ASALAMU 'ALAIKUM WAROHMATULLOHI WABAROKATUH BLOG By MUH FAJAR HUDI APRIANTO @ MARI KITA GUNAKAN WAKTU KITA YANG TERSISA DENGAN SEBAIK MUNGKIN KARENA WAKTU KITA HANYA SEDIKIT AGAR KITA TIDAK TERMASUK ORANG ORANG YANG MERUGI mafa GUNAKAN WAKTU MUDAMU SEBELUM DATANG WAKTU TUAMU WAKTU SEHATMU SEBELUM DATANG WAKTU SAKITMU KAYAMU SEBELUM TIBA MISKIN WAKTU LAPANGMU SEBELUM TIBA WAKTU SEMPITMU DAN GUNAKAN WAKTU HIDUPMU SEBELUM TIBA MATIMU pesan nabi

Selasa, 05 Mei 2026

Belajar dari Naquib Al-Attas, Tujuan Pendidikan Adalah Menjadi Manusia Beradab



Belajar dari Naquib Al-Attas, Tujuan Pendidikan Adalah Menjadi Manusia Beradab 

Anggota Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Mohammad Syifa Amin Widigdo, menegaskan bahwa Naquib Al-Attas adalah salah satu dari sedikit pemikir Muslim modern yang berhasil membangun sistem pemikiran yang utuh, tentang ilmu, sejarah, kritik terhadap sekularisme, pendidikan, hingga adab.

Pandangan itu ia sampaikan di Honderhome Library, Jumat (24/04), yang menurutnya, sosok seperti Al-Attas tidak hanya hadir sebagai sarjana besar, tetapi sebagai arsitek intelektual yang membangun bangunan pemikiran secara menyeluruh.

Untuk memahami posisi Al-Attas dalam peta pemikiran Islam modern, Syifa membandingkannya dengan sejumlah tokoh besar Indonesia seperti Harun Nasution, Nurcholish Madjid, dan Hamka. Harun Nasution dikenal kuat dalam rehabilitasi rasionalitas Islam melalui gagasan Islam rasional. Nurcholish Madjid menonjol dalam upaya mengharmonikan keislaman, kemodernan, dan keindonesiaan di ruang publik modern. Sementara Buya Hamka menghadirkan sintesis ulama, sastrawan, mufasir, pemikir moral, dan dai.

Namun, menurut Syifa, Al-Attas bergerak lebih dalam dari sekadar pembaruan wacana. Ia masuk ke akar persoalan: dengan pandangan alam seperti apa umat Islam memahami ilmu, manusia, dan realitas. Jika tokoh lain berbicara tentang reformasi Islam, Al-Attas berbicara tentang reformasi dasar pengetahuan itu sendiri.

Karena itu, dalam buku The Shapers of Southeast Asian Islam, Khairudin Aljunied menempatkan Al-Attas sebagai seorang “desekularis”, yakni pemikir yang menjadikan kritik atas sekularisme sebagai poros utama bangunan intelektualnya.

Secara biografis, Al-Attas lahir di Bogor pada 1931. Ia menempuh pendidikan di dunia Melayu, lalu melanjutkan studi ke tingkat internasional melalui University of Malaya, McGill University, hingga meraih gelar doktor dari SOAS University of London. Pengalaman akademik itu membuatnya mengenal Barat dari dalam, tetapi tidak tunduk secara intelektual kepadanya.

“Karena itu kritik Al-Attas terhadap Barat bukan kritik reaktif, bukan sentimen anti-modernitas,” jelas Syifa.

Kritiknya bergerak pada level terdalam: worldview, epistemologi, dan asumsi dasar tentang manusia serta ilmu. Ia tidak menulis serpihan gagasan, tetapi membangun arsitektur intelektual yang sistematis.

Kontribusi Al-Attas

Salah satu kontribusi besar Al-Attas yang kerap kalah populer dari tema islamisasi ilmu adalah kajiannya tentang sejarah intelektual Islam Nusantara melalui disertasinya The Mysticism of Hamzah Fansuri. Dalam karya itu, ia menunjukkan bahwa Hamzah Fansuri bukan sekadar penyair sufi, tetapi figur penting dalam pembentukan bahasa intelektual Melayu dan proses islamisasi di Kepulauan Melayu.

Bagi Al-Attas, islamisasi Nusantara bukan hanya perpindahan agama, tetapi transformasi konsep, makna, dan bahasa. Ia juga menelaah polemik antara Hamzah Fansuri dan Nuruddin ar-Raniri dengan disiplin filologis dan konseptual yang ketat.

Namun, nama Al-Attas paling dikenal melalui kritiknya terhadap sekularisme. Menurutnya, sekularisme bukan sekadar pemisahan agama dan negara, melainkan sistem pandang yang memengaruhi cara manusia memahami ilmu, realitas, nilai, bahkan dirinya sendiri.

“Inilah tesis besarnya,” ujar Syifa. Ilmu tidak pernah sepenuhnya netral. Ketika umat Islam mengambil ilmu modern Barat tanpa memeriksa worldview di baliknya, yang masuk bukan hanya metode, tetapi juga asumsi-asumsi sekular tentang manusia, kebebasan, alam, dan kebenaran.

Akibatnya, lahirlah apa yang oleh Al-Attas disebut sebagai krisis kebenaran, kekacauan ilmu, dan kebingungan intelektual umat. Persoalannya bukan sekadar “Barat salah”, tetapi umat Islam memakai instrumen pengetahuan yang dibentuk oleh peradaban lain, lalu heran ketika kehilangan arah.

Dari sinilah lahir gagasan terkenalnya tentang islamisasi ilmu, yang kerap disalahpahami. Syifa menegaskan, islamisasi ilmu bukan sekadar menempelkan ayat Al-Qur’an pada semua disiplin ilmu, bukan ayatisasi, bukan slogan religius, dan bukan pula anti-sains.

Dalam logika Al-Attas, islamisasi ilmu adalah proses membebaskan ilmu dari asumsi-asumsi sekuler yang tersembunyi di dalamnya, lalu menatanya kembali berdasarkan konsep-konsep kunci Islam tentang manusia, jiwa, akal, realitas, dan tujuan hidup. Ini bukan proyek kosmetik, melainkan reorientasi epistemologis.

Meski demikian, warisan ini juga tidak luput dari kritik. Sarjana Malaysia Muhammad Faisal Musa menilai proyek islamisasi ilmu di Malaysia tidak berhenti di ruang akademik, tetapi masuk ke arus utama negara dan dalam pembacaan tertentu ikut memperkuat konservatisme intelektual serta kecenderungan eksklusif. Warisan Al-Attas, karenanya, besar sekaligus diperdebatkan.

Tujuan Pendidikan

Bagi Syifa, warisan paling tahan lama Al-Attas justru bukan istilah islamisasi ilmu, melainkan satu kata: adab.

Dalam Aims and Objectives of Islamic Education, Al-Attas menegaskan bahwa tujuan pendidikan Islam adalah menghasilkan “good man”, manusia yang baik—bukan sekadar tenaga kerja, warga yang patuh, atau individu kompetitif di pasar kerja.

Manusia yang baik itu adalah manusia beradab. Adab, menurut Al-Attas, bukan sekadar sopan santun, tetapi kemampuan menempatkan segala sesuatu pada tempatnya yang tepat: Tuhan pada posisi ketuhanan-Nya, wahyu pada otoritasnya, akal pada fungsi dan batasannya, ilmu pada hierarkinya, dan manusia pada tanggung jawab moralnya.

