena sesuai dengan cara kerja imunitas tubuh, pernyataan itu juga diungkapkan oleh biologist terkenal yang semoga bisa didengarkan oleh seluruh tenaga kesehatan di seluruh dunia.
Hal ini juga diperkuat dengan keterangan Prof Dr Muhayya, seorang professor terkenal dari Malaysia.
Pada wawancara saya dengan beliau, Prof DR Dr Muhayya mengatakan “Saya pribadi sebagai dokter perubatan memerlukan banyak perlindungan, dan tidak ada yang lebih baik daripada Al-Qur’an. Dengan getaran Al-Qur’an yang sampai ke sel, maka sel itu akan melawan virus dengan sangat kuat”
Itulah yang penulis praktekkan pada puluhan PDP, dengan positif thinking ditambah dosis Al-Qur’an, makin kuat beliefnya, terbentuklah imunitas di level sel. Qur’anic Immunity terjadi. Sebutlah bu Dian yang kisahnya sangat mengharukan. Berawal dari kontak dengan mitra kerja dari luar negeri, berdua suami istri akhirnya harus mengalami positif covid19.
Saat diperiksa dan dinyatakan positif, keduanya harus mengalami perawatan di tenda darurat tentara di sebuah RS di tangerang. Tapi karena tenda yg dipasang di parkiran itu tidak memiliki jendela, bu Dian malah kambuh asmanya setelah 2 hari dirawat intensif. Saat mengadu pada petugas yang menjaganya, malah disuruh pulang.
Menyandang status PDP, bu Dian dan suaminya kebingungan. Dari jam 11 malam sampai 4 pagi hanya berada di mobil, tidak berani bertemu siapapun, takut malah menularkan penyakit ini. Sampai akhirnya berbekal info dari temannya, kedua pasutri ini menyetir dalam keadaan lemas ke RS Sulianti Saroso. Singkat cerita, dia menghubungi saya dan saya bimbing melakukan Qur’anic Immunity.

Setelah 14 hari dirawat, beliau selamat dan menceritakan kisah ajaibnya di Facebooknya, Dian Eva Agustina. Bersyukur Al-Qur’an meningkatkan imunitasnya dan sembuh atas izin-Nya.
Begitu juga dengan Prof DR Dr Idrus, istrinya intensif komunikasi dengan saya. Pak Andi Darussalam pun begitu. Dan puluhan PDP yang berhasil selamat, alhamdulillah. Semua menggunakan metode yang sama.
Bahkan ada seorang WNI yang terjebak di New York, episentrum covid19 yang sudah mencapai 4000 orang tewas per hari. Bu Mahdalia Eva namanya, setelah 11 hari konsultasi, merasa bahagia dan menyatakan dirinya sudah jauh lebih baik. Beliau tidak bisa menyatakan sembuh, karena tidak bisa mengakses RS yang sudah penuh sesak dengan pasien. Beliau hanya bisa perawatan di rumah dengan Qur’anic Immunity ini. Ada satu WNI kawannnya yang sudah meninggal. Atas izin Allah, beliau selamat.
Tentu, ajal semuanya di tangan Tuhan. Tapi kita manusia diwajibkan berusaha dan tawakkal.
Penulis berfikir, jika seandainya kampanye Qur’anic Immunity ini dilakukan dengan massif di seluruh kaum Muslimin, semua melakukannya dengan serentak, dan akhirnya tercapai titik tenang, nampaknya akan ada cerita yang berbeda, dalam waktu dekat nanti. Kata kuncinya : massif dan serentak.
BERBAGI PERAN
Para ustadz nampaknya harus bergandengan tangan melakukan kampanye ini. Buat tenang masyarakat, bahwa obatnya sudah ada di tengah-tengah mereka, yaitu Al-Qur’an. Bawakan ayat2 Al-Qur’an tentang Syifa’ dan bahwa Al-Qur’an adalah mu’jizat.
Bisa juga melakukan kampanye2 seperti ini:
- Selain menggunakan masker, pastikan keluar rumah hanya setelah membaca Al-Qur’an, beberapa lembar
- Lakukan ruqyah Syar’iyyah, dzikirkan ayat2 pilihan/ma’tsur, lalu tiup di air (amalan meniup ke air ini dishahihkan oleh banyak ulama termasuk syaikh Abdullah bin Baaz, silahkan googling)
- Sebelum tidur, baca beberapa ayat Al-Qur’an, tiup ke telapak tangan, usapkan ke seluruh tubuh
- Lakukan Tadarrus bersama keluarga
- Perdengarkan murattal Al-Qur’an di rumah-rumah kaum Muslimin.
- Jika berkenan, bisa gunakan metode garpu tala yang penulis lakukan. Silahkan googling untuk metodenya.
- Dan semua cara untuk mendekat kepada Al-Qur’an
Lakukan semua amalan, untuk menjadikan Al-Qur’an sebagai solusi. Dengan menekankan keyakinan yang teguh bahwa Al-Qur’an adalah syifa’ (obat/penyembuh/penawar). Harus sepenuh keyakinan, saat mendekat ke Al-Qur’an, sudah kuat imunitas tubuhnya.  Dan akhirnya bisa beraktivitas seperti biasa.

Kuncinya ada di Keyakinan. Makin yakin, makin kuat imunitasnya. Efek keyakinan inilah yang akan mengeluarkan hormon2 positif yang berguna bagi imunitas tubuh.
Lakukan kampanye ini, sampaikan dengan lantang bahwa banyak yang sembuh menggunakan Al-Qur’an. Ajak wawancara PDP yang sembuh, tanyakan apakah Al-Qur’an memiliki dampak, lalu ceritanya, viralkan!Semoga setelah itu media mainstream mau juga memberitakan.
Kepada tenaga kesehatan, saya juga menganjurkan agar terbuka dengan cara2 Ruqyah Syar’iyyah. Ketahuilah, bahwa obat fisik bukan satu2nya penyembuh. Diperlukan kekuatan Doa dan Tuhan yang lebih dari biasanya. Semoga bisa mendengarkan seruan Prof DR Dr Idrus Paturusi yang menyarankan Qur’anic Immunity ini dilakukan. Yakinkan, dengan metode ini, jumlah nakes yang gugur akan berkurang.
Kepada para pasien, tenanglah. Anda dipilih oleh Allah swt untuk menyandang kampanye ini. Pilihan Anda hanya ada 2. Selamat dan Sembuh sehingga jadi bukti mu’jizatnya Al-Qur’an. Atau kedua, jikapun meninggal mati syahid seperti janji Nabi Muhammad saw. Keduanya indah, jadi tenanglah.
Kepada para pemimpin negeri, pak polisi, tentara, politisi, semoga bisa juga melakukannya untuk perlindungan diri sendiri dan mengajak semua rakyat Muslim kembali yakin kepada Al-Qur’an. Anda akan dapatkan pahala besar dan ganjaran dari Allah, atas kampanye ini.
HASIL AKHIR
Jika kampanye ini benar-benar massif dilakukan, apalagi ada bulan Ramadhan, harapannya saat PSBB berakhir, semua pihak telah menggunakan Qur’anic Immunity sebagai pilihan.
Hal ini agar kita bisa kembali hidup normal, keluar dari rumah2 kita dengan percaya diri. Namun ada yang berbeda, Al-Qur’an telah menjadi gema yang menggaung di setiap rumah kaum Muslimin. Minimal 2 tahun saja ke depan, sampai covid19 ini berakhir. Tentu harapannya setelah itu berlanjut.
Semoga Allah selamatkan bangsa dan negara kita. Aman semua penduduknya. Dan kembali menjadi Baldatun Thoyyibatun Wa Rabbun Ghofur. Aamiin.
Wassalam,
Nasrullah
Penulis buku Magnet Rezeki dan mengajarkan Keajaiban Al-Qur’an untuk kehidupan.

Kamis, 16 Agustus 2018

Kebunku, Kebun Aquran

Kebun Alquran di-design dengan petunjuk-petunjuk dalam sejumlah besar ayat-ayat Al-Qur’an – maka ayat-ayat inilah yang akan menjadi panglimanya, menjadi penentu arah dan pengambil kebijakan – akan dibawa kemana kebun ini nantinya. Kemudian tentu serangkaian ilmu-ilmu terapan seperti perkebunan, pertanian, biologi, bio-teknologi dlsb. akan dikerahkan sebagai prajurit – untuk mengimplementasikannya di lapangan.

