ASALAMU 'ALAIKUM WAROHMATULLOHI WABAROKATUH BLOG By MUH FAJAR HUDI APRIANTO @ MARI KITA GUNAKAN WAKTU KITA YANG TERSISA DENGAN SEBAIK MUNGKIN KARENA WAKTU KITA HANYA SEDIKIT AGAR KITA TIDAK TERMASUK ORANG ORANG YANG MERUGI mafa GUNAKAN WAKTU MUDAMU SEBELUM DATANG WAKTU TUAMU WAKTU SEHATMU SEBELUM DATANG WAKTU SAKITMU KAYAMU SEBELUM TIBA MISKIN WAKTU LAPANGMU SEBELUM TIBA WAKTU SEMPITMU DAN GUNAKAN WAKTU HIDUPMU SEBELUM TIBA MATIMU pesan nabi
Tampilkan postingan dengan label Contoh Pidato Dan MC. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Contoh Pidato Dan MC. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 02 Juli 2016

Makna Idul Fitri Yang Sebenarnya ( Kultum )



Bismillah was shalatu was salamu ‘ala rasulillah, amma ba’du,

Kita akan membahas anggapan yang tersebar hampir di seluruh lapisan masyarakat, Idul fitri = kembali suci.

Masyarakat, bahkan para tokoh agama, sering mengartikan idul fitri dengan kembali suci. Mereka mengartikan ‘id dengan makna kembali dan fitri diartikan suci.

Para khatib seringkali memberi kabar gembira kepada masyarakat yang telah menyelesaikan ibadah selama ramadhan, bahwa pada saat idul fitri mereka telah kembali suci, bersih dari semua dosa antara dia dengan Allah.

Kemudian diikuti dengan meminta maaf kepada sesama, tetangga kanan-kiri. Sehingga usai hari raya, mereka layaknya bayi yang baru dilahirkan, suci dari semua dosa. Tak lupa sang khatib akan mengkaitkan kejadian ini dengan nama hari raya ini, idul fitri. Dia artikan ‘Kembali Suci’. Turunan dari pemaknaan ini, sebagian masyarakat sering menyebut tanggal 1 syawal dengan ungkapan ‘hari yang fitri’.

Setidaknya ada 2 kesalahan fatal terkait ceramah khatib di atas,

Pertama, memaknai idul fitri dengan kembali suci. Dan ini kesalahan bahasa

Kedua, keyakinan bahwa ketika idul fitri, semua muslim dosanya diampuni.

video yufidtv di harddisk eksternalvideo yufidtv di harddisk eksternal
Mengapa salah? Berikut rincian keterangan masing-masing;

Arti Idul Fitri secara Bahasa

Idul fitri berasal dari dua kata; id [arab: عيد] dan al-fitri [arab: الفطر].

Id secara bahasa berasal dari kata aada – ya’uudu [arab: عاد – يعود], yang artinya kembali. Hari raya disebut ‘id karena hari raya terjadi secara berulang-ulang, dimeriahkan setiap tahun, pada waktu yang sama. Ibnul A’rabi mengatakan,

سمي العِيدُ عيداً لأَنه يعود كل سنة بِفَرَحٍ مُجَدَّد

Hari raya dinamakan id karena berulang setiap tahun dengan kegembiraan yang baru. (Lisan Al-Arab, 3/315).

Ada juga yang mengatakan, kata id merupakan turunan kata Al-Adah [arab: العادة], yang artinya kebiasaan. Karena masyarakat telah menjadikan kegiatan ini menyatu dengan kebiasaan dan adat mereka. (Tanwir Al-Ainain, hlm. 5).

Selanjutnya kita akan membahas arti kata fitri.

Perlu diberi garis sangat tebal dengan warna mencolok, bahwa fitri TIDAK sama dengan fitrah. Fitri dan fitrah adalah dua kata yang berbeda. Beda arti dan penggunaannya. Namun, mengingat cara pengucapannya yang hampir sama, banyak masyarakat indonesia menyangka bahwa itu dua kata yang sama. Untuk lebih menunjukkan perbedaannnya, berikut keterangan masing-masing,

Pertama, Kata Fitrah

Kata fitrah Allah sebutkan dalam Al-Quran,

فَأَقِمْ وَجْهَكَ لِلدِّينِ حَنِيفًا فِطْرَتَ اللَّهِ الَّتِي فَطَرَ النَّاسَ عَلَيْهَا لَا تَبْدِيلَ لِخَلْقِ اللَّهِ

Hadapkanlah wajahmu dengan Lurus kepada agama Allah; (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. tidak ada peubahan pada fitrah Allah. (QS. Ar-Rum: 30).

Ibnul Jauzi menjelaskan makna fitrah,

الخلقة التي خلق عليها البشر

“Kondisi awal penciptaan, dimana manusia diciptakan pada kondisi tersebut.” (Zadul Masir, 3/422).

