ASALAMU 'ALAIKUM WAROHMATULLOHI WABAROKATUH BLOG By MUH FAJAR HUDI APRIANTO @ MARI KITA GUNAKAN WAKTU KITA YANG TERSISA DENGAN SEBAIK MUNGKIN KARENA WAKTU KITA HANYA SEDIKIT AGAR KITA TIDAK TERMASUK ORANG ORANG YANG MERUGI mafa GUNAKAN WAKTU MUDAMU SEBELUM DATANG WAKTU TUAMU WAKTU SEHATMU SEBELUM DATANG WAKTU SAKITMU KAYAMU SEBELUM TIBA MISKIN WAKTU LAPANGMU SEBELUM TIBA WAKTU SEMPITMU DAN GUNAKAN WAKTU HIDUPMU SEBELUM TIBA MATIMU pesan nabi

Rabu, 01 Februari 2012

Iman dan Sabar




Iman dan sabar merupakan dua kata yg berlainan tidak seakar api sama ari bahasa arab yabg tlah diadopsi kedalam bahasa Indonesia , keimanan itulah yg menopang sift sabar tsb. Jadi adanya sabar bukti adanya iman (keyaknan) bilakita dengar kata sabar yg terbayang pada benak kita adalah dtidak reaktif, tidakemosional dlam hadapi sesuatu danmenerima suatu kedaan dg tenang .
Tapisperti itulah yg dikehendaki Alloh yg merupakan perwujudan adanya aman itu.suatu contoh misalkan tentang kesabaran , apabila kita ditimpa musibah bagaimana sikap kita apakah mengeluh ,mencAci MAKI TUHAN/MENGATAKAN TUHAN TIDAK ADIL ATAU TUHAN TIDAK SAYANG PADA KITA . ITUsuatu sikap yg bertentangan dg islam yg menunjukkan lemahnya tauhid (iman) semestinya bilakita ditimpa musbah ,kesusahan,kesedihan, kita harus meyakini bahwa itu datangnya dari Alloh dan merupakan  bahwa alloh itu saying dan perhatian pada kita ,serta merupakan bentuk ujian tentang  keberadaan iman yg telah ada pada kita  yang telah kita ucapkan /ikrarkan  (29; 2-3). Ayat 2 ; Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: "Kami telah beriman", sedang mereka tidak diuji lagi? Ayat 3; Dan sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta.
Ketik KIT bersikP SEPERTI ITU kita barengi dengan minta pertolongan pada Alloh berdo’a dan berusaha agar ujian segera berlalu, ketikakita berdoa dan terus berdoa ternyata doa kita tdk segera lepasdariujian ,banyakberputus asa , akirnya tdk berdoapada Alloh , pada saat kita hamper putus asa kita masih yaki ini adalah kehendak Alloh yg terbaik ,Alloh menurunkan sesuatu , pasti ada hikmahnya saat iulah sikap sabar telah berperan dalam diri kita , dalam keadaan itu kita yakin itu ujian keadilan Alloh lalukita membarengi dg doa,dzaikir sholat dll.dan itukita lakuka dg istiqomah maka itu menunjukkan keimanan kita telahlulus diuji dalamkontek tersebut tentunya.
Selain sikap diatas dlam alquran kita dianjurkan mengucap inalilahi…………. saat ditimpa musibah ( 2;156) yg artnya (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan, "Innaa lillaahi wa innaa ilaihi raaji`uun"dan RS I hal 48, mungin mengucapka kata itu sangat  mudah sekalitapi sebatas kita ucapka,ayatituperlukia kaji ,kita resapi maknanya bahwakita lahir tdk membawa apa –apa ,jadi bila kita diberikesenangan ,kenikmatan lalu nikma itu diambil yg punya maka itu halyg wajar dan kita harus bersikap lapang, iklas , demikian juga harta ,jabata halyg kita cintai bila diambil kita bersikap lapang dan sabar karea itubukan hak kita , kita hanya diberi amanah untuk mengelolanya.
Sebenarnya apa tho yang menyebabkab kita mengalamirasa senang , susah itu karena keadaan sebelumnya yg berlawanan  shg pada saat itukita mengalami transisi (masa perubahan) sehingga dibutuhka adaptasi. Contoh  suhu dingi dan panas ,kalauorang ngare pergi kegunung pasti ia akan merasakan hawa dingin , tapiapa kata orang gunung sendiri ia tdk meraskan dingin karena sudah terbiasa sudah beradaptasi, sedang orang ngare pada saat masa adaptasi akan mengalami problem misalkan masuk angin flu dll.begitujugaorang gunung ke ngare akan merasakan hawa panas.
Demikian juga rasa susah dan senang kita merasa susah karena keadaan sebelumya  yakni rasa nikmat dan senang ketika nikmat itu dicabut  kita shock /kaget berganti rasa susah gelisah, sehingga perlu adaptasai , semakin lama akan hilang sendiri jika memang berusaha.
Kita lahir tdk bawa apa2 lalukita diberi nikmat kesenangan  sat nikmat dicabut unutk mengujinya ,apaharta dan keenangan itulebh dicintai dari Alloh?  Kalau dia susah berlarut2  berarti dia tdk sabar ,tdk iman, kalau orang banyak ditimpakesusahan bertahun2 isalkan suatusaat ia dihadapkan dg kesulitan ,susah lagi ia sudah kebal da terbiasa karena sudah beradaptasi dg keadaan spt itu.