Design Kebun Berbasis Al-Qur’an
Sebagaimana panglima yang akan mengambil kebijakan strategis, maka ayat-ayat yang terkait dengan ke-aneka ragaman hayati itu dipetakan dahulu. Untuk mudahnya kita pahami, ayat-ayat tersebut divisualisasikan dalam ilustrasi di samping.
Ukuran bulatan disesuaikan dengan banyaknya suatu jenis tanaman disebut di Al-Qur’an, ini kurang lebih mewakili tingkat kepentingan tanaman tersebut bagi kehidupan manusia. Misalnya kurma, disebut sampai sekurangnya 20 kali – maka kurma ini yang kita gambar paling besar. Dari kurma inilah kita memulai rancangan kebun kita ini.
Kemudian tanaman-tanaman lain ada yang disebut dalam sejumlah ayat berdampingan dengan penyebutan kurma. Misalnya anggur, disebut tidak kurang dari 9 kali berdampingan dengan kurma. Zaitun, tidak kurang 5 kali disebut berdampingan dengan kurma. Delima disebut 3 kali berdampingan dengan kurma, demikian pula biji-bijian.
Biji-bijian (leguminosa) bahkan dalam dua ayat disebut mendahulu tumbuhnya kurma (QS 36:33 ; QS 6:99), karena dia berfungsi sebagi tanaman perintis yang mengikat nitrogen dari udara. Dia mengantarkan lahan yang semula mati/gersang sampai layak untuk ditumbuhi kurma dan kemudian juga tanaman-tanaman lainnya.
Ada juga yang disebut tidak secara berdampingan tetapi masih dalam rangkaian ayat-ayat yang membahas hal yang sama, sehingga masih dalam konteks yang sama. Misalnya padi-padian yang melengkapi kebun kurma (QS 18:32) atau ditanam sesudah kebun kurma memancarkan air – setelah tanah subur (QS 36:35), untuk melengkapi kebutuhan tanaman pangan bagi manusia.
Dalam konteks yang sama dengan makanan bagi manusia, juga ada ayat yang mengisyaratkan pentingnya memperhatikan makanan ternak kita (QS 80 :32). Untuk itu kita juga harus menanam rumput-rumputan (QS 80 :31).
Ada juga pelajaran khusus dari Surga, yaitu tanaman buah pisang (QS 56:29) yang disebut di antara buah yang banyak – yang tidak disebutkan secara langsung namanya satu persatu (QS 56:32), disebut pula bahwa ada buah yang tidak berhenti dan tidak pula terlarang untuk mengambilnya (QS 56:33). Para ahli tanaman dan ahli buah tahu, bahwa pisang adalah buah yang tidak mengenal musim !.
Maka kurang lebih seperti ilustrasi di atas-lah isi kebun yang dirancang berdasarkan ayat-ayat Al-Qur’an itu. Mulai dari tanaman perintis dari jenis biji-bijian, kemudian masuk tanaman utama yaitu kurma. Berdampingan dengan kurma dalam jumlah mengikuti ukuran yang paling banyak adalah anggur, kemudian diikuti zaitun dan delima.
Untuk mengimbangi buah-buhan yang rata-rata ada musimnya masing-masing, diisi pula dengan buah yang tidak mengenal musim yaitu pisang. Di tanah subur yang terbentuk melalui ecosystem kebun ini, kemudian juga ditanam padi-padian seperti beras dan gandum – melengkapi makanan yang kita butuhkan.
Karena kita juga butuh makan daging, maka tidak lupa kita memperhatikan pakan ternak kita – untuk ini rumput-rumputan juga harus ditanam di tempat-tempat yang sesuai. Agar ternak kita tumbuh dengan gizi terbaik, maka di antara tanaman Anggur juga ditanam tanaman Alfaafa – yang secara khusus disebut sebagai tanaman yang bergizi tinggi.
Dalam Al-Qur’an bahasa Inggris terjemahan Yusuf Ali – QS 80 :26 diterjemahkannya menjadi “and grapes and nutritious plants” (dan anggur dan tanaman bergizi tinggi), lebih menggigit ketimbang yang diterjemahkan dalam bahasa Indonesia “anggur dan sayur-sayuran”. Professor Zaghloul El Naggar – penulis mu’jizat Al-Qur’an – mengartikan tanaman bergizi tinggi itu adalah Alfaafa (Alfalfa – Medicago sativa), karena secara ilmiah memang juga terbukti bahwa tanaman inilah jenis tanaman yang memiliki gizi paling tinggi itu.
Tanaman Alfaafa yang membutuhkan sinar matahari yang banyak untuk pertumbuhannya, bisa hidup berdampingan dengan anggur karena karakter anggur yang merambat. Rambatan anggur bisa dibuat vertical seperti pagar tanaman, sehingga dia tumbuh sempurna tanpa memerlukan space yang banyak. Anggur bersimbiose dengan alfaafa yang mempertahankan suhu tanah dan mengikat nitrogen banyak-banyak di akarnya – untuk kesuburan lahan yang dibutuhkan tanaman anggur.
Maka sekali lagi perhatikan pada ilustrasi di atas, betapa satu demi satu tanaman saling melengkapi. Ada yang menyuburkan lahan, ada yang menghasilkan buah, ada yang memancarkan mata air, ada yang memberi hasil bercocok tanam, ada yang tetap berbuah ketika yang lain tidak berbuah, ada yang menyediakan pakan untuk ternak – yang kemudian memberi daging dan susu bagi manusia.
Maka inilah kurang lebih kebun pangan yang bisa berkelanjutan untuk mencukupi pangan bagi manusia sambil terus menjaga lingkungan itu.
Tentu ibarat bola salju, design ini masih perlu terus disempurnakan oleh yang lebih tahu. Tetapi bahwasanya design ini insyaAllah akan menjadi design yang sustainable, karena sekarang-pun Anda bisa melihat buktinya design serupa yang telah hidup lebih dari 2,000 tahun dan sampai sekarang masih ada – yaitu bukti food forest yang ada di Marocco – yang dapat Anda saksikan video-nya di link ini.
Perhatikan baik-baik jenis-jenis tanaman yang disebutkan di video tersebut, Anda akan temukan hampir secara keseluruhan tanaman yang ada di design kebun berbasis Al-Qur’an  tersebut di atas – juga ada terwakili di food forest yang berumur lebih dari 2,000 tahun ini.
Ketika petunjuk itu begitu jelas (QS 2:185), dan bukti ilmiahnya di muka bumi begitu nyata (QS 51:20) – “Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan ?” (QS 55:13) ?
Jawabannya adalah tinggal kita ikuti petunjukNya itu dan semaksimal mungkin kita amalkan di lapangan. Insyaallah kami sedang merintis kebun percobaan ini di Jonggol, mudah-mudahan kelak bisa terus bisa disempurnakan oleh anak cucu kita dan digandakan di berbagai tempat lainnya. Tentu saja ini menyakut pekerjaan besar dan lama, maka melalui tulisan ini saya juga mengajak pembaca untuk membantu kami merealisasikannya – dengan cara apapun yang Anda bisa. InsyaAllah bersama-sama kita akan menggelindingkan bola salju yang lebih besar, bola salju yang memakmurkan dunia, bola salju yang menjadikan ayat-ayatNya sebagai panglima. InsyaAllah.
Catatan:
Hampir keseluruhan bibit tanaman yang ada pada design kebun tersebut di atas sudah kami kumpulkan untuk persiapan pengembang biakannya, yang belum ada adalah bibit pohon zaitun dan delima. Kalau di antara pembaca ada yang bisa membantu, insyaAllah akan menjadi amal yang berkelanjutan bagi Anda.


sumber : http://www.geraidinar.com/index.php/using-joomla/extensions/components/content-component/article-categories/81-gd-articles/entrepreneurship/1237-kebunku-kebun-al-qur-an