Dengan demikian, setiap manusia yang dilahirkan, dia dalam keadaan fitrah. Telah mengenal Allah sebagai sesembahan yang Esa, namun kemudian mengalami gesekan dengan lingkungannya, sehingga ada yang menganut ajaran nasrani atau agama lain. Ringkasnya, bahwa makna fitrah adalah keadaan suci tanpa dosa dan kesalahan.

Kedua, kata Fitri

Kata fitri berasal dari kata afthara – yufthiru [arab: أفطر – يفطر], yang artinya berbuka atau tidak lagi berpuasa. Disebut idul fitri, karena hari raya ini dimeriahkan bersamaan dengan keadaan kaum muslimin yang tidak lagi berpuasa ramadhan.

Terdapat banyak dalil yang menunjukkan hal ini, diantaranya

1. Hadis tentang anjuran untuk menyegerahkan berbuka,

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لا يزال الدين ظاهراً، ما عجّل النّاس الفطر؛ لأنّ اليهود والنّصارى يؤخّرون

“Agama Islam akan senantiasa menang, selama masyarakat (Islam) menyegerakan berbuka. Karena orang yahudi dan nasrani mengakhirkan waktu berbuka.” (HR. Ahmad 9810, Abu Daud 2353, Ibn Hibban 3509 dan statusnya hadia hasan).

Dari Sahl bin Sa’d radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لا تزال أمَّتي على سُنَّتي ما لم تنتظر بفطرها النّجوم

“Umatku akan senantiasa berada di atas sunahku, selama mereka tidak menunggu waktu berbuka dengan terbitnya bintang.” (HR. Ibn Khuzaimah dalam Shahihnya 3/275, dan sanadnya shahih).

Kata Al-Fithr pada hadis di atas maknanya adalah berbuka, bukan suci. Makna hadis ini menjadi aneh, jika kata Al-Fithr kita artikan suci.

“Umatku akan senantiasa berada di atas sunahku, selama mereka tidak menunggu waktu berSUCI dengan terbitnya bintang”

Dan tentu saja, ini keluar dari konteks hadis.

2. Hadis tentang cara penentuan tanggal 1 ramadhan dan 1 syawal

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

الصَّوْمُ يَوْمَ تَصُومُونَ، وَالفِطْرُ يَوْمَ تُفْطِرُونَ

“Hari mulai berpuasa (tanggal 1 ramadhan) adalah hari di mana kalian semua berpuasa. Hari berbuka (hari raya 1 syawal) adalah hari di mana kalian semua berbuka.” (HR. Turmudzi 697, Abu Daud 2324, dan dishahihkan Al-Albani).

Makna hadis di atas akan menjadi aneh, ketika kita artikan Al-Fithr dengan suci.

“Hari suci adalah hari dimana kalian semua bersuci”.dan semacam ini tidak ada dalam islam.

Karena itu sungguh aneh ketika fitri diartikan suci, yang sama sekali tidak dikenal dalam bahasa arab.

Suci Seperti Bayi?

Selanjutnya kita bahas konsekuensi dari kesalahan mengartikan idul fitri. Karena anggapan bahwa idul fitri = kembali suci, banyak orang keyakinan bahwa ketika idul fitri, semua orang yang menjalankan puasa ramadhan, semua dosanya diampuni dan menjadi suci.

Keyakinan semacam ini termasuk kekeliruan yang sangat fatal. Setidaknya ada 2 alasan untuk menunjukkan salahnya keyakinan ini,

Pertama, keyakinan bahwa semua orang yang menjalankan puasa ramadhan, dosanya diampuni dan menjadi suci, sama dengan memastikan bahwa seluruh amal puasa kaum muslimin telah diterima oleh Allah, dan menjadi kaffarah (penghapus) terhadap semua dosa yang meraka lakukan, baik dosa besar maupun dosa kecil. Padahal tidak ada orang yang bisa memastikan hal ini, karena tidak ada satupun makhluk yang tahu apakah amalnya diterima oleh Allah ataukah tidak.

Terkait dengan penilaian amal, ada 2 hal yang perlu kita bedakan, antara keabsahan amal dan diterimanya amal.

1. Keabsahan amal.

Amal yang sah artinya tidak perlu diulangi dan telah menggugurkan kewajibannya. Manusia bisa memberikan penilaian apakah amalnya sah ataukah tidak, berdasarkan ciri lahiriah. Selama amal itu telah memenuhi syarat, wajib, dan rukunnya maka amal itu dianggap sah.

2. Diterimanya amal

Untuk yang kedua ini, manusia tidak bisa memastikannya dan tidak bisa mengetahuinya. Karena murni menjadi hak Allah. Tidak semua amal yang sah diterima oleh Allah, namun semua amal yang diterima oleh Allah, pastilah amal yang sah.

