ASALAMU 'ALAIKUM WAROHMATULLOHI WABAROKATUH BLOG By MUH FAJAR HUDI APRIANTO @ MARI KITA GUNAKAN WAKTU KITA YANG TERSISA DENGAN SEBAIK MUNGKIN KARENA WAKTU KITA HANYA SEDIKIT AGAR KITA TIDAK TERMASUK ORANG ORANG YANG MERUGI mafa GUNAKAN WAKTU MUDAMU SEBELUM DATANG WAKTU TUAMU WAKTU SEHATMU SEBELUM DATANG WAKTU SAKITMU KAYAMU SEBELUM TIBA MISKIN WAKTU LAPANGMU SEBELUM TIBA WAKTU SEMPITMU DAN GUNAKAN WAKTU HIDUPMU SEBELUM TIBA MATIMU pesan nabi
Tampilkan postingan dengan label Fiqih Sirah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Fiqih Sirah. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 01 Oktober 2022

Manfaat Mempelajari Sirah Nabawiyah

 

Seperti kita ketahui dalam Alquran itu banyak dikisahkan umat-umat terdahulu bahkan sepertiga dari Alqur'an adalah Kisah, itu menunjukkan betapa pentingnya dan manfaatnya kisah atau sirah. Faedah dan manfaat mempelajari Sirah Nabawiyah adalah sebagai berikut:

Mengenal teladan terbaik bagi seluruh manusia dalam aqidah, ibadah dan akhlak. Allah Ta’ala berfirman:

“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah“. (QS. Al-Ahzab/33:21).

Dan usaha meneladani Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam tidak bisa lepas dari mengetahui sejarah hidup dan petunjuk-petunjuk beliau.

Siroh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menjadi mizan (timbangan) amal perbuatan manusia. Tentang ini, Imam Sufyan Ibnu ‘Uyainah rahimahullah berkata, “Sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam adalah timbangan paling inti. Maka, segala sesuatu ditimbang dengan akhlak, siroh dan petunjuk beliau. Yang sesuai, maka itulah yang benar, dan yang berlawanan dengannya, maka itulah kebatilan”. (Diriwayatkan al-Khathib al-Baghdadi dalam muqaddimah kitab al-Jami li Akhlaqir Rawi wa Adabi as-Sami’).

Mempelajari Siroh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam membantu dalam memahami Kitabullah, karena kehidupan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam merupakan pengamalan nyata terhadap al-Qur`an. Hal ini berdasarkan keterangan Ummul Mukminin ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha ketika ditanya tentang akhlak beliau, “Akhlak beliau adalah al-Qur`an”. Dan yang dimaksud dengan akhlak di sini adalah pengamalan agama beliau, beliau telah mengerjakan petunjuk al-Qur`an dengan sempurna, dalam hal perintah dan larangan serta adab-adab al-Qur`an.

Mempelajari Siroh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam memperkuat cinta seorang Muslim kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Penanaman cinta dan penguatannya pada hati seorang Muslim menuntutnya untuk mempelajari Siroh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, supaya cintanya kian subur di hatinya terhadap sosok yang mulia ini. Dan selanjutnya, cinta tersebut akan mendorongnya menuju setiap kebaikan dan ittiba’ kepada beliau.

Mempelajari Siroh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam merupakan pintu menuju peningkatan keimanan.

Mempelajari Siroh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam membantu memudahkan memahami Islam dengan baik dalam aspek aqidah, ibadah dan akhlak. Dan sejarah telah mencatat bahwa beliau memulai dakwah dengan tauhid dan perbaikan aqidah dan menekankan pada masalah tersebut.

Siroh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menggariskan manhaj (metodologi) dalam berdakwah di atas bashirah (ilmu). Dan seorang dai sejati adalah orang yang menguasai petunjuk, langkah dan sejarah hidup beliau. Allah Ta’ala berfirman: “Katakanlah: “Inilah jalan (agama) ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujjah yang nyata” (QS. Yusuf/12:108)

Siroh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam sendiri sudah merupakan bukti kebenaran nubuwwah dan kerasulan beliau.

Mempelajari Siroh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam merupakan pintu berkah menuju gerbang kebahagiaan. Bahkan kebahagiaan seseorang tergantung pada sejauh mana ia mengetahui petunjuk-petunjuk Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Sebab tidak ada jalan menuju kebahagiaan bagi seorang hamba di dunia dan di akhirat kecuali melalui petunjuk para rasul.

Siroh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menerangkan bahwa perilaku dan sejarah hidup beliau shallallahu ‘alaihi wasallam merupakan jalan hidup bagi setiap Muslim yang mengharap kebaikan dan kehidupan mulia di dunia dan akhirat. Generasi Islam akan mengalami kemerosotan bila sebagian mereka lebih mengenal sejarah hidup orang-orang yang tidak pantas diteladani.

Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan, “Allah Subhanahu wa Ta’ala menggantungkan kebahagiaan dunia dan akhirat pada ittiba kepada beliau, dan menjadikan celaka di dunia dan akhirat disebabkan menentang beliau”. (Zadul Ma’ad fi Hadyi Khairil ‘Ibad 1/36).

Sabtu, 07 November 2020

Kisah Haru Rosululloh dan Ukasya ( Fiqih Siroh )

 

Kisah itu sangat dahsyat pengaruhnya dalam diri seseorang sehingga sejarah /kisah itu penting , namun usahakan yang bersifat factual bukan fiksi seperti dongeng karena itu perpengaruh pada jiwa dan iman kita . menurut ahli siroh Alquran itu sepertiganya adalah sejarah  banyak kisah orang terdahulu turun pada nabi muhammad untuk membangun aqidah dan jiwa nabi muhammad para sahabat  seperti kisah para nabi orang sholih  pem uda yang imannya tangguh seperti ashabul kahfi ashabul uhdud dll. Begitu juga untuk membangun iman dan jiwa kita alangkaj baik nya kita sering membaca kisah diantaranya kisah berikut tentang  nabi Muhammad dan ukasya yang mengharukan dan apa hikmah yang dapat kita petik dari kisah itu insyaAlloh dapat menambah iman dan cinta kita pada Nabi Muhammad Sholallohu alaihi wasalam. (12:111) 

111. Sesungguhnya pada kisah-kisah mereka itu terdapat pengajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal. Al Quran itu bukanlah cerita yang dibuat-buat, akan tetapi membenarkan (kitab-kitab) yang sebelumnya dan menjelaskan segala sesuatu, dan sebagai petunjuk dan rahmat bagi kaum yang beriman.

