ASALAMU 'ALAIKUM WAROHMATULLOHI WABAROKATUH BLOG By MUH FAJAR HUDI APRIANTO @ MARI KITA GUNAKAN WAKTU KITA YANG TERSISA DENGAN SEBAIK MUNGKIN KARENA WAKTU KITA HANYA SEDIKIT AGAR KITA TIDAK TERMASUK ORANG ORANG YANG MERUGI mafa GUNAKAN WAKTU MUDAMU SEBELUM DATANG WAKTU TUAMU WAKTU SEHATMU SEBELUM DATANG WAKTU SAKITMU KAYAMU SEBELUM TIBA MISKIN WAKTU LAPANGMU SEBELUM TIBA WAKTU SEMPITMU DAN GUNAKAN WAKTU HIDUPMU SEBELUM TIBA MATIMU pesan nabi
Tampilkan postingan dengan label KHUTBAH. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label KHUTBAH. Tampilkan semua postingan

Senin, 17 November 2025

Pentingnya Agama Islam dalam Kehidupan

 


Pentingnya Agama Islam dalam Kehidupan  

Segala puji bagi Allah SWT yang telah memberikan kita nikmat iman dan Islam. Shalawat serta salam semoga tercurah kepada Nabi Muhammad SAW, keluarga, sahabat, dan seluruh umatnya hingga akhir zaman. Di era digital ini peranan agama semakin tergerus dan menghadapi tantangan yang berat apalagi bagi generasi milenial dan Gen Z yang sadar maupun tak sadar terpapar dengan virus pemikiran yang menyeret mereka pada satu pemahaman yang salah terhadap agama khususnya Islam ada yang terseret pada nativisasi, sekulerisme bahkan sampai pada agnostic dan ateisme.

Menurut penelitian lembaga surve prosentasi penganut agnostic dan ateisme itu meningkat di Eropa dan Asia, termasuk juga di Indonesia.  Meningkatnya ateisme di Indonesia tidak dapat dipastikan dengan data yang pasti karena stigma sosial dan kewajiban mencantumkan agama di dokumen resmi. Namun, ada indikasi peningkatan melalui survey yang menunjukkan sebagian pemuda mungkin tidak lagi memiliki keyakinan agama ‘warisan’, dipicu oleh kekecewaan terhadap praktik keagamaan yang dogmatis, ketidaksesuaian antara ajaran dan perilaku pemuka agama, serta pengaruh internet yang memudahkan orang menemukan komunitas sehaluan.

Pengertian. Ateis adalah orang yang tidak percaya akan keberadaan Tuhan, sedangkan agnostik adalah orang yang tidak tahu dan berpendapat bahwa keberadaan Tuhan tidak dapat diketahui. Perbedaannya terletak pada klaim pengetahuan: ateis mengklaim bahwa Tuhan tidak ada, sementara agnostik menyatakan bahwa tidak ada cukup bukti untuk mengetahui secara pasti apakah Tuhan ada atau tidak

Penyebab yang mungkin memicu peningkatan ateisme

-Kekecewaan terhadap pemuka agama: Beberapa pemuda merasa kecewa dengan perilaku pemuka agama yang dianggap tidak mencerminkan ajaran welas asih atau malah menampilkan sikap kaku dan dogmatis.

-Pola pendidikan agama yang dogmatis: Pola pendidikan agama yang terlalu keras dan dogmatis dari orang tua dapat mendorong anak menjadi tidak simpatik dengan agama, bahkan menentangnya.

-Dampak internet: Perkembangan internet memungkinkan orang untuk terhubung dengan komunitas daring yang memiliki pandangan serupa, baik itu agnostik maupun ateis. Internet dan media sosial memberikan akses ke berbagai gagasan, ide-ide kritis, dan informasi tentang pandangan agama yang berbeda, yang bisa mengarah pada penurunan keyakinan agama.

-Pengaruh kasus kekerasan atas nama agama: Pemberitaan tentang kasus-kasus kekerasan yang mengatasnamakan agama dapat memicu pandangan negatif terhadap agama secara umum.

-Kesenjangan ekonomi dan ketidakadilan: Kesenjangan ekonomi dan perasaan tidak adil dapat mendorong sebagian orang untuk percaya bahwa masalah sosial dan keadilan adalah ciptaan manusia, bukan actor ilahi.

-Pendidikan dan sains: Pendidikan yang lebih tinggi dan pengenalan terhadap teori ilmiah seperti evolusi dan Big Bang cenderung membentuk pandangan dunia yang lebih sekuler.

-Nilai-nilai liberal: Munculnya nilai-nilai yang lebih liberal seperti kebebasan pribadi dan empirisme di berbagai negara juga berkontribusi pada pergeseran keyakinan.

Tantangan yang dihadapi

-Stigma sosial yang kuat: Di Indonesia, menjadi ateis sangat tidak umum dan mendapat stigma negatif yang besar dari masyarakat.

-Kewajiban mencantumkan agama: KTP dan dokumen administratif lainnya mewajibkan warga negara untuk mencantumkan salah satu dari enam agama yang diakui negara, yang mempersulit pengakuan resmi bagi penganut ateisme.

-Persekusi hukum: Ada undang-undang yang dapat menjerat seseorang yang dianggap menghasut orang lain untuk tidak beragama, sebagaimana dialami oleh Alexander Aan di masa lalu.

Meskipun sulit mengukur peningkatan jumlah ateis di Indonesia karena faktor-faktor di atas, tren global menunjukkan peningkatan jumlah generasi muda yang meninggalkan agama warisan, meskipun Indonesia memiliki tingkat keyakinan agama yang relatif tinggi berdasarkan survei tertentu. berikut beberapa hal yang menunjukkan pentingnya kedudukan agama (dienul Islam)

1. Agama sebagai Pedoman Hidup

Agama bukan sekadar ritual, tetapi merupakan sistem nilai yang membimbing kita dalam menjalani kehidupan. Dalam setiap aspek—baik pribadi, sosial, maupun spiritual—agama hadir sebagai kompas moral yang menunjukkan arah kebaikan.

Tanpa agama, manusia mudah terombang-ambing oleh hawa nafsu dan godaan dunia. Agama mengajarkan kita untuk jujur, amanah, sabar, dan bertanggung jawab. Nilai-nilai ini menjadi fondasi dalam membentuk karakter yang mulia.