Karena itulah, terkait diterimanya amal, kita hanya bisa berharap dan berdoa. Memohon kepada Allah, agar amal yang kita lakukan diterima oleh-Nya. Seperti inilah yang dilakukan orang shaleh masa silam. Mereka tidak memastikan amalnya diterima oleh Allah, namun yang mereka lakukan adalah memohon dan berdoa kepada Allah agar amalnya diterima.

Siapakah kita diandingkan Nabi Ibrahim ‘alaihis salam. Seusai memperbaiki bangunan Ka’bah, beliau tidak ujub dan memastikan amalnya diterima. Namun yang berliau lakukan adalah berdoa,

رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ

Ya Allah, terimalah amal dari kami. Sesungguhnya Engkau Dzat Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. (QS. Al-Baqarah: 127).

Demikian pula yang dilakukan oleh para sahabat dan generasi pengikut mereka. Yang mereka lakukan adalah berdoa dan bukan memastikan.

Mu’alla bin Fadl mengatakan:

كانوا يدعون الله تعالى ستة أشهر أن يبلغهم رمضان يدعونه ستة أشهر أن يتقبل منهم

“Dulu para sahabat, selama enam bulan sebelum datang bulan Ramadhan, mereka berdoa agar Allah mempertemukan mereka dengan bulan Ramadhan. Kemudian, selama enam bulan sesudah Ramadhan, mereka berdoa agar Allah menerima amal mereka ketika di bulan Ramadhan.” (Lathaiful Ma›arif, Ibnu Rajab, hal.264)

Karena itu, ketika bertemu sesama kaum muslimin seusai ramadhan, mereka saling mendoakan,

تَقَبَّلَ اللهُ مِنَّا وَمِنْكُم

“Semoga Allah menerima amal kami dan kalian”

Inilah yang selayaknya kita tiru. Berdoa memohon kepada Allah agar amalnya diterima dan bukan memastikan amal kita diterima.

Kedua, sesungguhnya ramadhan hanya bisa menghapuskan dosa kecil, dan bukan dosa besar. Sebagaimana dinyatakan dalam hadis dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

الصَّلَوَاتُ الْخَمْسُ، وَالْجُمْعَةُ إِلَى الْجُمْعَةِ، وَرَمَضَانُ إِلَى رَمَضَانَ، مُكَفِّرَاتٌ مَا بَيْنَهُنَّ إِذَا اجْتَنَبَ الْكَبَائِر

“Antara shalat 5 waktu, jumatan ke jumatan berikutnya, ramadhan hingga ramadhan berikutnya, akan menjadi kaffarah dosa yang dilakukan diantara amal ibadah itu, selama dosa-dosa besar dijauhi.” (HR. Ahmad 9197 dan Muslim 233).

Kita perhatikan, ibadah besar seperti shalat lima waktu, jumatan, dan puasa ramadhan, memang bisa menjadi kaffarah dan penebus dosa yang kita lakukan sebelumnya. Hanya saja, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutkan syarat: ‘selama dosa-dosa besar dijauhi.’ Adanya syarat ini menunjukkan bahwa amal ibadah yang disebutkan dalam hadis, tidak menggugurkan dosa besar dengan sendirinya. Yang bisa digugurkan hanyalah dosa kecil.

Lantas bagaimana dosa besar bisa digugurkan?

Caranya adalah dengan bertaubat secara khusus, memohon ampun kepada Allah atas dosa tersebut. Sebagaimana Allah telah tunjukkan hal ini dalam Al-Quran,

إِنْ تَجْتَنِبُوا كَبَائِرَ مَا تُنْهَوْنَ عَنْهُ نُكَفِّرْ عَنْكُمْ سَيِّئَاتِكُمْ وَنُدْخِلْكُمْ مُدْخَلًا كَرِيمًا

Jika kamu menjauhi dosa-dosa besar di antara dosa-dosa yang dilarang kamu mengerjakannya, niscaya Kami hapus kesalahan-kesalahanmu (dosa-dosamu yang kecil) dan Kami masukkan kamu ke tempat yang mulia (surga). (QS. An-Nisa: 31).