Pada suatu hari, Nabi Muhammad Rasulullah SAW meminta sahabat Bilal memanggil semua sahabat nabi agar datang ke masjid. Tanpa banyak bertanya, Bilal segera menjalankan baginda Rasulullah SAW, dan selang beberapa saat kemudian para sahabat datang dan memenuhi masjid. Para sahabat datang dengan membawa kerinduan mereka mendengar nasehat dan tausiah dari Rasulullah SAW.

Kala itu, Rasulullah sedang duduk dalam kondisi lemah di atas mimbar masjid. Wajahnya terlihat pucat menahan sakit yang tengah dideritanya. Kemudian Rasulullah SAW bersabda :

“Wahai sahabat-sahabatku semua, aku ingin bertanya. Apakah telah aku sampaikan bahwa sesungguhnya Allah SWT itu adalah satu-satunya Tuhan yg layak disembah?” Semua Sahabat menjwb dgn suara bersemangat,

“Benar wahai Rasulullah, Engkau telah sampaikan kpd kami bahwa sesungguhnya Allah SWT adalah satu-satunya Tuhan yang layak disembah.” Kemudian Rasulullah SAW bersabda:

“Persaksikanlah ya Allah. Sesungguhnya aku telah menyampaikan amanah ini kepada mereka.”

Kemudian Rasulullah SAW bersabda lagi, dan setiap apa yg Rasulullah sabdakan selalu dibenarkan oleh para sahabat. Akhirnya sampailah pada satu pertanyaan yg menjadikan para sahabat sedih dan terharu.

Yaitu ketika Rasulullah SAW bersabda :

“Sesungguhnya, aku akan pergi menemui Allah SWT. Dan sebelum aku pergi, aku ingin menyelesaikan segala urusanku dengan manusia. Maka aku ingin bertanya kepada kalian semua. Adakah aku berhutang kepada kalian? Aku ingin menyelesaikan hutang tersebut. Karena aku tidak mau bertemu dgn Allah SWT dalam keadaan berhutang dgn manusia.”

Ketika mendengar kata-kata itu keluar dari bibir Rasulullah, para sahabat hanya terdiam, tidak ada satupun yang berkata dan menjawab. Dalam benak mereka, merasa bahwa merekalah yang paling banyak berhutang kepada Rasulullah SAW, junjungan dan panutan mereka.

Rasulullah SAW mengulangi pertanyaan yang sama hingga tiga kali berturut-turut.

Dalam keheningan, tiba-tiba berdirilah seorang lelaki yg bernama Ukasyah, seorang sahabat yang dikenal sebagai mantan preman sebelum ia akhirnya mendapat hidayah, dan memutuskan untuk masuk Islam. Ukasyah berkata kepada Rasulullah :

“Ya Rasulullah… Aku ingin sampaikan masalah ini. Seandainya ini dianggap hutang, maka aku minta engkau selesaikan. Seandainya bukan hutang, maka tidak perlulah engkau berbuat apa2”.

Rasulullah SAW mempersilahkan Ukasyah seraya berkata: “Sampaikanlah wahai Ukasyah”.

Maka Ukasyah pun mulai bercerita:

“Aku masih ingat ketika perang Uhud dulu, suatu ketika engkau menunggang kuda, lalu engkau pukulkan cemeti (cambuk) ke belakang kuda. Namun cemeti tersebut tidak mengenai belakang kuda. Tapi justru terkena pada dadaku. Karena ketika itu aku berdiri dibelakang kuda yg engkau tunggangi wahai Rasulullah,” tutur Ukasyah.

Mendengar itu, Rasulullah SAW langsung berkata:

“Sesungguhnya itu adalah hutang wahai Ukasyah. Kalau dulu aku pukul engkau, maka hari ini aku akan terima hal yg sama.”

Dengan nada suara yang agak tinggi, seolah sangat bersemangat dan seolah tanpa rasa bersalah, Ukasyah langsung menjawab: “Kalau begitu aku ingin segera melakukannya wahai Rasulullah.”

Mendengar jawaban Ukasyah, para sahabat langsung berteriak marah. Bahkan ada yang menilai Ukasyah sudah keterlaluan.

“Sungguh engkau tidak berperasaan Ukasyah. Bukankah Baginda sedang sakit..!!?” cetus beberapa sahabat dengan nada geram dan heran.

Ukasyah tidak menghiraukan semua itu dan masih bersikeras menuntut haknya yang dianggap sebagai hutang yang harus dibayar setara.

Rasulullah SAW, meminta Bilal untuk mengambil cambuk di rumah Fatimah, salah satu putrinya. Ketika Bilal sampai, dan mengutarakan maksud kedatangannya untuk mengambil cambuk, Fatimah bertanya dengan nada heran. “Untuk apa Rasulullah meminta cambuk ini wahai Bilal?”

Bilal menjawab dengan nada sedih : “Cambuk ini akan digunakan Ukasyah untuk memukul Rasulullah.”

Seketika itu juga Fatimah Terperanjat dan menangis, seraya berkata:

“Kenapa Ukasyah hendak memukul ayahku Rasulullah? ayahku sedang sakit. Jika mau memukul,

pukullah aku anaknya.”

Bilal hanya terpaku, tak mampu berkata-kata, karena ia hanya mengikuti perintah Rasulullah SAW untuk mengambil cambuk di rumah Fatimah saja. Bilal menjawab: “Sesungguhnya ini adalah urusan antara mereka berdua”.

Bilal membawa cambuk tersebut ke Masjid lalu diberikannya kepada Ukasyah, yang langsung mengambil cambuk itu, dan berjalan mendekati Rasulullah SAW yang sedang duduk lemas di atas mimbar.

Tiba-tiba, Abu Bakar berdiri dan berusaha menghalangi Ukasyah untuk mendekati Rasulullah sambil berkata:

“Ukasyah… kalau kamu hendak memukul, pukullah aku..!! Aku adalah orang yang pertama beriman dengan apa yang disampaikan oleh Rasulullah SAW. Akulah sahabatnya di kala suka dan duka. Kalau engkau hendak memukul, maka pukullah aku”. Melihat hal itu, Rasulullah SAW lekas meminta Abu Bakar untuk duduk seraya bersabda : “Duduklah wahai Abu Bakar. Ini urusan antara aku dgn Ukasyah”.