Artinya: Dan apabila kamu tidak membawa suatu ayat Al Quran kepada mereka, mereka berkata: "Mengapa tidak kamu buat sendiri ayat itu?" Katakanlah: "Sesungguhnya aku hanya mengikut apa yang diwahyukan dari Tuhanku kepadaku. Al Quran ini adalah bukti-bukti yang nyata dari Tuhanmu, petunjuk dan rahmat bagi orang-orang yang beriman".

2. Agama Memberi Ketenangan Batin

Di tengah hiruk-pikuk dunia, banyak orang mencari ketenangan. Namun, ketenangan sejati tidak datang dari harta atau jabatan, melainkan dari kedekatan dengan Tuhan. Dalam Al-Qur’an disebutkan:

"Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram." (QS. Ar-Ra’d: 28)

Ketika kita berserah diri kepada Tuhan, kita merasa lebih ringan menghadapi ujian hidup. Doa dan ibadah menjadi sumber kekuatan batin yang luar biasa.

Jepang mencatat jumlah kasus bunuh diri tertinggi di kalangan pelajar pada tahun 2024, menurut data terbaru dari Kementerian Kesehatan yang dirilis pada Rabu (29/1/2025).

Angka kasus bunuh diri di kalangan siswa sekolah dasar hingga sekolah menengah meningkat menjadi 527 kasus, naik dari 513 kasus pada tahun sebelumnya.

Meskipun demikian, jumlah keseluruhan kasus bunuh diri di Jepang mengalami penurunan 7,2 persen menjadi 20.268 kasus, jauh lebih rendah dibandingkan puncaknya pada 2003 yang mencapai 34.427 kasus.

3. Agama Menumbuhkan Solidaritas Sosial

Agama mengajarkan kita untuk peduli terhadap sesama. Dalam Islam, misalnya, zakat dan sedekah bukan hanya ibadah, tapi juga bentuk kepedulian sosial. Kita diajarkan untuk membantu yang lemah, menyantuni yatim, dan menjaga silaturahmi.

Agama juga mendorong toleransi antar umat. Meski berbeda keyakinan, kita diajarkan untuk saling menghormati dan hidup berdampingan dengan damai.

4. Agama Inspirasi  Ilmu Pengetahuan

Agama tidak bertentangan dengan ilmu. Justru, banyak ayat dalam kitab suci yang mendorong kita untuk berpikir, belajar, dan meneliti. Dalam sejarah, banyak ilmuwan besar yang lahir dari lingkungan religius dan menjadikan ilmu sebagai bentuk ibadah.

“Dan perumpamaan-perumpamaan ini Kami buat untuk manusia; dan tiada yang memahaminya kecuali orang-orang yang berilmu.” (QS. Al-Ankabut :43)

Jama’ah Jum’ah yang dirahmati Allah, Agama adalah cahaya dalam kegelapan, penuntun dalam kebingungan, dan pelipur dalam kesedihan. Islam  menekankan kewajiban dan keutamaan menuntut ilmu, baik agama maupun dunia, dengan landasan utama dari Al-Qur'an (seperti QS. Al-'Alaq 1-5 dan QS. At-Taubah 122) dan hadis (seperti hadis Muslim dan Tirmidzi). Islam memandang ilmu sebagai kunci kebaikan, mengangkat derajat orang berilmu, memudahkan jalan menuju surga, dan memberikan kebaikan dunia akhirat. Kita tengok iptek bersinar di era Andalusia dan Abbasiyah banyak ilmuwan islam menguasai dalam semua disiplin ilmu

5. Mengetahui Makna Hidup dalam Perspektif Islam

Dalam Islam, hidup bukanlah sekadar menjalani rutinitas harian atau mengejar kesenangan dunia semata. Allah SWT berfirman: “Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku.” (QS. Az-Zariyat: 56)

Ayat ini menunjukkan bahwa inti dari makna hidup seorang muslim adalah untuk beribadah kepada Allah. Namun, ibadah dalam Islam tidak terbatas hanya pada ritual seperti salat dan puasa. Setiap aspek kehidupan seperti bekerja, belajar, berkeluarga, bahkan bersosialisasi bisa menjadi bentuk ibadah jika diniatkan karena Allah.

6. Agama adalah Nasihat. Bahwa dalam dinul islam kita diajari bagaimana kita merespon sebuah keadaan yang menimpa kita ketika sedih agama perintahkan sabar, kitika senagng bersukur ketika marah, tertimpa ujian bagaimana agama menyediakan cara /meresponnya dengan cara terbaik.

“Agama itu adalah nasihat, agama itu adalah nasihat, agama itu adalah nasihat. Mereka (para Sahabat) bertanya: ‘Untuk siapa, wahai Rasulullah?’ Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab: ‘Untuk Allah, Kitab-Nya, Rasul-Nya, Imam kaum Muslimin atau Mukminin, dan bagi kaum Muslimin pada umumnya.

Selasa, 07 Maret 2023

Sejarah Puasa dan Khutbah Rosululloh menjelang Ramadhan

 Sejarah Puasa dan Khutbah Rosululloh menjelang Ramadhan Syukur

 Alhamdulilah kepada Alloh  dan Sholawat serta salam tercurah kepada  Nabi Muhammad Saw, shahabat dan para pengikutnya

Sejarah Puasa Ramadhan pertama kali diwajibkan oleh Allah Swt untuk umat Islam terjadi pada tahun kedua Hijriyah. Menurut ulama ada yang berpendapat hari senin tanggal 2 sya’ban  Pada waktu itu, Rasulullah SAW baru menerima perintah memindahkan arah kiblat dari Baitul Maqdis di Palestina ke arah Masjidil Haram di Makkah. Berarti selama 15 tahun belum diwajibkan puasa ramadan. Lalu kapan pelaksanaannya maka dijelaskan dalam ayat selanjutnya 2;185 di bulan romadon, sahru romadona….

Imam At-Thobari dalam Jami’ Al-Bayan menuliskan bahwa Muadz bin Jabal ra berkata: Ketika Rasulullah saw datang ke Mekkah maka puasa yang dilakukan oleh beliau adalah puasa Asyura dan puasa tiga hari pada setiap bulannya, hingga akhirnya Allah mewajibkan puasa Ramadhan, dan Allah menurunkan ayat-Nya:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

“Wahai orang yang beriman, diwajibkan kepadamu berpuasa sebagaiman telah diwajibkan kepada umat sebelummu agar kamu bertaqwa.” (QS Al-Baqarah : 183).

شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِيْٓ اُنْزِلَ فِيْهِ الْقُرْاٰنُ

Artinya: Bulan Ramadan adalah (bulan) yang di dalamnya diturunkan Al-Qur'an, ( 2; 185 )

Jadi Alloh memerintahkan puasa yang berat itu melalui proses 15 th setelah iman kaum muslimin sudah kokoh dan lurus sehingga saat diperintah tidak merasa terbebani karena puasa itu tiak mudah dilalakukan tidak sekedar bias melalukan tapi terasa lapang dan senang ketika datangnya Ramadan, agar bisa menikmati Ramadan harus cinta sehingga ketika Ramadan berlalu merasa kehilangan itulah yang diinginkan Alloh dan Rosulnya.  Alloh memotivasi dengan menyebutkan bahwa yg puasa bukan sekedar kamu tapi umat terdahulun juga berpuasa sehngga di bulan sya’ban rosululloh memberikan motivasi yang luar biasa dengan menyebutkan keutamaan bulan suci Ramadan agar dalam menjalaninya dengan lapang / marhab dan penuh keikhlasan.

Rasulullah Shallalhu ‘Alaihi Wasallam pada akhir bulan Sya’ban atau menjelang masuknya bulan suci Ramadhan, pernah memberikan khutbah atau nasihat di hadapan para shahabatnya. Rasulullah pada kesempatan tersebut menjelaskan tentang keutamaan dan keistimewaan bulan suci Ramadan. Khutbah atau nasihat pada akhir Sya’ban Rasulullah Shallalhu ‘Alaihi Wasallam tersebut sebagai berikut:

أَيُّهَا النَّاسُ قَدْ أَظَلَّكُمْ شَهْرٌ عَظِيْمٌ، شَهْرٌ مُبَارَكٌ، شَهْرٌ فِيْهِ لَيْلَةٌ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ، جَعَلَ اللهُ صِيَامَهُ فَرِيْضَةً، وَقِيَامَ لَيْلِهِ تَطَوُّعًا،

مَنْ تَقَرَّبَ فِيْهِ بِخِصْلَةٍ مِنَ الْخَيْرِ، كَانَ كَمَنْ أَدَّى فَرِيْضَةً فِيْمَا سِوَاهُ، وَمَنْ أَدَّى فِيْهِ فَرِيْضَةً كَانَ كَمَنْ أَدَّى سَبْعِيْنَ فَرِيْضَة فِيْمَا سِوَاهُ،

وَهُوَ شَهْرُ الصَّبْرِ، وَالصَّبْرُ ثَوَابُهُ الْجَنَّةُ، وَشَهْرُ الْمُوَاسَاةِ، وَشَهْرٌ يَزْدَادُ فِيْهِ رِزْقُ الْمُؤْمِنِ، مَنْ فَطَّرَ فِيْهِ صَائِمًا كَانَ مَغْفِرَةً لِذُنُوْبِهِ، وَعِتْقَ رَقَبَتِهِ مِنَ النَّارِ، وَكَانَ لَهُ مِثْلَ أَجْرِهِ مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْتَقِصَ مِنْ أَجْرِهِ شَيْءٌ،

قَالُوْا: لَيْسَ كُلُّنَا نَجِدُ مَا يفطرُ الصَّائِمُ. فَقَالَ : يُعْطِي اللهُ هَذَا الثَّوَابَ مَنْ فَطَّرَ صَائِمًا عَلَى تَمْرَةٍ أَوْ شَرْبَةَ مَاءٍ أَوْ مَذقَةَ لَبَنٍ،

وَهُوَ شَهْرٌ أَوَّلُهُ رَحْمَةٌ، وَأَوْسَطُهُ مَغْفِرَةٌ، وَآخِرُهُ عِتْقٌ مِنَ النَّارِ، مَنْ خَفَّفَ عَنْ مَمْلُوْكِهِ غَفَرَ اللهُ لَهُ، وَأَعْتَقَهُ مِنَ النَّارِ،

وَاسْتَكْثِرُوْا فِيْهِ مِنْ أَرْبَعِ خِصَالٍ، : خِصْلَتَيْنِ تَرْضْوَنِ بِهِمَا رَبَّكُمْ، وَخِصْلَتَيْنِ لَا غِنًى بِكُمْ عَنْهُمَا، فَأَمَّا الْخِصْلَتَانِ اللَّتَانِ تَرْضَوْنَ بِهِمَا رَبَّكُمْ فَشَهَادَةُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَتَسْتَغْفِرُوْنَهُ، وَأَمَّا اللَّتَانِ لَا غِنَى بِكُمْ عَنْهُمَا فَتَسْأَلُوْنَ اللهَ الْجَنَّةَ وَ تَعُوْذُوْنَ بِهِ مِنَ النَّارِ، وَمَنْ أَشْبَعَ فِيْهِ صَائِمًا سَقَاهُ اللهُ مِنْ حَوْضِيْ شَرْبَةً لَا يَظْمَأُ حَتَّى يَدْخُلَ الْجَنَّةَ.

Artinya: ”Wahai manusia, sungguh telah dekat kepadamu bulan yang agung, bulan yang penuh dengan keberkahan, yang di dalamnya terdapat satu malam yang lebih baik (nilainya) dari seribu bulan, bulan yang mana Allah tetapkan puasa di siang harinya sebagai fardhu, dan shalat (tarawih) di malamnya sebagai tambahan.

Barang siapa mendekatkan diri kepada Allah di bulan ini dengan satu kebaikan (amalan sunnah), maka pahalanya seperti dia melakukan amalan fardhu di bulan-bulan yang lain. Barangsiapa melakukan amalan fardhu di bulan ini, maka pahalanya seperti telah melakukan 70 amalan fardhu di bulan lainnya.

Inilah bulan kesabaran dan balasan atas kesabaran adalah surga, bulan ini merupakan bulan kedermawanan dan simpati (satu rasa) terhadap sesama. Dan bulan di mana rizki orang-orang yang beriman ditambah. Barang siapa memberi makan (untuk berbuka) orang yang berpuasa maka baginya pengampunan atas dosa-dosanya dan dibebaskan dari api neraka dan dia mendapatkan pahala yang sama sebagaimana yang berpuasa tanpa mengurangi sedikitpun pahala orang yang berpuasa .

Mereka (para sahabat) berkata : “Wahai Rasulullah! tidak semua dari kami mempunyai sesuatu yang bisa diberikan kepada orang yang berpuasa untuk berbuka.”