Karena itu, tujuan pendidikan bukan sekadar ta’lim atau transfer pengetahuan, bukan hanya tadris atau pengajaran, tetapi ta’dib—membentuk manusia yang beradab.

“Al-Attas mengatakan krisis besar umat Islam sebenarnya adalah kehilangan adab. Dari situlah lahir kekacauan ilmu, kepemimpinan palsu, dan ketidakadilan,” kata Syifa.

Menurutnya, diagnosis ini sangat tajam. Masalah umat bukan semata kurang pintar, tetapi kehilangan tata susun moral-intelektual untuk memahami ilmu secara benar.

Syifa pun merumuskan posisi Al-Attas secara singkat: ia adalah pemikir Islam modern di Asia Tenggara yang paling sistematis dalam menjadikan desekularisasi ilmu sebagai jalan pembaruan peradaban.

Warisan terbesarnya bukan hanya kritik atas Barat dan sekularisme, tetapi upayanya mengembalikan ilmu kepada tauhid, serta mengembalikan pendidikan kepada adab.

“Maka ketika Al-Attas wafat, yang hilang bukan sekadar seorang profesor. Yang hilang adalah satu generasi pemikir yang masih percaya bahwa kebangkitan umat harus dimulai dari ilmu yang tertib, makna yang tepat, dan manusia yang beradab,” pungkasnya.( sumber muhammadiyah.or.id )

Kamis, 02 April 2026

Indikator Ketaqwaan Dalam Alqur'an


 

Indikator Ketaqwaan Dalam Alqur'an (Khutbah Jum'ah) 

Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam. Dia yang telah memilih kita untuk merasakan indahnya Ramadhan, memberi kita kesempatan untuk memperbaiki diri, dan kini mengantarkan kita pada hari kemenangan. Sungguh, jika bukan karena rahmat-Nya, kita tidak akan mampu menahan lapar dan dahaga. Jika bukan karena kasih-Nya, kita tidak akan mampu memperbanyak ibadah dan meninggalkan maksiat.

Ya Allah, limpahkanlah shalawat dan salam kepada junjungan kami, Nabi Muhammad ﷺ. Sang cahaya yang menerangi kegelapan, rahmat yang dihadiahkan kepada alam semesta. Dialah teladan terbaik dalam keshabaran, pengorbanan, dan keistiqamahan. Rasul yang menangis dalam sujudnya demi umatnya, yang berpuasa bukan hanya menahan lapar, tetapi juga mendekatkan diri kepada-Mu.

Al-Qur’an telah menjelaskan kepada kita tentang karakteristik manusia bertakwa. Selain agar kita memahami ciri-cirinya, juga sebagai introspeksi diri apakah kita ada dalam jalur takwa tidak, agar kita dapat meraba sejauh mana ketakwaan kita kepada Allah telah mencapai substansinya. Allah sendiri menjamin hamba-Nya yang bertakwa akan mendapatkan hidup yang kekal di surga ditemani pasangan yang telah disucikan, lebih dari itu, karunia terbesar yang akan diberikan adalah rida dari-Nya.

Indikatot / Ciri-ciri orang yang bertakwa dapat kita lihat salah satunya dalam firman Allah surah Ali Imran ayat 16-17 yang berbunyi,


[16] (Yaitu) orang-orang yang berdoa, “Ya Tuhan kami, kami benar-benar beriman, maka ampunilah dosa-dosa kami dan lindungilah kami dari azab neraka.” [17] (Juga) orang yang sabar, orang yang benar, orang yang taat, orang yang menginfakkan hartanya, dan orang yang memohon ampunan pada waktu fajar. (QS. Ali Imran [3]: 16-17)

Dua ayat di atas menjelaskan bahwa orang yang bertakwa adalah mereka yang berdoa “Allażīna yaqụlụna rabbanā innanā āmannā fagfir lanā żunụbanā wa qinā 'ażāban-nār”, yakni orang yang senantiasa memohon ampunan dosa dan perlindungan dari neraka. Selanjutnya adalah orang-orang yang sabar, berlaku benar, taat, berinfaq, dan berdoa di akhir malam.

Al-Qusyairi menafsiri ayat ke-16 yakni orang-orang yang menyendiri sowan kepada Allah dengan rendah hati mengangkat kedua tangan berdoa dan mengeluhkan semua ujian dan musibah yang mereka alami. Mereka adalah orang-orang yang mendapatkan kedudukan dan keistimewaan, derajat yang tinggi, dan pemberian yang diridai Allah. (Lathaif Al-Isyarat/1/224)

1.Imannya Tulus. mereka yang tulus beriman kepada AllahIman yang haq (hakiki) adalah keyakinan utuh yang mengintegrasikan tiga komponen: dibenarkan dalam hati, diikrarkan dengan lisan, dan dibuktikan melalui perbuatan nyata. Iman ini tidak sekadar teori, melainkan ketaatan total, menghadirkan Allah dalam setiap tindak an, serta membuahkan akhlak mulia dan amal saleh. Dalam tafsirnya, Ath-Thabari mengartikan doa dalam surah Ali Imran ayat 16, orang-orang yang mengucapkan, “Sesungguhnya kami beriman kepada-Mu, Nabi-Mu, dan semua yang datang kepada kami adalah dari-Mu”. … iman yang benar adalah yang terbebas dari musyrik

2.Pengakuan Dosa: Semoga Engkau menutupi dosa-dosa kami dengan ampunan-Mu dan meniadakan hukuman kepada kami.Doa ini mencerminkan kerendahan hati orang beriman yang mengakui kekurangan diri dalam menaati Allah, serta ketakutan akan siksa-Nya. Selalu Berdoa dengan rendah hati.

3.Fokus pada Akhirat: Permohonan untuk dilindungi dari api neraka dikhususkan karena terbebas dari neraka adalah kemenangan sejati. Jauhkanlah kami dari azab dan neraka-Mu

4.Sabar. Al-Mawardi dalam kitabnya menjabarkan ada tiga interpretasi “Aṣ-ṣābirīn”, di antaranya: (1) Sabar dalam mengekang diri dari berbuat maksiat; (2). Sabar ketika ditimpa musibah; (3) Orang yang berpuasa.

Karakteristik Sabar bukanlah sikap pasif atau lemah, melainkan kekuatan aktif untuk mengendalikan diri agar tidak terburu-buru atau putus asa. Manfaat sabar adalah Menjaga ketenangan jiwa, meningkatkan kesehatan mental, menghindari stres, dan menjadi kunci kesuksesan/kemenangan

5.Sodiq/Benar. Arti kata “aṣ-ṣādiqīn” ada dua; (1) Benar dalam bertutur kata; (2) Benar dalam berkata, merealisasikan dengan berperilaku, dan bertekad sesuai niat. Sedangkan “al-qānitīn” ada dua pendapat, menurut Qatadah yaitu orang yang taat, dan menurut Az-Zujjaj yaitu orang yang senantiasa mendirikan ibadah. orang-orang yang benar, jujur, dan teguh imannya kepada Allah serta Rasul-Nya, mencakup kesesuaian antara keyakinan hati, perkataan, dan perbuatan. Mereka adalah golongan manusia istimewa (setingkat di bawah Nabi) yang menjadi panutan karena ketakwaan, kejujuran, dan keikhlasannya. Jujur dalam Akidah dan Perbuatan: Shadiqin adalah mereka yang hatinya tulus, berniat kuat mengikuti jalan yang benar, dan amal ibadahnya sesuai dengan petunjuk Nabi. Pengikut Rasul yang Setia: Mereka adalah orang-orang yang membenarkan ajaran Rasulullah dan konsisten mengamalkannya.