Tanpa berlama-lam dalam keadaan lemah, Rasulullah SAW membuka bajunya. Kemudian terlihatlah tubuh Rasulullah, dengan beberapa batu terikat di perut Rasulullah, pertanda Rasulullah sedang menahan lapar

Kemudian Rasulullah SAW berkata:

“Wahai Ukasyah, segeralah dan janganlah kamu berlebih-lebihan. Nanti Allah SWT akan murka padamu.”

Ukasyah langsung menghambur menuju Rasulullah SAW, seraya membuang cambuk yang sedari tadi ia pegang erat. Kemudian ia peluk tubuh Rasulullah SAW serat-eratnya, sambil menangis dan berkata :

“Ya Rasulullah, ampuni aku. Maafkan aku. Mana ada manusia yang sanggup menyakiti engkau ya Rasulullah. Sengaja aku melakukannya, agar aku dapat merapatkan tubuhku dengan tubuhmu. Karena Engkau pernah mengatakan “Barang siapa yang kulitnya pernah bersentuhan denganku, maka diharamkan api neraka atasnya.” Seumur hidupku aku bercita-cita dapat memelukmu. Karena sesungguhnya aku tahu bahwa tubuhmu tidak akan dimakan oleh api neraka. Dan sungguh aku takut dengan api neraka. Maafkan aku ya Rasulullah…”

Mendengar ucapan itu, Rasulullah SAW tersenyum dan berkata: “Wahai sahabat-sahabatku semua, kalau kalian ingin melihat Ahli Surga, maka lihatlah Ukasyah..!!” 

Semua sahabat menitikkan air mata, dan bergantian memeluk Rasulullah SAW.

Hikmah Dari Kisah Diatas Adalah Sebagai Berikut:

  1. Pentingnya Aqidah yang benar dan lurus

“Wahai sahabat-sahabatku semua, aku ingin bertanya. Apakah telah aku sampaikan bahwa sesungguhnya Allah SWT itu adalah satu-satunya Tuhan yg layak disembah?” Semua Sahabat menjwb dgn suara bersemangat,“Benar wahai Rasulullah, Engkau telah sampaikan kpd kami bahwa sesungguhnya Allah SWT adalah satu-satunya Tuhan yang layak disembah.”

Ia dibangun di atas akidah tauhid yang bersih dari kesyirikan. Ia membebaskan manusia dari penghambaan kepada makhluk, hingga cinta dan peribadatan hanya untuk Allah Rabbul ‘Alamin. Allah subhanahu wa ta’alaberfirman,

  1. Menunjukkan Ketinggian/ kesempurnaan Akhlak nabi Muhammad

Saat itu nabi sudah sesang sakit dan menjelang wafat masih berikir tentang umat dan khawatir terhadap balasan di akhirat jika kita tidak menyelesaikan urusan dosa ini didunia yaitu minta maaf dan istigfar. Maka dari itu Alloh dan rosululloh selalu mendorong agar segera pada ampunan Alloh dan membersihkan jiwa dari dosa. Disinilah pentingnya pendidikan adab  makanya generasi awal itu sangat mementingkan adab Ali bin abi tholib menasirkan surat attahrim 6 dengan adibbuhum wa allimuhum ; didiklah adab dan ajarilah ilmu. Problem dunia saat ini adalah loss of adab (hilangnya adab) banyak orang pinter tapi tak beradab jadi ilmunya tak bermanfaat mungkin dunia yang ia kejar ia dapatkan tapi dari mana dan kemana rizki Alloh kita nafkahkan kita cuek saja.


  1. Jiwa Pengorbanan yang tinggi dari para sahabat

Tiba-tiba, Abu Bakar berdiri dan berusaha menghalangi Ukasyah untuk mendekati Rasulullah sambil berkata:

“Ukasyah… kalau kamu hendak memukul, pukullah aku..!! Aku adalah orang yang pertama beriman dengan apa yang disampaikan oleh Rasulullah SAW. Akulah sahabatnya di kala suka dan duka. Kalau engkau hendak memukul, maka pukullah aku”. Melihat hal itu, Rasulullah SAW lekas meminta Abu Bakar untuk duduk seraya bersabda : “Duduklah wahai Abu Bakar. Ini urusan antara aku dgn Ukasyah”.

  1. Pemimpin yang tawadhu dan punya empati yang tinggi pada umatnya

Mungkin kalau pemimpin sekarang dia salah pada rakyatnya? Wong cilik dia acuh tapi Rosululloh luar biasa sangat menghargainya sampai ukasya menyuruh melepas bajunya beliau bersedia.

  1. Berorientasi ukhrowi

Ukasyah langsung menghambur menuju Rasulullah SAW, seraya membuang cambuk yang sedari tadi ia pegang erat. Kemudian ia peluk tubuh Rasulullah SAW serat-eratnya, sambil menangis dan berkata :

“Ya Rasulullah, ampuni aku. Maafkan aku. Mana ada manusia yang sanggup menyakiti engkau ya Rasulullah. Sengaja aku melakukannya, agar aku dapat merapatkan tubuhku dengan tubuhmu. Karena Engkau pernah mengatakan “Barang siapa yang kulitnya pernah bersentuhan denganku, maka diharamkan api neraka atasnya.” Seumur hidupku aku bercita-cita dapat memelukmu. Karena sesungguhnya aku tahu bahwa tubuhmu tidak akan dimakan oleh api neraka. Dan sungguh aku takut dengan api neraka. Maafkan aku ya Rasulullah…”

Mendengar ucapan itu, Rasulullah SAW tersenyum dan berkata:

“Wahai sahabat-sahabatku semua, kalau kalian ingin melihat Ahli Surga, maka lihatlah Ukasyah..!!”

  1. Nabi Muhammad mempunyai sikap  qonaah dan  zuhud ( perut diganjal batu)

Itu terlihat pada ungkapan “ Tanpa berlama-lam dalam keadaan lemah, Rasulullah SAW membuka bajunya. Kemudian terlihatlah tubuh Rasulullah, dengan beberapa batu terikat di perut Rasulullah, pertanda Rasulullah sedang menahan lapar

  1. Rosululloh sangat memperhatikan amanah .

Kenabian dan kerosulan adalah amanah dari Alloh agar menyampaikan segala kebaikan kepada umatnya dan Rosululloh telah menyampaikan semuanya  dan mengecek seperti dalam kisah diatas, agar tidak ditagih diakhirat.

  1. Rosululloh memberikan contoh agr selalu bermuhasabah mawas diri

“Sesungguhnya, aku akan pergi menemui Allah SWT. Dan sebelum aku pergi, aku ingin menyelesaikan segala urusanku dengan manusia. Maka aku ingin bertanya kepada kalian semua. Adakah aku berhutang kepada kalian? Aku ingin menyelesaikan hutang tersebut. Karena aku tidak mau bertemu dgn Allah SWT dalam keadaan berhutang dgn manusia.”