Allahu a’lam bI Showab


Contoh Sambutan Adik Kelas Pada Acara Wisuda/Akhirussannah



KESAN DAN PESAN DARI ADIK
Asalamu'alaikum Warohmatullohi Wabarokatuh

         ALHAMDULILLAHI ROBIL “ALAMIN , ALLADZI ARSALA ROSULA BILHUDA WADINIL HAQ LIYUDZHIROHU ’ALA DINNI KULLIH WAKAFA BILLAHI SYAHIDA ASHADU ALA ILAHA ILLALLOH WAHDAHU LAASYARIKALAH WA ASHADU ANNA MUHAMMADAN NGABDUHU WA ROSULUH, ALLOHUMA SHOLI ‘ALA MUHAMMAD WA ‘ALA ALI  MUHAMMAD. Amma ba’du

Yang terhormat , Bapak Pengawas Pendidikan Agama Islam , Bapak Ibu Pengurus Madrasah Ibtidaiyah Muhammadiyah Kayutrejo , bapak Ketua komite, Bapak/ Ibu tokoh Masyarakat ,  Bapak /Ibu Wali Murid , Bapak Kepala Madrasah dan  Bapak /Ibu guru serta teman-temanku semadrasah  yang berbahagia.

            Marilah kita panjatkan  puji syukur kehadirat Alloh Swt, yang telah menciptakan manusia Dengan Desain Yang Sempurna,  Sehingga  Diharapkan Dapat Menjadi Manusia Yang Terdidik Dan Mempunyai akhlak yang mulia. Sholawat dan salam selalu tercurahkan kepada Nabi akhirruzaman Muhammad Saw,  yang telah mendidik umatnya  sehingga mengerti makna hidup yang sebenarnya.

            Selanjutnya saya disini mewakili teman-teman kelas  satu sampai dengan kelas lima yang ingin menyampaikan kesan dan pesan kami kepada kakak-kakakku kelas enam yang telah lulus,selama kami bersua,bercengkrama dengan kakak, kami  sebagai seorang adik tentu  banyak merasakan kesan yang mendalam yang tergores disanubari adik. sedih, pilu, senang, bahagia mewarnai kebersamaan kita, Terkadang lidah ini tajam hingga melukai hati kakak, terkadang tingkah dan canda yang tanpa adik sadari telah menorehkan luka dan menyinggung perasaan kakak , maka dari itu maafkanlah adik-adikmu ini ya kak...!, yang mungkin selama ini adikmu tak sengaja untuk membuat hati kakak gundah.

          Sebenarnya adik-adikmu ini masih pingin  sekali mengharapkan kehadiran kakak-kakak semuanya  untuk belajar bersama, bercanda, bersenda gurau mengisi waktu di Madrasah yang kita cintai ini, memang perjalanan waktu begitu cepat tahun demi tahun telah kita lalui, banyak sudah kesan dan pesan yang kita torehkan serta  nasihat yang kudapati dari kakak, suka dan duka telah kita lalui bersama, adikmu ini masih terlalu kecil untuk kau tinggalkan kak, masih butuh bimbinganmu ,tapi............mau tidak mau, ikhlas tidak ikhlas kami semua harus merelakan kakak pergi meninggalkan madrasah yang kita cintai ini. Madrasah yang telah membesarkan  kita,madrasah yang telah mendidik kita hingga bisa apa-apa yang semula kita tak bisa apa-apa.     Sekali lagi maafkanlah adikmu yang nakal ini ya kak............!

          Selanjutnya izinkanlah adikmu yang masih imut ini menyampaikan pesan pada kakak. Dalam sebuah hadist , nabi Muhammad saw telah bersabda  yang artinya:

     ”  Kerugian yang paling besar dihari qiyamat ialah orang yang diberi kemampuan ketika hidupnya didunia untuk mencari ilmu, akan tetapi ia tidak mencarinya ( alhadits ) ”

dengan berdasar hadits diatas, kakak-kakakku , marilah kita selalu mempergunakan umur kita untuk selalu menuntut ilmu seluas-luasnya karena ilmu sebuah cahaya yang akan menerangi hati nurani dan menerangi jalan hidup kita baik kehidupan dunia maupun kehidupan ukhrowi.dan InsaAlloh  Do’a bapak/ibu guru dan adik-adikmu selalu menyertai kakak agar berhasil dan sukses dalam meraih cita-cita.

         Walaupun nanti kakak telah pergi  kami semua berharap kaka tidak melupakan kami semua, masih banyak kesempatan untuk selalu bersua dilain waktu dan kesempatan. ........disaat terakhir saya disini rasanya mata ini ingin menumpahkan airmata  sebagai tanda berat hati ntuk melepas kepergian kakak-kakak semuanya, maka dari itu saya cukupkan sekian apabila ada kata-kata yang tidak berkenan dihati para mustami, saya mohon maaf yang sebasar-besarnya.dan selamat jalan buat kakak-kakakku semoga sukses dalam segala hal . amiin.
Billahi Fii  Sabillil  Haq   


Wa'alaikum Warohmatullohi Wabarokatuh

Sambutan Kelas VI Pada Acara Akhirussanah/Wisuda



SEPATAH  KATA  DARI  KAKAK

 Asalamu'alaikum Warohmatullohi Wabarokatuh
          ALHAMDULILLAHI ROBIL “ALAMIN WASHOLATU WASALAMU ‘ALA ROSULILLAH WAHABIBINA WAQUROTA A’YUNINA MUHAMMADIN ABDILLAH , ASHADU ALA ILAHA ILLALLOH WA ASHADU ANNA MUHAMMADAR ROSULULLOH, ALLOHUMA SHOLI ‘ALA MUHAMMAD WA ‘ALA ALI SAYIDINA MUHAMMAD. ....AMMA BA’DU