6. Berinfaq. Kata “al-munfiqīn” juga mengandung dua tafsiran. Pertama, berarti jihad. Kedua, berarti seluruh kebaikan. Adapun “al-mustagfirīna bil-as-ḥār” ada tiga tafsiran:

7. .Istigfar. Orang yang salat di waktu sahur (sebelum fajar), ini pendapat Qatadah. Orang yang beristigfar (meminta ampunan kepada Allah) dengan lisan, pendapat ini dikemukakan oleh Ibnu Umar, Ibnu Mas’ud, dan Anas bin Malik .  Orang yang hadir mengikuti salat subuh berjamaah, pendapat ini dari Zaid bin Aslam (An-Nukat wa Al-‘Uyun/1/377-378)

(1) “Aṣ-ṣābirīn” artinya orang-orang yang sabar saat terkena musibah dan kesulitan.

(2) “Aṣ-ṣādiqīn” artinya orang-orang yang menyatakan iman kepada Allah dan utusan-Nya serta semua yang datang adalah dari Allah seraya melaksanakan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya.

(3) “Al-qānitīn” artinya orang-orang yang taat kepada Allah.

Beliau juga mengutip pernyataan Qatadah:

(a) “Aṣ-ṣādiqīn” berarti orang-orang yang benar ucapannya, hati dan lisannya konsisten, benar dalam keadaan lahir dan batinnya.

(b) “Aṣ-ṣābirīn” berarti orang-orang yang sabar dalam melaksanakan perintah dan larangan Allah.

(c) “Al-qānitīn” berarti orang-orang yang taat kepada Allah.

(d) “Al-munfiqīn” berarti orang-orang yang zakat dengan hartanya dengan rendah hati saat menyerahkannya dan menginfakkan hartanya kepada hal-hal yang telah diizinkan Allah.

Kata “al-mustagfirīna bil-as-ḥār” dinyatakan oleh Ath-Thabari bahwa ada berbagai pendapat:

Pendapat pertama mengartikan sebagai orang-orang yang salat di ujung malam yaitu: (1) Orang-orang yang melaksanakan salat; (2) Orang-orang yang salat di akhir malam. Keduanya diriwayatkan oleh Qatadah.

Pendapat kedua mengartikan sebagai orang-orang yang beristigfar:

Ayahnya Ibrahim bin Hathib yang berkata, “Aku mendengar laki-laki di sisi masjid seraya berdoa,  


Nafi’ bercerita bahwa Ibnu Umar menghidupkan malam dengan salat, lalu dia berkata, “Wahai Nafi’, apakah sudah tiba akhir malam?”, Nafi’ menjawab, “belum” lalu beliau kembali berdiri melaksanakan salat. Dan ketika aku berkata, “sudah”, lalu beliau duduk beristigfar dan berdoa sampai tiba waktu subuh.

Anas nin Malik berkata, “Aku diperintahkan membaca istigfar di ujung malam sebanyak 70 kali”.

Abu Ya’kub Adh-Dhabbi berkata, “Aku mendengar Ja’far bin Muhammad berkata, “Barangsiapa salat malam lalu beristigfar di akhir malamnya sebanyak 70 kali maka ia termasuk dalam al-mustagfirīna bil-as-ḥār””.

Pendapat ketiga mengartikan sebagai orang-orang yang hadir mengikuti salat subuh berjamaah. Yakni Ya’kub bin Abdirrahman, beliau pernah bertanya kepada Zaid bin Aslam, “Siapa yang dimaksud al-mustagfirīna bil-as-ḥār?”, Zaid menjawab, “Orang-orang yang hadir melaksanakan salat subuh”.

Ath-Thabari menambahkan, pendapat yang paling utama dari berbagai pendapat di atas adalah mereka yang mengatakan sebagai orang-orang yang memohon kepada agar semua aibnya ditutupi oleh Allah. (Jami’ Al-Bayan fi Ta’wil Al-Qur’an/6/263-267)

Ayat ini juga bisa diaplikasikan dalam pendidikan orang tua kepada anak (parenting education), Al-Baghawi dalam tafsirnya mengutip Al-Hasan yang bercerita kisah Luqman Al-Hakim saat membangunkan anaknya di ujung malam seraya berkata, “Wahai anakku, janganlah kamu kalah dari seekor ayam yang telah berkokok di pagi hari, sedangkan kamu masih dalam keadaan terlelap di tempat tidurmu!” (Ma’alim At-Tanzil fi Tafsir Al-Qur’an/1/420)

Senin, 17 November 2025

Pentingnya Agama Islam dalam Kehidupan

 


Pentingnya Agama Islam dalam Kehidupan  

Segala puji bagi Allah SWT yang telah memberikan kita nikmat iman dan Islam. Shalawat serta salam semoga tercurah kepada Nabi Muhammad SAW, keluarga, sahabat, dan seluruh umatnya hingga akhir zaman. Di era digital ini peranan agama semakin tergerus dan menghadapi tantangan yang berat apalagi bagi generasi milenial dan Gen Z yang sadar maupun tak sadar terpapar dengan virus pemikiran yang menyeret mereka pada satu pemahaman yang salah terhadap agama khususnya Islam ada yang terseret pada nativisasi, sekulerisme bahkan sampai pada agnostic dan ateisme.

Menurut penelitian lembaga surve prosentasi penganut agnostic dan ateisme itu meningkat di Eropa dan Asia, termasuk juga di Indonesia.  Meningkatnya ateisme di Indonesia tidak dapat dipastikan dengan data yang pasti karena stigma sosial dan kewajiban mencantumkan agama di dokumen resmi. Namun, ada indikasi peningkatan melalui survey yang menunjukkan sebagian pemuda mungkin tidak lagi memiliki keyakinan agama ‘warisan’, dipicu oleh kekecewaan terhadap praktik keagamaan yang dogmatis, ketidaksesuaian antara ajaran dan perilaku pemuka agama, serta pengaruh internet yang memudahkan orang menemukan komunitas sehaluan.

Pengertian. Ateis adalah orang yang tidak percaya akan keberadaan Tuhan, sedangkan agnostik adalah orang yang tidak tahu dan berpendapat bahwa keberadaan Tuhan tidak dapat diketahui. Perbedaannya terletak pada klaim pengetahuan: ateis mengklaim bahwa Tuhan tidak ada, sementara agnostik menyatakan bahwa tidak ada cukup bukti untuk mengetahui secara pasti apakah Tuhan ada atau tidak

Penyebab yang mungkin memicu peningkatan ateisme

-Kekecewaan terhadap pemuka agama: Beberapa pemuda merasa kecewa dengan perilaku pemuka agama yang dianggap tidak mencerminkan ajaran welas asih atau malah menampilkan sikap kaku dan dogmatis.

-Pola pendidikan agama yang dogmatis: Pola pendidikan agama yang terlalu keras dan dogmatis dari orang tua dapat mendorong anak menjadi tidak simpatik dengan agama, bahkan menentangnya.

-Dampak internet: Perkembangan internet memungkinkan orang untuk terhubung dengan komunitas daring yang memiliki pandangan serupa, baik itu agnostik maupun ateis. Internet dan media sosial memberikan akses ke berbagai gagasan, ide-ide kritis, dan informasi tentang pandangan agama yang berbeda, yang bisa mengarah pada penurunan keyakinan agama.