Siapa yang pernah saya sakiti silahkan membalasnya yang setimpal…. Semua itu mencontohkan pada kita agar selalu bermuhasabah dan diikuti segera beristigfar dan minta maaf

Sabtu, 02 Desember 2017

Ibrah (Pelajaran ) Dari Perang Uhud ( Fiqih Sirah )

Beberapa Ibrah Perang Uhud antara lain:
Pernag Uhud ini memberi banyak pelajaran penting kepada kaum Muslimin pada
setiap masa. Semua peristiwa yang telah kami jelaskan terdahulu seolah-olah menjadi
pelajaran yang bersifat aplikatif dan operasional, yang mengajarkan kepada kaum Muslimin
cara mencapai kemenangan dalma pertempuran melawan musuh , dan cara menghindari
kegagalan dan kekalahan. :
1.- Di dalam peperangan ini tampak pula prinsip yang selalu dipegang teguh oleh Rasulullah
saw , yaitu bermusyawarah besama para sahabatnya dalam setiap urusan yang memerlukan
syura dan pembahasan. Tetapi di sini kita mencatat satu hal yang tidak kida dapati pada
musyawarah menjelang Badr. Yaitu bahwa Nabi saw tidak mau mencabut kembali
persetujuannya atas pengusulan para sahabat yang menghendaki agar peperangan di
tandingkan di luar Madinah, setelah beliau memakai baju perang dan mengambil persiapan
perangnya, sekalipun mereka menyatakan penyesalan mereka dan menarik kembali usulan
mereka itu, serta mengharap Rasulullah saw agar tinggal saja di Madinah jika beliau
berpendapat demikian. Tampaknnya pada waktu musyawarah Nabi saw cenderung atau
menampakkan kecenderungan terhadap usulan yang menginginkan agar kaum Muslimin
menunggu musuh di Madinah.
Barangkali hikmah yang terkandung dalam maslah ini, antara lain bahwa
memperbincangkan kembali suatu masalah yang sudah diputuskan apalagi setelah Nabi saw
muncul di tengah kaum dan para sahabatnya seraya memakai baju perang dan mengangkat
senjatanya adalah suatu tindakkan di luar prinsip syura khususnya menyangkut masalahmasalah
peperangan yang memerlukan di samping musyawarah ketegasan dan kepastian
sikap. Di samping itu kesan yang akan timbul jika Nabi saw mencabut persetujuannya setelah
semuanya melihat Nabi saw telah bersiap-siap untuk perang, seakan Nabi saw tidak memiliki
kehendak dan tekat yang kuat dan pasti. Bahkan biasanya sikap ragu seperti itu muncul karena
rasa takut dan kekhawatiran yang tidak berasalan. Oleh sebab itu, Nabi saw menjawab mereka
dengan tegas dan pasti :
„Tidak pantas bagi seorang Nabi apabila telah memakai baju perangnya untuk meletakkannya
kembali sebelum berperang.“
2.- Dalam peperangan ini kaum Munafiqin menunjukkan sikap mereka yang asli. Sikap
mereka ini mengandung banyak hikmah dan tujuan, di antara yang terpenting ialah wujud
penyapubersihan unsur-unsur Munafiqin dari kaum Mukminin. Selain itu, sikap kaum
Munafiqin tersebut memberikan berbagai manfaat bagi kaum Muslimin untuk menghadapi
masa-masa mendatang.

Telah kita ketahui bagaimana Abdullah bin Ubay bersama tiga ratus pengikutnya
berkhianat kepada Rasulullah saw, dan para sahabatnya setelah keluar dari kota Madinah.
Konon pengkhianatan ini disebabkan karena Nabi saw, mengikuti pendapat anak-anak muda
dan tidak mengambil pendapat orang-orang tua dan para intelektual seperti dirinya (Abdullah
bin Ubay). Tetapi sesungguhnya tidaklah demikian halnya. Ia (Abdullah bin Ubay)
melakukan tindakkan pengkhianatan itu hanya karena tidak mau berperang. Sebab ia tidak
siap menghadapi segala resikonya. Itulah ciri khas utama kaum Munafiqin : ingin mengambil
keuntungan-keuntungan yang terdapat dalam Islam dan menjauhi segala tanggung jawab dan
resikonya. Sesuatu yang mengikat mereka dengan Islam ialah salah satu di antara dua hal :
Harta rampasan yang mereka idamkan atau bencana yang dapat mereka elakkan.
3.- Dalam peperangan ini Rasulullah saw tidak mau meminta bantuan kepada orang-orang
non-Muslim kendatipun jumlah kaum Muslimin masih sangat sedikit. Dalam Hadits yang
diriwayatkan oleh Ibnu Sa‘d di dalam Thabaqat-nya, Rasulullah saw bersabda :
„Kami tidak akan pernah meminta bantuan kepada orang-orang Musyrik untuk menghadapi
orang-orang Musyrik lainnya.“
Muslim meriwayatkan bahwa Nabi saw pernah berkata kepada seorang laki-laki yang
ingin berperang bersamanya di peperangan Badr :
„Apakah kamu beriman kepada Allah swt ?“ Orang itu menjawab :“Tidak“, Nabi saw
bersabda :“Kembalilah, karena aku tidak akan meminta bantuan kepada seorang Musyrik.“
Berdasarkan kepada hal di atas jumhur ulama‘ berpendapat, tidak boleh meminta
bantuan orang-orang kafir dalam berperang. Imam Syafi‘I menjelaskan hal ini dengan
mengatakan :“Jika Imam melihat orang kafir tersebut memiliki pandangan yang baik dan jujur
kepada kaum Muslimin serta sangat diperlukan bantuannya, (maka boleh meminta
bantuannya), tetapi jika tidak demikian maka tidak boleh.“
Barangkali pendapat Imam Syafi‘I yang sesuai dengan beberapa kaidah dan dalil.
Diriwayatkan bahwa Nabi saw menerima bantuan Shfwan bin Umaiyah pada perang Hunain.
Dan masalah ini termasuk ke dalam kerangka apa yang disebut syari'ah (kebijaksanaan
Imam). Kami akan menyebutkan perbedaan antara apa yang dilakukan Rasulullah saw di
Hunain serta apa yang dilakukan Rasulullah saw di Badr dan Uhud pada pembahasan
mendatang insya Allah.
4.- Hal yang perlu direnungkan ialah fenomena Samurah bin Jundab dan Rafi‘ bin Khudaij.
Keduanya baru berusia lima belas tahun. Bagaimana kedua anak ini datang kepada Rasulullah
saw meminta ijin agar diperkenankan ikut serta dalam peperangan. Suatu peperangan yang
didasarkan pada kesiapan mati dan sangat tidak seimbang. Kaum Muslimin yang jumlahnya
tidak lebih dari tujuh ratus orang dengan kaum Musyrikin yang jumlahnya lebih dari tiga ribu
tentara.
Anehnya fenomena ini oleh para musuh Islam dianalisis dengan bukti bahwa bangsa
Arab sejak dahulu selalu hidup dalam situasi peperangan dan pertempuran. Sehingga mereka
(orang-orang Arab) tumbuh dalam nuansa dan suasana itu. Oleh sebab itu, mereka (tua
ataupun muda) memandang peperangan sebagai sesuatu yang tidak perlu ditakutkan.
Tidak diragukan lagi bahwa analisis ini dengan sengaja tidak mau melihat dan
mencatat realitas desersi yang dilakukan oleh Abdullah bin Ubay bin Salul bersama tiga ratus
pengikutnya karena takut terhadap resiko peperangan , dan menginginkan keselematan