Yang terhormat , Bapak Pengawas Pendidikan Agama Islam , Bapak Ibu Pengurus Madrasah Ibtidaiyah  Muhammadiyah Kayutrejo , bapak Ketua komite, Bapak/ Ibu tokoh Masyarakat ,Bapak  Kepala Madrasah , Bapak /Ibu Wali Murid , dan  para undangan serta teman-temanku semadrasah  yang berbahagia.

          Puja dan Puji syukur kehadirot Alloh swt yang selalu memberikan anugrah yang tiada terkira , sehingga jiwa .dan raga kita tetap berfungsi dengan optimal. Sholawat dan salam tetap tercurahkan pada nabi akhiruzzaman Muhammad saw yang telah merubah peradaban dunia dengan penuh takjub dan mempesonakan.

         Detik demi detik ,menit demi menit hari demi hari bulan demi bulan tahun demi tahun tak terasa kita lewati bersama entah suka maupun duka tiada dirasa . kita saling bercanda saling cubit, walau terkadang ada sedikit marah  namun suasana teman semadrasah menyebabkan  kejadian demi kejadian cepat termaafkan dan terlupakan. Bapak ibu guru yang dengan penuh sabar, telaten dengan penuh kasih sayang  selalu membimbing pelajaran demi pelajaran hingga terselasaikan .

         Kami semua merasa berhutang budi kepada bapak/ibu guru semua . ucapan terimakasih rasanya tak mungkin berbanding lurus dengan apa yang kudapatkan dari beliau, entah dengan apa kami membalasnya. Mulai dari kelas 1 yang masih terbata – bata untuk berucap bahkan kadang belum bisa baca hingga menghantarkan kami semua diujung kelas 6,.dimana telah banyak kami dapatkan, mulai dari bisa membaca, menulis, bisa sholat  dengan baik dan masih segudang pengetahuan lainnya. Maka kami  ucapkan terima kasih yang sebanyak banyaknya kepada bapak komite Bp. Pengurus, Bapak kepala Madrasah maupun Bapak Ibu Guru atas keikhlasan dan kesabaranya, kami bersama rekan – rekan Khususnya kelas VI  berharap  semoga semua itu menjadi amal jariyah bagi bapak/ibu sekalian . dan kami bersama rekan – rekan kelas VI mohon do’a restu setelah keluar dari Madrasah ini dapat memilih madrasah  yang tepat sesuai keinginan para orangtua, dan tidak terpengaruh pada hal-hal yang negatif ,  menjadi anak yang sukses, menjadi Qurrota a’yun, menjadi anak yang sholeh dan sholihah, yang selalu mendo’akan kedua orangtua.

         Untuk adik-adikku yang kucintai kakak sebentar lagi, tak bisa lagi bercanda tuk menemani dalam suasana madrasah yang tercinta ini. Karena kakak musti meneruskan perjuangan dalam meraih jenjang pendidikan yang lebih tinggi, maka dari itu kami juga minta do’a agar kakak dalam meraih cita –cita akan dikabulkan Alloh swt. Kakak juga ingin berpesan pada adik-adik agar selalu rajin belajar, menurutlah kepada bapak/ibu guru yang telah merelakan waktu ,tenaga dan ilmunya hanya untuk memulyakan adik,  agar adik jadi anak yang pandai yang berguna bagi agama, nusa dan bangsa.  Saya yakin madrasah ini akan lebih baik, semakin maju, dan terdepan apabila adik-adik belajar sungguh-sungguh dan mentaati perintah bapak/ibu guru serta mengikuti perintah agama.

         Dan akhirnya kami mohon  Maaf apabila selama dalam asuhan, tentu banyak salah, baik kepada bapak komite, Bp. Pengurus ,Bapak  kepala Madrasah,  Maupun Bapak Ibu guru serta tak lupa juga pada adik-adikku kelas I s/d kelas V . dan Izinkan kami mohon diri dari madrasah ini dengan diiringi untaian do’a dari bapak/ibu dan rekan –rekan semua yang hadir disini.        