-Pengaruh kasus kekerasan atas nama agama: Pemberitaan tentang kasus-kasus kekerasan yang mengatasnamakan agama dapat memicu pandangan negatif terhadap agama secara umum.

-Kesenjangan ekonomi dan ketidakadilan: Kesenjangan ekonomi dan perasaan tidak adil dapat mendorong sebagian orang untuk percaya bahwa masalah sosial dan keadilan adalah ciptaan manusia, bukan actor ilahi.

-Pendidikan dan sains: Pendidikan yang lebih tinggi dan pengenalan terhadap teori ilmiah seperti evolusi dan Big Bang cenderung membentuk pandangan dunia yang lebih sekuler.

-Nilai-nilai liberal: Munculnya nilai-nilai yang lebih liberal seperti kebebasan pribadi dan empirisme di berbagai negara juga berkontribusi pada pergeseran keyakinan.

Tantangan yang dihadapi

-Stigma sosial yang kuat: Di Indonesia, menjadi ateis sangat tidak umum dan mendapat stigma negatif yang besar dari masyarakat.

-Kewajiban mencantumkan agama: KTP dan dokumen administratif lainnya mewajibkan warga negara untuk mencantumkan salah satu dari enam agama yang diakui negara, yang mempersulit pengakuan resmi bagi penganut ateisme.

-Persekusi hukum: Ada undang-undang yang dapat menjerat seseorang yang dianggap menghasut orang lain untuk tidak beragama, sebagaimana dialami oleh Alexander Aan di masa lalu.

Meskipun sulit mengukur peningkatan jumlah ateis di Indonesia karena faktor-faktor di atas, tren global menunjukkan peningkatan jumlah generasi muda yang meninggalkan agama warisan, meskipun Indonesia memiliki tingkat keyakinan agama yang relatif tinggi berdasarkan survei tertentu. berikut beberapa hal yang menunjukkan pentingnya kedudukan agama (dienul Islam)

1. Agama sebagai Pedoman Hidup

Agama bukan sekadar ritual, tetapi merupakan sistem nilai yang membimbing kita dalam menjalani kehidupan. Dalam setiap aspek—baik pribadi, sosial, maupun spiritual—agama hadir sebagai kompas moral yang menunjukkan arah kebaikan.

Tanpa agama, manusia mudah terombang-ambing oleh hawa nafsu dan godaan dunia. Agama mengajarkan kita untuk jujur, amanah, sabar, dan bertanggung jawab. Nilai-nilai ini menjadi fondasi dalam membentuk karakter yang mulia.

Artinya: Dan apabila kamu tidak membawa suatu ayat Al Quran kepada mereka, mereka berkata: "Mengapa tidak kamu buat sendiri ayat itu?" Katakanlah: "Sesungguhnya aku hanya mengikut apa yang diwahyukan dari Tuhanku kepadaku. Al Quran ini adalah bukti-bukti yang nyata dari Tuhanmu, petunjuk dan rahmat bagi orang-orang yang beriman".

2. Agama Memberi Ketenangan Batin

Di tengah hiruk-pikuk dunia, banyak orang mencari ketenangan. Namun, ketenangan sejati tidak datang dari harta atau jabatan, melainkan dari kedekatan dengan Tuhan. Dalam Al-Qur’an disebutkan:

"Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram." (QS. Ar-Ra’d: 28)

Ketika kita berserah diri kepada Tuhan, kita merasa lebih ringan menghadapi ujian hidup. Doa dan ibadah menjadi sumber kekuatan batin yang luar biasa.

Jepang mencatat jumlah kasus bunuh diri tertinggi di kalangan pelajar pada tahun 2024, menurut data terbaru dari Kementerian Kesehatan yang dirilis pada Rabu (29/1/2025).

Angka kasus bunuh diri di kalangan siswa sekolah dasar hingga sekolah menengah meningkat menjadi 527 kasus, naik dari 513 kasus pada tahun sebelumnya.

Meskipun demikian, jumlah keseluruhan kasus bunuh diri di Jepang mengalami penurunan 7,2 persen menjadi 20.268 kasus, jauh lebih rendah dibandingkan puncaknya pada 2003 yang mencapai 34.427 kasus.

3. Agama Menumbuhkan Solidaritas Sosial

Agama mengajarkan kita untuk peduli terhadap sesama. Dalam Islam, misalnya, zakat dan sedekah bukan hanya ibadah, tapi juga bentuk kepedulian sosial. Kita diajarkan untuk membantu yang lemah, menyantuni yatim, dan menjaga silaturahmi.

Agama juga mendorong toleransi antar umat. Meski berbeda keyakinan, kita diajarkan untuk saling menghormati dan hidup berdampingan dengan damai.

4. Agama Inspirasi  Ilmu Pengetahuan

Agama tidak bertentangan dengan ilmu. Justru, banyak ayat dalam kitab suci yang mendorong kita untuk berpikir, belajar, dan meneliti. Dalam sejarah, banyak ilmuwan besar yang lahir dari lingkungan religius dan menjadikan ilmu sebagai bentuk ibadah.

“Dan perumpamaan-perumpamaan ini Kami buat untuk manusia; dan tiada yang memahaminya kecuali orang-orang yang berilmu.” (QS. Al-Ankabut :43)

Jama’ah Jum’ah yang dirahmati Allah, Agama adalah cahaya dalam kegelapan, penuntun dalam kebingungan, dan pelipur dalam kesedihan. Islam  menekankan kewajiban dan keutamaan menuntut ilmu, baik agama maupun dunia, dengan landasan utama dari Al-Qur'an (seperti QS. Al-'Alaq 1-5 dan QS. At-Taubah 122) dan hadis (seperti hadis Muslim dan Tirmidzi). Islam memandang ilmu sebagai kunci kebaikan, mengangkat derajat orang berilmu, memudahkan jalan menuju surga, dan memberikan kebaikan dunia akhirat. Kita tengok iptek bersinar di era Andalusia dan Abbasiyah banyak ilmuwan islam menguasai dalam semua disiplin ilmu

5. Mengetahui Makna Hidup dalam Perspektif Islam

Dalam Islam, hidup bukanlah sekadar menjalani rutinitas harian atau mengejar kesenangan dunia semata. Allah SWT berfirman: “Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku.” (QS. Az-Zariyat: 56)

Ayat ini menunjukkan bahwa inti dari makna hidup seorang muslim adalah untuk beribadah kepada Allah. Namun, ibadah dalam Islam tidak terbatas hanya pada ritual seperti salat dan puasa. Setiap aspek kehidupan seperti bekerja, belajar, berkeluarga, bahkan bersosialisasi bisa menjadi bentuk ibadah jika diniatkan karena Allah.

6. Agama adalah Nasihat. Bahwa dalam dinul islam kita diajari bagaimana kita merespon sebuah keadaan yang menimpa kita ketika sedih agama perintahkan sabar, kitika senagng bersukur ketika marah, tertimpa ujian bagaimana agama menyediakan cara /meresponnya dengan cara terbaik.

“Agama itu adalah nasihat, agama itu adalah nasihat, agama itu adalah nasihat. Mereka (para Sahabat) bertanya: ‘Untuk siapa, wahai Rasulullah?’ Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab: ‘Untuk Allah, Kitab-Nya, Rasul-Nya, Imam kaum Muslimin atau Mukminin, dan bagi kaum Muslimin pada umumnya.