Rasulullah menjawab: “Allah akan memberikan pahala ini kepada orang yang memberi buka puasa walaupun dengan sebiji kurma, atau seteguk air, atau setetes susu”.

Inilah bulan yang permulaannya (sepuluh hari pertama) Allah menurunkan rahmat, yang pertengahannya (sepuluh hari pertengahan) Allah memberikan ampunan, dan yang terakhirnya (sepuluh hari terakhir) Allah membebaskan hamba-Nya dari api neraka . Barangsiapa yang meringankan hamba sahayanya di bulan ini, maka Allah akan mengampuninya dan membebaskannya dari api neraka.

Dan perbanyaklah melakukan empat hal di bulan ini, yang dua hal dapat mendatangkan keridhaan Tuhanmu, dan yang dua hal kamu pasti memerlukannya. Dua hal yang mendatangkan keridhaan Allah yaitu syahadah (Laailaaha illallaah) dan beristighfar kepada Allah, dan dua hal yang pasti kalian memerlukannya yaitu mohonlah kepada-Nya untuk masuk surga dan berlindung kepada-Nya dari api neraka . Dan barang siapa memberi minum kepada orang yang berpuasa (untuk berbuka), maka Allah akan memberinya minum dari telagaku, di mana dengan sekali minum ia tidak akan merasakan haus sehingga ia memasuki surga“.

(H.R. Ibnu Khuzaimah dalam Shahihnya, dan Imam Al-Mundziri dalam At-Targhib wat Tarhib mengatakan: “Hadits ini diriwayatkan oleh Ibnu Khuzaimah dalam Shahihnya, dan Ibnu Khuzaimah berkata: “Khabar ini shahih”. Juga diriwayatkan oleh Imam Baihaki, dan Ibnu Hibban”. Sedangkan Syaikh AL-Albany menilai hadits ini sebagai Hadits Dhaif sebagaimana dalam bukunya, Dha’if at-Targhib wat Tarhib).

Ulama menyebutkan, hadits ini memang riwayatnya dha’if (lemah). Namun diriwayatkan lebih dari 25 riwayat, dan pada makna-makna kalimatnya didukung oleh hadits-hadits shahih. Maka pada hakikatnya meskipun hadits ini riwayatnya dha’if, tapi merupakan perpaduan hadits-hadits shahih yang terpecah.

Dalam riwayat lain nabi bersabda : “Bertaubatlah kepada-Nya dari dosa-dosa, angkatlah kedua tangan kalian untuk berdoa di waktu-waktu shalat; karena pada saat-saat itu adalah waktu yang paling utama; Allah akan melihat para hamba-Nya pada waktu itu dengan kasih sayang, menjawab mereka jika bermunajat kepada-Nya, memenuhi (panggilan) mereka jika memanggil-Nya, dan mengabulkan mereka jika memohon-Nya.

“Wahai manusia, sesungguhnya diri kalian tergadaikan oleh amal perbuatan kalian, maka bebaskanlah ia dengan istighfar; dan pundak kalian terbebani oleh dosa-dosa kalian, maka ringankanlah dosa-dosa itu dengan panjangnya sujud. Dan ketahuilah bahwa Allah menyebut dirinya telah bersumpah demi kemuliaan-Nya untuk tidak menyiksa orang-orang yang melakukan shalat dan bersujud, dan tidak menakut-nakuti mereka dengan api neraka ketika semua manusia bangkit menghadap Tuhan semesta alam.

Kandungan Khutbah bulan Sya’ban menyambut Ramadhan

Jika disimpulkan ,butir-butir pesan dalam khutbah akhir Sya’ban Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, dapat disebutkan sebagai berikut:

Pertama, keberkahan bulan Ramadhan dengan dilipatgandakannya semua pahala amal kebaikan, terutama pada malam Lailatul Qadar, yang lebih baik daripada seribu bulan.

Bulan Berkah. Ramadhan adalah bulan yang menaburkan berkah. Berkah adalah kelebihan manfaat di atas manfaat yang biasa. Berkah adalah bonus Bila Rp 100.000,00 yang Anda peroleh Anda habiskan untuk berfoya-foya sendirian, uang Anda tidak mengandung berkah. Bila dengan uang yang sama Anda mengobati orang yang sakit, membayar utang orang yang berutang, memberi makan pada orang yang lapar, memberi pakaian pada orang telanjang, maka uang Anda adalah uang yang penuh berkah. Bila air minum itu selain melepaskan dahaga juga menyembuhkan sakit Anda, maka air minum itu mengandung berkah.

Kedua, bulan Ramadhan adalah bulan kesabaran dan kedermawanan.

Pada bulan Ramadan nabi Muhammad pemurah seperti angina yang berhembus dan bulan ini disebut juga syahrus sabru yaitu bulan melatih dan meningkatkan kesabaran karena intu puasa adalah menahan hawa nafsu.

Ketiga, bulan Ramadhan adalah bulan rahmat, ampunan, dan pembebasan dari api neraka.

Nabi Saw menyebut bulan ini bulan rahmat (kasih sayang), karena pada bulan ini kita menajamkan kembali rasa sayang kita. Kita dianjurkan menyayangi anak yatim, karena mereka adalah anak anak yang telah kehilangan kasih sayang. Kita diperintahkan untuk mengasihi orang-orang muda, supaya mereka tidak mencari kasih sayang di tempat­-tempat yang terlarang. Kita diimbau untuk menyantuni saudara-saudara yang lemah, fakir miskin dan para pekerja yang berada di bawah tanggungan kita. Bulan Ramadhan adalah bulan solidaritas sosial. Di tengah-tengah masyarakat yang sudah gersang dengan rasa kasih, ramadhan hadir untuk meniupkan rahmat.

Keempat, bulan Ramadhan adalah bulan pengabulan doa.

Wahai manusia, sesungguhnya pada bulan ini pintu-pintu surga terbuka. Maka memohonlah kepada Tuhan kalian agar tidak menutupnya bagi kalian, pintu-pintu neraka tertutup, maka mintalah kepada Tuhan kalian agar tidak membukanya atas kalian, dan tangan-tangan para setan terbelenggu, maka mohonlah kepada Tuhan kalian sehingga mereka tidak dapat menguasai kalian…”

Ali bin Abi Thalib berkata: `Aku berdiri dan berkata: Ya Rasul Allah, amal apa yang paling utama di bulan ini?” Nabi menjawab: “Ya Abal Hasan! Amal yang paling utama di bulan ini adalah menjaga dari apa yang diharamkan Allah.”