Sabtu, 12 April 2014

Hukum Kloning Dalam Pandangan Agama Islam

Hukum kloning dalam pandangan Islam sangat jelas, yang diambil dari dalil-dalil qiyas dan itjihat. Karena belakangan ini telah berkembang satu teknologi baru yang mampu memduplikasi makhluk hidup dengan sama persis, teknologi ini dikenal dengan nama teknologi kloning. Kloning adalah teknik membuat keturunan dengan kode genetik yang sama dengan induknya pada makhluk hidup tertentu baik berupa tumbuhan, hewan, maupun manusia. Kloning telah berhasil dilakukan pada tanaman sebagai¬mana pada hewan belakangan ini, kendatipun belum berhasil dilakukan pada manusia. Tujuan kloning pada tanaman dan hewan pada dasarnya adalah untuk memperbaiki kualitas tanaman dan hewan, meningkatkan produktivitasnya, dan mencari obat alami bagi banyak penyakit manusia–terutama penyakit-penyakit kronis–guna menggantikan obat-obatan kimiawi yang dapat menimbulkan efek samping terhadap kesehatan manusia.
Upaya memperbaiki kualitas tanaman dan hewan dan meningkatkan produktivitasnya tersebut menurut syara’ tidak apa-apa untuk dilakukan dan termasuk aktivitas yang mubah hukumnya. Demikian pula memanfaatkan tanaman dan hewan dalam proses kloning guna mencari obat yang dapat menyembuhkan berbagai penyakit manusia–terutama yang kronis–adalah kegiatan yang dibolehkan Islam, bahkan hukumnya sunnah (mandub), sebab berobat hukumnya sunnah. Begitu pula mempro¬duksi berbagai obat-obatan untuk kepentingan pengobatan hukumnya juga sunnah. Oleh karena itu, dibolehkan memanfaatkan proses kloning untuk memperbaiki kualitas tanaman dan mempertinggi produktivitasnya atau untuk memperbaiki kualitas hewan seperti sapi, domba, onta, kuda, dan sebagainya. Juga dibolehkan memanfaatkan proses kloning untuk  mempertinggi produktivitas hewan-hewan tersebut dan mengembangbiakannya, ataupun untuk mencari obat bagi berbagai penyakit manusia, terutama penyakit-penyakit yang kronis. Oleh karena itu tidak salah jika Majma' al-Buhûts al-Islâmiyyah yang berpusat di Kairo Mesir mengeluarkan fatwa akan bolehnya memanfaatkan teknologi kloning terhadap tumbuh-tumbuhan atau hewan asalkan memiliki daya guna (bermanfaat) bagi kehidupan manusia. Hal ini didasarkan pada prinsip bahwa segala sesuatu yang ada di dunia ini diciptakan untuk kesejahteraan manusia. Apalagi jika kita memanfaatkan proses kloning ini untuk jelas-jelas untuk memperbaiki kualitas tanaman dan mempertinggi produktivitasnya atau untuk memperbaiki kualitas hewan. Selain itu juga dibolehkan memanfaatkan proses kloning untuk  mempertinggi produktivi¬tas hewan-hewan tersebut dan mengembangbiakannya, ataupun untuk mencari obat bagi berbagai penyakit manusia, terutama penyakit-penyakit yang kronis.
Adapun kloning manusia adalah teknik membuat keturunan dengan kode genetik yang sama dengan induknya yang berupa manusia. Hal ini dapat dilakukan dengan cara mengambil sel tubuh (sel somatik) dari tubuh manusia, kemudian diambil inti selnya (nukleusnya), dan selanjutnya ditanamkan pada sel telur (ovum) wanita–yang telah dihilangkan inti selnya–dengan suatu metode yang mirip dengan proses pembuahan atau inse¬minasi buatan. Dengan metode semacam itu, kloning manusia dilaksanakan dengan cara mengambil inti sel dari tubuh seseorang, lalu dimasukkan ke dalam sel telur yang diambil dari seorang perempuan. Lalu dengan bantuan cairan kimiawi khusus dan kejutan arus listrik, inti sel digabungkan dengan sel telur. Setelah proses penggabungan ini terjadi, sel telur yang telah bercampur dengan inti sel tersebut ditransfer ke dalam rahim seorang perempuan, agar dapat memperbanyak diri, berkembang, berdiferensiasi, dan berubah menjadi janin sempurna. Setelah itu keturunan yang dihasilkan dapat dilahirkan secara alami. Keturunan ini akan berkode genetik sama dengan induknya, yakni orang yang menjadi sumber inti sel tubuh yang telah ditanamkan pada sel telur perempuan.
Dalam fatwanya Majma' al-Buhûts al-Islâmiyyah menjelaskan bahwa hukum meng-kloning manusia tergantung pada cara kloning yang dilakukan. Paling tidak ada empat cara yang bisa dilakukan dalam kloning manusia: Cara pertama, kloning dilakukan dengan mengambil inti sel (nucleus of cells) "wanita lain (pendonor sel telur)" yang kemudian ditanamkan ke dalam ovum wanita kandidat yang nukleusnya telah dikosongkan. Cara kedua, kloning dilakukan dengan menggunakan inti sel (nucleus) "wanita kandidat" itu sendiri, dari sel telur milik sendiri bukan dari pendonor. Cara ketiga, cloning dilakukan dengan menanamkan inti sel (nucleus) jantan ke dalam ovum wanita yang telah dikosongkan nukleusnya. Sel jantan ini bisa berasal dari hewan, bisa dari manusia. Terus manusia ini bisa pria lain, bisa juga suami si wanita. Cara keempat, kloning dilakukan dengan cara pembuahan (fertilization) ovum oleh sperma (dengan tanpa hubungan seks) yang dengan proses tertentu bisa menghasilkan embrio-embrio kembar yang banyak.
Pada kasus dua cara pertama, pendapat yang dikemukakan adalah haram, dilarang melakukan kloning yang semacam itu dengan dasar analogi (qiyas) kepada haramnya lesbian dan saadduzarai' (tindakan pencegahan, precaution) atas timbulnya kerancuan pada nasab atau sistem keturunan, padahal melindungi keturunan ini termasuk salah satu kewajiban agama. Di lain pihak juga akan menghancurkan sistem keluarga yang merupakan salah ajaran agama Islam. Pada cara ketiga dan keempat, kloning haram dilakukan jika sel atau sperma yang dipakai milik lelaki lain (bukan suami) atau milik hewan. Jika sel atau sperma yang dipakai milik suami sendiri maka hukumnya belum bisa ditentukan (tawaquf), melihat dulu maslahah dan bahayanya dalam kehidupan sosial. Untuk menentukan hukum pastinya harus didiskusikan dahulu dengan melibatkan banyak pakar dari berbagai disiplin ilmu, yang meliputi ilmuwan kedokteran, ilmuwan biologi (geneticist, biophysicist, dll), sosiolog, psikolog, ilmuwan hukum, dan agamawan (pakar fiqh). Jika hasilnya bisa membuat kacau tatanan masyarakat (karena banyak orang kembar, sehingga jika ada tindak kriminal atau kasus hukum lainnya susah diidentifikasi, dan mungkin efek-efek lain) maka hukumnya haram. Cara mengatasinya dengan melihat maslahah dan madharatnya. Jika hukum kloning sudah menjadi keputusan haram atau halal, maka tentu bisa ditindak lanjuti melalui lembaga-lembaga yang berwenang untuk melarang atau menjatuhkan sanksi bagi para pelanggarnya.
Namun demikian ada satu hikmah penting dengan adanya inovasi baru tentang teknologi kloning ini. Prestasi ilmu pengetahuan yang telah sampai pada penemuan proses kloning ini, sesungguhnya telah menyingkapkan sebuah hukum alam yang ditetapkan Allah Swt. pada sel-sel tubuh manusia dan hewan, karena proses kloning telah menyingkap fakta bahwa pada sel tubuh manusia dan hewan terdapat potensi menghasilkan keturunan, jika inti sel tubuh tersebut ditanamkan pada sel telur perempuan yang telah dihilangkan inti selnya. Jadi, sifat inti sel tubuh itu tak ubahnya seperti sel sperma laki-laki yang dapat membuahi sel telur perempuan. Wallahu a’lam bisshowab.
Melihat fakta kloning manusia secara menyeluruh, syari’at Islam mengharamkan kloning terhadap manusia, dengan argumentasi sebagai berikut:
Pertama, anak-anak produk proses kloning dihasilkan melalui cara yang tidak alami (percampuran antara sel sperma dan sel telur). Padahal, cara alami inilah yang telah ditetapkan oleh syariat sebagai sunatullah menghasilkan anak-anak dan keturunannya. Allah SWT berfirman:
وَأَنَّهُ خَلَقَ الزَّوْجَيْنِ الذَّكَرَ وَالأُنثَى (٤٥) مِن نُّطْفَةٍ إِذَا تُمْنَى (٤٦)
Dan bahwasannya Dialah yang menciptakan berpasang-pasangan laki-laki dan perempuan dari air mani apabila dipancarkan.” (QS an-Najm, 53: 45-46)
Dalam ayat lain dinyatakan pula,
أَلَمْ يَكُ نُطْفَةً مِّن مَّنِيٍّ يُمْنَى (٣٧) ثُمَّ كَانَ عَلَقَةً فَخَلَقَ فَسَوَّى (٣٨)
Bukankah dia dahulu setetes mani yag ditumpahkan (ke dalam rahim), kemudian mani itu menjadi segumpal darah, lalu Allah menciptakannya dan menyempurnakannya. Lalu Allah menjadikan daripadanya sepasang laki-laki dan perempuan.” (QS al-Qiyâmah, 75: 37-38).
Kedua, anak-anak produk kloning dari perempuan-tanpa adanya laki-laki-tidak akan memunyai ayah. Anak produk kloning tersebut jika dihasilkan dari proses pemindahan sel telur-yang telah digabungkan dengan inti sel tubuh-ke dalam rahim perempuan yang bukan pemilik sel telur, tidak pula akan memunyai ibu sebab rahim perempuan yang menjadi tempat pemindahan sel telur tersebut hanya menjadi penampung (mediator). Oleh karena itu, kondisi ini sesungguhnya telah bertentangan dengan firman Allah SWT:.
يا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْناكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَ أُنْثى وَ جَعَلْناكُمْ شُعُوباً وَ قَبائِلَ لِتَعارَفُوا إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقاكُمْ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ
“Hai manusia, sesungguhnya kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa–bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal.” (QS al-Hujurât, 49: 13)
Juga bertentangan dengan firman-Nya yang lain,
ادْعُوهُمْ لآبَائِهِمْ هُوَ أَقْسَطُ عِندَ اللَّهِ فَإِن لَّمْ تَعْلَمُوا آبَاءهُمْ فَإِخْوَانُكُمْ فِي الدِّينِ وَمَوَالِيكُمْ وَلَيْسَ عَلَيْكُمْ جُنَاحٌ فِيمَا أَخْطَأْتُم بِهِ وَلَكِن مَّا تَعَمَّدَتْ قُلُوبُكُمْ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَّحِيمًا
Panggilah mereka (anak-anak angkat itu) dengan (memakai) nama bapak-bapak mereka; Itulah yang lebih adil pada sisi Allah, dan jika kamu tidak mengetahui bapak-bapak mereka, maka (panggilah mereka sebagai) saudara-saudaramu seagama dan maula-maulamu [Maula-maula ialah: seorang hamba sahaya yang sudah dimerdekakan atau seorang yang telah dijadikan anak angkat, seperti Salim anak angkat Huzaifah, dipanggil maula Huzaifah] dan tidak ada dosa atasmu terhadap apa yang kamu khilaf padanya, tetapi (yang ada dosanya) apa yang disengaja oleh hatimu. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS al-Ahzâb. 33: 5).
Ketiga, kloning manusia akan menghilangkan nasab (garis keturunan). Padahal Islam telah mewajibkan pemeliharaan nasab. Ini berdasarkan hadis yang diriwayatkan dari Ibnu Abbas r.a. yang mengatakan bahwa Rasulullah saw. telah bersabda, “Siapa saja yang menghubungkan nasab kepada orang yang bukan ayahnya, atau (seorang budak) bertuan (loyal/taat) kepada selain tuannya, maka dia akan mendapat laknat dari Allah, para malaikat dan seluruh manusia.” (H.R. Ibnu Majah) Diriwayatkan pula dari Abu ‘Utsman An Nahri r.a. yang berkata, “Aku mendengar Sa’ad dan Abu Bakrah masing-masing berkata, ‘Kedua telingaku telah mendengar dan hatiku telah menghayati sabda Muhammad s.a.w., “siapa saja yang mengaku-ngaku (sebagai anak) kepada orang yang bukan bapaknya, padahal dia tahu bahwa orang itu bukan bapaknya, maka surga baginya haram.” (H.R. Ibnu Majah) Diriwayatkan pula dari Abu Hurairah r.a. bahwasannya tatkala turun ayat li’an dia mendengar Rasulullah saw. bersabda: “Siapa saja perempuan yang memasukkan kepada suatu kaum nasab (seseorang) yang bukan dari kalangan kaum itu, maka dia tidak akan mendapat apapun dari Allah dan Allah tidak akan pernah memasukkannya ke dalam surga. Dan siapa saja laki-laki yang mengingkari anaknya sendiri padahal dia melihat (kemiripan)nya, maka Allah akan akan tertutup darinya dan Allah akan membeberkan perbuatannya itu dihadapan orang-orang yang terdahulu dan kemudian (pada Hari Kiamat)” (H.R. Ad-Darimi).
Kloning manusia yang bermotif memproduksi manusia-manusia unggul dalam hal kecerdasan, kekuatan fisik, kesehatan, kerupawanan-jelas mengharuskan seleksi terhadap orang-orang yang akan dikloning, tanpa memperhatikan apakah mereka suami-isteri atau bukan, sudah menikah atau belum. Sel-sel tubuh itu akan diambil dari perempuan atau laki-laki yang terpilih. Semua ini akan mengacaukan, menghilangkan dan membuat bercampur aduk nasab.
Keempat, memproduksi anak melalui proses kloning akan mencegah (baca: mengacaukan) pelaksanaan banyak hukum-hukum syara’ seperti hukum tentang perkawinan, nasab, nafkah, hak dan kewajiban antara bapak dan anak, waris, perawatan anak, hubungan kemahraman, hubungan ‘ashabah, dan banyak lagi. Di samping itu, kloning akan mencampur-adukkan dan menghilangkan nasab serta menyalahi fitrah yang telah diciptakan Allah untuk manusia dalam masalah kelahiran anak. Konsekuensi kloning ini akan menjungkirbalikkan struktur kehidupan masyarakat.
Pengharaman ini hanya berlaku untuk kasus kloning pada manusia a.n. sich. Kloning bagi hewan dan tumbuhan, apalagi bertujuan untuk mencari obat, justru dibolehkan bahkan disunahkan. Ini dapat dilihat dari dua hadis di bawah ini, “Sesungguhnya Allah Azza Wa Jalla setiap kali menciptakan penyakit, Dia menciptakan pula obatnya. Maka berobatlah kalian!.” (H.R. Imam Ahmad) Imam Abu Dawud dan Ibnu Majah meriwayatkan dari Usamah bin Syuraik r.a. yang berkata, “Aku pernah bersama Nabi, lalu datanglah orang-orang Arab Badui. Mereka berkata, ‘Wahai Rasulullah, bolehkah kami berobat?’ Maka Nabi saw. menjawab, “Ya. Hai hamba-hamba Allah, berobatlah kalian sebab sesungguhnya Allah Azza wa Jalla tidaklah menciptakan penyakit kecuali menciptakan pula obat baginya….” Maka, berdasarkan nash (teks) ini diperbolehkan memanfaatkan proses kloning untuk memperbaiki kualitas tanaman dan hewan untuk mempertinggi produktivitasnya.

