ASALAMU 'ALAIKUM WAROHMATULLOHI WABAROKATUH BLOG By MUH FAJAR HUDI APRIANTO @ MARI KITA GUNAKAN WAKTU KITA YANG TERSISA DENGAN SEBAIK MUNGKIN KARENA WAKTU KITA HANYA SEDIKIT AGAR KITA TIDAK TERMASUK ORANG ORANG YANG MERUGI mafa GUNAKAN WAKTU MUDAMU SEBELUM DATANG WAKTU TUAMU WAKTU SEHATMU SEBELUM DATANG WAKTU SAKITMU KAYAMU SEBELUM TIBA MISKIN WAKTU LAPANGMU SEBELUM TIBA WAKTU SEMPITMU DAN GUNAKAN WAKTU HIDUPMU SEBELUM TIBA MATIMU pesan nabi

Selasa, 31 Maret 2015

Contoh Pembawa Acara (Protokol ) Pada acara Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW





Asalamu 'Alaikum Warohmatullohi Wabarokatuh


            ALHAMDULILLAHI LADZI HADANA LIHADZA WAMA KUNA LINAHTADIYA LAULA ANHADANALLOH, ASHADU ALA ILAHA ILLALLOH WAHDAHU LAA SYARIKALAH WA ASHADU ANNA MUHAMMADAN NGABDUHU WA ROSULUH, ALLOHUMA SHOLI ‘ALA MUHAMMAD WA ‘ALA ALI  MUHAMMAD. ………...AMMA BA’DU



Yang terhormat  Bapak  Kepala Madrasah dan Bapak /Ibu guru ............... , serta teman-temanku semadrasah  yang berbahagia.

Perkenankanlah kami mengajak kepada para hadirin, untuk mengucapkan Syukur Kepada Alloh Swt, yang telah melimpahkan rahmat dan nikmatnya kepada kita semua, sehingga pada hari ini kita masih dalam perlindungannya. Dan dapat bermuwajahah digedung ................................. dalam rangka  Peringatan maulid Nabi Muhammad Saw.

Sholawat dan salam selalu tercurahkan kepada Nabi Muhammad saw . karena atas jasa-jasa beliaulah kita bisa belajar,beribadah dan bisa  memaknai hidup ini dengan benar

Selanjutnya kami bertugas sebagai pembawa acara  dalam rangka Peringatan mauled Nabi Muhammad Saw.   pada hari ini ............. yang bertepatan dengan tanggal 12 Robil’ul  Awal 1434 H , dimana susunan acara yang akan berlangsung adalah sebagai berikut :

Acara yang pertama Pembukaan,
yang kedua Pembacaan Ayat Suci Alqur’an,
acara yang ketiga Prakata Panitia,
dilanjutkan acara keempat  Inti maulid Nabi Muhammad Saw.
Acara kelima Istirahat dan acara terakhir ádalah do’a / penutup.

Demikianlah rangkaian  acara yang akan berlangsung pada hari ini,………. mengingat waktu sudah semakin siang marilah kita mulai acara demi acara pada siang hari ini , yang pertama  Pembukaan......... Marilah kita buka acara ini dengan membaca basmalah bersama-sama..................semoga dengan bacaan basmalah ini dapat memperlancar jalanya  acara pada hari ini dan dihadapan Alloh  dinilai sebagai amal ibadah, amiin

Menginjak acara berikutnya adalah Pembacaan Ayat Suci Alqur’an...yang akan dibawakan oleh teman kita bernama ........... bersama ............ ..kepadanya dipersilahkan ...................

 Shodaqolloh hal adzim ….demikianlah pembacaan ayat suci alquran ,semoga dapat menambah pahala dan rahmat  bagi yang membaca khususnya dan umumnya bagi yang mendengarkannya.

Kemudian acara selanjutnya prakata panitia yang akan disampaikan oleh  Teman Kita Anang yuliyanto…..kepadanya  dipersilahkan......................

Demikianlah prakata dari panitia ... dan acara selanjutnya  yang kita nanti –nantikan yaitu inti Maulid Nabi Muhammad Saw yang akan disampaikan oleh Bapak ....................………
Kepada beliau dipersilahkan…………… Demikianlah Tausyiyah yang disampaikan oleh  ............... ……..semoga apa yang telah diuraikan ada guna dan manfaatnya dan Insya Alloh kita dapat mengambil hikmahnya …..amin 3x …..ya Robal ‘alamin

Acara berikutnya adalah istirahat yang akan diisi dengan gerak dan lagu  yang akan  dibawakan   oleh  adik kita ................. dan kawan-kawan..yang akan menyanyikan lagu. Tiada sempurna .............. ..............tepuk tanganya mana................. .........demikian penampilan dari ………
    
    
Acara berikutnya adalah do’a yang akan diimami oleh bapak ...............