Kelima, anjuran memperbanyak empat hal di bulan ini, yang dua hal dapat mendatangkan keridhaan Tuhanmu, dan yang dua hal kamu pasti memerlukannya. Dua hal yang mendatangkan keridhaan Allah yaitu syahadah (Laailaaha illallaah) dan beristighfar kepada Allah, dan dua hal yang pasti kalian memerlukannya yaitu mohonlah kepada-Nya untuk masuk surga dan berlindung kepada-Nya dari api neraka. Shahadah berarti kita harus meneguhkan ketauhidan kita kepada Alloh agar jangan mensekutukanNya dengan apapun.

Beristigfar pada bulan ramadhan, karena Allah membukakan pintu taubat dan ampunan. Pada bulan inilah kita menemukan saat yang paling tepat; ketika kita tersungkur di hadapan Allah, merintih memohonkan ampunan-Nya. Punggung kita yang telah sarat dengan dosa kita ringankan dengan memperpanjang sujud kita. Disini kita membebaskan diri kita dari pasungan dosa dengan memperbanyak istighfar.

Karena itu diantara wirid yang harus kita biasakan di bulan Ramadhan adalah istighfar: Ya Allah, Engkau Maha Pengampun dan Maha Mulia. Ampuni aku. Innaka ‘afuwwun karim, tuhibbul ‘afwa fa’fu ‘anni.

Jumat, 07 Mei 2021

Alqur’an sebagai Hudan, Bayyan dan Furqon

 

Alqur’an sebagai Hudan, Bayyan dan Furqon

Syukur Alhamdulilah semoga selalu kita haturkan kehadirot Alloh Swt, sholawat dan salam selalu tercurahkan kepada nabi muhammad saw . bulan romadon bulan yang mulia dan istimewa salahsatunya diturumkan alqur’an dibulan romadon ini.4

185.  (beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil). Karena itu, barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, Maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu, dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), Maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur.

Lafadz Hudal linnaasi wa bayyinaatim minal Hudaa wal furqaan (“Sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda [antara yang hak dan yang batil].”) Ini merupakan pujian bagi al-Qur’an yang diturunkan sebagai petunjuk bagi hati para hamba-Nya yang beriman, membenarkan, dan mengikutinya.

Wa bayyinaatin (“Dan penjelasan penjelasan.”) Yaitu Sebagai dalil dan hujjah yang nyata dan jelas bagi orang yang memahami dan memperhatikannya. Hal ini menunjukkan kebenaran ajaran yang dibawanya, berupa petunjuk yang menentang kesesatan dan bimbingan yang melawan penyimpangan, serta pembeda antara yang hak dan yang batil, yang halal dan yang haram.

Dibulan romadon ini semangat membaca alquran luar biasa , hanya saja yang di maui Alloh tidak sekedar membaca tapi memahaminya agar fungsi alquran sebagai petunjuk, penjelas dan pembeda itu dapat terwujud/teraplikasikan. Alquran itu harus jadi way of life, menkadi cara panang Islamic world view sehingga yang muncul adalah amal yang qurani pemikiran yang qurani ,kebijakan dan karya yang islami.

Menurut para ulama tafsir alquran ini sepertiganya adalah sejarah, Marilah kita lihat sejarah orang orang terdahulu dalam alquran yang dijadikan panduan nabi muhammad dan para sahabat dalam mengambil keputusan dan meningkatkan keteguhan imannya misalkan kisah mus’ab bin umair, umar bin khotab, bilal bin rabbah, kisah nabi muhammad saat fathu makah dan perang hunain, Andalusia , konstantinopel dll.

Alquran membentuk sifat zuhud / sederhana

Mush'ab bin Umair salah seorang diantara para sahabat Nabi. Ia seorang remaja Quraisy terkemuka, gagah dan tampan, penuh dengan jiwa dan semangat kemudaan.  Para ahli sejarah melukiskan semangat kemudaannya dengan kalimat: "Seorang warga kota Makkah yang mempunyai nama paling harum."

Mush'ab lahir dan dibesarkan dalam kesenangan, dan tumbuh dalam lingkungannya. Mungkin tak seorang pun di antara anak-anak muda Makkah yang beruntung dimanjakan oleh kedua orang tuanya sebagaimana yang dialami Mush'ab bin Umair.

Mungkinkah kiranya anak muda yang serba kecukupan, biasa hidup mewah dan manja, menjadi buah-bibir gadis-gadis Makkah dan menjadi bintang di tempat-tempat pertemuan, akan meningkat menjadi tamsil dalam semangat kepahlawanan?

Suatu hari, anak muda ini mendengar berita yang telah tersebar luas di kalangan warga Makkah mengenai Muhammad Al-Amin, yang mengatakan dirinya telah diutus Allah sebagai pembawa berita suka maupun duka, sebagai dai yang mengajak umat beribadah kepada Allah Yang Maha Esa.

Di antara berita yang didengarnya ialah bahwa Rasulullah bersama pengikutnya biasa mengadakan pertemuan di suatu tempat yang terhindar jauh dari gangguan gerombolan Quraisy dan ancaman-ancamannya, yaitu di bukit Shafa di rumah Arqam bin Abil Arqam.

Maka pada suatu senja, didorong oleh kerinduannya, pergilah ia ke rumah Arqam menyertai rombongan itu. Di tempat itu Rasulullah SAW sering berkumpul dengan para sahabatnya, mengajarkan mereka ayat-ayat Alquran dan mengajak mereka beribadah kepada Allah Yang Maha Akbar.

Baru saja Mush'ab mengambil tempat duduknya, ayat-ayat Alqur'an mulai mengalir dari kalbu Rasulullah bergema melalui kedua bibirnya dan sampai ke telinga, meresap di hati para pendengar. Di senja itu Mush'ab pun terpesona oleh untaian kalimat Rasulullah yang tepat menemui sasaran di kalbunya.