Rabu, 19 Februari 2014

Fungsi Gunung Dalam Alqur'an

Al Qur’an mengarahkan perhatian kita pada fungsi geologis penting dari gunung.
"Dan telah Kami jadikan di bumi ini gunung-gunung yang kokoh supaya bumi itu (tidak) goncang bersama mereka..." (Al Qur'an, 21:31)
Sebagaimana terlihat, dinyatakan dalam ayat tersebut bahwa gunung-gunung berfungsi mencegah goncangan di permukaan bumi.
Kenyataan ini tidaklah diketahui oleh siapapun di masa ketika Al Qur’an diturunkan. Nyatanya, hal ini baru saja terungkap sebagai hasil penemuan geologi modern.
Menurut penemuan ini, gunung-gunung muncul sebagai hasil pergerakan dan tumbukan dari lempengan-lempengan raksasa yang membentuk kerak bumi. Ketika dua lempengan bertumbukan, lempengan yang lebih kuat menyelip di bawah lempengan yang satunya, sementara yang di atas melipat dan membentuk dataran tinggi dan gunung. Lapisan bawah bergerak di bawah permukaan dan membentuk perpanjangan yang dalam ke bawah. Ini berarti gunung mempunyai bagian yang menghujam jauh ke bawah yang tak kalah besarnya dengan yang tampak di permukaan bumi.
Dalam tulisan ilmiah, struktur gunung digambarkan sebagai berikut:
Pada bagian benua yang lebih tebal, seperti pada jajaran pegunungan, kerak bumi akan terbenam lebih dalam ke dalam lapisan magma. (General Science, Carolyn Sheets, Robert Gardner, Samuel F. Howe; Allyn and Bacon Inc. Newton, Massachusetts, 1985, s. 305)
Dalam sebuah ayat, peran gunung seperti ini diungkapkan melalui sebuah perumpamaan sebagai "pasak":
"Bukankah Kami telah menjadikan bumi itu sebagai hamparan?, dan gunung-gunung sebagai pasak?" (Al Qur'an, 78:6-7)
Dengan kata lain, gunung-gunung menggenggam lempengan-lempengan kerak bumi dengan memanjang ke atas dan ke bawah permukaan bumi pada titik-titik pertemuan lempengan-lempengan ini. Dengan cara ini, mereka memancangkan kerak bumi dan mencegahnya dari terombang-ambing di atas lapisan magma atau di antara lempengan-lempengannya. Singkatnya, kita dapat menyamakan gunung dengan paku yang menjadikan lembaran-lembaran kayu tetap menyatu.
Fungsi pemancangan dari gunung dijelaskan dalam tulisan ilmiah dengan istilah "isostasi". Isostasi bermakna sebagai berikut:
Isostasi: kesetimbangan dalam kerak bumi yang terjaga oleh aliran materi bebatuan di bawah permukaan akibat tekanan gravitasi. (Webster's New Twentieth Century Dictionary, 2. edition "Isostasy", New York, s. 975)
Peran penting gunung yang ditemukan oleh ilmu geologi modern dan penelitian gempa, telah dinyatakan dalam Al Qur’an berabad-abad lampau sebagai suatu bukti Hikmah Maha Agung dalam ciptaan Allah.
"Dan telah Kami jadikan di bumi ini gunung-gunung yang kokoh supaya bumi itu (tidak) goncang bersama mereka..." (Al Qur'an, 21:31)

Dengan perpanjangannya yang menghujam jauh ke dalam maupun ke atas permukaan bumi, gunung-gunung menggenggam lempengan-lempengan kerak bumi yang berbeda, layaknya pasak. Kerak bumi terdiri atas lempengan-lempengan yang senantiasa dalam keadaan bergerak. Fungsi pasak dari gunung ini mencegah guncangan dengan cara memancangkan kerak bumi yang memiliki struktur sangat mudah bergerak. 

Mengapa gunung diistilahkan sebagai pasak? Menurut Prof Press, sebenarnya, kerak bumi mengapung di atas cairan. Lapisan terluar bumi membentang 5 km dari permukaan. Kedalaman lapisan gunung menghujam sejauh yang 35 km. Dengan demikian, pegunungan adalah semacam pasak yang didorong ke dalam bumi.

"Jadi gunung inilah yang berfungsi sebagai pasak untuk menstabilkan kerak bumi," ungkap  Prof Press.

Jumat, 22 November 2013

Keajaiban Alqur'an Dan Misteri Angka 19

Mukjizat AlQur an diakui oleh berbagai pihak, baik orang beriman maupun orang kafir. Sejak dulu hingga kini, bahkan hingga akhir zaman, tak ada kitab yang mampu menandingi keindahan gaya bahasanya. Cukup banyak pujangga dan sastrawan yang menulis puisi namun tak satupun yang berhasil mampu menandingi keindahan Al Quran. Kitab suci ini dijamin keontetikannya sepanjang masa. “Sesungguhnya Kamilah yang menurunkan Al-Quran, dan sesungguhnya Kami pula yang benar-benar memeliharanya.” (QS Al Hijr:9).

Tak satu huruf pun dapat ditambahkan, tak satu huruf pun bisa dikurangi dari Al-Quran. Bahkan tak satu pun titik boleh digeser dari satu huruf ke huruf lain. Jika ada yang mencoba melakukan perubahan pada Al-Quran hal tersebut dapat diketahui dengan mudah. Sebab begitu banyak penghafal Al-Quran dari masa ke masa. Dan tak satu pun kitab di dunia ini yang abadi seperti keabadian al-Quran.

Belum pernah ada dalam sejarah keajaiban di dunia ada sebuah benda yang semisterius dan semenarik seperti apa yang digambarkan ayat-ayat Al-Quran, kata pr kata, ayat per ayat. Bahkan dalam pengucapan huruf dan kata-katanya muncul melodi indah dalam susunan tangga nada yang rumit. Salah satu misteri kerumitan itu terletak pada angka 19.

Dalam al-Quran terdapat 9 surah yang memiliki lebih dari 128 ayat. Dari 9 surah tersebut ada 19 ayat yang merupakan kelipatan dari 128 atau 129. Penjumlahan dari 19 ayat itu adalah 2.698 (19 x 142). Dan angka 2.698 bukan angka sembarangan. Karena kata Allah dalam Al-Quran ditulis sebanyak 2.698 kali.

Mungkinkah itu sebuah kebetulan? Atau hasil rekayasa digital dari abad ke-6 Masehi? Padahal struktur digital 114 surah dalam Al-Quran itu bisa dihafal oleh para penghafal al-Quran bahkan dibaca dengan suara mengalun dengan tujuh macam gaya yang disebut qiroah as-sab’ah.