Ikhlas


keikhlasan diperankan oleh hati yaitu hati yang Qolbun salim dan sebagaipersinggahan Iyyaka Na'budu Wa Iyyaka Nasta'in 
Sehubungan dengan tempat persinggahan ikhlas ini Allah telah berfirman di dalam Al-Qur'an, (artinya):
"Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama dengan lurus."
 (Al-Bayyinah: 5)
"Sesungguhnya Kami menurunkan kepadamu Kitab (Al-Qur'an) dengan (membawa) kebenaran. Maka sembahlah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya. Ingatlah, hanya kepunyaan Allah-lah agama yang bersih (dari syirik)."
 (Az-Zumar: 2-3)
"Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kalian, siapa di antara kalian yang lebih baik amalnya."
 (Al-Mulk: 2)
Al-Fudhail berkata, "Maksud yang lebih baik amalnya dalam ayat ini adalah yang paling ikhlas dan paling benar."
Orang-orang bertanya, "Wahai Abu Ali, apakah amal yang paling ikhlas dan paling benar itu ?"
Dia menjawab, "Sesungguhnya jika amal itu ikhlas namun tidak benar, maka ia tidak diterima. Jika amal itu benar namun tidak ikhlas maka ia tidak akan diterima, hingga amal itu ikhlas dan benar. Yang ikhlas ialah yang dikerjakan karena Allah, dan yang benar ialah yang dikerjakan menurut As-Sunnah." Kemudian ia membaca ayat, (artinya):
 "Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Rabbnya, maka hendaklah ia mengerjakan amal yang shalih dan janganlah ia mempersekutukan seorang pun dalam beribadah kepada Rabbnya." (Al-Kahfi: 110)
Allah juga berfirman, (artinya):
"Dan siapakah yang lebih baik agamanya daripada orang yang ikhlas menyerahkan dirinya kepada Allah, sedang dia pun mengerjakan kebaikan?"
 (An-Nisa': 125)
Menyerahkan diri kepada Allah artinya memurnikan tujuan dan amal karena Allah. Sedangkan mengerjakan kebaikan ialah mengikuti Rasulullah
 Shallallahu Alaihi wa Sallam dan Sunnah beliau.
Allah juga berfirman, (artinya):
"Dan, Kami hadapi segala amal yang mereka kerjakan, lalu Kami jadikan amal itu (bagaikan) debu yang beterbangan."
 (Al-Furqan: 23)
Amal yang seperti debu itu adalah amal-amal yang dilandaskan bukan kepada As-Sunnah atau dimaksudkan bukan karena Allah. Nabi
 Shallallahu Alaihi wa Sallam pernah bersabda kepada Sa'ad bin Abi Waqqash, "Sesungguhnya sekali-kali engkau tidak akan dibiarkan, hingga engkau mengerjakan suatu amal untuk mencari Wajah Allah, melainkan engkau telah menambah kebaikan, derajad dan ketinggian karenanya."
Di dalam Ash-Shahih disebutkan dari Anas bin Malik Radhiyallahu Anhu, dia berkata, "Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallambersabda, (artinya):
"Tiga perkara, yang hati orang mukmin tidak akan berkhianat jika ada padanya: Amal yang ikhlas karena Allah, menyampaikan nasihat kepada para waliyul-amri dan mengikuti jama'ah orang-orang Muslim karena doa mereka meliputi dari arah belakang mereka."
 (HR. At-Thirmidzi dan Ahmad)
Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam pernah ditanya tentang berperang karena riya', berperang karena keberanian dan berperang karena kesetiaan, manakah diantaranya yang ada di jalan Allah? Maka beliau menjawab, "Orang yang berperang agar kalimat Allah lah yang paling tinggi, maka dia berada di jalan Allah.