Selasa, 15 Juli 2025

Peran Madrasah Dalam Menanamkan Adab Pada Peserta Didik

 

PERAN MADRASAH DALAM MENANAMKAN ADAB PADA PESERTA DIDIK

 

Muh Fajar Hudi Aprianto

 

 

Menjadi insan yang beradab adalah cita-cita para pendiri bangsa Indonesia, yang telah tertuang dalam sila ke-2 Pancasila. Madrasah memiliki peran penting dalam membentuk karakter dan akhlak peserta didik. Pendidikan di madrasah tidak hanya berfokus pada ilmu pengetahuan, tetapi juga pada adab atau akhlak yang sesuai dengan ajaran Islam. Dalam kehidupan modern yang penuh tantangan, madrasah menjadi pilar utama dalam menanamkan nilai-nilai adab kepada generasi Muslim agar mereka tumbuh menjadi individu yang berakhlak mulia dan berkontribusi positif bagi masyarakat.

 

Madrasah Sebagai Wadah Pendidikan Adab

 

Sejak dahulu, madrasah telah menjadi tempat pembelajaran yang menanamkan nilai-nilai keimanan, kesopanan, kedisiplinan, dan rasa hormat kepada peserta didik. Pendidikan adab yang diajarkan di madrasah meliputi:

1.      Adab terhadap Allah Swt

Siswa diajarkan untuk selalu mengingat dan bersyukur kepada Allah, serta menjalankan ibadah dengan penuh kesadaran dan keikhlasan.

2.      Adab terhadap Guru dan Orang Tua

Rasa hormat kepada guru dan orang tua menjadi dasar utama dalam pembentukan karakter yang baik. Siswa dibiasakan untuk bersikap sopan, mendengarkan dengan penuh perhatian, serta menghargai ilmu yang diajarkan. Sebelum mengikuti pelajaran disampaikan adab menuntut ilmu agar ilmu yang didapat membawa manfaat dan keberkahan,serta ilmunya dapat digunakan dengan bijaksana dan tidak disalahgunakan

3.      Adab terhadap Sesama

Madrasah membimbing siswa agar selalu berbuat baik, berkata yang baik membantu teman yang kesulitan, dan menghindari perilaku yang menyakiti orang lain.

4.      Adab terhadap Lingkungan

Kepedulian terhadap lingkungan juga diajarkan, seperti menjaga kebersihan, menghemat air dan listrik termasuk adab pada benda mati memperlakukan sumber ilmu dengan baik meletakkan meja kursi dan peralatan lainnya dengan hati-hati serta menghargai alam sebagai ciptaan Allah Swt.

 

Metode Penanaman Adab di Madrasah

 

Untuk mewujudkan dan memastikan nilai-nilai adab dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, madrasah menggunakan beberapa metode dan model pembelajaran di antaranya:

a.       Teladan dari Guru dan Pendidik

Guru berperan sebagai contoh dalam bersikap dan berperilaku. Siswa belajar lebih efektif ketika mereka melihat adab yang baik langsung dari orang dewasa di sekitar mereka.

b.      Penerapan dalam Kegiatan Sehari-hari

Madrasah mengintegrasikan adab dalam rutinitas harian, seperti mengucapkan salam, menjaga kebersihan, berbicara dengan lembut, dan menghormati teman sebaya.

c.       Pembelajaran Berbasis Sirah dan Kisah Islami

Kisah Nabi Muhammad SAW dan para sahabat yang memiliki akhlak mulia menjadi inspirasi bagi siswa untuk meniru sikap mereka dalam kehidupan sehari-hari. Pembelajaran adab berbasis Sirah Nabawiyah bertujuan untuk membentuk karakter religius, moral, dan etika yang baik pada diri anak-anak. Dengan mempelajari Sirah Nabawiyah, anak-anak dapat memahami contoh-contoh positif dalam kehidupan Nabi Muhammad dan dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

d.      Pembiasaan dan Penghargaan

Madrasah menciptakan rutinitas yang mendorong perilaku yang baik dan adab dalam kehidupan sehari-hari. Madrasah secara berkala memberikan apresiasi kepada siswa yang menunjukkan sikap terpuji, sehingga semakin banyak anak-anak yang terdorong untuk menerapkan adab dengan baik.

e.       Pembelajaran Berbasis Proyek:

Siswa mengerjakan proyek yang terkait dengan materi adab, misalnya membuat poster tentang nilai-nilai adab atau melakukan kegiatan sosial dengan menerapkan adab dalam berinteraksi.

 

Tantangan dalam Menanamkan Adab

 

Dalam sebuah program pendidikan biasanya tidak lepas dari tantangan apalagi di era modern ini, pendidikan adab menghadapi tantangan besar, seperti pengaruh media digital, kurangnya teladan di lingkungan keluarga, dan perubahan budaya yang mengutamakan kebebasan. Oleh karena itu, madrasah perlu berinovasi dalam mengajarkan adab kepada siswa, misalnya dengan pemanfaatan media digital berbasis pendidikan Islam, Media pembelajaran seperti video, gambar, dan cerita dapat digunakan untuk memperkaya dan membuat pembelajaran adab lebih menarik. serta menjalin kerja sama dengan orang tua agar pembelajaran adab tidak hanya dilakukan di madrasah, tetapi juga diterapkan di rumah.

Kesimpulan

Madrasah berperan sebagai penjaga nilai-nilai adab dalam kehidupan generasi Muslim. Dengan pendidikan yang berlandaskan Islam, madrasah menjadi tempat yang tidak hanya memberikan ilmu, tetapi juga membentuk karakter yang penuh dengan kebaikan dan akhlak mulia. Model pembelajaran adab di madrasah haruslah fleksibel dan disesuaikan dengan karakteristik siswa dan lingkungan madrasah. Pembelajaran adab harus dilakukan secara berkelanjutan dan terintegrasi dalam seluruh aspek kehidupan di madrasah, sehingga siswa dapat menginternalisasi nilai-nilai positif dan akhlak mulia. Dengan kerja sama antara guru, orang tua, dan lingkungan sekitar, nilai-nilai adab dapat terus diterapkan dan diwariskan kepada generasi berikutnya, sehingga mereka tumbuh menjadi Muslim yang beradab dan berkontribusi bagi dunia.

Senin, 26 Mei 2025

Menanamkan Adab pada Generasi Islam Berbasis Sirah Nabawiyah

 


 Menanamkan Adab pada Generasi Islam Berbasis Sirah Nabawiyah

Pendahuluan
Adab merupakan bagian penting dalam pendidikan Islam, yang tidak hanya membentuk kecerdasan tetapi juga membangun karakter dan kepribadian seseorang. Dalam Islam, adab telah diajarkan langsung oleh Nabi Muhammad SAW, baik melalui perkataan maupun keteladanan dalam kehidupan sehari-hari. Dengan pendekatan berbasis Sirah Nabawiyah, peserta didik dapat memahami dan meniru akhlak Rasulullah untuk diterapkan dalam kehidupan mereka.

Adab dalam Sirah Nabawiyah sebagai Landasan Pendidikan
Sirah Nabawiyah adalah kisah perjalanan hidup Nabi Muhammad SAW yang penuh dengan hikmah dan nilai-nilai luhur. Beberapa contoh adab yang dapat ditanamkan melalui kisah-kisah beliau, antara lain:

1. Adab terhadap Allah SWT
   - Nabi Muhammad SAW selalu mengutamakan ibadah, seperti shalat tepat waktu dan berdoa dengan khusyuk.tidak mensekutukannya dengan sesuatu apapun
   - Mengajarkan peserta didik untuk selalu bersyukur dan bertawakal kepada Allah dalam setiap keadaan.