Kini tibalah acara yang terakhir yaitu penutup...................................sebelum acara ini kami tutup , apabila ada kata-kata yang tidak berkenan selama kami memandu acara ini ,kami mohon maaf yang sebesar-besarnya.

Dan marilah acara ini kita tutup dengan bacaan Alhamdulillah bersama-sama.
  
  Billahi  sabilil haq .     
Wasalamu 'Alaikum Warohmatullohi Wabarokatuh


Kamis, 26 Maret 2015

Perbudakan Dalam Islam Adalah Kemuliaan Bagi Non Islam

Islam menuntunkan perang bukanlah kecamuk benci dan dendam untuk menumpahkan darah orang. Terbukti dari minimalnya jumlah korban yang jatuh. Bagaimana Rasulullah ﷺ mengajarkan para sahabatnya bahwa perang bukanlah pentas bercucur darah. Terbukti beliau murka kepada Usamah yang menikam musuh mengucapkan kalimat tauhid saat terdesak. Tidak, tidak demikian. Islam menjadikan perang sebagai media penyampai hidayah. Karena Islam adalah rahmat bagian sekalian alam meskipun dalam peperangan.
Kasih sayang dan rahmat itu juga tetap berkelanjutan usai debu perang kembali ke tanahnya. Tawanan hasil perang diperlakukan dengan hormat tanpa hina. Mereka memasuki gerbang hidayah. Gulatan kabut tebal kabar buruk tentang Islam, sedikit demi sedikit sirna tertiup angin hidayah. Karena mereka tinggal di lingkungan kaum muslimin. Bermuamalah dan bercengkrama bersama umat ijabah. Menyaksikan praktik Islam dengan mata kepala.
Hadits Nabi ﷺ di atas sebagai bukti betapa mulia agama ini memperlakukan tawanan. Para ulama memaknai rantai-rantai tersebut adalah rantai peperangan. Orang-orang non-Islam masuk ke negeri Islam sebagai tawanan perang. Mereka menjadi budak menelan konsekuensi setelah kalah kala berperang.
Memang aneh jika dikatakan budak bisa menjadi mulia. Sebagaimana anehnya ada kasih dan sayang dalam perang. Namun memang begitu adanya, darah rusa bisa berharga menjadi misk kasturi saat pisah dari lingkungannya. Tahi ulat sutra menjadi kain yang mahal harganya kala tidak lagi bersama indungnya.
Di antara kisah nyata tentang agungnya perbudakan di dalam Islam adalah sebuah kisah yang disampaikan oleh Ustadz Riyadh bin Badr Bajrey dan kisah ini disampaikan juga Syaikh Abu Ishaq al-Huwainy dalam salah satu ceramahnya di televisi Mesir. Kisah dua orang perawi hadits bernama Hasan bin Shaleh (lahir tahun 100 H) dan Ali bin Shaleh yang tinggal bersama ibunya.
Dikisahkan bahwa dua orang periwayat hadits ini tinggal bersama ibunya. Dan Hasan memiliki seorang budak wanita yang pada awalnya adalah non-Islam, kemudian tinggal di masyarakat Islam dan melihat mulianya nilai-nilai Islam, ia pun memeluk Islam.
Tiga anggota keluarga ini memiliki kebiasaan yang istimewa. Mereka membagi malam menjadi tiga bagian untuk beribadah dan bermunajat kepada Allah ﷻ. Sepertiga malam pertama, ibu mereka mengisinya dengan shalat malam. Kemudian di pertengahan malam, gantian Ali yang menghidupkannya. Dan sepertiga yang terakhir giliran Hasan. Dengan demikian, malam hari di rumah ini begitu hidup dengan ibadah. Budak wanita milik Hasan bin Shaleh juga terpengaruh dengan kebiasaan baik tuannya. Ia pun terbiasa bangun menunaikan shalat malam.
Qadarullah.. ibu mereka terlebih dahulu wafat meninggalkan anak-anaknya. Setelah itu, Hasan dan Ali pun membagi malam menjadi dua bagian. Setengah bagian pertama Ali shalat bermunajat kepada Allah. Setengah bagian akhir, Hasan gentian menghidupkannya. Dan demikianlah keadaan berulang setiap malam di rumah tersebut hingga meninggalnya Ali bin Shaleh. Saat Ali tiada Hasan menghidupkan sepenuh malam itu tanpa ibu dan saudaranya.