Beliau juga mengabarkan tiga golongan orang yang pertama-tama diperintahkan untuk merasakan api neraka, yaitu qari' Al-Qur'an, mujahid dan orang yang menshadaqahkan hartanya; mereka melakukannya agar dikatakan, "Fulan adalah qari', fulan adalah pemberani, Fulan adalah orang yang bershadaqah", yang amal-amal mereka tidak ikhlas karena Allah.
Di dalam hadits qudsi yang shahih disebutkan; "Allah berfirman, 'Aku adalah yang paling tidak membutuhkan persekutuan dari sekutu-sekutu yang ada. Barangsiapa mengerjakan suatu amal, yang di dalamnya ia menyekutukan selain-Ku, maka dia menjadi milik yang dia sekutukan, dan Aku terbebas darinya'." (HR. Muslim)
Di dalam hadits lain disebutkan;
 "Allah berfirman pada hari kiamat, 'Pergilah lalu ambillah pahalamu dari orang yang amalanmu kamu tujukan. Kamu tidak mempunyai pahala di sisi Kami'."
Di dalam Ash-Shahih disebutkan dari Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam, beliau bersabda:
"Sesungguhnya Allah tidak melihat tubuh kalian dan tidak pula rupa kalian, tetapi Dia melihat hati kalian."
 (HR. Muslim)
Banyak difinisi yang diberikan kepada kata ikhlas dan shidq, namun tujuannya sama. Ada yang berpendapat, ikhlas artinya menyendirikan Allah sebagai tujuan dalam ketaatan. Ada yang berpendapat, ikhlas artinya membersihkan perbuatan dari perhatian manusia, termasuk pula diri sendiri. Sedangkan shidq artinya menjaga amal dari perhatian diri sendiri saja. Orang yang ikhlas tidak riya' dan orang yang shidq tidak ujub. Ikhlas tidak bisa sempurna kecuali shidq, dan shidq tidak bisa sempurna kecuali dengan ikhlas, dan keduanya tidak sempurna kecuali dengan sabar.
Al-Fudhail berkata, "Meninggalkan amal karena manusia adalah riya', Mengerjakan amal karena manusia adalah syirik. Sedangkan ikhlas ialah jika Allah memberikan anugerah kepadamu untuk meninggalkan keduanya."
Al-Junaid berkata, "Ikhlas merupakan rahasia antara Allah dan hamba, yang tidak diketahui kecuali oleh malaikat sehingga dia menulis-nya, tidak diketahui syetan sehingga dia merusaknya dan tidak pula diketahui hawa nafsu sehingga dia mencondongkannya."
Yusuf bin Al-Husain berkata. "Sesuatu yang paling mulia di dunia adalah ikhlas. Berapa banyak aku mengenyahkan riya' dari hatiku, tapi seakan-akan ia tumbuh dalam rupa yang lain."
Pengarang Manazilus-Sa'irin berkata, "Ikhlas artinya membersihkan amal dari segala campuran." Dengan kata lain, amal itu tidak dicampuri sesuatu yang mengotorinya karena kehendak-kehendak nafsu, entah karena ingin memperlihatkan amal itu tampak indah di mata orang-orang, mencari pujian, tidak ingin dicela, mencari pengagungan dan sanjungan, karena ingin mendapatkan harta dari mereka atau pun alasan-alasan lain yang berupa cela dan cacat, yang secara keseluruhan dapat disatukan sebagai kehendak untuk selain Allah, apa pun dan siapa pun."
Dipetik dari: Ibnu Qayyim Al-Jauziyah, "Madarijus-Salikin Manazili Iyyaka Na'budu wa Iyyaka Nasta'in, Edisi Indonesia: Madarijus Salikin Pendakian Menuju Allah."