Tapi bagaimana menjelaskan angka 19 itu? Jika kita bisa meng-coding bilangan biner (1 dan 0 ) dalam komputer, Al-Quran di-coding dengan bilangan 1.9. Keduanya adalah bilangan primer yang tidak bisa dibagi kecuali dengan dirinya sendiri. Berbeda dengan konsep kebanyakan filsafat yang mengacu pada angka 12 ( 12 bulan, 12 untuk selusin, 12 shio cina, 12 zodiak, dan kemudahan bagi rata dalam bilangan 12), Al-Quran memberikan angka 19.

Di sinilah keunikan itu terjadi. Jumlah 114 sebagai jumlah surah dalam Al-Quran adalah hasil dari 6x 19 =144. Dan uniknya angka 619 juga merupakan deret bilangan prima yang ke-114. (1,3,5, dan seterusnya sampai suku ke 114). Dan terakhir kalimat Wahdahu La Syarikalahu ( Tuhan Maha Esa, tidak bisa disekutukan), secara geometris memiliki nilai 619 dan secara semantic memiliki arti prima. Dan bilangan prima tidak boleh di-syirkah, diduakan atau dibagi dua.

Belum lagi makna yang tersirat tentang bilangan ganjil sebagai bilangan yang mengandung keutaman dalam Islam. Iman Islam disusun dari bilangan prima pada deret ke-144, dan bilangan prima menempati posisi istimewa dalam susunan ini.

Bukan itu saja. Pada tahun 1999 para ilmuwan telah menemukan elemen ke-144 dalam tabel periodic elemen kimia dengan fraksi paling kecil yang sangat dinamis. Para ilmuwan sepakat akan sulit lagi untuk menemukan bilangan atom selanjutnya. Dengan demikian secara kauniyah alam telah menjelaskan keberpihakannya pada agama Allah.

Sungguh merupakan suatu keajaiban jika kita mencermati fakta-fakta berikut. Kelima ayat pertama dari wahyu pertama yang turun yaitu surah Al-Alaq terdiri atas 19 kata. Dan 19 kata tersebut terdiri dari 76 huruf yang merupakan kelipatan dari angka 19 (4×19=76). Dalam Al-Quran, surat Al-Alaq berada di urutan ke-96. Jika dihitung terbalik dari belakang, surah tersebut berada pada urutan ke-19.

Mengapa angka 19? Angka ini unik, karena tidak memiliki pembagi, alias tidak bisa dibagi. Dalam matematika, angka 19 dianggap sebagai bilangan prima yang unik, karena terdiri dari bilangan terkecil yaitu 1 dan bilangan terbesar yaitu 9, seperti alfa dan omega dalam susunan abjad.

Sungguh ajaib pula bahwa jumlah huruf dalam kalimat Bismillahi rahmanir rahim adalah juga 19. Dalam Al-Quran kata ism (nama) muncul sebanyak 19 kali, sedangkan kata Allah terdapat 2.698 alias 19 x 142, sedangkan Ar-Rahman (Yang Maha Penyayang) muncul 57 kali (19×3), sementara Ar-Rahim (Yang Maha Penyayang) muncul 114 kali (19×6), angka yang sama dengan jumlah surah dalam al-Quran.

Ini tenulah hanya secuil keajaiban Al-Quran. Segudang keajaiban kitab suci wahyu Allah SWT ini belum banyak yang terpecahkan oleh kemampuan otak manusia yang sangat terbatas.

Senin, 22 April 2013

Tujuh Langit Dalam al-Qur'an




Salah satu karunia yang dianugerahkan kepadaku oleh Allah SWT dan yang diajarkan-Nya kepadaku adalah bahwa kata "sab'u" berkaitan dengan kata "samawat", sebelumnya atau sesudahnya. Kata tersebut dalam AI-Quran disebutkan sebanyak 7 kali. Begitu juga hari dalam seminggu berjumlah 7 hari, dan langit pun berjumlah 7. Berikut ini adalah ayat-ayat mengenainya:
  1. ..... Dan Dia berkehendak (menciptakan) langit, lalu dijadikannya tujuh langit ..... (Al-Baqarah: 29)
  2. Langit yang tujuh, bumi dan semua yang ada di dalamnya bertasbih kepada Allah ..... (Al-Isra: 44)
  3. Katakanlah: "Siapakah yang memiliki tujuh langit dan 'arasy yang besar" (Al-Mu'minun: 84)
  4. Maka Dia menjadikannya tujuh langit dalam dua masa dan Dia mewahyukan kepada tiap-tiap langit urusannya ..... (Fushshilat: 12)
  5. Allah-lah Yang menciptakan tujuh langit dan reperti itu pula bumi ..... (AI-Thalaq: 12)
  6. Yang telah menjadikan tujuh langit berlapis-lapias. (AI-Mulk: 3)
  7. Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah telah menciptakan tujuh langit bertingkat-tingkat? (Nuh: 15)

Rabu, 20 Maret 2013

Tehnik Membumbung Yang Dilakukan Burung


Terbang membutuhkan energi yang besar. Namun, burung adalah makhluk kecil dan energi yang tersimpan dalam tubuh mereka terbatas. Burung mendapatkan sebagian besar energi yang mereka perlukan dengan menggunakan teknik terbang yang istimewa. Melayang di udara tanpa mengepakkan sayap adalah salah satu teknik yang kerap mereka gunakan. Burung nazar, misalnya, menggunakan cara khusus atas dasar peningkatan gelombang panas agar dapat melayang pada ketinggian yang tepat. Dengan melayang dari satu gelombang panas ke gelombang panas lainnya, mereka dapat mengitari kawasan yang sangat luas dalam sehari.

Burung-burung yang berpindah tempat juga memanfaatkan teknik melayang untuk menghemat energi. Burung bangau, misalnya, menggunakan gelombang panas untuk terbang sepanjang perpindahan berlangsung. Bangau putih di Eropa Tengah berpindah untuk menghabiskan musim dingin di Afrika. Untuk itu, mereka harus menempuh jarak sekitar 7000 kilometer (4350 mil). Jika mereka mengepakkan sayapnya sepanjang perjalanan menuju tempat tujuan mereka, bangau-bangau ini harus beristirahat empat kali. Namun, bangau putih menyelesaikan perjalanannya dalam tiga minggu dengan melayang di antara gelombang-gelombang panas selama 6-7 jam setiap hari, sehingga menghemat sebagian besar energi mereka.
Karena laut menghangat lebih lambat dibandingkan daratan, tidak ada gelombang panas di atas laut. Karena itulah burung-burung yang berpindah ini lebih suka melewati daratan alih-alih melakukan perjalanan panjang melewati lautan. Kalian mungkin pernah menyaksikan kumpulan bangau yang melintasi langit beberapa kali setahun. Ini karena bangau-bangau juga lebih suka berpindah di atas daratan. Kalian mungkin tidak menyadari fakta bahwa udara hangat tidak ada di atas laut. Namun, burung-burung bangau mengetahuinya dengan baik.

Sementara itu, elang laut, camar dan burung laut lainnya menghemat energi mereka dengan menggunakan aliran udara yang disebabkan oleh gelombang-gelombang tinggi. Burung-burung laut yang terbang di atas gelombang memanfaatkan tekanan angkat udara yang membelok ke atas. Seperti tampak dalam contoh di sini, semua burung mengetahui teknik apa yang akan mereka lakukan, ke mana mereka akan pergi, dan jalur apa yang akan diambil. Burung-burung tidak pernah bingung ketika terbang dengan menggunakan aliran udara hangat atau menggunakan aliran udara yang timbul karena gelombang. Hal ini karena Allah mengilhami setiap makhluk dengan pengetahuan yang diperlukannya. Dalam Al Qur’an, Allah menyebutkan gerakan burung di udara, dan menyatakan:
Tidakkah kamu tahu bahwasanya kepada Allah bertasbih apa yang ada di langit dan di bumi dan (juga) burung dengan mengembangkan sayapnya. Masing-masing telah mengetahui (cara) sembahyang dan tasbihnya, dan Allah Maha Mengetahui apa yang mereka kerjakan (QS An-Nur: 41)

Sabtu, 23 Februari 2013

Fakta Ilmiah Tentang Sujud (Sholat)

Orang yang sholat sejak kecil secara konsiten / istiqomah ia akan terhindar dari stroke , dan manfaat lain dari sujud / sholat yaitu
1. Mengalirnya darah ke otak ...

Aliran getah bening dipompa kebagian leher dan ketiak. Posisi jantung diatas otak menyebabkan darah yang kaya akan oksigen bisa mengalir maksimal ke otak. Karena itu lakukan sujud dgn tuma'ninah agar darah mencukupi kapasitasnya ke otak. (Dr. Fidelma, neurolog dari Amerika)

2. Apabila otak mendapatkan pasokan darah dan kaya oksigen, maka dapat memacu kerja sel-selnya. Dengan kata lain, sujud yang tuma'ninah dan terus menerus dapat memacu kecerdasan. (Prof. Sholeh, risetnya telah mendpt pengakuan dari Harvard Univesity, AS)

3. Melatih kekuatan otot tertentu, termasuk otot dada, dimana terjadi kontraksi pada otot tersebut. Kebiasaan sujud mengembalikan serta mempertahankan organ-organ perut pada tempatnya kembali/fiksasi.

4. Radiasi yg ditimbulkan oleh teknologi listrik dapat memberikan efek samping dan membahayakan organ² tubuh, terutama otak. Dimana kalau dibiarkan akan menimbulkan penyakit kejang otot, radang tenggorokan, mudah lelah, stress,migrain, hingga pikun di usia dini.

Nah ketika sujud, kelebihan ion² positif yang ada di dalam tubuh kita akan mengalir ke bumi, karena bumi adalah tempat ion2 negatif. Maka terjadilah proses netralisasi radiasi listrik dan magnet tersebut.