Khunas binti Malik yakni ibunda Mush'ab, adalah seorang yang berkepribadian kuat dan pendiriannya tak dapat ditawar atau diganggu gugat, Ia wanita yang disegani bahkan ditakuti. Ketika Mush'ab memeluk Islam, tiada satu kekuatan pun yang ditakuti dan dikhawatirkannya selain ibunya sendiri

Pada Suatu hari ia tampil di hadapan beberapa orang Muslimin yang sedang duduk sekeliling Rasulullah SAW. Demi memandang Mush'ab, mereka menundukkan kepala dan memejamkan mata, sementara beberapa orang matanya basah karena duka. Mereka melihat Mush'ab memakai jubah usang yang bertambal-tambal, padahal belum lagi hilang dari ingatan mereka—pakaiannya sebelum masuk Islam—tak ubahnya bagaikan kembang di taman, berwarna-warni dan menghamburkan bau yang wangi.

Adapun Rasulullah, menatapnya dengan pandangan penuh arti, disertai cinta kasih dan syukur dalam hati. Pada kedua bibirnya tersungging senyuman mulia, seraya berkata, "Dahulu aku lihat Mush'ab ini tak ada yang mengimbangi dalam memperoleh kesenangan dari orang tuanya, kemudian ditinggalkannya semua itu demi cintanya kepada Allah dan Rasul-Nya."

Perintah hijrah diawali kisah ashabul kahfi

Kisah ashabul kahfi menceritakan bahwa, pemuda-pemuda tersebut lari dari fitnah yang sudah merajalela di lingkungannya. Kemudian mereka bersembunyi dalam goa yang gelap nan lembab.

Ketujuh pria tersebut berdoa kepada Rabb-nya agar diberikan perlindungan dari fitnah dan tidak kepercayaan kaumnya terhadap hari akhir. Sampai akhirnya Allah SWT membiarkan mereka tertidur lelap dalam waktu yang sangat lama.

Selama mereka tertidur, tempat dan situasi lingkungannya berubah seiring waktu. Mereka tertidur dengan keimanan di dalam diri mereka. Allah juga menjaga jasad mereka secara utuh, tanpa kurang dan rusak satu pun…jika iman terancam maka hijrahlah seperti 7 pemuda itu

Kisah Si Kaya dan Si Miskin (Pemilik Dua Kebun: Surat Al-Kahfi 32-44)

Alquran mengisahkan tentang dua orang lelaki di zaman dulu. Keduanya bersahabat. Yang satu beriman. Dan temannya ingkar. Alquran tak menerangkan siapa mereka. Namanya. Di zaman siapa mereka hidup. Dimana tempat mereka hidup. Semua disamarkan. Jadi, kita tak tahu siapa mereka. dimana mereka hidup. Dan di zaman apa mereka ada.. Orang yang beriman dalam kisah ini, Allah uji dengan kesempitan hidup. Sedikit rezeki, harta, dan barang yang ia miliki. Tapi Allah memberinya nikmat terbesar, yaitu nikmat iman, yakin, dan ridha dengan takdir Allah. Serta berharap surga yang ada di sisi-Nya. Nikmat ini lebih utama dari harta dan materi yang fana.

Temannya yang ingkar, Allah uji dengan kelapangan rezeki. Kemudahan duniawi. Dan Allah beri untuknya harta dan materi yang melimpah. Allah uji dia, apakah bersyukur atau malah kufur. Apakah rendah hati atau malah menyombongkan diri

“Kami jadikan bagi seorang di antara keduanya (yang kafir) dua buah kebun anggur dan kami kelilingi kedua kebun itu dengan pohon-pohon korma dan di antara kedua kebun itu Kami buatkan ladang. Kedua buah kebun itu menghasilkan buahnya, dan kebun itu tiada kurang buahnya sedikitpun, dan Kami alirkan sungai di celah-celah kedua kebun itu, dan dia mempunyai kekayaan besar.” (QS:Al-Kahfi | Ayat: 32-34).

Si kafir memiliki dua buah kebun anggur. Pohon-pohon kurma mengelilingi kebunnya sebagai pagar. Di antara dua kebun itu, ada ladang. Allah alirkan air ke kebun itu. Saat panen, ia merasakan limpahan anggur, kurma, dan hasil ladang. Ia kaya, menikmati hasil panennya.

Dengan penataan kebun yang hebat ini, ia pun berbangga. Ia memiliki ilmu dalam mengatur dan memaksimalkan lahan. Ia mampu menggabungkan tanaman yang berbeda dengan susunan rapi, serta irigasi yang baik. Ditambah lagi, dengan perawatannya, ia bisa panen dengan maksimal. Ia pun masuk ke dalam kebun dengan congkak, padahal ia menzhalimi dirinya sendiri. Ia ingkar dengan anugerah Rabbnya. Dan sombong pada orang lain.

Temannya berusaha mengingatkan agar beriman kepada Allah. Bersandar dan berserah diri pada-Nya. Bukan berserah diri, mengandalkan harta dan pengikut yang ia miliki. Terkadang, seorang yang memiliki kelebihan harta dan popularitas mengatakan, “Mudah, bisa diurus.” Karena apa? Karena ia menganggap dengan materi semuanya bisa diselesaikan dan diatur karena bisa menundukkan orang lain

“Dan mengapa kamu tidak mengatakan waktu kamu memasuki kebunmu “maasyaallaah, laa quwwata illaa billaah (sungguh atas kehendak Allah semua ini terwujud, tiada kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah). Sekiranya kamu anggap aku lebih sedikit darimu dalam hal harta dan keturunan.” (QS:Al-Kahfi | Ayat: 39)…. Lihat yang indah bukan ucap  subhanalloh tapi masyaAlloh.

Manusia itu asalnya sama. Pengaturan banyak sedikitnya harta, bukan hasil daya upaya manusia. Di dunia, manusia hanya memainkan peran sebagai orang kaya atau orang miskin. Ketika berperan sebagai orang kaya, gunakan untuk kebaikan, bukan malah sombong, karena ini cuma peranan. Ketika miskin, jangan sampai kehilangan iman. Dan bersabar. Nanti ada ‘upah’ setelah memainkan peranan dengan baik. …..hikmah  dari kisah agar tidak sombong, Alloh bisa saja binasakan kafir qurais yg mengganggumu tapi Alloh ingin lihat perjuanganmu

Kisah musa dan nabi khidzir agar bersabar dan semua yg dilakukan khidir itu atas kehendak Alloh, kisah dzulqornain bahwa kamu dg islam ini akan kuasai timur dan barat (optimism)

Alquran dapat melembutkan hati yang keras

Kisah umar bin khotob yang sangat lembut pada orang lemah miskin tertindas , dia pemimpin yang merakyat , dia keras dan tegas benci islam tapi jadi lembut ketika masuk islam (qs thoha 1-5)

Alquran membentuk sifat pemaaf tingkat tinggi

Seperti kisah nabi muhammad pada saat fathu makah yang akan ambil keputusan besar mau diapakan orang kafir qurais yg dulu menyiksa nabi tapi kata nabi aku akan berkata seperti yusuf berkata pada saudaranya yg juga membencinya dan telah membuangnya tapi hari ini kumaafkan dan kumohonkan ampun pada Alloh. Saat itu terjadi dibulan Ramadan, banyak juga jihad meang dibulan roadon spt ain jalud, buka andalusia

Surat yusuf turun saat nabi sedang sedih merasakan intimidasi kafir qurais maka jika sedih baca surat yusuf.