Nasru minnalloh wa fatkhun qorib 

Asalamu'alaikum Warohmatullohi Wabarokatuh

Selasa, 31 Maret 2015

Contoh Pembawa Acara (Protokol ) Pada acara Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW





Asalamu 'Alaikum Warohmatullohi Wabarokatuh


            ALHAMDULILLAHI LADZI HADANA LIHADZA WAMA KUNA LINAHTADIYA LAULA ANHADANALLOH, ASHADU ALA ILAHA ILLALLOH WAHDAHU LAA SYARIKALAH WA ASHADU ANNA MUHAMMADAN NGABDUHU WA ROSULUH, ALLOHUMA SHOLI ‘ALA MUHAMMAD WA ‘ALA ALI  MUHAMMAD. ………...AMMA BA’DU



Yang terhormat  Bapak  Kepala Madrasah dan Bapak /Ibu guru ............... , serta teman-temanku semadrasah  yang berbahagia.

Perkenankanlah kami mengajak kepada para hadirin, untuk mengucapkan Syukur Kepada Alloh Swt, yang telah melimpahkan rahmat dan nikmatnya kepada kita semua, sehingga pada hari ini kita masih dalam perlindungannya. Dan dapat bermuwajahah digedung ................................. dalam rangka  Peringatan maulid Nabi Muhammad Saw.

Sholawat dan salam selalu tercurahkan kepada Nabi Muhammad saw . karena atas jasa-jasa beliaulah kita bisa belajar,beribadah dan bisa  memaknai hidup ini dengan benar

Selanjutnya kami bertugas sebagai pembawa acara  dalam rangka Peringatan mauled Nabi Muhammad Saw.   pada hari ini ............. yang bertepatan dengan tanggal 12 Robil’ul  Awal 1434 H , dimana susunan acara yang akan berlangsung adalah sebagai berikut :

Acara yang pertama Pembukaan,
yang kedua Pembacaan Ayat Suci Alqur’an,
acara yang ketiga Prakata Panitia,
dilanjutkan acara keempat  Inti maulid Nabi Muhammad Saw.
Acara kelima Istirahat dan acara terakhir ádalah do’a / penutup.

Demikianlah rangkaian  acara yang akan berlangsung pada hari ini,………. mengingat waktu sudah semakin siang marilah kita mulai acara demi acara pada siang hari ini , yang pertama  Pembukaan......... Marilah kita buka acara ini dengan membaca basmalah bersama-sama..................semoga dengan bacaan basmalah ini dapat memperlancar jalanya  acara pada hari ini dan dihadapan Alloh  dinilai sebagai amal ibadah, amiin

Menginjak acara berikutnya adalah Pembacaan Ayat Suci Alqur’an...yang akan dibawakan oleh teman kita bernama ........... bersama ............ ..kepadanya dipersilahkan ...................

 Shodaqolloh hal adzim ….demikianlah pembacaan ayat suci alquran ,semoga dapat menambah pahala dan rahmat  bagi yang membaca khususnya dan umumnya bagi yang mendengarkannya.

Kemudian acara selanjutnya prakata panitia yang akan disampaikan oleh  Teman Kita Anang yuliyanto…..kepadanya  dipersilahkan......................

Demikianlah prakata dari panitia ... dan acara selanjutnya  yang kita nanti –nantikan yaitu inti Maulid Nabi Muhammad Saw yang akan disampaikan oleh Bapak ....................………
Kepada beliau dipersilahkan…………… Demikianlah Tausyiyah yang disampaikan oleh  ............... ……..semoga apa yang telah diuraikan ada guna dan manfaatnya dan Insya Alloh kita dapat mengambil hikmahnya …..amin 3x …..ya Robal ‘alamin

Acara berikutnya adalah istirahat yang akan diisi dengan gerak dan lagu  yang akan  dibawakan   oleh  adik kita ................. dan kawan-kawan..yang akan menyanyikan lagu. Tiada sempurna .............. ..............tepuk tanganya mana................. .........demikian penampilan dari ………
    
    
Acara berikutnya adalah do’a yang akan diimami oleh bapak ...............

Kini tibalah acara yang terakhir yaitu penutup...................................sebelum acara ini kami tutup , apabila ada kata-kata yang tidak berkenan selama kami memandu acara ini ,kami mohon maaf yang sebesar-besarnya.

Dan marilah acara ini kita tutup dengan bacaan Alhamdulillah bersama-sama.
  