Sujud yang sempurna adalah dengan menempelkan 7 anggota badan (dahi,hidung, kedua telapak tangan, kedua lutut, dan kedua kaki) ke bumi.

(Dr. Muhammad Dhiyaa'uddin Hamid, dosen jurusan Biologi dan ketua department radiasi makanan pd Lembaga Penelitian Tekhnologi Radiasi)

Senin, 22 Oktober 2012

Manusia Pertama Dalam Tatasurya Kita

Setelah kita mengetahui bahwa ternyata disetiap Planet itu juga bermasyarakat manusia seperti halnya yang ada di Bumi ini,maka kemudian muncul pertanyaan :”Lalu siapakah sebenarnya manusia pertama yang diciptakan Allah? “ Yang ada di Bumi ini atau mungkin yang ada di Planet lain ? Benarkah Adam itu sebagai manusia pertama yang diciptakan Allah dijagad raya ini ?
Jawaban atas pertanyaan ini memang cukup rumit, karena keterangan Alqur’an tentang adanya makhluk manusia di Planet lain selain planet Bumi ini masih banyak diantara kita yang belum bisa menerima atau mempercayainya, termasuk didalamnya orang-orang Islam sendiri walaupun yang menerangkan adalah Alqur’an sebagai Kitab Suci umat Islam.
Hal demikian memang wajar-wajar saja,karena selama ini hampir mayoritas umat Islam sudah dimantapkan adanya suatu cerita walaupun keterangan yang disampaikan oleh orang yang dipercaya dikalangan umat Islam yaitu para Ustadz, Mubaligh atau yang disebut Kyai yang mempunyai pengaruh sangat besar dikalangan masyarakat baik masyarakat awam maupun para ilmuwan ataupun para Sarjana. Sehingga apapun yang dikatakan mereka seolah semuanya sudah dianggap kebenaran yang pasti,karena itu tidak seorangpun yang berani membantahnya.
Namun sebenarnya kalau orang mau secara cermat memperhatikan keadaan disekitar kita bahwa keilmuan manusia itu datang dari Allah dan dibukakan secara bertahap dan tidak sekaligus sejalan dengan kesanggupan manusia itu sendiri dalam melakukan penelitian dan pengkajian serta mempelajari tentang berbagai hal yang kemudian akan dibukakan Allah melalui pemahamannya itu.
Sekarang ini Ilmu Pengetahuan dan Tekhnologi telah berkembang sangat pesat bahkan lebih cepat dari pemikiran orang-orang yang menemukan Tekhnologi itu sendiri. Bayangkan saja dalam kondisi biasa orang bisa bicara dengan orang lain diberbagai belahan Bumi ini dengan alat yang kelihatannya sangat sederhana seperti Hand Pone dan banyak alat-alat canggih lainnya yang sulit dipahami dengan cara berpikir asal-asalan,tetapi harus dengan pemikiran secara serius.
Selama ini juga banyak diantara kita yang kurang serius dalam memikirkan Petunjuk Allah yanag berupa Kitab Suci Alqur’an yang merupakan Wahyu yang datang dari Allah serta telah menerangkan berbagai persoalan, namun kenyataannya banyak diantara kita umat Islam sendiri yang masih meragukan tentang kemampuan Alqur’an, terbukti banyak diantara saudara kita yang menganggap bahwa Alqur’an itu masih wungkul, mentah, kurang lengkap dan yang lain maka akibatnya Alqur’an ditinggalkan.
Disamping itu orang mengira bahwa Alqur’an dianggap hanya menerangkan tentang Ibadah saja, padahal sesungguhnya Alqur’an itu banyak menerangkan tentang Ilmu Pengetahuan tingkat tinggi yang sangat bermanfaat bagi kehidupan manusia.
Allah menerangkan bahwa manusia itu berasal dari  ‘DIRI YANG SATU’ yang kemudian atas ketentuan Allah berkembang biak menjadi berbagai bangsa, dengan bermacam bahasa dan warna kulit sebagaimana keadaannya sekarang ini.
Namun demikian ada juga yang berpendapat bahwa manusia itu adalah hasil evolusi monyet, walaupun pendapat itu hanyalah dugaan tanpa dasar yang jelas, akan tetapi nyatanya banyak juga yang mempercayainya terutama masyarakat Barat.
Untuk penganalisaan secara ilmiah tentang kejadian manusia mestilah harus ditanyakan kepada yang menciptakan manusia itu sendiri yaitu Allah Swt. Sedangkan semua keterangan yang bisa menjawab semua pertanyaan itu Allah telah menerangkan secara keseluruhan dalam Kitab Suci Alqur’an.
Ada beberapa istilah dalam Alqur’an yang harus dipahami secara cermat dan hati-hati,yaitu istilah yang berkaitan dengan asal-usul manusia pertama,baik menurut pendapat masyarakat pada umumnya maupun masyarakat Islam sendiri. Karena faktanya dilapangan banyak istilah-istilah yang berkembang dan sudah dianggap benar tetapi setelah diteliti berdasarkan Ilmu Pengetahuan ternyata tidak sesuai.
Padahal kalau orang suka berpikir dengan hati yang jernih bahwa tidak mungkin kalau semua keterangan Alqur’an itu bertentangan dengan Ilmu Pengetahuan, karena dia adalah merupakan Petunjuk termasuk didalamnya tentang Ilmu Pengetahuan itu.
Maka kalau ada keterangan tentang Alqur’an dan tidak sesuai dengan Ilmu Pengetahuan maka hendaklah kita mengadakan koreksi ulang pastilah disana ada hal-hal yang belum sesuai dengan yang dimaksudkan Allah.
Banyak Ayat dalam AlQur’an bahwa yang ada kehidupan itu hanyalah di samawat dan Bumi. Lalu apakah samawat itu langit ? Untuk mendapatkan jawaban atas pertanyaan itu, AlQur’an menjelaskan, karena kadang istilah bahasa yang dimaksudkan oleh Allah tidak sesuai dengan yang dipahami oleh bahasanya manusia.
Untuk mendapatkan pengertiannya, maka Allah menjelaskan dengan Ayat yang lain yang berkaitan dan saling menerangkan. Itulah pemahaman AlQur’an secara tematis. Dalam AlQur’an jarang sekali satu Ayat menerangkan berbagai persoalan, tetapi dengan diterangkan dalam Ayat lain yang letaknya berjauhan.
Perhatikan Ayat berikut :
Surat Ali Imran (3) Ayat 83 :
Apakah selain Diin (Agama) Allah yang mereka cari ? Padahal bagi-NYA telah Islam orang-orang di samawat dan di Bumidengan patuh dan terpaksa, dan kepada-NYA mereka dikembalikan.
Surat An nahl (16) Ayat 49 :
Dan untuk Allah bersujud apa yang di samawat dan apa yang di Bumi dari dabbah (makhluk berjiwa) dan Malaikat, dan mereka tidak menyombongkan diri.
Istilah dabbah silahkan periksa Surat Asy Syura (42) Ayat 29, Surat An Nuur (24) Ayat 45, Surat Al Anfal (8) Ayat 22 dan Surat Al Anfal (8) Ayat 55.
Kalau dilihat dalam Kamus, maka dabbah adalah binatang melata. Kalau sekiranya binatang melata bisa hidup di samawat, tentu saja makhluk lain termasuk manusia juga bisa hidup disana. Padahal dalam Surat An Nuur (24) Ayat 45, dinyatakan bahwa dabbah itu terdiri dari yang berjalan atas perutnya, yang berjalan dengan dua kaki dan yang berjalan dengan empat kaki. Itulah sebabnya pemahaman tentang suatu Ayat hendaklah dikorelasikan dengan Ayat lain, barulah akan membentuk pengertian yang jelas.
Tentang samawat AlQur’an memberikan penjelasan tersendiri, dan setelah diperhatikan dia bukan langit. Dan seluruh AlQur’an menerangkan bahwa yang ada kehidupan hanyalah samawat dan Bumi. Kalau samawat selalu disejajarkan dengan Bumi, tentu saja mempunyai makna yang bersamaan. Sedangkan di Matahari, Bintang-bintang, Bulan (Qomar) tidak pernah diterangkan adanya kehidupan itu.