Alqur’an membentuk jiwa peduli alam

Seperti kisah sultan turki  mehmed II yang memberikan makanan burung ditanah yang luas, juga kisah srigala dan domba hidup berdampingan selama pemimpinnya umar bin abdul aziz. Saat perang tidak boleh mengganggu yag lemah lansia anak2, tidak bolih merusak alam pohon dll

Jadi islam / Alquran itu bisa mengangkat drajat baik secara pribadi, sosial dan sebuah bangsa/peradaban. Kalau islam kalah karena jauh dari alquran dan ubuddunya, itu terlihat dalam sejarah jatuhna Andalusia, abasiyah usmani dan lainnya. Dulu arab tak dianggap oleh Persia dan romawi tapi setelah islam datang Alloh tinggikan tanpa harus belajar dari sispapun mulai dari nol dg bimbingan wahyu.alquran tidak sekedar memberi perintah adakalanya beri penjelasan terperinci dan solusi serta aplikasinya seperti kisah2 orang2 terdahulu yg bisa jadi contoh aplikasinya

Sabtu, 17 April 2021

Alloh Berdialog Dengan Kita Saat Membaca Surat Alfatihah

 


Syukur Alhandulilah  atas nikmat yang telah kita rasakan, sholawat dan salam selalu terlimpahkan kepada nabi Muhammad, marilah kita selalu meningkatkan taqwa kepada Alloh Swt.

Jama’ah jum’ah yang dirahmati Alloh , kita harus bersyukur di anugrahi alquran yang sempurna, yang mencakup seluruh kitab para nabi dahulu dan yang lebih menakjubkan lagi alquran diringkas lagi dalam satu surat yaitu suat al fatihah sehingga surat ini disebut induk alquran /ummul kitab.

Al-Fatihah adalah induknya Al-Qur’an, tujuh surat yang sering dibaca dan merupakan keistimewaan Nabi Muhammad SAW, penyembuh yang sempurna, obat yang mujarab, ayat ruqyah yang paling ampuh, kunci kebahagiaan dan kekayaan, menjaga kekuatan, menghilangkan sedih dan gundah gulana, rasa takut dan kegelisahan. Bagi siapa yang mengetahui keagungannya, menunaikan haknya, bisa menggunakannya dengan baik untuk penyakitnya dan cara pengobatannya dan mengetahui rahasia di dalamnya.

Pertama  Surat Al-Fatihah adalah surat yang mulia. Sebagaimana dalam Hadits Riwayat Bukhari disebutkan bahwa, Rasulullah SAW bersabda: “Alhamdulillah rabbil ‘alamin, adalah tujuh surat terbesar yang berisi pujian dan terus diulang, intisari dari Al-Qur’an yang mulia yang diturunkan kepadaku”. Dan dijelaskan pula dalam Hadits Riwayat An-Nasaai bahwa, Rasulullah SAW bersabda: “Maukah engkau aku beritahu tentang ayat Al-Qur’an yang paling mulia, maka beliau membaca surat Al-Fatihah”.

Kedua, merupakan 1 dari 2 cahaya. “Bergembiralah dengan dua cahaya yang diberikan kepadamu, yang tidak diberikan kepada Nabi sebelummu, yaitu surat Al-Fatihah dan dua ayat penutup surat Al-Baqarah.” (HR. Muslim)

Ketiga, tidak sah shalat seorang hamba tanpa membaca surat Al-Fatihah. Hal tersebut dijelaskan dalam Hadits Riwayat Muslim : “Tidak sah shalatnya seseorang yang tidak membaca Al-Fatihah.”

Keempat, surat yang dapat digunakan untuk mengruqyah. “Wahai Rasulullah, demi Allah aku tidak meruqyahnya kecuali dengan surat Al-Fatihah, Rasulullah tersenyum dan berkata: “Bagaimana engkau tahu, bahwa Al-Fatihah bisa untuk ruqyah?, kemudian Rasulullah berkata: “Ambillah upahmu, dan berikan aku bagian dari upah itu”. (HR. Muslim)

Kelima, dikabulkannya hajat. Atha’ bin al yasar berkata : “Jika engkau mempunyai kebutuhaan, maka bacalah surat Al-Fatihah sampai selesai, maka kebutuhanmu akan terpenuhi”. “Maka ini adalah untuk hamba-Ku, bagi hamba-Ku apapun yang dia minta”

..….. nabi zakaria dikabulkan doa saat berdiri sholatnya

Keenam,  As-Sab'ul Matsani atau tujuh ayat yang berulang-ulang

Nama lain ini merujuk pada Surah al-Hijr:87, " Sungguh, Kami telah memberikan kepadamu tujuh ayat yang dibaca berulang-ulang dan Al-Qur'an yang agung" .