2. Adab terhadap Orang Tua dan Guru
   - Nabi menunjukkan rasa hormat kepada orang tua dan gurunya, serta selalu bersikap sopan dalam berbicara dan berperilaku.
   - Peserta didik diajarkan untuk menghormati guru sebagai pembimbing ilmu dan mendengar dengan penuh perhatian saat diajar.

3. Adab terhadap Sesama Manusia
   - Nabi Muhammad SAW dikenal sebagai pribadi yang penuh kasih sayang dan tidak pernah membalas kejahatan dengan keburukan.
   - Siswa diajak untuk belajar empati, saling membantu, dan berbuat baik kepada teman-temannya.

4. Adab terhadap Lingkungan
   - Rasulullah selalu menjaga kebersihan dan mencintai alam sebagai ciptaan Allah.
   - Peserta didik diajarkan untuk menjaga lingkungan, seperti tidak membuang sampah sembarangan dan merawat alam dengan baik. adab kepada benda mati

Metode Menanamkan Adab Berbasis Sirah Nabawiyah
Agar peserta didik lebih mudah memahami dan menerapkan adab dalam kehidupan sehari-hari, pendekatan berbasis Sirah Nabawiyah dapat dilakukan dengan berbagai metode, seperti:

- Pendekatan Kisah Nabi – Guru dapat menceritakan kisah Nabi Muhammad SAW yang menunjukkan contoh adab yang baik, seperti kisah tentang kesabaran beliau menghadapi hinaan penduduk Thaif.
- Role Playing dan Simulasi – Peserta didik bisa mempraktikkan cara berbicara sopan dan berperilaku baik melalui permainan peran.
- Diskusi dan Refleksi – Setelah mendengar kisah Rasulullah, siswa diajak untuk berdiskusi tentang pelajaran yang bisa mereka ambil dari kisah tersebut.
- Penghargaan atas Akhlak Baik – Sekolah dapat memberikan apresiasi bagi peserta didik yang menunjukkan adab baik dalam kesehariannya.

Kesimpulan
Menanamkan adab pada peserta didik berbasis Sirah Nabawiyah adalah cara efektif untuk membangun karakter yang mulia dalam Islam. Dengan mengambil inspirasi dari kehidupan Rasulullah SAW, peserta didik dapat belajar kesabaran, kejujuran, kepedulian, serta rasa hormat terhadap sesama. Madrasah sebagai lembaga pendidikan Islam memiliki peran penting dalam mengajarkan adab dengan metode yang menyenangkan dan penuh makna.

Senin, 18 November 2024

Milad Ke 112 Muhammadiyah



Pada hari ini, salah satu ormas Islam terbesar di Indonesia Muhammadiyah, berulang tahun ke 112.  Tepatnya 18 November  1912 Muhammadiyah didirikan. Tidak ada salahnya untuk menyimak kembali sejarah singkat pendirian salah satu organisasi keagamaan yang didirikan oleh KH Ahmad Dahlan tersebut. 


Muhammadiyah pertama kali didirikan pada 8 Dzulhijjah 1330 H atau bertepatan pada tanggal 18 November 1912 oleh KH. Ahmad Dahlan, keturunan yang kedua belas dari Maulana Malik Ibrahim, salah seorang yang terkemuka di antara Walisongo, yaitu pelopor penyebaran agama Islam di Jawa.


Sebagai informasi, tahun ini Muhammadiyah memperingati milad ke-112 jika dihitung berdasarkan kalender masehi 1912-2024. Tema yang diangkat yaitu “Menghadirkan Kemakmuran untuk Semua” .


Melansir muhammadiyah.or.id, Muhammadiyah didirikan pada 18 November 1912 di Kauman, kota Yogyakarta yang diawali dengan keberadaan Sekolah Rakyat bernama Madrasah Ibtidaiyah Diniyah Islamiyah oleh KH. Ahmad Dahlan.

Kegiatan belajar-mengajar dilakukan di ruangan berupa kamar tamu di rumah KH. Ahmad Dahlan yang memiliki panjang 6 meter dan lebar 2.5 meter, berisi tiga meja dan tiga kursi panjang serta satu papan tulis.

Pada saat itu ada sembilan santri yang menjadi murid di Madrasah Ibtidaiyah Diniyah Islamiyah. Seiring waktu, KH. Ahmad Dahlan mendapat dorongan dari muridnya agar membentuk organisasi yang diharapkan akan menjaga keberlanjutan Madrasah Ibtidaiyah Diniyah Islamiyah.

Organisasi itu bernama Muhammadiyah, dengan harapan agar para anggotanya dapat meneladani Nabi Muhammad Saw. Dalam Statuten atau Anggaran Dasar Muhammadiyah yang diajukan kepada Pemerintah Hindia-Belanda disebutkan bahwa tanggal berdiri organisasi ini adalah 18 November 1912.

Setelah melewati proses pengajuan yang sulit dan memakan waktu lama, dengan terbitnya Besluit pada 22 Agustus 1914 No.81, akhirnya Muhammadiyah sebagai Badan Hukum diakui oleh Pemerintah Hindia-Belanda.

Pada masa awal pendirian, aturan yang ditetapkan oleh Pemerintah Hindia-Belanda membatasi ruang dan gerak Muhammadiyah.

Namun, dalam Kongres Boedi Oetomo pada tahun 1917, KH. Ahmad Dahlan memutuskan Muhammadiyah harus didirikan di seluruh Jawa, dan bahkan di Sumatera, Sulawesi, Kalimantan, dan di berbagai tempat di nusantara.

KH Ahmad Dahlan memimpin Muhammadiyah sejak tahun 1912 dan berakhir ketika wafat pada 1923. Tahun-tahun terakhir jelang wafat, KH. Ahmad Dahlan masih sempat mendirikan gerakan kepanduan bernama Hizbul Wathan pada 1918, membentuk Bagian Penolong Haji, kemudian berinisiatif mendirikan Mushola khusus untuk perempuan yang pertama di Hindia-Belanda

Bahkan dalam keadaan sakit jelang rapat tahunan pada 1923, ia masih sempat mendirikan surau di Tretes Malang. Dari awal hingga setengah abad berikutnya, kepemimpinan di Muhammadiyah dilanjutkan oleh Kyai Haji Ibrahim pada tahun 1923 hingga 1931.

Selasa, 07 Maret 2023

Sejarah Puasa dan Khutbah Rosululloh menjelang Ramadhan

 Sejarah Puasa dan Khutbah Rosululloh menjelang Ramadhan Syukur

 Alhamdulilah kepada Alloh  dan Sholawat serta salam tercurah kepada  Nabi Muhammad Saw, shahabat dan para pengikutnya

Sejarah Puasa Ramadhan pertama kali diwajibkan oleh Allah Swt untuk umat Islam terjadi pada tahun kedua Hijriyah. Menurut ulama ada yang berpendapat hari senin tanggal 2 sya’ban  Pada waktu itu, Rasulullah SAW baru menerima perintah memindahkan arah kiblat dari Baitul Maqdis di Palestina ke arah Masjidil Haram di Makkah. Berarti selama 15 tahun belum diwajibkan puasa ramadan. Lalu kapan pelaksanaannya maka dijelaskan dalam ayat selanjutnya 2;185 di bulan romadon, sahru romadona….