jiwanya. Juga tidak mau melihat kepada orang-orang yang ingin menikmati hasil panen kota
Madinah pada musim panas dan menolak seruan Rasulullah saw untuk berperang dengan
mengatakan :“Janganlah kalian berperang pada musim panas.“ Bahkan analisis tersebut sama
sekali tidak mau melihat jumlah mereka lebih banyak ketimbang kaum Muslimin, dan rasa
takut yang menghantui mereka padahal mereka adalah orang-orang Arab yang tumbuh,
sebagaimana istilah mereka, dibawah naungan peperangan.
Sulit sekali bagi orang yang bersikap objektif untuk menghindari satu aksioma yang
menegaskan bahwa munculnya kesiapan untuk menghadapi kematian seperti yang terlihat
pada fenomena anak-anak tersebut (Samurah bin Jundab dan Rafi‘ bin Khudaij) adalah karena
dorongan keimanan yang telah menguasai hatinya dan hasil mahabbah terhadap Rasulullah
saw. Bila iman dan mahabbah ini telah terbentuk maka kesiapan itu pasti akan muncul.
Sebaliknya , bila iman dan mahabbah itu tidak ada atau lemah maka jangan diharap kesiapan
tersebut akan muncul.
5.- Memperhatikan siasat peperangan yang diterapkan Rasulullah saw dalam peperangan ini
(terutama dalam menempatkan posisi pasukan pemanah yang bertugas mengawasi di atas
bukit, betapapun situasi yang terjadi) tampaklah :
Pertama,
Keahlian Rasulullah saw di bidang taktik dan strategi kemiliteran. Beliau adalah guru besar di
bidang strategi dan seni peperangan. Tidak diragukan lagi bahwa Allah swt telah membekali
keahlian yang langka ini kepada beliau. Tetapi perlu diingatkan bahwa kejeniusan dan
keahlian ini hanya berfungsi sebagai faktor pendukung Kenabidan dan Kerasulan yang
dibawanya. Kedudukan beliau sebagai seorang Nabi dan pembawa Risalah-lah yang menunut
agar beliau menjadi seorang yang jenius dan ahli di bidang kemiliteran, sebagaimana beliau
dituntut untuk menjadi seorang yang ma‘shum dari segala bentuk penyimpangan. Hal ini telah
dijelaskan pada bagian pertama dari buku ini, sehingga tidak perlu diulas kembali.
Kedua,
Bahwa pesan-pesan yang disampaikan Rasulullah saw kepada para sahabatnya yang sangat
erat dengan apa yang akan terjadi setelah itu, yaitu pelanggaran sebagian pasukan pemanah
terhadap perintah-perintah Nabi saw. Seolah-olah Nabi saw telah mengetahui apa yang akan
terjadi melalui firasat Kenabian atau Wahyu dari Allah swt, sehingga beliau perlu mewantiwanti
mereka dengan wasiat-wasiat dan berbagai perintah. Dengan demikian seolah-olah
beliau sedang melakukan suatu manuver yang hidup bersama para sahabatnya untuk melawan
musuh mereka yaitu hawa nafsu dengan segala ketamakannya kepad harta dan rampasan.
Suatu manuver betapapun , sangat bermanfaat. Hasil negatif dari suatu manuver mungkin saja
faedahnya lebih besar daripada hasil yang positif.
6.- Abu Dujanah setelah mengambil pedang dari tangan Rasulullah saw langsung berjalan
mengelilingi barisan kaum Muslimin dengan cara yang amat pongah, tetapi tindakan ini tidak
diingkari oleh Rasulullah saw. Beliau hanya berkomentar :
„Ini adalah gaya berjalan yang dimurkai Allah swt, kecuali di tempat seperti ini
(peperangan):“
Hal ini menunjukkan bahwa setiap bentuk kesombongan yang diharamkan dalam
situasi biasa, terhapus keharamannya dalam situasi perang. Di antara bentuk kesombongan
yang diharamkan kepada setiap Muslim ialah berjalan dengan cara sombong, tetapi hal
tersebut menjadi kebaikan di medan peperangan. Di antara bentuk kesombongan yang
diharamkan ialah menghias rumah atau bejana dengan emas dan perak. Tetapi menghiasi alat38
alat perang dan senjatanya dengan emas dan perak tidak dilarang. Kesombongan yang
ditampakkan di sini (dalam situasi perang) pada hakekatnya hanyalah merupakan ungkapan
kewibawaan Islam di hadapan musuh-musuhnya , di samping merupakan perang urat saraf
yang tidak boleh dilupakan fungsinya oleh kaum Muslimin.
7.- Jika kita perhatikan masa berlangsungnya peperangan antara kaum Muslimin dengan
musuh mereka di Uhud ini maka kita mendapat dua titik perhatian :
Pertama,
Di saat kaum Muslimin menjaga tempat-tempat mereka dan memelihara perintah-perintah
yang mereka terima dari penglima mereka (Nabi saw). Apa hasil dari komitmen ini ?
Kemenangan begitu cepat diraih kaum Muslimin sehingga tidak lama berhasil mengbrakabrik
barisan lawan. Rasa takut begitu cepat merayap ke dalam hati kaum Kafir yang
berjumlah tiga ribu itu sehingga mereka meninggalkan medan perang. Bagian inilah yang
dikomentari oleh ayat al-Quran :
„Dan sesungguhnya Allah swt, telah memenuhi janji-Nya kepada kamu, ketika kamu
membunuh mereka dengan ijin-Nya.“ QS Ali-Imran : 152
Kedua,
Di saat kaum Muslimin mengejar kaum Musyrikin untuk menumpas setiap orang yang
berhasil ditangkap dan mengambil barang-barang rampasan. Pada saat itulah para pasukan
pemanah melihat dari atas gunung saudara-saudara mereka menebaskan pedang kepada
musuh-musuh mereka yang lari meninggalkan medna pertempuran, dan kembali dengan
membawa harta dan barang rampasan. Lalu timbullah keinginan mereka untuk ikut
mengumpulkan barang rampasan. Keingina inilah yang mengusik pikiran mereka sehingga
timbullah anggapan bahwa masa berlakunya perintah-perintah yang diterima dari Rasulullah
saw itu telah berakhir, dan mereka merasa sudah tidak terikat lagi dengan pesan-pesan itu
serta tidak perlu lagi menunggu ijin dari Rasulullah saw untuk meninggalkan tempat mereka.
Kendatipun ijtihad mereka ini ditentang oleh sebagian temannya terutama Amir (komandan
regu) mereka, Abdullah bin Jubair, tetapi mereka tetap turun dan ikut mengambil barang
rampasan. Apakah akibat dari tindakkan ini?
Rasa takut sebelumnya menyelimuti hati kaum Musyrikin kini berubah menjadi suatu
keberanian baru! Khalid bin Walid yang tadinya lari menyurut pun kini mulai melihat peluang
dan pintu untuk melancarkan serangan. Ia mengamati tempat-tempat di sekitarnya. Akhirnya
ia mengetahui bahwa gunung yang semula dijaga dengan ketat kini telah ditinggalkan oleh
pasukan pemanah. Lalu muncullah ide-ide kemiliteran di dalam benaknya. Dan bersama
dengan pasukan Musyrikin Khalid bin Walid pun dengan cepat menyerbu ke atas gunung dan
berhasil membunuh beberapa orang pasukan pemanah yang tidak ikut turun, lalu mereka
dengan mudah menguasai medan dan melancarkan serangan balik menghujani panah kaum
Muslimin dari belakang. Kali ini giliran kaum Muslimin yang dicekam rasa takut seperti yang
telah kita ketahui. Bagian inilah yang dikomentari oleh Allah swt melalui firman-Nya :
„…sampai pada saat kamu lemah dan berselisih dalam urusan itu serta mendurhakai perintah
(Rasulullah saw) sesudah Allah swt memperlihatkan kepadamu apa yang kamu sukai. Di
antaramu ada orang yang menghendaki dunia dan apa pula yang menghendaki akherat.
Kemudian Allah swt memalingkan kamu dari mereka untuk menguji kamu ….“ QS Ali-Imran
: 152
Perhatikanlah ! Betapa berat resiko yang harus dihadapi akibat kesalahan besar
tersebut ? Betapa resikoitu menimpa semua personel kaum Muslimin !