Akhirnya tiba saat perpisahan dengan budak milik Hasan bin Shaleh. Ia menjual budaknya ke orang lain. Budak itu pun tinggal di rumah lainnya. Lingkungan baru yang belum ia kenal seperti apa rupanya.
Saat tinggal di rumah baru, di tengah malam, budak itu berteriak membangunkan seisi rumah karena demikian kebiasaan lamanya.
Ia berteriak, “Ya ahla ad-daar ash-shaalah… ash-shalaah…” (wahai penghuni rumah…shalat.. shalat..)
Tuan barunya berkata, “Awa-udzdzina lil fajr?” (Memangnya sudah adzan subuh?)
Sang budak sambal kaget berkata, “Awalam tusholluu illal fajr?” (Kalian ga shalat, kecuali cuma shalat subuh saja?)
Tuannya pun menjawab, “Na’am.” (Iya).
Keesokan harinya.. budak ini pun kembali mendatangi Hasan bin Shaleh. Kemudian ia berujar, “Ruddanii ilaik.. fainnaka bi’tani ila qaumi suu.. laa yaqumunal lail..” (Kembalikan aku padamu, sesungguhnya engkau telah menjualku kepada orang-orang yang buruk karena mereka tidak mau qiyamul lail..).
——————–
Perhatikanlah! Seorang budak yang awalnya kafir, kemudian mengenal Islam, dan bagus keislamannya karena tinggal di lingkungan Islam. Inilah buah dari kasih sayang peperangan dalam Islam yaitu perbudakan. Dan inilah perbudakan yang menjadikan seorang non-Islam menjadi mulia.
Ketika seorang non muslim tinggal di negeri mayoritas non Islam, ia hanya akan menerima kabar-kabar buruk tentang Islam dari lingkungan dan media yang ada di sana. Di dunia ia tidak terbebas dari perbudakan kepada makhluk dalam peribadatan. Kemudian di akhirat ia pun kekal di dalam neraka.
Sementara dengan perang sebagaimana yang Islam ajarkan. Seorang non muslim bisa jadi menjadi budak dalam kehidupan dunia di masyarakat Islam. Akan tetapi ia tidak dizalimi. Bahkan Rasulullah ﷺ memotivasi umatnya untuk membebaskan budak. Beliau ﷺ bersabda,
إِتَّقُوااللهَ فِيْمَا مَامَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ
“Bertaqwalah kalian kepada Allah dan perhatikanlah budak-budak yang kalian miliki.” (Shahihul Jami’ no. 106, al-Irwa’ no. 2178).
Beliau ﷺ juga bersabda,
لِلْمَمْلُوكِ طَعَامُهُ وَكِسْوَتُهُ وَلاَ يُكَلَّفُ مِنَ الْعَمَلِ إِلاَّ مَا يُطِيقُ
“Budak memiliki hak makan/lauk dan makanan pokok, dan tidak boleh dibebani pekerjaan di luar kemampuannya.” (HR. Muslim, Ahmad, dan al-Baihaqi).
Dan Islam melarang bersikap buruk terhadap budak, menghinakan dan melecehkannya sebagai budak.
Nabi ﷺ bersabda,
وَلاَ يَقُلْ أَحَدُكُمْ عَبْدِي وَ أَمَتِي وَلْيَقُلْ فَتَايَ وَفَتَاتِي
“Janganlah salah seorang diantara kalian mengatakan: Hai hamba laki-lakiku, hai hamba perempuanku, akan tetapi katakanlah : Hai pemudaku (laki-laki), hai pemudiku (perempuan).” (HR. Bukhari No. 2552 dan Muslim No. 2449).
Pelajaran:
  1. Peperangan dalam Islam adalah rahmat bagi sekalian alam karena ia termasuk di anatara jalan hidayah dan surga.
  2. Perbudakan dalam Islam jauh berbeda dari perbudakan ala Barat.
  3. Perbudakan adalah realita yang terjadi dan kembali akan terjadi. Dan Islam telah siap dengan aturannya tentang roda perputara dan perubahan keadaan hidup manusia di muka bumi. Hal ini membuktikan Islam adalah agama paripurna.
  4. Salaf ash-shaleh menganggap aib bagi seseorang yang tidak mengerjakan shalat malam.