Sabtu, 20 Oktober 2012

Masyarakat Manusia Di Planet luar Bumi Menurut Alquran


Allah menciptakan manusia sudah dilengkapi dengan Petunjuk-Nya, sehingga manusia tidak perlu repot-repot mencari atau menyusun Hukum dalam menjalani hidupnya, bahkan tinggal meneliti dan mempelajari Petunjuk Allah untuk dilaksanakan dalam kehidupan sehari-hari.  Bahkan Hukum Allah itu menerangkan hal-hal yang berlaku sampai nanti kehidupan di Akhirat.
Dalam era globalisasi dan informasi sudah saatnya bagi umat Islam untuk berpikir kritis dan dinamis demi kemajuan Islam. Hal yang perlu dipahami bahwa sesungguhnya Al Qur’an bukan hanya menerangkan ibadah saja, tetapi lebih jauh dia juga menerangkan hal-hal yang berkaitan dengan ilmu tingkat tinggi yang justru lebih lengkap dan sempurna.
Akan tetapi selama ini yang dipelajari para ilmuwan Muslim baru sebatas hal yang berkaitan dengan ibadah, dikiranya Al Qur’an tidak mampu menerangkan hal-hal berkaitan dengan segala yang ada di semesta. Padahal kalau Al Qur’an dipahami dengan sungguh-sungguh maka akan muncul Sarjana-sarjana Al Qur’an dari berbagai disiplin ilmu yang berkualitas tinggi dan handal. Dengan begitu Ilmu Pengetahuan akan maju pesat sejalan dengan tingkat kemampuan dalam pemahaman Al Qur’an oleh para pemeluk Islam atau para Ilmuwan itu sendiri.
Kenapa demikian?
Karena proses dan langkah yang dilakukan oleh orang yang memahami Al Qur’an akan berbeda dengan yang tidak memahami. Setiap orang Islam yang memahami Al Qur’an dalam melakukan penelitian tentang apapun senantiasa mendasarkan Petunjuk Allah dalam Al Qur’an, sehingga semuanya akan berjalan dengan kepastian dan tidak meraba-raba. Sementara orang yang tidak mengenal Al Qur’an akan berjalan dengan mencari-cari dan meraba-raba walaupun akhirnya diantara mereka juga ada yang menemukan tapi prosesnya sangat panjang dan cukup lama.
Al Qur’an merupakan wahyu dari Allah yang sengaja diturunkan sebagai petunjuk bagi semua manusia sampai akhir zaman. Petunjuk itu meliputi ibadah, muamalah dan juga tentang berbagai Ilmu Pengetahuan dan Tekhnologi tingkat tinggi termasuk didalamnya tentang ruang angkasa. Namun pada umumnya manusia kurang mengerti makna dari petunjuk itu, sehingga mereka memahami dengan cara-cara tradisional dengan melakukan upacara-upacara tertentu secara turun temurun, secara hafalan tanpa mengetahui apa yang mereka hafal itu. Cara seperti itu berjalan sangat lamban tanpa perkembangan bahkan cenderung mundur. Hal seperti itu sudah berjalan cukup panjang selama ratusan atau mungkin sudah ribuan tahun, karena memang Al Qur’an diturunkan hampir 1.500 tahun yang lalu.
Dalam Buku tersebut diterangkan tentang konsep “alam semesta“, sehingga kita akan punya pandangan yang sangat luas tentang wilayah kekuasaan Allah. Selama ini kita baru dikenalkan dengan Bumi dan sekitarnya, sehingga pandangan kita tentang Allah Rabbul ‘alamiin masih disempitkan dengan wilayah Bumi. Hal demikian mengakibatkan bahwa AlQur’an itu seolah hanyalah berlaku untuk manusia Bumi.
Padahal alam semesta itu begitu luasnya yang semuanya merupakan wilayah kekuasaan Allah. AlQur’an akan membuka cakrawala pandang yang sangat luas, seluas wilayah kekuasaan Allah, yaitu semesta alam dan bukan hanya Bumi yang sempit ini bila dibanding dengan alam semesta itu. Bumi kita ini hanyalah salah satu dari planet-planet dalam Satu Solar System kita, padahal setiap bintang di angkasa itu adalah satu Solar System, sama dengan matahari kita itu……