Kesalahan yang dilakukan oleh beberapa orang di dalam pasukan kaum Muslimin
telah menimbulkan bencana tragis yang menimpa semua orang. Bahkan Rasulullah saw pun
tidak luput dari akibatnya. Itulah Sunnatullah yang berlaku di alam semesta ini. Keberadaan
Rasulullah saw di tengah-tengah pasukan itu pun tidak dapat menangkal keberlangsungan
Sunnatullah itu.
Sekarang bandingkanlah. Lebih besar mana antara kesalahan yang dilakukan oleh
beberapa orang (pasukan pemanah) tersebut dengan sekian kesalahan yang dilakukan oleh
kaum Muslimin pada hari ini, dalam berbagai aspek kehidupan kita, baik yang umum ataupun
yang khusus ? Renungkanlah semua ini, agar anda dapat menggambarkan betapa kasih sayang
Allah kepada kaum Muslimin , karena tidak menghancurkan mereka sekalipun mereka
melakukan berbagai kesalahan dan mengabaikan kewajiban amar ma'ruf nahi munkar dan
bersatu dalam satu Kalimat.
Dengan demikian, jelaslah bagi anda mengapa bangsa-bangsa Islam tidak berdaya
menghadapi negara-negara tiran yang tidak percaya kepada Allah swt.
8.- Dalam peperangan ini Nabi saw mengalami cedera dan luka parah. Terperosok ke dalam
lubang , bocor kepalanya, patah gigi, dan darahnya mengalir deras di wajahnya. Semua ini
merupakan salah satu akibat dari kesalahan tersebut. Kesalahan beberapa orang prajurit
karena melanggar perintah pimpinan. Tetapi apakah hikmah disebarluaskannya desas-desus
tentang kematina Rasulullah saw, di barisan kaum Muslimin ?
Jawabannya,
Sesungguhnya keterikatan kaum Muslimin dengan Rasulullah saw dan keberadaannya di
antara mereka sedemikain kuat, sehingga mereka tidak dapat membayangkan perpisahan
dengan Rasulullah saw. Kematian Rasulullah saw adalah sesuatu yang tidak pernah terlintas
dalam benak mereka. Seolah-olah mereka membuang jauh-jauh kenyataan ini dari pikiran
mereka. Tidak diragukan lagi seandainya berita kematian Rasulullah saw itu benar, niscaya
berita itu akan meremuk-redamkan hati mereka dan mengguncangkan keimanan mereka,
bahkan akan menimbulkan keguncangan jiwa yang demikian dasyat pada sebagian besar di
antara mereka.
Hikmah dari isu kematian Rasulullah saw, bahwa ia menjadi salah satu pengalaman
dan pelajaran kemiliteran yang sangat penting agar kaum Muslimin menyadari akan suatu
hakekat yang harus dihadapinya, sehingga mereka tidak kembali murtad apabila Rasulullah
saw harus meninggalkan mereka.
Demi untuk menjelaskan pelajaran penting ini maka diturunkanlah ayat al-Quran
sebagai komentar terhadap kelemahan dann keterkejutan yang menimpa kaum Musyrikin
ketika mendengar berita kematian Rasulullah saw. Firman Allah :
„Muhammad ini tidak lain hanyalah seorang Rasul. Sungguh sebelumnya telah berlalu
beberapa orang Rasul. Apakah jika dia wafat atau gugur dibunuh kamu berbalik kembali
(murtad) ? Siapa saja yang murtad maka dia sama sekali tidak dapat mendatangkan mudharat
kepada Allah sedikitpun, dan Allah kelak memberi balasan kepada orang-orang yang
bersyukur. QS Ali-Imran : 144
Hasil positif dari pelajaran ini tampak dengan jelas ketika Rasulullah saw benar-benar
meninggalkan mereka (wafat). Peristiwa (issu) Uhud inilah, dengan segenap ayat al-Quran
yang diturunkan menyusul issu tersebut, yang memperingatkan dan menyadarkan kaum