  Billahi  sabilil haq .     
Wasalamu 'Alaikum Warohmatullohi Wabarokatuh


Senin, 09 Maret 2015

Adab Adab Penuntut Ilmu

AL ILMU KHOIRU MIROTS artinya:
ILMU ADALAH SEBAI BAIK WARISAN
Menuntut ilmu adalah satu keharusan bagi kita kaum muslimin. Banyak sekali dalil yang menunjukkan keutamaan ilmu, para penuntut ilmu dan yang mengajarkannya.
Adab-adab dalam menuntut ilmu yang harus kita ketahui agar ilmu yang kita tuntut berfaidah bagi kita dan orang yang ada di sekitar kita sangatlah banyak. Adab-adab tersebut di antaranya adalah:
1. Ikhlas karena Allah.
Hendaknya niat kita dalam menuntut ilmu adalah kerena Allah dan untuk negeri akhirat. Apabila seseorang menuntut ilmu hanya untuk mendapatkan gelar agar bisa mendapatkan kedudukan yang tinggi atau ingin menjadi orang yang terpandang atau niat yang sejenisnya, maka Rasulullah e telah memberi peringatan tentang hal ini dalam sabdanya e :
"Barangsiapa yang menuntut ilmu yang pelajari hanya karena Allah sedang ia tidak menuntutnya kecuali untuk mendapatkan mata-benda dunia, ia tidak akan mendapatkan bau sorga pada hari kiamat".( HR: Ahmad, Abu,Daud dan Ibnu Majah
Tetapi kalau ada orang yang mengatakan bahwa saya ingin mendapatkan syahadah (MA atau Doktor, misalnya ) bukan karena ingin mendapatkan dunia, tetapi karena sudah menjadi peraturan yang tidak tertulis kalau seseorang yang memiliki pendidikan yang lebih tinggi, segala ucapannya menjadi lebih didengarkan orang dalam menyampaikan ilmu atau dalam mengajar. Niat ini - insya Allah - termasuk niat yang benar.
2.Untuk menghilangkan kebodohan dari dirinya dan orang lain.
Semua manusia pada mulanya adalah bodoh. Kita berniat untuk meng-hilangkan kebodohan dari diri kita, setelah kita menjadi orang yang memiliki ilmu kita harus mengajarkannya kepada orang lain untuk menghilang kebodohan dari diri mereka, dan tentu saja mengajarkan kepada orang lain itu dengan berbagai cara agar orang lain dapat mengambil faidah dari ilmu kita.
Apakah disyaratkan untuk memberi mamfaat pada orang lain itu kita duduk dimasjid dan mengadakan satu pengajian ataukah kita memberi mamfa'at pada orang lain dengan ilmu itu pada setiap saat? Jawaban yang benar adalah yang kedua; karena Rasulullah e bersabda :
"Sampaikanlah dariku walupun cuma satu ayat (HR: Bukhari)
Imam Ahmad berkata: Ilmu itu tidak ada bandingannya apabila niatnya benar. Para muridnya bertanya: Bagaimanakah yang demikian itu? Beliau menjawab: ia berniat menghilangkan kebodohan dari dirinya dan dari orang lain.
3. Berniat dalam menuntut ilmu untuk membela syari'at.
Sudah menjadi keharusan bagi para penuntut ilmu berniat dalam menuntut ilmu untuk membela syari'at. Karena kedudukan syari'at sama dengan pedang kalau tidak ada seseorang yang menggunakannya ia tidak berarti apa-apa. Penuntut ilmu harus membela agamanya dari hal-hal yang menyimpang dari agama (bid'ah), sebagaimana tuntunan yang diajarkan Rasulullah e. Hal ini tidak ada yang bisa melakukannya kecuali orang yang memiliki ilmu yang benar, sesuai petunjuk Al-Qor'an dan As-Sunnah.
4. Lapang dada dalam menerima perbedaan pendapat.
Apabila ada perbedaan pendapat, hendaknya penuntut ilmu menerima perbedaan itu dengan lapang dada selama perbedaan itu pada persoalaan ijtihad, bukan persoalaan aqidah, karena persoalaan aqidah adalah masalah yang tidak ada perbedaan pendapat di kalangan salaf. Berbeda dalam masalah ijtihad, perbedaan pendapat telah ada sejak zaman shahabat, bahkan pada masa Rasulullah e masih hidup. Karena itu jangan sampai kita menghina atau menjelekkan orang lain yang kebetulan berbeda pandapat dengan kita.
5. Mengamalkan ilmu yang telah didapatkan.
Termasuk adab yang tepenting bagi para penuntut ilmu adalah mengamalkan ilmu yang telah diperoleh, karena amal adalah buah dari ilmu, baik itu aqidah, ibadah, akhlak maupun muamalah. Karena orang yang telah memiliki ilmu adalah seperti orang memiliki senjata. Ilmu atau senjata (pedang) tidak akan ada gunanya kecuali diamalkan (digunakan).
6. Menghormati para ulama dan memuliakan mereka.
Penuntut ilmu harus selalu lapang dada dalam menerima perbedaan pendapat yang terjadi di kalangan ulama. Jangan sampai ia mengumpat atau mencela ulama yang kebetulan keliru di dalam memutuskan suatu masalah. Mengumpat orang biasa saja sudah termasuk dosa besar apalagi kalau orang itu adalah seorang ulama.
7. Mencari kebenaran dan sabar
Termasuk adab yang paling penting bagi kita sebagai seorang penuntut ilmu adalah mencari kebenaran dari ilmu yang telah didapatkan. Mencari kebenaran dari berita berita yang sampai kepada kita yang menjadi sumber hukum. Ketika sampai kepada kita sebuah hadits misalnya, kita harus meneliti lebih dahulu tentang keshahihan hadits tersebut. Kalau sudah kita temukan bukti bahwa hadits itu adalah shahih, kita berusaha lagi mencari makna (pengertian ) dari hadits tersebut. Dalam mencari kebenaran ini kita harus sabar, jangan tergesa-gasa, jangan cepat merasa bosan atau keluh kesah. Jangan sampai kita mempelajari satu pelajaran setengah-setengah, belajar satu kitab sebentar lalu ganti lagi dengan kitab yang lain. Kalau seperti itu kita tidak akan mendapatkan apa dari yang kita tuntut.