Ketujuh, Alloh berdialog dengan kita saat membaca surat alfatihah

Sejatinya sholat itu adalah komunikasi antara seorang hamba dengan penciptanya, Allah swt. Oleh karena itu memahami arti bacaan dalam sholat adalah suatu keniscayaan agar tercipta sholat khusuk. Sholat yang tidak hanya melafadzkan bacaan-bacaan dengan di bibir dan lisan tapi juga mampu menghadirkan Allah di hati dan pikiran. Apalagi saat kita membaca surat alfatihah Alloh berdialog dengan kita langsung /online

Hadis dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam  bersabda,

قَالَ اللهُ تَعَالَى: قَسَمْتُ الصَّلَاةَ بَيْنِي وَبَيْنَ عَبْدِي نِصْفَيْنِ، وَلِعَبْدِي مَا سَأَلَ، فَإِذَا قَالَ الْعَبْدُ: {الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ} ، قَالَ اللهُ تَعَالَى: حَمِدَنِي عَبْدِي، وَإِذَا قَالَ: {الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ}، قَالَ اللهُ تَعَالَى: أَثْنَى عَلَيَّ عَبْدِي، وَإِذَا قَالَ: {مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ}، قَالَ: مَجَّدَنِي عَبْدِي – وَقَالَ مَرَّةً فَوَّضَ إِلَيَّ عَبْدِي – فَإِذَا قَالَ: {إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ} قَالَ: هَذَا بَيْنِي وَبَيْنَ عَبْدِي، وَلِعَبْدِي مَا سَأَلَ، فَإِذَا قَالَ: {اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ صِرَاطَ الَّذينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّينَ} قَالَ: هَذَا لِعَبْدِي وَلِعَبْدِي مَا سَأَل

 

Allah berfirman, “Saya membagi shalat antara diri-Ku dan hamba-Ku menjadi dua. Untuk hamba-Ku apa yang dia minta.

Apabila hamba-Ku membaca, “Alhamdulillahi rabbil ‘alamin.”

Allah Ta’ala berfirman, “Hamba-Ku memuji-Ku.”

Apabila hamba-Ku membaca, “Ar-rahmanir Rahiim.”

Allah Ta’ala berfirman, “Hamba-Ku mengulangi pujian untuk-Ku.”

Apabila hamba-Ku membaca, “Maaliki yaumid diin.”

Apabila hamba-Ku membaca, “Hamba-Ku mengagungkan-Ku.” Dalam riwayat lain, Allah berfirman, “Hamba-Ku telah menyerahkan urusannya kepada-Ku.”

Apabila hamba-Ku membaca, “Iyyaka na’budu wa iyyaaka nasta’in.”

Allah Ta’ala berfirman, “Ini antara diri-Ku dan hamba-Ku, dan untuk hamba-Ku sesuai apa yang dia minta.

Apabila hamba-Ku membaca, “Ihdinas-Shirathal mustaqiim….dst. sampai akhir surat.

Allah Ta’ala berfirman, “Ini milik hamba-Ku dan untuk hamba-Ku sesuai yang dia minta.”

(HR. Ahmad 7291, Muslim 395 dan yang lainnya)

Keterangan hadis:

[1] Hadis ini menunjukkan bahwa al-Fatihah adalah rukun Shalat, karena Allah menyebut al-Fatihah dengan kata shalat.

[2] Al-Fatihah disebut shalat, karena surat ini dibaca saat shalat. Dan seorang hamba yang membaca surat ini ketika shalat, dia hakekatnya sedang melakukan dialog dengan Rabnya.

[3] Allah membagi bacaan al-Fatihah dalam shalat menjadi 2, setengah untuk Allah dan setengah untuk hamba. Setengah untuk Allah ada di bagian awal, bentuknya adalah pujian untuk Allah. Mulai dari ayat, ‘Alhamdulillahi rabbil ‘alamin’ sampai ‘Maliki yaumiddin.

Sementara setengahnya untuk hamba, yaitu doa memohon petunjuk agar seperti orang yang telah mendapat nikmat.

[4] ada satu ayat yang dibagi dua, yaitu ayat iyyaaka na’budu wa iyyaka nasta’in. setengah untuk hamba, setengah untuk Allah. Iyyaka na’budu, ini untuk Allah, dan iyyaka nasta’in, ini untuk hamba.

Itulah dialog antara hamba dengan Allah saat dia membaca surat al-Fatihah. Semoga semakin meningkatkan rasa khusyu’ kita ketika menjalani ibadah shalat…

Mengenai pertanyaan, bagaimana itu bias terjadi? Bukankah yang membaca surat al-Fatihah itu ribuan manusia? Lalu bagaimana cara Allah berdialog dengan mereka semua…

Pertanyaan ini bukan urusan kita. Allah Maha Kuasa untuk melakukan apapun sesuai yang Dia kehendaki. Dan tidak semua perbuatan Allah, bisa dinalar oleh logika manusia. Kewajiban kita adalah meyakini bahwa itu terjadi secara hakiki, sementara bagaimana prosesnya, Allah yang Maha Tahu.

Isti’adzah (Memohon Perlindungan)

Hal itu dikarenakan Al-Quran adalah petunjuk bagi manusia dan obat untuk hati. Sedangkan setan adalah penyebab keburukan dan kesesatan. Oleh karena itulah Allah subahanhu wata’ala memerintahkan setiap pembaca Al-Quran untuk meminta perlindungan kepada-Nya dari setan yang terkutuk, was-wasnya dan juga golongannya.

Ayat 1. Bismilah , semua nama Alloh, kata  ismi bersifat nakiroh jadi asmaul husna itu tak terhingga ( yg  99 itu yg wajib kita tahu)

Ayat 2  segala pujian hanya milik Alloh , Allahlah yang menciptakan mereka, memberikan rezeki kepada mereka, memberikan nikmat kepada mereka, baik nikmat lahir maupun batin. Inilah bentuk tarbiyah umum yang meliputi seluruh makhluk, yang baik maupun yang jahat. Adapun tarbiyah yang khusus hanya diberikan Allah kepada para Nabi dan pengikut-pengikut mereka. Di samping tarbiyah yang umum itu Allah juga memberikan kepada mereka tarbiyah yang khusus yaitu dengan membimbing keimanan mereka dan menyempurnakannya.

Ayat 3 Makna (الرَّحْمَٰنِ) “Yang Maha Pemurah” adalah : Yang Memiliki Rahmat secara menyeluruh yang luas rahmatnya untuk seluruh makhluk.

Makna (الرَّحِيمِ) “Maha Penyayang” : (yakni penyayang) terhadap orang-orang yang beriman (secara khusus). Keduanya (الرَّحْمَٰنِ dan الرَّحِيمِ) merupakan dua nama dari nama-nama Allah ta’ala.

Seorang muslim yang membaca ayat 4 ini di setiap rakaat dalam salat, mengingatkannya akan hari akhir, dan memotivasinya untuk mempersiapkan amal shalih dan menahan diri dari kemaksiatan serta kejelekan.

Sesungguhnya kami mengkhususkan-Mu semata dalam beribadah dan memohon pertolongan kepada-Mu semata dalam seluruh urusan kami, karena seluruh perkara berada di tangan-Mu, yang tidak dimiliki oleh seorangpun meskipun sebesar zarah