Muslimin kepada kenyataan ini, Sehingga mereka dengan berat hati dan rasa sedih telah siap
menerima kematian Rasulullah saw , dan memikul beban amanah yang ditinggalkannya :
Dakwah dann Jihad di jalan Allah swt. Mereka bangkit memikul amanah dengan keimanan
yang kokoh dann ketakwaan yang mantap kepada Allah swt.
9.- Mari kita renungkan kematian yang telah merengut nyawa para sahabat Rasulullah saw
demi membela dan menyelamatkan Rasulullah saw dari berondongan anak panah dan
lemparan batu. Satu demi satu, mereka berguguran di bawah hujan panah. Mereka berjuang
dengan semangat tinggi demi menjaga nyawa Rasulullah saw , tanpa menghiraukan resiko
yang ada … Dari manakah sumber pengorbanan yang menakjubkan ini ?
Kesemuanya ini tidak lain hanyalah bersumber dari :
Pertama,
Keimanan kepada Allah swt dan Rasul-Nya.
Kedua,
Kecintaan kepada Rasulullah saw keduanya itu merupakan sumber dan sebab munculnya
perngorbanan yang menakjubkan tersebut. Setiap Muslim sangat memerlukan kedua hal ini.
Tidaklah cukup seseorang mendakwakan diri beriman kepada masalah-masalah aqidah yang
harus diimani, sebelum hatinya jaga dipenuhi oleh cinta kepada Allah swt dan Rasul-Nya.
Oleh sebab itu Rasulullah saw bersabda :
„Tidaklah beriman seseorang di antara kamu, sehingga aku lebih dicintainya daripada
hartanya, anaknya, dan semua manusia.“ (HR Muttafa‘alaihi)
Ini karena Allah swt telah memberikan perangkat akal dan hati pada diri manusia.
Dengan akal , manusia dapat berpikir kemudian mengimani hal-hal yang wajib diimani.
Sedangkan dengan hati, manusia dapat mempergunakannya untuk mencintai hal-hal yang
dicintai Allah swt dan dan memenci hal-hal yang dibenci Allah swt, Rasul-Nya dan hambahamba-
Nya yang shalih, niscaya akan dipenuhi oleh cinta hawa nafsu dan hal-hal yang
diharamkan. Jika hati telah dipenuhi oleh cinta hawa nafsu dan kemungkaran maka janganlah
diharap bahwa keyakinan seseorang (yang tidak disertai oleh rasa cinta itu) akan dapat
menumbuhkan pengorbanan.
Seringkali dibicarakan tentang keinginan untuk menegakkan keutamaan (kebahagiaan)
berdasarkan akal semata-mata. Tetapi kokohnya landasan ini ? Inikah landasan yang baik ?
Sesungguhnya keutamaan, sebagaimana mereka katakan adalah sistem. Tetapi apakah
keyakinan terhadap sistem ini dapat mengatasi kebahagiaan saya yang bersifat khusus ?
Sebenarnya prinsip yang dikhayalkan itu tidak lain hanyalah sekedar permainan kata. Tidak
dalam kejahatanpun merupakan kecintaan kepada sistem dalam bentuk yang berlainan.
Oleh sebab itu pemerintah Amerika tidak dapat berpegang pada yang yang diyakini
sebagai sesuatu yang berfaedah pada saat mengumumkan pengharaman khaar dan pelarangan
penjualan di masyarakat pada tahun 1933. Karena, tidak lama setelah pelarangan tersebut para
pembuat keputusan itu sendiri yang memelopori pelanggaran undang-undang tersebut.
Mereka tidak seorang terhadap keputusan yang dibuatnya sendiri. Akhirnya mereka
menghapuskan kembali undang-undang itu dan kembali meneguk khamar dengan leluasa.
Sementara itu para sahabat Rasulullah saaw yang pada waktu itu secara peradaban
pengetahuan tentang berbagai bahaya dan faedah jauh di bawah orang-orang Amerika kini

begitu mendengar perintah Allah agar menjauhi khamar, seketika mereka langsung
menghancurkan botol-botol, guci-guci dan kantung-kantung penyimpangan khamar mereka
seraya berteriak :
„Kami berhenti ya Allah, kami berhenti!“
Perbedaan antara dua gambaran dan realitas ini sangat jelas. Pada masyarakat Muslim
ada sesuatu yang bersemayam di hatinya yang mengendalikan hawa nafsunya untuk
mengikuti perintah dan hukum Allah.
Kecintaan yang terdapat di dalam hati para sahabat Rasulullah saw inilah yang
membuat mereka bersedia menyerahkan nyawa mereka demi melindungi Rasulullah saw.
Dalam perang Uhud ini kita dapat menyaksikan berbagai pengorbanan yang menakjubkan
yang mengungkapkan pengaruh cinta ini di hati para sahabat.
Ibnu Hisyam meriwayatkan bahwa Nabi saw bersabda kepada para sahabatnya :
„Siapa di antara kalian yang bersedia mencari berita untukku tentang keadaan Sa‘ad bin Rabi
? Masihkah ia hidup atau sudah matikah ? Salah seorang Anshar menyatakan kesediaannya,
kemudian pergi mencari Sa‘ad bin Rabi. Akhirnya Sa‘ad ditemukan dalam keadaan luka
parah, sedang menanti datangnya ajal. Kepadanya orang Anshar itu memberitahu :“Aku
disuruh Rasulullah saw untuk mencari engkau, apakah engkau masih hidup atau telah mati…“
Sa‘ad menjawab :“ Beritahukan kepada beliau, bahwa aku sudah mati, dan sampaikanlah
salamku kepada beliau. Katakan kepada beliau, bahwa Sa‘ad bin Rabi menyampaikan ucapan
kepada anda (yakni Rasulullah saw ) : Semoga Allah swt melimpahkan kebajikan sebesarbesarnya
atas kepemimpinan anda sebagai seorang Nabi yang telah diberikan kepada
ummatnya ! Sampaikan juga salamku kepada pasukan Muslimin , dan beritahukan bahwa
Sa‘ad bin Rabi berkata kepada kalian :
„Allah tidak akan memaafkan kalian jika kalian meninggalkan Nabi saw, sedangkan masih
ada orang-orang hidup di antara kalian.“
Orang Anshar itu melanjutkan ceritanya :“Belum sampai kutinggalkan, Sa‘ad pun
wafat. Aku lalu segera menghadap Nabi saw dan kusampaikan kepada beliau pesan-pesannya.
Jika cinta seperti ini telah menyelinap dan bertahta di dalam hati setiap diri kaum
Muslimin pada hari ini, sehingga menjauhkan mereka dari syahwat dan egoisme mereka,
dapatlah saya katakan :“ Saat itulah kaum Muslimin akan tampil sebagai generasi baru dan
mampu merebut kemenangan merka dari benteng-benteng kematian, serta mengalahkan
musuh-musuh mereka betapapun rintangan yang harus dihadapinya.“
Jika anda bertanya tentang media untuk mencapai cinta ini, ketahuilah bahwa ia harus
dicapai melalui banyak melakukan dzikir dan shalawat kepada Rasulullah saw banyak
merenungkan tanda-tanda kekuasaan Allah swt dan nikmat-nikmat-Nya yang dilimpahkan
kepada kita, menghayati sirah Rasulullah saw dan akhlak-akhlaknya yang kesemuanya itu
dilakukan setelah kemantapan (istiqmah) dan ibadah secara khusyu‘ dan berkomunikasi
dengan Allah swt di setiap saat.
10.- Seperti disebutkan dalam riwayat Bukhari bahwa Nabi saw memerintahkan penguburan
mayat-mayar para Syuhada berikut bercak-bercak darah yang merekat pada mereka dan tanpa
menshalatkannya. Setiap satu kubur diisikan dua orang Syuhada.