Rabu, 25 Februari 2015

Syarat Syarat Terkabulnya Do'a (Kultum)

Bismilahirohmanirrohim
Asalamu alaikum Warohmatullohi Wabarokatuh
Alhamdulillahirobbil alamin wasolatu wasalamu ala asrobil anbiya'i wal mursalin .....ama ba'du
Di antara syarat syarat terkabulnya doa  sebagai berikut:

1) Hendaknya kita hanya meminta kepada Allah swt, tidak mempersekutukanNya dengan siapapun

“Hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan hanya kepada Engkaulah kami mohon pertolongan.” (QS Al-Fatihah 5)
 “Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdo`a apabila ia memohon kepada-Ku.” (QS Al-Baqarah 186)

2) Hendaknya kita semakin banyak melaksanakan berbagai perintah Allah berlandaskan iman kepada-Nya, serta dengan jalan menghidupkan berbagai sunnah Rasulullah saw
”Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdo`a apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah) Ku.” (QS Al-Baqarah 186)

“Katakanlah, “Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku,
niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu.”
Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS Ali Imran 31)
3) Hendaknya isi redaksi do’a tidak hanya mencakup urusan dunia semata, melainkan mencakup urusan dunia dan akhirat sekaligus
“Maka di antara manusia ada orang yang berdo`a, “Ya Tuhan kami, berilah kami (kebaikan) di dunia”, dan tiadalah baginya bahagian (yang menyenangkan) di akhirat.

Dan di antara mereka ada orang yang berdo`a, “Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah kami dari siksa neraka.”

Mereka itulah orang-orang yang mendapat bahagian dari apa yang mereka usahakan;

dan Allah sangat cepat perhitungan-Nya.” (QS Al-Baqarah 200-202)
“Barangsiapa yang menghendaki keuntungan di akhirat akan Kami tambah keuntungan itu baginya dan barangsiapa yang menghendaki keuntungan di dunia Kami berikan kepadanya sebagian dari keuntungan dunia dan tidak ada baginya suatu bahagianpun di akhirat.” (QS Asy-Syuro 20)

4) Hendaknya do’a disampaikan dengan “merendahkan diri” dan “suara yang lembut”
 “Berdo`alah kepada Tuhanmu dengan berendah diri dan suara yang lembut. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.” (QS Al-A’raf 55)

Dalam Shahihain diriwayatkan bahwa Abu Musa Al-Asy’ari berkata bahwa orang-orang mengeraskan suaranya ketika berdo’a, maka Rasulullah saw bersabda:
“Hai manusia, kasihanilah dirimu karena kamu bukan menyeru kepada yang tuli dan gha’ib (tidak ada), yang kamu seru itu adalah Maha Mendengar,

Maha Melihat dan Maha Dekat.”(HR Bukhari 22/385)

5) Hendaknya pada saat berdo’a memadukan di dalam jiwa perasaan “berharap” dan “takut”. Berharap kepada Allah swt agar do’a tersebut dikabulkanNya, dan cemas kalau-kalau do’a kita tidak dikabulkan, bahkan tidak didengarNya.
“…dan berdo`alah kepada-Nya dengan rasa takut (tidak akan diterima) dan harapan (akan dikabulkan).” (QS Al-A’raf 56)

6) Hendaknya kita meyakini bahwa do’a kita pasti InsyaAllah dikabulkanNya. Cepat ataupun lambat. Di dunia ini maupun di akhirat kelak nanti. Yang penting kita tidak memaksa atau “mendikte” Allah swt, suatu hal yang memang mustahil.
“Dan Tuhanmu berfirman, “Berdo`alah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina.” (QS Al-Mu’min 60)

Dan yang tidak kalah pentingnya bahwa seorang muslim tidak boleh pernah berhenti meminta kepadaNya, karena sikap demikian merupakan suatu kesombongan yang akan menjebloskannya ke dalam siksa Allah yang pedih. Maka Rasulullah saw bersabda:
“Barangsiapa tidak berdo’a kepada Allah swt, maka Allah murka kepadaNya.”