Rabu, 03 Oktober 2012

Antara Rancangan dan Kebetulan (Keruntuhan Teori Evolusi [XI



Pada bab sebelumnya kita telah mengkaji kemustahilan kehidupan yang terbentuk secara kebetulan. Untuk sementara, marilah hal yang mustahil ini kita terima lagi. Anggaplah bahwa jutaan tahun yang lalu sebuah sel terbentuk lengkap dengan segala sesuatu yang diperlukannya untuk hidup, dan bahwa sel tersebut "hidup". Sampai di sini lagi-lagi evolusi runtuh. Karena, sekalipun sel tersebut hidup untuk sementara waktu, ia akan mati dan tidak menyisakan apa pun, segalanya akan kembali seperti semula. Tanpa informasi genetis, sel pertama ini tidak mampu bereproduksi dan memulai generasi baru. Kehidupan berakhir dengan kematiannya.
Sistem genetis tidak hanya terdiri dari DNA, tetapi harus ada pula enzim untuk membaca kode DNA, yaitu mRNA (mesenger RNA) yang dibuat setelah kode DNA dibaca, ribosom sebagai tempat mRNA yang akan menempel sesuai kode ini untuk produksi, RNA transfer yang membawa asam amino ke ribosom untuk digunakan dalam produksi, dan enzim-enzim yang sangat kompleks untuk melaksanakan beragam proses antara. Perangkat tersebut hanya terdapat dalam lingkungan yang sepenuhnya terisolasi dan terkendali, seperti sel, tempat semua bahan mentah penting dan sumber energi berada.
Karena itu, materi organik dapat bereproduksi hanya jika materi ini berbentuk sel yang telah berkembang penuh, lengkap dengan seluruh organelnya dan dalam lingkungan yang sesuai untuk hidup, bertukar material, dan mendapatkan energi dari sekelilingnya. Ini berarti bahwa sel pertama di bumi terbentuk "secara tiba-tiba" lengkap dengan strukturnya yang sangat kompleks.
Jadi, apa artinya jika sebuah struktur kompleks muncul tiba-tiba?
Pertanyaan ini akan diajukan dengan sebuah contoh. Umpamakan sel tersebut sebuah mobil berteknologi tinggi dengan segala kompleksitasnya (sebenarnya sel terdiri dari sistem yang jauh lebih kompleks dan lebih berkembang dibandingkan mobil beserta mesin dan seluruh onderdilnya). Sekarang ditanyakan: apa yang terlintas dalam pikiran, jika Anda menjelajahi pedalaman hutan lebat dan menemukan mobil model terbaru di antara pepohonan? Akankah Anda berpikir bahwa beragam elemen dalam hutan telah menyatu secara kebetulan selama berjuta-juta tahun dan menghasilkan sebuah kendaraan semacam itu? Seluruh bahan mentah untuk membentuk mobil tersebut diperoleh dari besi, plastik, karet, tanah, atau produk sampingnya. Tetapi, apakah fakta ini akan membuat Anda berpikir bahwa bahan-bahan ini tersintesis "secara kebetulan", lalu menyatu menghasilkan mobil tersebut?
Tentu saja setiap orang yang berakal sehat akan mengetahui bahwa mobil itu adalah hasil rancangan yang disengaja, oleh pabrik, dan akan heran mengapa mobil tersebut bisa berada di tengah-tengah hutan. Pemunculan tiba-tiba suatu struktur kompleks dalam bentuk lengkap menunjukkan bahwa struktur tersebut diciptakan oleh suatu kekuatan berkesadaran. Tidak diragukan lagi bahwa sistem kompleks seperti sel diciptakan oleh sebuah kehendak dan kebijakan agung. Dengan kata lain, sel terjadi karena diciptakan Allah.
Dengan keyakinan bahwa "kebetulan murni" dapat membentuk rancangan sempurna, evolusionis telah melanggar batas-batas akal sehat dan ilmu pengetahuan. Pakar terkemuka yang membahas persoalan ini adalah ahli zoologi Prancis, Pierre Grasse, mantan ketua Akademi Ilmu Pengetahuan Prancis. Meskipun seorang materialis, Grasse mengakui bahwa teori Darwin tidak dapat menjelaskan kehidupan. Dia juga mengemukakan pendapatnya tentang logika konsep "kebetulan" yang merupakan pilar utama Darwinisme:
"Kemunculan mutasi-mutasi secara tepat, yang memungkinkan hewan dan tumbuhan memenuhi kebutuhan, merupakan hal yang sukar dipercaya. Namun, teori Darwin menyatakan lebih dari itu: sebatang pohon atau seekor hewan memerlukan beribu-ribu peristiwa kebetulan pada saat yang tepat. Jadi, keajaiban akan berperan di sini: peristiwa-peristiwa dengan peluang mendekati nol tidak boleh gagal untuk terjadi?.Tak ada larangan untuk berkhayal, tetapi ilmu pengetahuan tidak boleh terjerumus ke dalamnya."
Grasse merangkum arti konsep "kebetulan" bagi evolusionis dengan kalimat, "?. Peluang menjadi semacam Tuhan. Meskipun tidak dinamai di balik kedok ateisme, ia disembah secara sembunyi-sembunyi."
Kegagalan logis evolusi adalah akibat pemujaan mereka akan konsep kebetulan. Dalam Alquran disebutkan bahwa mereka yang menyembah selain Allah sama sekali tidak berakal:
"Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk (isi neraka Jahanam) kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk (mendengar ayat-ayat Allah). Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai." (Al-A'raf: 179).
Formula Darwin!
Selain bukti teknis yang telah kita bicarakan sejauh ini, mitos evolusionis dapat diuji dengan sebuah contoh yang sangat sederhana dan bahkan dapat dimengerti oleh anak kecil.
Teori evolusi menyatakan bahwa kehidupan terbentuk secara kebetulan. Berdasarkan teori ini, atom-atom anorganik yang tidak memiliki kesadaran berkumpul dan membentuk makhluk-makhluk hidup lainnya, termasuk manusia. Mari kita pikirkan. Jika kita kumpulkan unsur-unsur penyusun kehidupan seperti karbon, fosfor, nitrogen, dan natrium, yang terbentuk hanya tumpukan bahan-bahan. Perlakuan apa pun kepadanya tidak akan mengubah tumpukan bahan tersebut menjadi makhluk hidup. Jika Anda berminat, mari kita lakukan sebuah "eksperimen" atas nama evolusionis untuk menguji pernyataan mereka yang disebut "Formula Darwin"!
Misalkan, evolusionis memasukkan bahan-bahan penyusun kehidupan seperti fosfor, nitrogen, karbon, oksigen, besi, dan magnesium ke dalam sebuah tangki besar. Mereka juga dapat menambahkan bahan lain yang tidak ada pada kondisi normal tetapi mereka anggap perlu. Mereka dapat menambahkan sebanyak mungkin asam amino-yang tidak mungkin terbentuk pada kondisi normal-dan sebanyak mungkin protein, dengan peluang pembentukan 10/-950 per protein. Kemudian, mereka dapat memanaskan dan mengatur kelembaban campuran serta mengaduknya dengan alat tercanggih sesuka mereka. Biarkan mereka menyuruh para ilmuwan terkemuka menungguinya secara bergiliran selama miliaran, dan bahkan triliunan tahun. Mereka bebas mengupayakan segala kondisi yang mereka yakini perlu untuk pembentukan manusia. Apa pun yang mereka lakukan, mereka tidak bisa menghasilkan seorang manusia dari campuran ini, misalnya seorang profesor yang memeriksa struktur selnya di bawah mikroskop elektron. Mereka tidak bisa membuat jerapah, singa, lebah, burung, kuda, lumba-lumba, mawar, anggrek, lili, anyelir, pisang, jeruk, apel, kurma, tomat, melon, semangka, ara, zaitun, anggur, persik, merak, ayam, kupu-kupu berwarna-warni, atau jutaan makhluk hidup lainnya. Sungguh, bahkan mereka tidak dapat menghasilkan satu sel pun dari organisme-organisme tersebut.
Ringkasnya, atom-atom tidak berkesadaran tidak dapat membentuk sel hanya dengan bergabung. Mereka tidak dapat mengambil keputusan baru dan membelah sel ini menjadi dua, lalu mengambil keputusan-keputusan lain dan menciptakan profesor-profesor yang menemukan mikroskop elektron, dan kemudian memeriksa struktur selnya sendiri di bawah mikroskop tersebut. Materi adalah tumpukan benda mati yang tidak berkesadaran, dan menjadi hidup karena penciptaan Allah.
Teori evolusi yang menyatakan sebaliknya sangat keliru dan benar-benar bertentangan dengan akal sehat. Menelaah sedikit saja pernyataan-pernyataan evolusionis akan mengungkapkan kebenaran, seperti dalam contoh di atas.
Teknologi pada Mata dan Telinga
Persoalan lain yang belum terjawab oleh teori evolusi adalah kemampuan penginderaan mata dan telinga yang luar biasa.
Sebelum membahas mata, akan dijawab secara singkat pertanyaan "bagaimana kita bisa melihat". Cahaya yang datang dari sebuah benda jatuh terbalik pada retina mata. Di sini cahaya diubah menjadi sinyal-sinyal elektris oleh sel-sel, dan sinyal ini diteruskan ke bintik kecil di belakang otak yang disebut pusat penglihatan. Dalam pusat penglihatan, sinyal-sinyal elektris ini ditangkap sebagai bayangan benda setelah melalui serangkaian proses. Dengan latar belakang teknis ini, mari kita membahasnya lebih lanjut.
Otak terisolasi dari cahaya. Berarti di dalamnya gelap gulita dan cahaya tidak menjangkaunya. Daerah yang disebut pusat penglihatan adalah tempat yang gelap yang tidak pernah terjangkau cahaya, bahkan mungkin merupakan tempat tergelap yang pernah kita ketahui. Namun, dari kegelapan ini, kita dapat melihat dunia yang terang dan berkilauan.
Ketajaman dan kejelasan gambar yang terbentuk pada mata tidak dapat diperoleh, bahkan oleh tekhnologi abad ke-20. Sebagai contoh, lihatlah buku yang Anda baca, tangan Anda yang memegangnya, kemudian angkat kepala Anda dan pandanglah sekeliling Anda. Pernahkan Anda melihat gambar setajam dan sejelas ini di tempat lain? Bahkan, layar televisi tercanggih yang dibuat pabrik terbaik pun tidak dapat memberikan gambar setajam ini. Ini adalah gambar tiga dimensi, berwarna, dan sangat tajam. Lebih dari 100 tahun para insinyur berusaha mencapai ketajaman ini. Pabrik-pabrik dan instalasi besar dibangun, berbagai riset dilakukan, rencana dan rancangan telah diusahakan untuk tujuan ini. Sekali lagi, lihatlah layar TV dan buku yang Anda pegang. Akan Anda lihat perbedaan besar dalam ketajaman dan kejelasannya. Lebih dari itu, layar TV hanya memberikan gambar dua dimensi, sedangkan mata Anda memberikan perspektif tiga dimensi yang memiliki kedalaman. Jika Anda lihat dengan cermat, Anda akan mengamati gambar yang kabur pada televisi. Apakah terdapat gambar kabur pada penglihatan Anda? Tentu tidak.
Telah bertahun-tahun puluhan ribu insinyur berusaha membuat TV tiga dimensi untuk mencapai kualitas gambar seperti yang dilihat mata. Memang mereka telah menghasilkan TV tiga dimensi, tetapi untuk menontonnya masih harus dibantu kacamata khusus. Ini pun hanya tiga dimensi buatan. Latar belakangnya kabur, sedangkan bagian depannya seperti pemandangan di atas kertas. Manusia tidak pernah menghasilkan gambar setajam dan sejelas mata. Baik pada kamera maupun televisi ada penurunan kualitas gambar.
Evolusionis menyatakan bahwa mekanisme yang menghasilkan gambar tajam dan jelas ini terbentuk secara kebetulan. Sekarang, jika seseorang mengatakan kepada Anda bahwa televisi di kamar Anda terbentuk secara kebetulan, bahwa atom-atom penyusunnya kebetulan bersatu dan membentuk TV yang menghasilkan gambar, apa pendapat Anda? Bagaimana atom-atom dapat melakukan sesuatu yang tidak dapat dilakukan oleh ribuan orang?
Hampir seabad puluhan ribu insinyur bekerja keras meneliti di berbagai laboratorium dan kompleks industri bertekhnologi tinggi dengan menggunakan peralatan canggih, namun mereka tidak dapat melakukan lebih dari yang Anda lihat di layar TV Anda.
Jika alat yang menghasilkan gambar lebih primitif daripada mata saja mustahil terbentuk secara kebetulan, maka mata dan gambar yang dilihat mata lebih mustahil terbentuk secara kebetulan. Dibutuhkan rencana dan desain yang lebih terperinci dan lebih bijak daripada rencana dan desain untuk membuat TV. Rencana dan desain yang menghasilkan gambar sangat tajam, dan jelas ini milik Allah, Penguasa seluruh alam semesta.
Situasi serupa berlaku pada telinga. Daun telinga menangkap bunyi dan menyalurkannya ke telinga bagian tengah; telinga bagian tengah menyalurkan getaran bunyi sekaligus memperkuatnya; telinga bagian dalam mengubah getaran ini menjadi sinyal-sinyal elektris yang kemudian disampaikan ke otak. Seperti halnya mata, tahap pendengaran berakhir di pusat pendengaran dalam otak.
Otak terisolasi dari suara, seperti juga dari cahaya. Tidak ada bunyi yang dapat langsung masuk ke otak. Bagaimanapun bisingnya di luar, di dalam otak sama sekali sunyi. Walau demikian, otak menangkap bunyi paling tajam. Di dalam otak Anda yang terisolasi dari bunyi, Anda dapat mendengar simfoni orkestra dan mendengar kebisingan di tempat ramai. Namun, jika pada saat itu tingkat bunyi di dalam otak Anda diukur dengan alat paling sensitif, yang terbaca adalah kesunyian total.
Mari kita bandingkan lagi kualitas teknologi dan otak dengan teknologi yang dihasilkan manusia. Sebagaimana masalah penangkapan gambar, usaha selama beberapa dekade telah dilakukan untuk menghasilkan dan meniru suara sesuai dengan aslinya. Hasilnya berupa alat perekam, sistem high fidelity, dan sistem-sistem sensor atau pemindai. Kendatipun ribuan insinyur dan tenaga ahli serta teknologi tercanggih dikerahkan, tidak diperoleh suara setajam dan sejelas yang ditangkap oleh telinga. Bahkan, dalam sistem-sistem hi-fi produksi perusahaan terbesar dalam industri musik, ada penurunan kualitas bunyi yang direkam, atau Anda akan mendengar desis sebelum musik dimulai. Sebaliknya, suara yang dihasilkan teknologi tubuh manusia terdengar sangat tajam dan jelas. Telinga manusia menangkap bunyi tanpa disertai desis atau nuansa bunyi samping lainnya seperti sistem hi-fi. Telinga menangkap bunyi apa adanya, tajam dan jelas. Memang demikian sejak manusia diciptakan.
Ringkasnya, teknologi dalam tubuh kita jauh lebih unggul dibandingkan teknologi buatan manusia yang menggunakan akumulasi informasi, pengalaman, dan peluang. Tak seorang pun akan mengatakan bahwa hI-fI atau kamera muncul secara kebetulan. Lalu, mengapa teknologi dalam tubuh manusia yang jauh lebih unggul dikatakan muncul sebagai hasil serangkaian peristiwa kebetulan yang disebut evolusi?
Terbukti bahwa mata, telinga, dan seluruh bagian tubuh manusia adalah hasil ciptaan yang sangat unggul. Ini merupakan indikasi sangat jelas dari ciptaan Allah yang unik dan tidak tertandingi, dari ilmu dan kekuasaan-Nya yang kekal.
Sengaja diuraikan penginderaan mata dan telinga ini secara spesifik untuk menunjukkan ketidakmampuan evolusionis memahami bukti penciptaan yang demikian jelas. Jika suatu hari Anda meminta seorang evolusionis menjelaskan bagaimana rancangan dan teknologi yang sempurna pada mata dan telinga ini dapat dihasilkan secara kebetulan, Anda akan melihat bahwa ia tidak dapat menjawab dengan logis. Bahkan, Darwin sendiri, dalam suratnya kepada Asa Gray pada tanggal 3 April 1860, mangatakan bahwa pemikiran tentang mata membuat sekujur tubuhnya demam, dan ia mengakui ketidakberdayaan evolusionis menghadapi rancangan sempurna makhluk hidup.
Sumber: The Evolution Deceit, Harun Yahya