Peristiwa ini dijadikan dalil oleh para ulama bahwa orang yang syahid dalam
pertempuran jihad tidak perlu dimandikan dan dishalatkan. Ia harus dikuburkan sebagaimana
adanya.
Imam Syafi‘I berkata :“Secara mutawatir hadits-hadits menyebutkan bahwa Nabi saw
tidak menshalatkan mereka (syuhadah). Adapun riwayat yang menyebutkan bahwa Nabi saw
menshalatinya (Hamzah) sebanyak tujuh puluh kali , adalah riwayat lemah dan keliru.“
Para Ulama juga berpendapat , berdasarkan peristiwa ini, bahwa apabila keadaan
dharurat maka dibolehkan penguburan lebih dari satu orang dalam satu kubur. Jika tidak
dharurat tidak dibolehkan.
11.- Kalau kita perhatikan apa yang dilakukan Rasulullah saw bersama para sahabatnya
setelah sehari tiba di Madinah (mengejar kembali musuh Musyrikin di Hamra‘ul Asad),
tampaklah kepada kita suatu pelajaran pertempuran Uhud secara jelas dan sempurna, di
samping tampak pula bagi kita masing-masing dari kedua hasilnya baik yang positif ataupun
yang negatif. Secara jelas dan pasti, terlihat bahwa kemenangan ini hanya bisa dicapai dengan
kesabaran, ketaatan kepada perintah-perintah pimpinan yang baik, dan tujuan yang murni
semata-mata demi agama.
Seperti telah kita ketahui, bahwa begitu Nabi saw mengumumkan agar pengejaran
musuh dilakukan , para sahabat yang kemarin ikut berperang serta merta berkumpul dan
melaksanakan tugas tanpa menghiraukan luka yang dideritanya bahkan belum ada yang
sempat beristirahat di rumahnya. Mereka segera berangkat mengikuti Rasulullah saw
mengejar kaum Musyrikin yang sedang dimabuk kemenangan. Pada kali ini tidak seorang pun
di antara kaum Muslimin yang memiliki ambisi untuk merebut ghanimah atau kepentingan
duniawi. Mereka hanya ingin mencapai kemenangan atau syahid di jalan Allah, walaupun
dengan berbalut luka yang masih mengucurkan darah.
Tetapi bagaimanakah hasilnya ?
Kemenangan yang baru saja dirayakan oleh kaum Musyrikin ini tidak mampu mereka
pertahankan atau lanjutkan, sebagaimana halnya luka parah yang diderita oleh kaum
Muslimin itu tidak menghalangi sama sekali untuk merebut kembali kemenangan.
Bagaimana jalan ke arah ini ? Jalannya ialah mukjizat Ilahi untuk menyempurnakan
pelajaran dan pembinaan kepada kaum Muslimin. Secara tiba-tiba hati kaum Musyrikin
merasa gentar karena membayangkan apa yang diceritakan oleh seorang kawan mereka
tentang kaum Msulimin, bahwa Muhammad dan para sahabatnya kali ini datang membawa
kematian untuk disebarkan di antara mereka, sehingga mereka pun lari tunggang langgang
kembali ke Mekkah dengan hati kecut.
Bagaimana rasa takut kepada kaum Muslimin ini dapat masuk ke dalam hati mereka ,
padahal mereka baru saja memukul mundur kaum Muslimin ? Hal ini terjadi semata-mata
karena kehendak Ilahi yang telah menjadikan peristiwa ini secara keseluruhan sebagai
pelajaran penting bagi kaum Muslimin, baik yang bersifat positif maupun negatif.
Sebagai penutup dan kelengkapan pelajaran Uhud, turunlah firman Allah :
„Orang-orang yang mentaati perintah Allah swt, dan Rasul-Nya setelah mereka mendapat
luka (dalam pertempuran Uhud) bagi orang-orang yang berbuat kebaikan di antara mereka
dan orang yang bertakwa ada pahala yang besar. (Yaitu) orang-orang yang kepada mereka ada

orang-orang yang mengatakan :“Sesungguhnya manusia telah mengumpulkan pasukan untuk
menyerang kamu, karena itu takutlah kepada mereka.“ Namun, justru perkataan itu
menambah keimanan mereka. Dan mereka menjawab :“ Cukuplah Allah swt menjadi
Penolong kami dan Allah swt adalah sebaik-baik Pelindung.“ Maka mereka kembali dengan
nikmat dan karunia yang besar dari Allah, mereka tidak mendapat bencana apa-apa , mereka
mengikuti keridhahan Allah swt. Dan Allah swt mempunyai karunia yang besar.“

QS Ali-Imran : 172-17