Imam At-Thobari dalam Jami’ Al-Bayan menuliskan bahwa Muadz bin Jabal ra berkata: Ketika Rasulullah saw datang ke Mekkah maka puasa yang dilakukan oleh beliau adalah puasa Asyura dan puasa tiga hari pada setiap bulannya, hingga akhirnya Allah mewajibkan puasa Ramadhan, dan Allah menurunkan ayat-Nya:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

“Wahai orang yang beriman, diwajibkan kepadamu berpuasa sebagaiman telah diwajibkan kepada umat sebelummu agar kamu bertaqwa.” (QS Al-Baqarah : 183).

شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِيْٓ اُنْزِلَ فِيْهِ الْقُرْاٰنُ

Artinya: Bulan Ramadan adalah (bulan) yang di dalamnya diturunkan Al-Qur'an, ( 2; 185 )

Jadi Alloh memerintahkan puasa yang berat itu melalui proses 15 th setelah iman kaum muslimin sudah kokoh dan lurus sehingga saat diperintah tidak merasa terbebani karena puasa itu tiak mudah dilalakukan tidak sekedar bias melalukan tapi terasa lapang dan senang ketika datangnya Ramadan, agar bisa menikmati Ramadan harus cinta sehingga ketika Ramadan berlalu merasa kehilangan itulah yang diinginkan Alloh dan Rosulnya.  Alloh memotivasi dengan menyebutkan bahwa yg puasa bukan sekedar kamu tapi umat terdahulun juga berpuasa sehngga di bulan sya’ban rosululloh memberikan motivasi yang luar biasa dengan menyebutkan keutamaan bulan suci Ramadan agar dalam menjalaninya dengan lapang / marhab dan penuh keikhlasan.

Rasulullah Shallalhu ‘Alaihi Wasallam pada akhir bulan Sya’ban atau menjelang masuknya bulan suci Ramadhan, pernah memberikan khutbah atau nasihat di hadapan para shahabatnya. Rasulullah pada kesempatan tersebut menjelaskan tentang keutamaan dan keistimewaan bulan suci Ramadan. Khutbah atau nasihat pada akhir Sya’ban Rasulullah Shallalhu ‘Alaihi Wasallam tersebut sebagai berikut:

أَيُّهَا النَّاسُ قَدْ أَظَلَّكُمْ شَهْرٌ عَظِيْمٌ، شَهْرٌ مُبَارَكٌ، شَهْرٌ فِيْهِ لَيْلَةٌ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ، جَعَلَ اللهُ صِيَامَهُ فَرِيْضَةً، وَقِيَامَ لَيْلِهِ تَطَوُّعًا،

مَنْ تَقَرَّبَ فِيْهِ بِخِصْلَةٍ مِنَ الْخَيْرِ، كَانَ كَمَنْ أَدَّى فَرِيْضَةً فِيْمَا سِوَاهُ، وَمَنْ أَدَّى فِيْهِ فَرِيْضَةً كَانَ كَمَنْ أَدَّى سَبْعِيْنَ فَرِيْضَة فِيْمَا سِوَاهُ،

وَهُوَ شَهْرُ الصَّبْرِ، وَالصَّبْرُ ثَوَابُهُ الْجَنَّةُ، وَشَهْرُ الْمُوَاسَاةِ، وَشَهْرٌ يَزْدَادُ فِيْهِ رِزْقُ الْمُؤْمِنِ، مَنْ فَطَّرَ فِيْهِ صَائِمًا كَانَ مَغْفِرَةً لِذُنُوْبِهِ، وَعِتْقَ رَقَبَتِهِ مِنَ النَّارِ، وَكَانَ لَهُ مِثْلَ أَجْرِهِ مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْتَقِصَ مِنْ أَجْرِهِ شَيْءٌ،

قَالُوْا: لَيْسَ كُلُّنَا نَجِدُ مَا يفطرُ الصَّائِمُ. فَقَالَ : يُعْطِي اللهُ هَذَا الثَّوَابَ مَنْ فَطَّرَ صَائِمًا عَلَى تَمْرَةٍ أَوْ شَرْبَةَ مَاءٍ أَوْ مَذقَةَ لَبَنٍ،

وَهُوَ شَهْرٌ أَوَّلُهُ رَحْمَةٌ، وَأَوْسَطُهُ مَغْفِرَةٌ، وَآخِرُهُ عِتْقٌ مِنَ النَّارِ، مَنْ خَفَّفَ عَنْ مَمْلُوْكِهِ غَفَرَ اللهُ لَهُ، وَأَعْتَقَهُ مِنَ النَّارِ،

وَاسْتَكْثِرُوْا فِيْهِ مِنْ أَرْبَعِ خِصَالٍ، : خِصْلَتَيْنِ تَرْضْوَنِ بِهِمَا رَبَّكُمْ، وَخِصْلَتَيْنِ لَا غِنًى بِكُمْ عَنْهُمَا، فَأَمَّا الْخِصْلَتَانِ اللَّتَانِ تَرْضَوْنَ بِهِمَا رَبَّكُمْ فَشَهَادَةُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَتَسْتَغْفِرُوْنَهُ، وَأَمَّا اللَّتَانِ لَا غِنَى بِكُمْ عَنْهُمَا فَتَسْأَلُوْنَ اللهَ الْجَنَّةَ وَ تَعُوْذُوْنَ بِهِ مِنَ النَّارِ، وَمَنْ أَشْبَعَ فِيْهِ صَائِمًا سَقَاهُ اللهُ مِنْ حَوْضِيْ شَرْبَةً لَا يَظْمَأُ حَتَّى يَدْخُلَ الْجَنَّةَ.

Artinya: ”Wahai manusia, sungguh telah dekat kepadamu bulan yang agung, bulan yang penuh dengan keberkahan, yang di dalamnya terdapat satu malam yang lebih baik (nilainya) dari seribu bulan, bulan yang mana Allah tetapkan puasa di siang harinya sebagai fardhu, dan shalat (tarawih) di malamnya sebagai tambahan.

Barang siapa mendekatkan diri kepada Allah di bulan ini dengan satu kebaikan (amalan sunnah), maka pahalanya seperti dia melakukan amalan fardhu di bulan-bulan yang lain. Barangsiapa melakukan amalan fardhu di bulan ini, maka pahalanya seperti telah melakukan 70 amalan fardhu di bulan lainnya.

Inilah bulan kesabaran dan balasan atas kesabaran adalah surga, bulan ini merupakan bulan kedermawanan dan simpati (satu rasa) terhadap sesama. Dan bulan di mana rizki orang-orang yang beriman ditambah. Barang siapa memberi makan (untuk berbuka) orang yang berpuasa maka baginya pengampunan atas dosa-dosanya dan dibebaskan dari api neraka dan dia mendapatkan pahala yang sama sebagaimana yang berpuasa tanpa mengurangi sedikitpun pahala orang yang berpuasa .

Mereka (para sahabat) berkata : “Wahai Rasulullah! tidak semua dari kami mempunyai sesuatu yang bisa diberikan kepada orang yang berpuasa untuk berbuka.”

Rasulullah menjawab: “Allah akan memberikan pahala ini kepada orang yang memberi buka puasa walaupun dengan sebiji kurma, atau seteguk air, atau setetes susu”.

Inilah bulan yang permulaannya (sepuluh hari pertama) Allah menurunkan rahmat, yang pertengahannya (sepuluh hari pertengahan) Allah memberikan ampunan, dan yang terakhirnya (sepuluh hari terakhir) Allah membebaskan hamba-Nya dari api neraka . Barangsiapa yang meringankan hamba sahayanya di bulan ini, maka Allah akan mengampuninya dan membebaskannya dari api neraka.

Dan perbanyaklah melakukan empat hal di bulan ini, yang dua hal dapat mendatangkan keridhaan Tuhanmu, dan yang dua hal kamu pasti memerlukannya. Dua hal yang mendatangkan keridhaan Allah yaitu syahadah (Laailaaha illallaah) dan beristighfar kepada Allah, dan dua hal yang pasti kalian memerlukannya yaitu mohonlah kepada-Nya untuk masuk surga dan berlindung kepada-Nya dari api neraka . Dan barang siapa memberi minum kepada orang yang berpuasa (untuk berbuka), maka Allah akan memberinya minum dari telagaku, di mana dengan sekali minum ia tidak akan merasakan haus sehingga ia memasuki surga“.

(H.R. Ibnu Khuzaimah dalam Shahihnya, dan Imam Al-Mundziri dalam At-Targhib wat Tarhib mengatakan: “Hadits ini diriwayatkan oleh Ibnu Khuzaimah dalam Shahihnya, dan Ibnu Khuzaimah berkata: “Khabar ini shahih”. Juga diriwayatkan oleh Imam Baihaki, dan Ibnu Hibban”. Sedangkan Syaikh AL-Albany menilai hadits ini sebagai Hadits Dhaif sebagaimana dalam bukunya, Dha’if at-Targhib wat Tarhib).

Ulama menyebutkan, hadits ini memang riwayatnya dha’if (lemah). Namun diriwayatkan lebih dari 25 riwayat, dan pada makna-makna kalimatnya didukung oleh hadits-hadits shahih. Maka pada hakikatnya meskipun hadits ini riwayatnya dha’if, tapi merupakan perpaduan hadits-hadits shahih yang terpecah.

Dalam riwayat lain nabi bersabda : “Bertaubatlah kepada-Nya dari dosa-dosa, angkatlah kedua tangan kalian untuk berdoa di waktu-waktu shalat; karena pada saat-saat itu adalah waktu yang paling utama; Allah akan melihat para hamba-Nya pada waktu itu dengan kasih sayang, menjawab mereka jika bermunajat kepada-Nya, memenuhi (panggilan) mereka jika memanggil-Nya, dan mengabulkan mereka jika memohon-Nya.

“Wahai manusia, sesungguhnya diri kalian tergadaikan oleh amal perbuatan kalian, maka bebaskanlah ia dengan istighfar; dan pundak kalian terbebani oleh dosa-dosa kalian, maka ringankanlah dosa-dosa itu dengan panjangnya sujud. Dan ketahuilah bahwa Allah menyebut dirinya telah bersumpah demi kemuliaan-Nya untuk tidak menyiksa orang-orang yang melakukan shalat dan bersujud, dan tidak menakut-nakuti mereka dengan api neraka ketika semua manusia bangkit menghadap Tuhan semesta alam.

Kandungan Khutbah bulan Sya’ban menyambut Ramadhan

Jika disimpulkan ,butir-butir pesan dalam khutbah akhir Sya’ban Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, dapat disebutkan sebagai berikut:

Pertama, keberkahan bulan Ramadhan dengan dilipatgandakannya semua pahala amal kebaikan, terutama pada malam Lailatul Qadar, yang lebih baik daripada seribu bulan.

Bulan Berkah. Ramadhan adalah bulan yang menaburkan berkah. Berkah adalah kelebihan manfaat di atas manfaat yang biasa. Berkah adalah bonus Bila Rp 100.000,00 yang Anda peroleh Anda habiskan untuk berfoya-foya sendirian, uang Anda tidak mengandung berkah. Bila dengan uang yang sama Anda mengobati orang yang sakit, membayar utang orang yang berutang, memberi makan pada orang yang lapar, memberi pakaian pada orang telanjang, maka uang Anda adalah uang yang penuh berkah. Bila air minum itu selain melepaskan dahaga juga menyembuhkan sakit Anda, maka air minum itu mengandung berkah.

Kedua, bulan Ramadhan adalah bulan kesabaran dan kedermawanan.

Pada bulan Ramadan nabi Muhammad pemurah seperti angina yang berhembus dan bulan ini disebut juga syahrus sabru yaitu bulan melatih dan meningkatkan kesabaran karena intu puasa adalah menahan hawa nafsu.

Ketiga, bulan Ramadhan adalah bulan rahmat, ampunan, dan pembebasan dari api neraka.

Nabi Saw menyebut bulan ini bulan rahmat (kasih sayang), karena pada bulan ini kita menajamkan kembali rasa sayang kita. Kita dianjurkan menyayangi anak yatim, karena mereka adalah anak anak yang telah kehilangan kasih sayang. Kita diperintahkan untuk mengasihi orang-orang muda, supaya mereka tidak mencari kasih sayang di tempat­-tempat yang terlarang. Kita diimbau untuk menyantuni saudara-saudara yang lemah, fakir miskin dan para pekerja yang berada di bawah tanggungan kita. Bulan Ramadhan adalah bulan solidaritas sosial. Di tengah-tengah masyarakat yang sudah gersang dengan rasa kasih, ramadhan hadir untuk meniupkan rahmat.

Keempat, bulan Ramadhan adalah bulan pengabulan doa.

Wahai manusia, sesungguhnya pada bulan ini pintu-pintu surga terbuka. Maka memohonlah kepada Tuhan kalian agar tidak menutupnya bagi kalian, pintu-pintu neraka tertutup, maka mintalah kepada Tuhan kalian agar tidak membukanya atas kalian, dan tangan-tangan para setan terbelenggu, maka mohonlah kepada Tuhan kalian sehingga mereka tidak dapat menguasai kalian…”

Ali bin Abi Thalib berkata: `Aku berdiri dan berkata: Ya Rasul Allah, amal apa yang paling utama di bulan ini?” Nabi menjawab: “Ya Abal Hasan! Amal yang paling utama di bulan ini adalah menjaga dari apa yang diharamkan Allah.”

Kelima, anjuran memperbanyak empat hal di bulan ini, yang dua hal dapat mendatangkan keridhaan Tuhanmu, dan yang dua hal kamu pasti memerlukannya. Dua hal yang mendatangkan keridhaan Allah yaitu syahadah (Laailaaha illallaah) dan beristighfar kepada Allah, dan dua hal yang pasti kalian memerlukannya yaitu mohonlah kepada-Nya untuk masuk surga dan berlindung kepada-Nya dari api neraka. Shahadah berarti kita harus meneguhkan ketauhidan kita kepada Alloh agar jangan mensekutukanNya dengan apapun.

Beristigfar pada bulan ramadhan, karena Allah membukakan pintu taubat dan ampunan. Pada bulan inilah kita menemukan saat yang paling tepat; ketika kita tersungkur di hadapan Allah, merintih memohonkan ampunan-Nya. Punggung kita yang telah sarat dengan dosa kita ringankan dengan memperpanjang sujud kita. Disini kita membebaskan diri kita dari pasungan dosa dengan memperbanyak istighfar.

Karena itu diantara wirid yang harus kita biasakan di bulan Ramadhan adalah istighfar: Ya Allah, Engkau Maha Pengampun dan Maha Mulia. Ampuni aku. Innaka ‘afuwwun karim, tuhibbul ‘afwa fa’fu ‘anni.